My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Menyuapi



"Lepaskan! kenapa kau memelukku seperti ini? kampungan sekali!" seru Ken. Alana langsung melepas pelukannya.


"Aku hanya berterimakasih saja kepadamu, Ken. aku sangat berterimakasih sekali karna  kau sudah mau mengembalikan rumahku," ucap Alana seraya memegangi kedua lengan Ken.


"Oh, jadi, kau pernah tinggal di rumah ini?" tanya Ken.


"Iya, Ken. ini dulu rumahku. aku terpaksa menjualnya karna untuk biaya rawat Daddy di rumah sakit." kedua mata Alana masih terlihat basah. ia benar - benar tidak percaya jika ia bisa kembali ke rumahnya yang dulu. tempat di mana dirinya berteduh hingga tumbuh menjadi dewasa seperti saat ini.


"Benarkah? jika aku tau ini rumahmu. aku tidak akan membelinya," ujar Ken. ia seolah tak peduli dengan apa yang Alana katakan. padahal, ia tau bahwa ini rumah milik keluarga Alana. beberapa hari sebelum menikah dengan Alana, Ken membeli rumah ini melalui pelelangan. dan saat tau yang di lelang adalah bekas tempat tinggal seorang pengusaha yang bernama Holmes. Ken pun langsung membelinya. meskipun dengan harga beli yang sangat tinggi.


"Tapi kau sudah terlanjur membelinya, kan. aku sangat berterimakasih kepadamu, Ken. terimakasih banyak. Daddy pasti sangat senang, rumah ini begitu banyak memiliki kenangan." Alana memeluk kembali suaminya tersebut seraya memejamkan matanya.


"Sudah berapa kali kau memelukku?" tanya Ken. Alana melepaskan pelukannya.


"2  kali... sebentar, satu kali lagi." Alana memeluk kembali Ken dan semakin mengeratkan pelukannya. seakan ia menemukan kenyamanan sendiri saat memeluk laki - laki itu.


"Terimakasih banyak, Ken." Alana tak henti - hentinya berterimakasih kepada suaminya tersebut.


"Hey lepaskan! kau benar - benar sudah berani memelukku seperti ini!" seru Ken. Alana melepas kembali pelukannya.


"Hah, padahal dia juga menikmatinya," gerutu Alana dalam hati.


"Maaf, Ken. aku terlalu bahagia." Alana tertawa pelik.


"Apa aku boleh masuk ke dalam?" tanya Alana dengan penuh harap.


"Masuk ya masuk saja. kenapa harus meminta izin!" seru Ken seraya mengalihkan pandangannya. Alana melebarkan senyumnya. ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah dengan begitu bahagianya. Ken pun  tak bergeming akan posisinya. ia memperhatikan istrinya tersebut dari ujung pintu.


"Dasar gadis bodoh." Ken pun menyelipkan senyumnya seraya kedua matanya tak henti memperhatikan Alana yang semakin menjauh dari pandangannya.


Ken kembali ke mobil. ia membuka bagasi dan menurunkan koper miliknya dan juga Alana. ia membawa dua koper itu masuk ke dalam rumah. dan saat Alana melihat suaminya masuk dengan membawa koper. ia tak segan menghampirinya.


"Kemarikan, biar aku bawa sendiri koperku." Alana mengambil alih koper miliknya dari tangan Ken.


"Kau meremehkanku?" seru Ken dengan menatap tajam Alana.


"Meremehkan apa? aku tidak meremehkanmu." Alana kebingungan akan tuduhan Ken.


"Kau pikir aku tidak bisa membawa 2 koper sekaligus? apa itu namanya tidak meremehkan?" seru Ken.


"Meremehkan apanya? aku hanya mau membantumu membawa barang milikku agar dirimu tidak kesulitan membawanya!" seru Alana.


"Ya sudah, INI BAWALAH SANA BAWALAH!" Alana dengan kesal mengembalikan koper miliknya kepada Ken. lalu ia masuk dengan mulut yang tak henti  menggerutu kesal. Ken pun melanjutkan kembali berjalan membawa koper - koper itu masuk mengikuti Alana ke dalam kamar.


"Ini kamar yang biasa aku tempati dulu, Ken." Alana mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Aku tidak tanya," saut Ken.


"Aku hanya memberi taumu saja!" seru Alana dengan kesal. Alana berjalan mendekati Ken dan membantunya untuk menata baju - baju itu ke dalam lemari. seusai itu Ken merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan Alana menghampirinya.


"Kau mau makan apa? aku akan memasak makanan untukmu." tanya Alana. namun Ken hanya diam dan menatap Alana.


"Kenapa kau diam? kau mau aku masakan apa?" tanya Alana.


"Memangnya kau bisa masak?" tanya Ken seolah meremehkan Alana.


"Kau meremehkanku? kau pikir aku tidak bisa masak apa? yang kapan hari memasak di rumahmu itu siapa kalau bukan aku!" seru Alana seraya meletakan kedua tangannya di atas pinggang.


"Kita makan siang di luar saja nanti." Ken beranjak duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran divan.


"Kau tidak mau aku memasakan makanan untukmu?" tanya Alana dengan sedikit kecewa.


"Memangnya apa yang mau kau masak? di sini tidak ada bahan makanan. masaklah untuk makan malam saja. kita makan siang di luar sekalian berbelanja bahan makanan," ucap Ken tanpa menatap Alana.


"Oh, begitu. baiklah." Alana melebarkan senyumnya dengan penuh semangat.


 


 


***


 


Siang harinya, Ken dan Alana berada di dalam mobil. mereka berdua hendak makan siang di luar dan berbelanja semua kebutuhan rumah.


"Kau mau makan di mana?" tanya Ken.


"Emmm ..." Alana berpikir keras.


"Cepatlah. makan saja pakai berpikir!" seru Ken.


"Kita makan di restaurant India saja, aku ingin sekali makan di sana," pinta Alana seraya menelan ludahnya. rasanya ia ingin sekali makan masakan India. karna sudah lama, dirinya tak menikmati makanan khas dari india.


"Aku tidak mau! aku tidak pernah makan makanan India. aku tidak suka!" kata Ken.


"Kau kan belum mencoba. makanya, ayo kita ke sana agar kau tau bagaimana makanan khas India. kau nanti pasti suka," Alana mencoba memaksa Ken. Ken sebenarnya enggan. namun, karna Alana yang tak gentar memaksanya. jadi, ia terpaksa mengiyakan ajakan istrinya tersebut untuk makan di restaurant India  yang ada di kotanya.


 


 


 


Setibanya, Ken menghentikan mobilnya di depan restaurant. ia memarkirkan mobilnya di halaman resto itu. Alana dengan bersemangat mengajak Ken turun dari mobil dan menarik tangan Ken untuk masuk ke dalam sana.


mereka berdua mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian orang sesuai yang di inginkan oleh Ken. dan saat mereka sudah menemukan tampat duduk. pelayan menghampiri mereka berdua dan memberikan beberapa menu makanan.


"Apa kau tau, Ken. dulu, Daddy sering sekali mengajakku makan ke sini," ucap Alana dengan begitu senangnya.


"Aku tidak peduli."


"Hmm," Alana memutar kedua bola matanya dengan begitu kesal akan jawaban Ken.


"Kau mau makan apa?" tanya Alana.


"Terserah. aku tidak tau makan makanan seperti ini!" saut Ken.


"Ya sudah aku akan memesankan makanan untukmu." Alana memanggil pelayan. pelayan menghampiri meja Alana dan ia mulai memesan makanan dan minuman yang ia pilihkan untuk dirinya dan juga Ken.


"Nona, semua makanan yang aku pesan tidak boleh pedas. tidak menggunakan cabai atau lada. kalau sampai makanannya tercampur sedikit saja dua bahan itu. aku akan mengembalikannya!" ketus Alana dengan penuh penekanan. karna, Alana tau betul masakan India terkenal dengan rasa khas akan pedasnya. jadi, Alana memilih makanan yang bisa di atur tingkat kepedasan atau tidaknya. pelayan itu pun mengiyakannya permintaan Alana dan berlalu pergi dari meja itu.


"Kau tidak suka makanan pedas?" tanya Ken.


"Suka," jawab Alana.


"Lalu, kenapa kau memesan semua makanannya tanpa cabai dan lada?" tanya Ken dengan begitu heran.


"Karna kau kan alergi pedas, jadi aku memesan makanan tanpa cabai atau lada sedikitpun," jawab Alana. Ken pun terkejut saat mendengar jawaban Alana. Ken terdiam sejenak.


"Bagaimana kau bisa tau aku alergi pedas?" tanya Ken dengan penasaran.


"Dari Jesslyn. dulu dia pernah bilang kepadaku kalau kau dan Papa alergi makanan pedas." Alana menjawab seraya melingkis lengan bajunya. Ken pun hanya diam memperhatikan wanita yang kini duduk tepat di hadapannya. dan Alana pun tidak sengaja melihat Ken yang sedang memperhatikannya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tegur Alana dengan menajamkan kedua matanya.


"Siapa yang melihatmu!" seru Ken sembari memalingkan pandangannya.


Tak lama kemudian pelayan kembali dengan membawa makanan dan minuman yang telah di pesan oleh Alana. pelayan itu dengan hati - hati meletakan satu persatu makanan dan minuman itu di atas meja. lalu, pelayan itu berlalu pergi dari sana. Ken  memperhatikan makanan itu dengan aneh. ia baru kali ini melihat makanan khas dari India.


"Apa ini?" tanya Ken sembari mengernyitkan dahinya.


"Ini roti paratha, ayo kita makan," ajak Alana dengan penuh semangat.


"Mana sendok dan garpunya?" tanya Ken. kedua matanya melihat ke sekeliling meja. namun, ia tak mendapati sendok dan garpu di sana.


"Tidak ada sendok dan garpu. makannya menggunakan tangan," jawab Alana.


"Kau yang benar saja? aku tidak bisa makan menggunakan tangan!" seru Ken dengan kesalnya.


"Kalau begitu aku akan menyuapimu," Alana mengambil makanan itu menggunakan tangannya.


"Ayo buka mulutmu!" perintah Alana seraya menyodorkan makanan itu kepada Ken. namun, sebelumnya ia terlebih dulu mencicipi makanan itu untuk memeriksa makanan yang telah ia pesan pedas atau tidak.


"Tidak! aku tidak mau!" tolak Ken.


"Ken, kita sudah memesan banyak makanan. ayo buka mulutmu!" perintah Alana.


"Aku tidak mau jangan memaksaku!" seru Ken.


"Jangan seperti anak kecil. ayo cepat buka mulutmu!" Alana melototkan kedua matanya kepada Ken. Ken pun  terpaksa membuka mulutnya. dan Alana segera memasukan makanan itu ke dalam mulut Ken.


"Dia ini suka sekali memaksa seperti Jesslyn," gerutu Ken dengan kesal seraya perlahan mengunyah makanan itu. mulutnya masih menyesuaikan akan rasa asing dari makanan itu. Alana juga mengambil makanan itu dan memakannya.


"Bagaimana? enak kan?" tanya Alana seraya mengunyah makanannya. Ken hanya  terdiam dan menelan makanan itu.


"Ayo buka mulutmu lagi!" perintah Alana dengan menyodorkan makanan itu lagi.


"Tidak usah, aku akan makan sendiri!" tolak Ken.


"Cepat buka!" Alana memaksa. Ken pun membuka kembali mulutnya. mereka berdua makan secara bergantian dari tangan Alana. Ken sibuk mengunyah makanan sembari kedua matanya tak henti memperhatikan istrinya tersebut. karna baru kali ini ia di suapi oleh seorang wanita. apa lagi dengan menggunakan tangannya secara langsung.


 


.


.


.


.


.


.


.


jangan lupa minta dukungan like dan juga votenya ya nak anak.