My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Peringatan lagi



Setibanya di cafe yang di maksud oleh Brianna. Ken segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam cafe tersebut. kedua matanya sekilas melihat ke beberapa pengunjung. ia nampak begitu kebingungan. bukankah, Ken sebelumnya sama sekali tidak pernah bertemu dengan Ibu dari istrinya itu?


Ken melangkahkankan kakinya dan tak henti memperhatikan sekitar. bahkan, suara sepatu fantovel yang ia kenakan terdengar begitu jelas saat berbenturan dengan lantai cafe itu.


Tangan Ken kini meraih ponsel milik Alana yang sempat ia selipkan di salah satu kantong celananya. ia hendak menanyakan keberadaan Brianna melalui pesan singkat. namun, niatnya di urungkan, tatkala, kedua matanya menangkap wajah seseorang yang tak asing baginya sedang duduk di bagian ujung cafe itu.


"Caleey?" Ken menautkan kedua alisnya seakan sedang menahan rasa geram. lalu, kedua bola matanya berpindah arah ke seorang wanita paru baya yang terlihat duduk bersebelahan dengan Caleey.


"Sepertinya itu Maminya Alana." Ken menyipitkan kedua matanya, ia sejenak memperhatikan dari kejauhan paras wanita yang memiliki sedikit kemiripan dengan istrinya tersebut.


Ken mengembalikan ponsel milik Alana ke dalam saku celananya.


dan dengan wajah tak ramah, Ken segera melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati meja Caleey, seseorang yang sudah membuat amarahnya memuncak dengan sendirinya.


"Sudah lama kalian menunggu?" tanpa sungkan, Ken langsung mendudukan tubuhnya di bangku kosong yang ada di depan Caleey dan juga Brianna. Brianna mengernyit heran dengan laki-laki asing yang saat ini ada di hadapannya.


Caleey begitu terkesiap. Kedua bola matanya membulat dengan sangat sempurna, "Kak Ken?" bibirnya berucap dengan susah payah.


"Bagaimana bisa Kak Ken yang datang?" gumamnya dalam hati. kedua mata Caleey tak berkedip. sesekali ia memberi jeda untuk bergantian menelan ludahnya.


"Kau begitu terkejut karna yang datang aku?" tanya Ken dengan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Apa kau mengenalnya sayang?" tanya Brianna yang saat ini menoleh kepada Caleey, kemudian kembali melihat ke arah Ken. namun, Caleey membungkam seolah bibirnya tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Bibinya tersebut.


"Kak Ken, se-sedang apa Kak Ken kemari? di-di mana, Alana?" tanya Caleey seraya menelan ludahnya yang hampir mengering.


"Siapa laki-laki ini, sayang?" Brianna yang masih penasaran bertanya kembali kepada  Caleey. namun, jawaban yang ia dapatkan hanya melihat raut wajah Caleey yang nampak tak tenang.


"Selamat siang, Nyonya Brianna. akhirnya saya bisa bertemu dengan anda."


"Saya, Kendrick Moen. suami Alana, putri anda." Ken menjulurkan tangannya hendak menjabat tangan Brianna. namun, saat Brianna tau bahwa laki-laki yang kini berhadapan dengannya ialah suami putrinya. Brianna hanya diam dan memandangnya dengan tatapan tidak suka.


Serasa tak mendapat sambutan baik dari mertuanya itu. Ken dengan segera menarik kembali tangannya dari hadapan Brianna.


"Oh, kau yang bernama Kendrick?" tatapan mata Brianna seketika berubah menjadi tidak menyenangkan. terlebih lagi, raut wajah Ken yang nampak tak ramah. membuat Brianna hanya bisa menggeleng kepalanya dengan heran.


"Apa istimewa laki-laki ini, untuk Alana?" gumam Brianna dalam hati.


"Di mana Alana? kenapa kau yang ke mari?" tanya Brianna.


"Selama Alana bersama saya, saya akan memastikan Alana baik-baik saja. jadi, anda tidak perlu menanyakan dia ada di mana!" seru Ken.


"Maksudku, Aku di sini ingin bertemu dengan putriku. bukan dengan dirimu!" seru Brianna.


"Tidak ada bedanya! aku dan Alana sama saja, anda bisa katakan apa yang ingin anda katakan, nanti akan ku sampaikan kepada Alana!" perintah Ken.


Sementara Caleey, ia di buat membungkam akan kehadiran laki-laki yang ia cintai berada di sana secara tiba-tiba. ini benar-benar tidak sesuai dengan rencana awalnya. bahkan, perempuan itu sudah susah payah menyusun kata-kata untuk mempengaruhi Alana. namun, sialnya, kali ini nasib baik ta berpihak kepadanya.


"Katakan, apa yang ingin kalian bicarakan dengan Alana?" tanya Ken sambil menaikan satu kakinya di atas lutut.


"Kami hanya merindukan Alana saja, Kak Ken. makanya kami ingin menemuinya," jawaban Caleey membuat Ken melirik tajam ke arahnya.


"Merindukannya?" Ken menaikkan salah satu alisnya.


"Sejak kapan kalian merindukan Alana? jika benar pertemuan kalian hanya sekedar melepas rindu. kenapa harus menyuruh Alana untuk datang kemari sendiri?"


"Apa yang kau rencanakan, Caleey?" tanya Ken.


"Kenapa Kak Ken, selalu berpikiran buruk tentangku?" tanya Caleey. perempuan itu benar-benar pintar sekali memainkan sandiwaranya. bahkan, jika orang lain yang belum tau watak aslinya, mungkin akan welas saat melihat raut wajahnya yang seperti itu.


"Pikiran dan hatiku sudah bekerja sama! mereka bisa membedakan perilaku baik dan buruknya seseorang!" ujar Ken.


"Apa yang ingin kau rencanakan dengan Ayahmu? ingin mempengaruhi Alana? Atau Menjatuhkan Celouis Company?" tanya Ken dengan tatapan dinginnya.


"Kak Ken, cukup! Kau Sudah keterlaluan!" bentak Caleey.


"Keterlaluan seperti apa? Katakan!" Ken tersenyum mentah.


"Kau masih bertanya? kau menikahi Alana hanya karna mengincar perusahaan Daddy-nya saja kan?" suara Brianna menyaut dengan tegas.


"Jika memang benar, lantas anda mau apa, Nyonya?" tanya Ken dengan santainya, bahkan membuat Brianna semakin di buat murka.


"Memang benar, kau bukan Laki-laki baik! Laki-laki semacam dirimu tidak pantas untuk putriku!" seru Brianna.


"Anda berbicara seperti itu. seolah anda sudah pantas  menjadi Ibu yang baik untuk Alana!" seru Ken.


"Jaga tutur katamu!" Brianna sedikit mengeraskan suaranya dan menunjuk wajah Ken dengan jari telunjuknya.


"Ada yang salah dengan perkataan saya?" tanya Ken.


"Kalau saya memang bukan laki-laki baik untuk putri anda. kenapa anda membiarkan Alana menikah dengan saya? lalu, ke mana anda saat Alana menikah? bahkan anda sendiri saja tidak tau kapan Alana menikah dengan saya!" seru Ken. namun Brianna bungkam.


"Nyonya Brianna, aku sangat menghormati anda sebagai mertua saya. tapi, saya peringatkan. jangan pernah sekali-sekali anda mempengaruhi hal buruk kepada Alana!" tutur Ken.


"Seharusnya aku yang memperingatkanmu seperti itu! aku tidak akan pernah membiarkan perasaan anakku terluka hanya karna laki-laki seperti dirimu!" seru Brianna.


"Tau apa anda tentang perasaan? Anda saja tidak tau berapa luka yang di terima oleh Alana saat anda meninggalkan dia dan Daddy Holmes dalam keadaan terpuruk! apa anda memikirkan kehidupan putri anda setelah itu? bahkan seorang anak seharusnya mendapat dukungan dari Ibunya, tapi anda? Anda malah meninggalkan Alana tanpa memberinya dukungan sama sekali. dan sekarang anda kembali hanya untuk mencoba mengacaukan kehidupannya! Ibu macam apa anda ini?" seru Ken. namun, Brianna hanya diam karna dirinya memang merasa bersalah akan tuturan Ken karna telah meninggalkan Alana.


"Dan kau Caleey, Aku sudah memperingatkanmu bukan? kau pikir aku main-main? kau dan Ayahmu berani sedikit saja mengusik kehidupan istriku dan juga Daddy Holmes. aku tidak akan pernah mengampuni kalian!" Ken berucap dengan tatapan dan suara yang penuh penakanan.


"Bahkan, aku bisa membuat kau dan keluargamu merasakan apa yang pernah Alana rasakan!" bisik Ken di telinga Caleey. Ken beranjak berdiri, ia merapikan jasnya yang sama sekali tidak berantakan itu. ia memperhatikan sekitar dan segera pergi dari sana.


"Kak Ken, aku dari dulu sangat mencintaimu. kenapa kau tidak mengerti itu..." kedua mata Caleey berkaca-kaca memperhatikan gerak tubuh tegap Ken yang berjalan semakin menjauh dari tempat itu.


Raut wajah Caleey begitu memucat seakan tak teraliri darah di sana. ia berulangkali menelan ludahnya.


"Ini semua gara-gara Alana. kenapa dia harus hadir di kehidupan Kak Ken? Aku tidak akan menyerah!" gumamnya dalam hati.


"Bibi, bisa melihat sendiri kan... dia bukan  laki-laki baik untuk Alana," ujar Caleey.


Brianna sejenak terdiam dan mencerna apa yang baru saja Caleey katakan.


"Ini semua gara-gara Holmes, anakku jadi menangung semuanya," ujar Brianna dengan mengepalkan kedua tangannya.


***


Alana terlihat sedang sibuk membuatkan kue untuk Ken di dapur yang ada di toko itu. dirinya terlihat sedikit berantakan karna tak sedikit tepung mengotori sebagian tubuh dan rambutnya. Namun, tak mengurangi kecantikannya sama sekali.  kali ini Alana mencoba membuat cup cake sweet potato, variant yang belum Alana pernah coba sebelumnya. dan mungkin, akan menjadi menu baru di toko kuenya. Alana memasukan adonan kue yang sudah ia mixer rata ke dalam paper cup untuk ia pindahkan ke dalam oven yang sudah menyesuaikan suhu panasnya. Ia memutar knop timer dan menyetelnya selama 15 menit.


^


Ia melepaskan Apron yang masih melekat di tubuhnya dan mengembalikannya ke tempat semula. ia mengambil beberapa lembar tissue dan sedikit membersihkan tubuhnya yang terlihat kotor akibat percikan tepung.


"Nona Felly, aku menitipkan toko. aku mau ke kantor suamiku," pamit Alana sambil memasukan  kotak kue itu ke dalam sebuah kantong transparant.


"Baiklah, Nona. hati-hati..." Nona Felly melambaikan tangan kepada Alana yang baru saja berjalan keluar meninggalkan toko.


Kedua kaki Alana yang di baluti sepatu flat mengajak dirinya untuk  menyebrang jalan. tangan kanannya melambai saat di rasa  ada sebuah taxi  melintas ke arahnya. ia segera masuk dan menumpangi taxi tersebut. sang pengemudi taxi melajukan taxi miliknya menuju ke tempat yang di tuju oleh Alana.


^


Taxi yang di tumpangi Alana berhenti di halaman kantor Papa Gio. ia memberikan beberapa lembar uang yang baru saja ia ambil dari dalam dompetnya kepada sang pengemudi taxi itu. lalu, ia masuk ke dalam kantor Papa Gio dan segera naik ke lantai tiga untuk menemui Ken di ruangannya.


Alana menenteng kantung yang berisi kue di dalamnya. dengan langkah dan raut wajah yang penuh semangat. setelah mengetahui Alana ialah istri dari Ken. tak sedikit karyawan yang memberinya sapaan hangat. Alana membalas sapaan mereka dengan senyuman yang penuh keikhlasan, hingga beberapa karyawan bergerombol membicarakan akan keramahan dan keanggunan istri dari anak owner tempat mereka bekerja itu.


"Sedang apa kalian bergerombol di jam kerja seperti ini?" suara Vannya membuyarkan mereka semua.


"Selamat siang, Nona Vannya."


"Maaf, kami hanya membicarakan Nona Alana istrinya Tuan Ken. ternyata dia sangat ramah sekali," jawaban dari salah seorang bawahan Vannya membuat wanita itu sedikit menautkan kedua alisnya. jelas saja, raut wajahnya sedikit berubah saat mendengar pujian itu.


"Segera kembali dan selesaikan pekerjaan kalian!" perintah Vannya. seketika itu, mereka semua membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaan mereka masing - masing.


Vannya merapikan rambutnya dan menaikan sedikit rok yang ia kenakan hingga paha jenjangnya leluasa terlihat dengan begitu jelas. ia menghampiri  Alana yang terlihat sedang mengetuk pintu ruangan Ken berkali-kali.


"Nona..." suara Vannya membuat Alana menoleh ke arahnya. kedua mata Alana memperhatikan Vannya yang terlihat begitu sexy dari sebelumnya. bahkan, sepatu heels yang memiliki ketinggian 10 cm itu semakin mempercantik tubuh ramping wanita itu.


"Nona Vannya." Alana melebarkan senyumnya kepada Vannya.


"Anda mencari, Tuan Ken?" tanya Vannya seraya melipat kedua tangannya. bahkan kedua matanya menatap Alana dengan tatapan tak suka. namun, Alana menanggapinya dengan biasa saja.


"Iya, Nona. saya mencari suami saya, tapi sepertinya di ruangannya tidak ada. apa anda tau di mana suami saya?" tanya Alana.


"Tuan Ken belum datang," ujar Vannya.


"Belum datang? bagaimana bisa belum datang?" tanya Alana. dahinya mengernyit dengan begitu heran. bukankah, Ken sudah berangkat ke kantor tadi? lalu, ke mana dia? pikiran Alana melontarkan begitu banyak pertanyaan secara bersamaan.


"Anda kan istrinya, kenapa anda bertanya kepada saya?" seru Vannya.


"Maksudku--"


"Alana..." suara Ken menghentikan percakapan Alana dengan Vannya. Alana menoleh ke asal suara yang baru saja memanggil namanya. terlihat Ken  berjalan dengan ngos-ngosan dan keringat yang bercucuran di dahinya.


"Ken...."


"Kau kemari?" tanya Ken yang saat ini sedang menyetabilkan napasnya.


"Iya, kau dari mana saja?" tanya Alana.


"Kau sampai berkeringat seperti ini," Alana tak sungkan mengusap keringat yang membasahi dahi dan juga leher suaminya tersebut dengan tangan kanannya di depan Nona Vannya.


"Liftnya tiba-tiba mati. aku jadi terpaksa naik tangga darurat." Ken mencoba mengeringkan keringatnya sendiri menggunakan tangan.


"Nona, Vannya. bisakah kau membantuku untuk mengambilkan air mineral?" pinta Alana.


"Sial." Vannya mengumpat.


"Iya, tentu saja. tunggu sebentar, Nona. aku akan mengambilkannya." Vannya segera pergi dari sana.


"Aku seorang General Manager di sini. bisa-bisanya dia menyuruhku layaknya Office Girl!" bibir Vannya tak henti-hentinya mengumpat dengan kesal.


***


Ken segera mengajak Alana untuk masuk ke dalam ruangannya. ia menarik tangan Alana dan menggiringnya untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Kau dari mana saja, Ken?" tanya Alana sambil menyentuh dada Ken.


"Ehm, aku ada urusan sebentar tadi. kau ke mari?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya.


"Kau ada urusan apa?" tanya Alana  dengan suara datarnya.


"Sedikit urusan pekerjaan," jawab Ken. namun, Alana hanya diam dan menatapnya.


"Oh..." Alana membulatkan bibirnya.


"Kau tidak percaya?" tanya Ken.


"Aku percaya..." Alana tersenyum. tangannya menarik beberapa lembar tissue yang tergeletak di meja yang ada di depannya dan ia segera membantu Ken untuk mengeringkan sisa - sisa keringatnya. Ken memperhatikan Alana kemudian tersenyum.


"Aku senang kau kemari..." Ken memeluk Alana dengan gemas.


"Ken, lepaskan aku. aku kesulitan bernapas." Alana meronta dengan suara yang begitu manja.


"Tidak akan ku lepaskan." Ken terkekeh dan  semakin mengeratkan pelukannya bahkan sangking gemasnya, ia berkali-kali menciumi pipi Alana.


Vannya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Ken dengan membawa segelas air putih di tangan kanannya. bahkan, ia menyaksikan sendiri pemandangan yang tidak menyenangkan di kedua matanya itu, "Sialan!"  umpat Vannya.


saat tau Vannya ada di sana. Ken segera melepas Alana yang saat itu masih di dekapannya.


"Permisi, Nona." Vannya menyodorkan segelas air putih kepada Alana.


"Terimakasih, Nona Vannya." Alana meraih gelas tersebut dan memberinya kepada Ken, "Minumlah dulu." Alana mendekatkan gelas itu ke bibir suaminya tersebut. Ken segera meneguk habis air itu, tenggorokannnya benar-benar di buat mengering akibat menaiki anak tangga yang cukup panjang baginya. kemudian, Alana memindahkan gelas yang terlihat sudah kosong itu ke atas meja yang ada di depannya.


"Saya permisi dulu, Nona ... Tuan..." pamit Vannya.


"Tunggu, Nona Vannya." suara Ken menghentikan langkah kaki wanita itu.


"Iya, Tuan?" saut Vannya.


"Segera panggilkan teknisi untuk memperbaiki liftnya!" perintah Ken.


"Sudah, Tuan. lift sedang dalam perbaikan," jawab Vannya.


"Ya sudah, pergilah!" perintah Ken. Vannya mengiyakan dan segera pergi dari sana.


"Sial, beruntung sekali dia? aku yang terlihat cantik, sexy dan pintar begini saja susah sekali mendapat perhatian Ken. sedangkan dia? sudah di pastikan, dia menakhlukan Ken dengan menggunakan sihir." Vannya mempercepat langkah kakinya untuk kembali ke ruangannya.