
Ken dan David, masih tak lepas memandangi Valerie, ia begitu terkejut saat tau jika calon istri laki-laki yang ada di hadapannya saat ini tak lain ialah Valerie.
"Aku mengenal mereka," kata Valerie. kedua manik matanya tak lepas memandang Ken.
"Oh, jadi Tuan Billy ini calon suami yang dimaksud oleh Valerie waktu itu? cucu angkat Neneknya?" gumam Ken. Ia masih bertatap dengan wanita itu. Mencoba menghindar, namun, rasanya sulit sekali seakan terhipnotis olehnya.
"Kalian saling mengenal?" tanya Billy, ia memandang ke arah Ken, David dan juga Valerie secara bergantian. Namun, ia tak mendapat jawaban akan pertanyaannya itu.
"Tuan Ken?" tanya Billy.
"Iya, kami saling mengenal," saut Ken.
"Wah, kebetulan sekali," ujar Billy.
"Bagaimana kalian bisa mengenal?" tanya Billy.
"Aku dan Tuan Ken ini teman sejak SMP dulu," ucap Valerie. Ia begitu enggan melepaskan pandangannya terhadap Ken.
"Oh, begitu." Billy mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum.
"Bukannya tadi kau pulang bersama Nenek? kenapa bisa masih ada di sini?" tanya Billy kepada Valerie seraya menyibakan rambut wanita itu kebelakang telinga. Valerie dengan cepat menepis tangan Billy. Raut wajahnya berubah tak senang, saat calon suaminya itu menyentuh bagian dari tubuhnya.
"Ehm, tadi Nenek menyuruhku untuk menemanimu di sini, jadi itu sebabnya aku masih di sini," jawab Valerie.
"Oh, baiklah." Billy mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalian pemilik hotel ini?" pertanyaan David tiba-tiba melontar dengan penuh penasaran.
"Iya, ini salah satu Hotel milik keluarga kami, Neneknya Valerie adalah Nenek angkatku," jawab Billy.
"Nenek angkat?" David mencerna baik-baik kata-kata itu, mencoba memahaminya.
"Maksudku, orang tuaku adalah sahabat dekat Nenek. Aku yatim piatu dari sejak SMA, tapi dari kecil aku sengat dekat dengan Nenek, jadi dari itu Nenek mengangkatku sebagai cucunya," ujar David.
"Oh, begitu..." saut David. Ken hanya melirik tanpa berkomentar apapapun.
Kedua mata Valerie tak lepas memandangi Ken membuat laki-laki itu risih. Jelas sekali matanya menyiratkan sesuatu yang dalam.
Ken meneguk anggur yang baru saja ia tuang di dalam cawan miliknya, ia meneguk dengan cepat tanpa jeda sekalipun. Hingga Valerie dibuat keheranan melihatnya.
"Ken, sejak kapan kau suka minum anggur?" pertanyaan Valerie menghentikan gelas yang dipegang oleh Ken.
"Dulu aku rasa kau tidak pernah minum anggur, kan?" imbuhnya. Namun, Ken hanya diam saja, ia enggan sekali untuk menjawab pertanyaan wanita itu.
"Ken dari dulu suka minum anggur, tapi jarang!" saut David dengan menatap tak suka ke arah Valerie. Valerie hanya melirik ke arah David.
"Aku sangat tidak tau kenapa dia menatapku dengan tatapan tidak suka seperti itu, apa dia Kakak dari istri Ken?" gumam Valerie dalam hati.
"Kenapa ada dia? aku sungguh malas sekali berada di sini, tapi, jika aku pergi, aku tidak enak hati dengan Billy." Ken membuang tatapannya ke arah sekitar. Wajahnya menggambarkan dengan jelas rasa ketidak tertarikannya kepada Valerie.
"Oh, Iya, Tuan Ken. Kau dan Tuan David akan pulang besok?" tanya Billy.
"Tuan Billy, usia kita sebaya bukan? lebih baik kau memanggiku dengan sebutan nama saja," tutur Ken.
"Iya, Tuan Billy lebih baik memanggil dengan sebutan nama saja," timpal David.
"Baiklah, kalian juga memanggilku dengan sebutan nama saja," ujar Billy.
"Kalian jadi pulang besok? jam berapa?" tanya Billy kembali.
"Mungkin pagi, karna aku sudah berjanji kepada istriku untuk kembali secepatnya," saut Ken. Valerie memandang Ken dengan tatapan sayunya saat mendengar kata istri.
"Iya, lagi pula kita juga besok akan berlibur," saut David.
"Kalian mau berlibur?" tanya Billy.
"Ke mana?" imbuhnya.
"Kami akan pergi ke pantai," ujar David.
"Wah sepertinya sangat menyenangkan, aku dan Valerie juga sedang mencari tempat untuk melakukan sesi foto prewedding, apa kami boleh bergabung dengan kalian?" tanya Billy.
David dan Ken terdiam dan saling memandang satu sama lain. jika Billy saja mungkin mereka tidak akan keberatan. Tapi, Billy mengajak Valerie. Itu yang menjadi pertimbangan di pikiran mereka. Billy sudah bisa menangkap penilakan itu dari raut wajah Ken dan David.
"Tidak boleh, tidak masalah." Billy tersenyum menerka-nerka jawabannya sendiri.
"Tidak apa-apa Billy, silahkan saja jika mau bergabung," saut Ken, ia terpaksa mengiyakan karna merasa tidak enak. David masih melihat ke arah Ken dengan penuh pertanyaan.
"Benarkah kita boleh bergabung?" tanya Billy mencoba memastikan kembali.
"Tentu saja, Billy, silahkan." David menyautinya.
"Valerie, bagaimana?" tanya Billy kepada Valerie.
"Terserah kau saja, kenapa kau bertanya kepadaku? bukannya apapun keputusanmu aku harus mengikutinya, iya kan?" tanya Valerie dengan suara yang terdengar tidak enak.
"Bicaralah yang sopan!" seru Billy. Valerie hanya mengalihkan pandangannya tanpa menyautinya.
"Besok kalian berangkat jam berapa?" tanya Billy.
"Mungkin siang. Kalau kau jadi ikut, kita bertemu di Renvyle Beach, di sana ada Villa milik keluargaku yang letaknya hanya 100 meter dari pantai itu," ujar David.
"Baiklah, bisakah kita bertukar nomer ponsel?" tanya Billy.
"Tentu saja..." David pun segera memberikan nomer ponsel miliknya kepada Billy begitu juga dengan Ken.
"Astaga, aku lupa menghubungi Alana," gumam Ken. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Alana melalui pesan suara.
Tut... Tut... Tut...
Menghubungkan...
"Kenapa Alana tidak mengangkatnya?" gumam Ken. Ia kembali menghubungi istrinya tersebut.
"Kau menelpon siapa Ken?" tanya David.
"Alana," saut Ken. Ia masih terlihat sibuk menunggu Alana menjawab panggilannya. Sudah ke enam kali tidak ada jawaban dari panggilannya. Ken tak gentar mencoba menghubunginya kembali. Sekalipun harus menghubunginya hingga seratus kali, Ken tak menyerah akan hal itu.
"Mungkin dia tidur, Ken." Suara David membuat Ken menoleh ke arahnya.
"Tidak mungkin," saut Ken. Ia tau sekali Alana tidak mungkin tidur sesore itu.
"Hallo Ken?" suara Alana tak lama itu menyaut dari balik ponsel yang saat ini Ken genggam.
"Sayang, kau dari mana? kenapa baru mengangkat telponku?" tanya Ken.
"Maaf aku baru membuatkan Jesslyn dan Kimmy susu coklat, karna Mama dan Papa menunda kepulangannya," ucap Alana.
"Mama dan Papa belum pulang?" tanya Ken.
"Iya sayang, Mama dan Papa akan pulang besok pagi," kata Alana.
"Ehm, kau tidak jadi pulang malam ini?" tanya Alana dengan suara terendahnya. Ken terdiam sejenak.
"Iya, maafkan aku. urusanku baru saja selesai, Aku akan pulang besok pagi," ujar Ken. Namun, ia tak mendengar sautan dari suara Alana. sementara Valerie sedari tadi memperhatikan Ken yang sedang sibuk berbicara dengan Alana. Bahkan tak sedikit yang ia ingin ketauhi tentang pembicaraan mereka.
"Sayang..."
"Hem?"
"Kau marah?" tanya Ken.
"Tidak, untuk apa marah. Tidak apa-apa, kau jaga diri di sana!" tutur Alana.
Tiba-tiba Ken berteriak saat seorang pelayan tiba - tiba menumpahkan sup panas di sebagian kemejanya tanpa sengaja. Ken beranjak berdiri dan meletakan ponselnya yang masih menghubungkan suara dengan Alana di atas meja.
"Ken kau kenapa?" tanya Alana dengan panik. Namun, Ken yang merasa kepanasan tak menghiraukan ponselnya itu.
"Apa kau tidak bisa berhati - hati?" seru Ken.
"Maaf, Tuan, maaf, saya tidak sengaja." pelayan itu mengambil tissue dan hendak membersihkan kemeja Ken yang kotor.
"Tidak perlu!" Ken menyaut tissue tersebut.
"Apa kau bisa bekerja? kau punya mata, seharusnya kau berhati-hati!" teriak Billy yang ikut beranjak berdiri dan berkacak pinggang.
"Maaf Tuan Billy saya benar-benar tidak sengaja..." pelayan itu menundukan pandangannya dengan takut akan amarah Billy. Tangannya yang masih memegang mangkuk sup itu terlihat gemetar.
"Apa kau tau dia ini tamu penting?" Suara kasar Billy terlepas dari karakternya yang terlihat penuh kharisma dan kesopanan. Bahkan, membuat Ken dan juga David terkejut saat mendengarnya.
"Billy sudah! tidak apa-apa dia tidak sengaja!" tutur Ken.
"Pegawai seperti dia tidak ada gunanya, Ken!" seru Billy.
"Billy, Ken tidak apa-apa jangan terlalu berlebihan!" seru Valerie.
"Kau ini tau apa, dia ini tamuku!" seru Billy.
"Aku tau, tapi dia sudah tidak mempermasalahkannya, pelayan ini juga tidak sengaja. Jangan memperpanjang masalah!" seru Valerie.
"Iya, Billy, sudahlah!" tutur Ken.
"Pergi dari sini!" perintah Billy ke pelayan itu.
"Tolong lain kali lebih berhati-hati!" tutur David. Pelayan itu mengiyakannya. ia meminta maaf berungkali kepada Ken dan Billy kemudian, ia segera berlalu pergi dari sana.
"Hallo Ken..."
"Ken bicaralah..."
"Sayang, kau kenapa? kau jangan membuatku khawatir!" suara Alana masih terdengar jelas dari ponsel milik Ken yang tergeletak di atas meja.
"Ken jawab aku..."
"Astaga, Alana..." Ken segera mengambil kembali ponselnya yang masih menyala dan tergeletak begitu saja di atas meja.
"Hallo sayang, maaf," saut Ken.
"Kau kenapa? apa kau baik-baik saja?" tanya Alana dengan suara paniknya.
"Aku baik-baik saja, bajuku tadi tertumpah sup panas. Sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu membersihkan bajuku, nanti kita lanjutkan lagi!" ujar Ken.
"Baiklah, sayang..." Alana dan Ken saling mengakhiri panggilannya dan meletakan kembali ponselnya itu di tempat yang sama.
"David, Billy, aku permisi ke kamar mandi membersihkan bajuku,"pamit Ken sembari membuka jas miliknya dan meletakan jas itu di kursi yang sempat ia duduki tadi.
"Ken, sekali lagi aku minta maaf, atas kecerobohan pegawaiku," tutur Billy.
"Tidak apa-apa, Billy. Lupakan saja," jawab Ken.
"Aku juga mau ke kamar mandi, Ken," ucap David.
"Baiklah, ayo..." Ken beranjak berdiri dan berjalan mendahului David. David pun mengikuti sahabatnya tersebut untuk pergi ke kamar mandi.
***
Valerie menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari melipat kedua tangannya di atas perut. wajahnya terlihat begitu muram seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Kau kenapa?" tanya Billy.
"Tidak apa-apa," saut Valerie.
"Nanti aku akan berbicara kepada Nenek. Kita akan ikut liburan bersama Ken dan David. Sekalian melakukan sesi foto preweeding," ujar Billy. Valerie hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya.
"Bagaimana kau bisa mengenal mereka berdua?" tanya Valerie.
"Ken anak dari rekan bisnisku," jawab Billy.
"Paman Gio rekan bisnismu?" tanya Valerie. Billy dengan cepat membenarkannya.
"Oh..." Valerie membulatkan bibirnya.
"Ken besok pasti mengajak istrinya, aku ingin tau sekali bagaimana kesehariannya dengan istrinya" Valerie menatap kosong ke sembarang arah.
"Aku tinggal menemui Tuan Sanichi sebentar," pamit Billy seraya beranjak berdiri dari duduknya. Valerie mengiyakannya dan Billy segera meninggalkan tempat itu untuk menemui Tuan Sanichi di kamarnya.
***
Valerie mendongkan wajahnya ke atas langit, menatap ribuan bintang yang bertebaran di sana. kedua matanya terpejam hingga tak sedikit air yang ikut tersapu di sana. Hatinya tiba-tiba merasa sesak saat mengingat Ken.
"Aku pernah kemari bersamanya... bercerita dan tertawa bersama, dia hanya bisa tertawa bersamaku, tidak dengan wanita lain, bahkan aku yakin, istrinya pun tidak akan pernah bisa membuat Ken tertawa," gumam Valerie dalam hati.
"Kenapa hidupku kacau seperti ini? demi melupakan Ken aku terpaksa mengiyakan permintaan Nenek untuk menikahi Billy," gumamnya kembali.
Suara dering ponsel yang bukan berasal dari ponsel miliknya berdering berulang kali. Membuat kedua mata wanita itu terbuka dengan sengaja. Ia melirik ke ponsel yang kala itu tergeletak di atas meja, bahkan berdering berulang kali. merasa begitu penasaran dengan ponsel yang menyala dan bergerak akibat getaran yang tercipta dari ponsel itu.
Tangan panjang Valerie meraih ponsel milik Ken yang tergeletak di sana. Terlihat ada satu panggilan masuk yang tertera di layar ponsel itu.
My Preety Wife
"My Preety Wife?" Valerie berucap tanpa mengeluarkan suara. Tiba-tiba rasa ketidak sukaan muncul dalam hatinya.
"Bahkan nomor ponselku diblokir oleh Ken..." gumam Valerie.
"Pasti istrinya yang menyuruh Ken untuk memblokir nomerku," imbuhnya.
Dering ponsel itu seketika menjadi sunyi, lalu, berbunyi kembali.
"Apa aku harus mengangkatnya?" gumam Valerie.
Valerie hendak menyentuh ikon berwarna hijau dan hendak meletakan alat komunikasi itu di dekat daun telinganya. Namun, seseorang tiba-tiba menyaut ponsel itu dengan kasar dari tangannya. Seseorang itu tak lain ialah David. David segera mematikan ponsel Ken yang sudah hampir menyambungkan suaranya kepada Alana.
"Jangan lancang!" seru David dengan menatap tajam Valerie.
"Aku hanya ingin mengangkatnya, karna dari tadi istri Ken menelpon," ucap Valerie.
"Bukan berarti kau harus mengangkatnya!" seru David.
"Kau ingin merusak hubungan Ken dan istrinya? selama ada aku jangan berharap kau bisa melakukan hal itu!" imbuhnya.
"Apa aku seburuk itu?" tanya Valerie.
"Siapa yang ingin merusak hubungan Ken dan istrinya? lagipula aku akan segera menikah, untuk apa merusaknya! kau selalu saja berbicara tidak sopan kepadaku, seolah-olah aku ini perebut suami orang lain!" seru Valerie.
"Masih segera menikah bukan? hati seseorang mana ada yang tau!" seru David.
"Bahkan seekor kucing hutan betina yang lucu, bisa berubah menjadi harimau yang ganas!" imbuh David.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sambil nunggu next episode, bisa baca novelku yang My Geeky Wife. masih On Going eahhhh
Pokoknya jangan lupa aja kalau suka dengan novel Nona, bantu dukung melalui Like dan Vote eaa.
Kalau gak suka gaapa Nona gak maksa kok wkwkwkwk