
Ken kembali ke kamar, Namun ia dibuat panik saat tak mendapati Alana di dalam sana. Ken hendak keluar dari kamar, namun kedua matanya melihat pintu kamar mandi yang tertutup, ia terlebih dulu menghampri kamar mandi itu.
"Alana, apa kau di dalam?" teriakan panik Ken diiringi dengan ketukan pintu.
"Alana..."
Ceklek,
Pintu seketika terbuka. Terlihat Alana keluar dari sana dengan wajah datarnya.
"Sayang, aku kira kau pergi ke mana..." Ken mendekati Alana dan mengusap kepalanya. Alana hanya diam dan menatapnya.
"Alana?"
"Aku terbangun dan mencarimu karna kau tiba-tiba tidak ada..." jawabnya dengan nada terendah.
"Maaf, ayo aku akan menemanimu untuk tidur lagi." Ken menarik tangan Alana. Namun, Alana melepaskannya.
"Kau dari mana?" pertanyaan Alana membuat Ken kelabakan untuk menyusun jawaban.
Ken terdiam dengan tatapan yang bingung. "Ehm, aku dari balkon, Valerie mengajakku berbicara sebentar, dia tadi ingin berpamitan pulang," ujarnya.
"Hanya berpamitan pulang dan berbicara, kenapa harus ke balkon?" tanya Alana dengan tatapan sinis.
"Sudahlah, aku ingin tidur lagi, aku mengantuk." Ia melewati Ken dan kembali merebahkan tubuhnya di atas
tempat tidur.
"Alana..."
"Jangan menggangguku!" Alana menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Ken mengikuti Alana untuk naik di atas tempat tidur dan melingkarkan tangannya di atas balutan selimut tersebut.
"Alana, aku hanya berbicara saja dengannya, tolong jangan marah seperti ini," bujuknya. Namun, mulut Alana tak bergeming, tak mau menyauti perkataan suaminya tersebut.
Alana hanya memejamkan kedua matanya di balik balutan selimut tersebut. Bahkan tak sedikit air mata yang ikut mengalir di sana. Wanita mana yang tidak cemburu melihat suaminya berbicara dengan seorang wanita yang masih menaruh hati kepadanya. Bahkan Alana melihat sendiri, saat Ken membiarkan Valerie memeluknya.
Ken berkali-kali membujuknya, namun tetap saja, Alana tak mau berbicara dengannya hingga akhirnya ia menyerah dan membiarkan Alana untuk beristirahat.
^
Keesokan paginya,
seusai sarapan, Ken dan yang lainnya berencana untuk segera bersiap-siap pulang, begitu juga dengan Alana. Setelah menghabiskan makanannya, ia terlebih dahulu meninggalkan meja makan tanpa pamit dan kembali ke kamar. Bahkan sedari dirinya bangun tidur, ia tak menegur Ken sama sekali. Membuat Ken merasa bingung akan kediamannya.
"Kakak, Alana kenapa?" tanya Jesslyn.
"Entahlah..." saut Ken. Ia beranjak berdiri dan mengikuti istrinya tersebut ke kamarnya.
Saat Alana kembali ke kamar, ia meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Ia melihat ada tujuh panggilan tak terjawab dari Bi Ester.
"Kenapa Bi Ester menelpon hingga berkali-kali?" gumam Alana. Ia mencoba menelpon balik nomer asisten rumah tangganya tersebut. Namun, Alana tak mendapatkan jawaban.
"Ada apa?"
"Apa ada hal yang buruk terjadi dengan Daddy?" Alana seketika menjadi panik. Alana tak henti-hentinya menghubungi nomer Bi Ester dan juga nomer telepon rumah, namun tetap saja tidak ada yang menjawabnya. Alana masih saja tak menyerah.
"Sayang, kau menelpon siapa?" Ken yang baru saja masuk ke dalam kamar, seketika menghampiri Alana dan menyentuh lengan tangannya. Namun, Alana segera menepisnya begitu saja dan tak menghiraukannya.
Berkali-kali Alana menghubungi nomer Bi Ester dan saat Alana hendak mengakhirinya, seketika itu suara Bi Ester menyaut dari balik ponsel yang saat ini ada di genggamannya.
"Hallo, Nona Alana."
"Bibi, kenapa Bibi menelpon Alana berkali-kali? ada apa, Bi.?" Alana berbicara dengan tak sabar mendengar jawaban dari Bi Ester.
"Nona, Tuan masuk rumah sakit." Penuturan Bi Ester membuat kedua mata Alana membulat dengan sangat sempurna.
"Daddy?"
"Kenapa dengan Daddyku? katakan, kenapa?" Alana berucap dengan bibir gemetarnya, takut hal buruk terjadi dengan Ayahnya tersebut.
"Tadi pagi, saat perawat hendak menyuapi dan memberi obat kepada Tuan, tiba-tiba Tuan tidak sadarkan diri Nona, sekarang kami sudah membawanya ke rumah sakit," ujar Bi Ester.
"Lalu bagaimana, Bi?" tanya Alana dengan tidak sabar.
"Apa Daddy baik-baik saja?" Alana bertanya dengan gemetar menyesuaikan napasnya yang terbuang tak beraturan.
"Dokter masih memeriksa Tuan, Nona." Tanpa menjawab, Alana segera mematikan panggilan suara yang sedang berlangsung tersebut
"Alana, kenapa Daddy?" tanya Ken.
"Daddy di rumah sakit, Bi Ester bilang, Daddy tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Ken, aku mau pulang sekarang," pinta Alana.
"Baiklah... Tunggu sebentar."
Ken bersiap-siap. Ia berpamitan kepada David dan yang lainnya untuk pulang terlebih dahulu, ia juga menitipkan Jesslyn dan juga Kimmy kepada Jasson, sebenarnya, Kimmy dan Jesslyn merengek ingin ikut pulang bersama Ken dan juga Alana. Namun, Ken melarangnya, karna ia takut mereka berdua membuat keributan dan akan semakin membuat Alana panik.
***
Ken dan Alana kini sudah berada di dalam mobil melakukan perjalanan pulang ke rumah, wajah Alana masih dirundung kecemasan akan ayahnya hingga membuat dirinya begitu tak ramah menjawab setiap pertanyaan yang Ken lontarkan. Mereka melakukan perjalanan kurang lebih tiga hingga empat jam lamanya. Mereka tak pulang ke rumah terlebih dulu, namun langsung pergi mengunjungi rumah sakit.
^
Setibanya di rumah sakit,
Alana turun dari mobil, berlalu meninggalkan Ken yang sedang sibuk memarkirkan mobil. Ia mencari ruangan Ayahnya sesuai yang diberitaukan oleh Bi Ester melalui pesan singkat yang ia terima tadi.
Langkah kakinya terhenti di depan ruangan yang dimaksud oleh Bi Ester. Terlihat Bi Ester sedang duduk di ruang tunggu.
"Bi Ester..." sapaan Alana membuat wanita parubaya itu menoleh.
"Nona..." Bi Ester dengan segera beranjak berdiri dan menghampiri Alana.
"Di mana Daddyku?" tanya Alana, air matanya menderas tak tertahankan.
"Di dalam, Nona. Sementara, Dokter melarang siapapun untuk masuk, agar Tuan beristirahat," tutur Bi Ester.
"Bagiamana keadaan Daddyku, Bi? kenapa Daddy bisa tidak sadarkan diri?" tanya Alana dengan tak sabar untuk mendengar jawaban dari wanita itu.
"Setelah perawat membantu Tuan untuk mandi, dia meninggalkannya sebentar untuk mengambilkan makanan dan obat. Saat perawat kembali, Tuan tiba-tiba tergeletak di atas tempat tidur dan tidak sadarkan diri, Nona. Kata Dokter, Tuan mengalami pembengkakan jantung," ujar Bi Ester.
"Pembekakan jantung?" Bi Ester mengiyakannya.
"Tapi, bagaimana keadaan Daddy, Bi?" tanya Alana seraya mengusap air matanya.
"Tuan baik-baik saja, Nona. Tadi memanggil-manggil nama Nona Alana, tapi sekarang Tuan beristirahat, Dokter melarang siapapun untuk mengganggunya," ujar Bi Ester.
Tak lama kemudian, Ken terlihat datang dan menghampirinya.
"Alana, akan masuk sebentar, Bi. Alana tidak akan mengganggu Daddy," Alana segera masuk ke dalam ruangan yang menampakan ayahnya sedang berbaring di sana. Tubuhnya kini sudah duduk bersandar di kursi yang ada di samping pembaringan ayahnya tersebut.
"Daddy..." tangan lembut Alana menyentuh kepala ayahnya tersebut, tangan lainnya memegang tangannya dan memberikan ciuman di punggung telapak tangan itu. Air mata masih mengiringi tatapannya.
Tak lama kemudian, Alana beranjak berdiri, ia mencium puncak kepala ayahnya dan berlalu keluar dari ruangan itu. Ia tak berlama-lama di ruangan itu karna tak ingin mengganggu ayahnya tersebut.
"Alana, bagaimana Daddy?" tanya Ken. Namun, Alana hanya diam saja, ia melewati Ken dan mendudukan tubuhnya di kursi tunggu. Ken segera menghampiri dan duduk di sampingnya.
"Alana..." Ken menggegam tangan Alana yang basag akan keringat.
"Tidak seharusnya aku meninggalkan Daddy sendirian, aku terlalu egois, padahal aku tau Daddy masih sakit," air mata Alana kembali berurai sambil menatap Ken. Membuat laki-laki itu tak tega saat melihatnya.
"Kalau saja kau tidak mengajakku berlibur, aku tidak akan meninggalkan Daddy, Daddy tidak akan masuk rumah sakit seperti ini," seru Alana. Ken mengusap air mata Alana dengan kedua ibu jarinya, namun tak membuat wajahnya mengering.
"Daddy, akan baik-baik saja," tutur Ken.
"Sebelumnya, kau juga bilang seperti itu kepadaku. Tapi sekarang kau lihat kan? Daddyku tidak baik-baik saja," Ken seketika memeluknya.
"Aku takut Ken."
"Tidak akan terjadi apa-apa..." tutur Ken, memberi ciuman berkali-kali di kepala Alana, setidaknya membuatnya sedikit tenang.
***
Hari ini, Alana menjaga Holmes sendirian, karna Ken harus pergi bekerja hingga sore hari. Sebenarnya Ken ingin sekali menemani Alana, dan enggan untuk meninggalkannya. Namun, ia terkendala akan pekerjaan di kantor, karna, ia belum menyelesaikan berkas kerjasamanya antara perusahaan Papa dan mertuanya dengan Tuan Sanichi.
Mama Merry, Jesslyn dan juga Kimmy sempat meluangkan waktunya menemani Alana, namun Alana menyuruh mereka pulang karna ia tak mau merepotkan semua orang.
^
Sore harinya, Seusai pulang dari kantor Ken menghampiri Alana dan mertuanya kembali ke rumah sakit. Alana terlihat tidur dengan posisi duduk di samping ayahnya tersebut, ia kelelahan karna tadi sempat mengobrol dengan Ayahnya. saat Holmes tertidur, ia ikut tertidur pula. Ken mengusap kepalanya, membuat Alana terbangun akan sentuhan itu.
"Kau sudah pulang?" Alana mengucek kedua matanya sambil menguap, menyesuaikan cahaya sekitar.
"Bagaimana keadaan Daddy hari ini? Apa Daddy sudah membaik?" tanya Ken. Ia memandang Alana dan Holmes yang tertidur secara bergantian.
"Iya, Daddy baik-baik saja, kami tadi sempat mengobrol sebentar," ujar Alana, ia beranjak berdiri mengajak Ken keluar dari ruangan ayahnya.
"Tunggulah di sini, aku akan membelikanmu makanan." Alana hendak berlalu meninggalkan Ken, namun Ken menghentikannya.
"Nanti saja... aku belum lapar."
"Ayo duduklah..." Ken menggiring istrinya tersebut untuk duduk di kursi tunggu. Ken menatap Alana yang tak seriang seperti biasanya. Bahkan tak ada obrolan di antara mereka berdua.
"Ken..." panggilan Alana membuat Ken menyautinya.
"Apa kita bisa menunda untuk memiliki anak?" pertanyaan Alana membuat Ken terdiam.
"Setidaknya, setelah Daddy sembuh dan membaik..." ujar Alana. Ken menghela napas dan menganggukan kepalanya.
"Tidak apa-apa..." jawabnya seraya memeluk dan mencium kepala Alana.
"Sudah tiga hari ini kau kurang berisirahat. Ayo pulanglah, biar aku yang di sini menunggu Daddy," perintah Ken.
"Tidak... Aku tidak mau pulang, aku akan menunggu Daddy di sini!" tolaknya.
"Wajahmu sangat pucat." Ken mengusap wajah Alana. "Aku tidak mau kau nanti sakit," imbuhnya.
"Aku baik-baik saja, aku bisa beristirahat di sini, kau pulanglah saja, kau pasti lelah bekerja seharian..." tutur Alana.
"Mana mungkin, aku meninggalkanmu. Aku akan menemanimu di sini,"ujar Ken.
"Kakak..." suara seorang laki-laki terdengar menggema di lorong rumah sakit itu. Membuat Ken dan Alana menoleh secara bersamaan ke arahnya.
"Daven..." Alana seketika beranjak berdiri, mereka berdua berjalan saling menghampiri.
"Apa Daddy tidur, Kak?" tanya Daven. Alana mengiyakannya.
"Daddy beristirahat, jangan mengganggunya," tutur Alana.
"Aku tidak akan mengganggunya, kalian pulang saja, biar Daddy ku tunggu," perintah Daven.
"Tidak, kau saja yang pulang. Pasti kau pulang dari bekerja. Pulanglah, biar Kakak yang di sini," tolak Alana.
"Kakak, tolong pulanglah bersama Kak Ken, wajah Kakak terlihat pucat sekali, kalau Kakak sakit nanti Daddy akan sedih, yang ada Daddy akan menyalahkan dirinya sendiri," bujuk Daven. Alana hanya terdiam.
"Benar yang dikatakan Daven, lebih baik kita pulang, besok pagi kita kembali kemari lagi, kalau kau sakit, yang ada kau tidak bisa menjaga Daddy lagi," timpal Ken yang saat ini beranjak berdiri dan memegang kedua pundak Alana. Alana mencerna apa yang dikatakan oleh adik dan suaminya tersebut.
"Baiklah, Kakak pulang, tolong kabari Kakak jika ada apa-apa." Alana terpaksa pulang, meskipun dirinya berat sekali meninggalkan Ayahnya. Alana berpamitan kepada Daven dan menitipkan ayahnya tersebut kepada adik laki-lakinya itu.
Sebelum pulang, Alana menyuruh Ken untuk menghentikan mobilnya di apotik terdekat. Ia membeli beberapa pil kontrasepsi. Sedikit guratan kecewa di raut wajah Ken, namun, Ken bisa memaklumi keadaan istrinya tersebut.
Setibanya di rumah, Alana masuk ke dalam kamar, ia meletakan pil kontrasepsi itu ke sembarang tempat dan segera merebahkan tubuhnya di sana. Ia memejamkan kedua matanya dengan pikiran yang dipenuhi dengan kekacauan. Ia memijit kepalanya yang terasa pusing.
Ken meletakan tas kerjanya, mendekati Alana dan mengusap dahinya, lalu memberikan ciuman di sana. Ia beranjak berdiri dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
^^
Tak lama kemudian, Ken keluar dari kamar mandi, Alana menyiapkan satu setel pakaian rumah untuknya dan segera mengajaknya ke dapur untuk menikmati makan malam yang telah disiapkan oleh Bi Ester.
"Kenapa kau tidak memakan makananmu?" Ken menegur Alana saat melihat istrinya itu hanya memainkan makanannya.
"Aku tidak bisa makan, perutku tidak enak sekali," ujar Alana.
"Makanlah sedikit!" perintah Ken. Alana menggeleng kepalanya. Ken beranjak berdiri, memindah posisi duduknya untuk duduk di samping Alana.
"Aku suapi..." Ken mengambil alih makanan Alana dan hendak menyodorkan satu suapan ke mulutnya.
"Aku tidak mau, jangan memaksaku!" tolak Alana.
"Sedikit saja, kalau tidak enak jangan dilanjutkan!" perintahnya dengan suara lembut namun memaksa. Alana terpaksa menuruti suaminya itu, ia membuka mulutnya dan memakan makanan tersebut. Rasanya makanan itu begitu hambar di lidahnya, namun, entah kenapa Alana begitu lahap memakan makanan itu saat Ken yang menyuapinya. Bahkan, ia telah menghabiskan makanan yang mulanya tak mau ia sentuh sama sekali.
"Tidak enak, tidak ada rasanya..." Alana meneguk air putih yang baru saja di ambilkan oleh Ken.
"Tidak enak, tapi kau menghabiskannya!" ledek Ken.
"Iya, kenapa makanannya bisa habis? jangan-jangan kau ikut memakannya," seru Alana. Ken terkekeh.
"Kau ini! Jelas-jelas kau yang memakan makananya hingga habis dan sekarang kau menuduhku memakannya!" Ken menacak-acak rambut Alana dengan gemas.
"Kau tidak mau menambah?" tanya Ken.
"Tidak... aku sudah kenyang."
"Ya sudah, ayo kita istirahat." Ken mengajak istrinya tersebut kembali ke kamar.
Mereka berdua merebahkan tubuhnya yang begitu lelah di atas tempat tidur. Tiga hari tak bertemu tempat tidur, rasanya mereka merindukannya, sekalipun lelah, namun, tak menghalangi mereka berdua untuk melepaskan rasa rindunya di atas sana.
Keesokan paginya, Alana terlebih dulu terbangun, ia turun dari kamar mandi dan hendak membantu Bi Ester menyiapkan sarapan. Namun, kepalanya tiba-tiba serasa berputar-putar, perutnya seakan di aduk begitu hebat.
Alana menggembungkan mulutnya saat terasa sesuatu tertahan di tenggorokannya, ia dengan segera masuk ke dalam kamar mandi, dan memuntahkan semua cairan yang tiba-tiba sepagi itu sudah mengaduk-aduk perutnya. Bahkan hingga ia mengernyit akan rasa asam di mulutnya akibat cairan kuning yang terakhir keluar dari mulutnya. Alana berkumur dan membasuh wajahnya, berusaha mengatur napasnya yang terpompa secara tak beraturan.
Kepalanya yang terasa berat, membuatnya harus duduk di bawah lantai karna ia benar-benar tak kuat jika harus berdiri lama. Untuk kembali ke tempat tidur saja, rasanya begitu enggan. Alana memejamkan kedua matanya, menyesuaikan tubuhnya yang gemetar tak karuan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.