My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Penuh tanda tanya



Valerie tak mau melihat pemandangan yang menyakiti matanya itu, namun tetap saja, suara perbincangan Alana dan Ken begitu menyiksa hati dan telinganya, ia benar-benar tak menyukai ini semua. Rasanya ia ingin sekali segera pergi dari sana.


Tiba-tiba sebuah suara  berhasil menyita perhatian Alana dan Ken. Yang tak lain berasal dari suara pecahan gelas yang terjatuh akibat kecerobohan Valerie saat hendak mengambil gelas dari dalam rak.


Alana dan Ken saling menoleh secara bersamaan ke arah Valerie, membuat wanita itu merasa tak enak hati.


"Ma-maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan gelas." Valerie berjongkok hendak memunguti serpihan gelas yang bercecer di lantai itu.


"Hati-hati, Nona Valerie." Alana beranjak berdiri diikuti oleh Ken yang hendak membantu Valerie. Alana terlebih dulu mematikan kompor karna air yang di masak oleh Valerei terlihat mendidih.


Sedangkan Ken, laki-laki itu berjalan  mendekati Valerie. "Pergilah, biar ku bersihkan!" perintahnya.


"Tidak usah, biar aku saja..." tolak Valerie.


"Ada apa?" terlihat David, Kimmy dan Jesslyn menghampiri mereka  karna  suara dari pecahan gelas  itu terdengar hingga ke depan.


"Tidak apa-apa hanya gelas pecah..." saut Ken.


"Aku tidak sengaja memecahkannya, maafkan aku." Valerie hendak memunguti serpihan gelas yang bercecer di sana.


"Valerie, hati-hati, awas serpihannya mengenai tanganmu!" tutur Jesslyn.


"Nona Valerie, lain kali hati-hati. Untung yang pecah hanya gelas bukan kepalamu!" Kata-kata Kimmy lolos begitu saja dari mulutnya.


"Kimmy!" tegur Alana, ia menatap Kimmy sembari menggeleng kepalanya. Kimmy dengan cepat membungkam mulut mungilnya itu.


"Kau ini bicara yang tidak-tidak!" seru Jesslyn.


"Aku hanya bercanda." Kimmy terkekeh.


"Ken, biarkan!" suara David menghentikan Ken yang hendak berjongkok membantu Valerie.


"Ajaklah istrimu beristirahat! Sepertinya Alana sangat lelah. Biar aku yang membantu Nona Valerie," imbuhnya.


"Baiklah..." Ken berjalan mendekati Alana yang masih berdiri di dekat kompor. "Ayo kita kembali ke kamar," ajak Ken seraya menggandeng tangan Alana.


"Bagaimana, Nona Valerie?" tanya Alana.


"Biarkan saja..." Ken menarik tangan Alana hendak meninggalkan dapur itu.


"Tunggu sebentar, sayang. Habiskan dulu Ginger tea-mu..." perintah Alana. Ken pun mengiyakan, ia kembali mendekati meja makan dan meneguk habis teh jahe miliknya.


"Minggirlah, Nona Valerie. Biar ku bersihkan serpihan gelasnya, lebih baik ambilah gelas baru." David memerintah. Valerie menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Ia mengambil gelas baru untuk membuatkan Billy kopi. Namun, kedua mata Valerie tak henti berpusat akan gerak tubuh Ken yang berjalan menggandeng tangan Alana menjauh dari jangkauan matanya dan diikuti oleh Jesslyn dan juga Kimmy di belakangnya.


"Lagi-lagi aku membuat kekacauan..." Valerie memejamkan kedua matanya.


Valerie membuka kembali kedua matanya dan mengalihkannya ke arah David yang masih sibuk memunguti serpihan gelas itu dengan sapu.


Valerie segera menuang bubuk kopi dan gula ke dalam gelas yang baru saja ia ambil. Kemudian, ia menyeduhnya menggunakan air panas yang sempat ia masak tadi  dan hendak memberikannya kepada Billy.


"Tuan David, terimakasih banyak, maaf jadi merepotkanmu! Aku permisi..." ujar Valerie tanpa memandang David.


"Tunggu, Nona Valerie!" suara David berhasil menghentikan langkah kaki Valerie yang hendak meninggalkan dapur tersebut. David berjalan mendekati Valerie.


"Kau lihat pecahan  gelas ini Nona Valerie?" tanya David dengan menunjukan  serpihan gelas yang sudah ia pungut ke dalam kantong plastik tranparant. Valerie meliriknya, namun bibirnya tak bergeming untuk mengiyakan pertanyaan David.


"Jangan terlalu banyak berharap untuk bisa mendapatkan hati seseorang, jika kau tidak ingin menghancurkan dirimu sendiri seperti pecahan  gelas ini," imbuhnya. Valerie hanya menatap David dengan tatapan dalam.  Tanpa menggubris perkataan  laki-laki yang ia anggap menyebalkan itu, Valerie segera pergi dari sana.


 


 


***


 


Jesslyn dan Kimmy mengikuti Ken dan Alana masuk ke dalam kamar,


"Alana, tadi kita kan belum berpelukan," gerutu Kimmy.


"Oh iya," saut Alana. Kimmy segera merengkuh tubuh Alana dan Jesslyn untuk saling berpelukan.


"Kepalaku sungguh pusing, Jika melihat mereka bertiga berkumpul." Ken berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kakak, apa Alana  boleh tidur bersama kami?" tanya Jesslyn.


"Tidak boleh!" Ken menyaut dengan cepat.


"Jesslyn, katanya kau menginginkan keponakan yang lucu, tetapi malah mengajak Alana tidur bersama kita, kau ini bagaimana!" Kimmy berbisik mendekati daun telinga Jesslyn, bahkan bisikannya kepada Jesslyn terdengar hingga ke telinga Ken membuat laki-laki itu terkekeh dibuatnya.


"Oh iya, aku lupa..." saut Jesslyn lirih.


"Ya sudah!"


"Alana, Kakak. Aku dan Kimmy akan kembali ke kamar untuk beristirahat," pamit Jesslyn. Alana dan Ken mengiyakannya, Kimmy dan Jesslyn segera pergi dari sana. Alana menutup pintu kamarnya dan seketika melirik ke arah Ken yang baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kenapa melirikku seperti itu?" tanya Ken.


"Tidak, siapa yang melirikmu," bantah Alana.


"Apa kau tidak terima aku melarangmu tidur bersama Jesslyn dan Kimmy?"  seru Ken.


"Kalau tidak terima, sudah sana tidurlah bersama mereka!" imbuhnya.


"Tidak... memangnya siapa yang mau tidur bersama mereka? aku akan tidur di sini bersamamu," ujar Alana yang masih berdiri di tempat yang sama.


"Lalu kenapa masih berdiri di situ?" Ken mengernyitkan dahinya. Alana dengan takut  segera berjalan dan mendekat ke tempat tidur.


"Ayo kemarilah..." Ken  bertutur dengan suara lembutnya. Sekali tarikan, ia mampuh merengkuh tubuh Alana hingga jatuh di atas tubuhnya, Alana sudah bisa menerjemahkan apa yang sedang diinginkan oleh suaminya itu.


"Kalau ada maunya, bicara begitu manis..." gerutu Alana.


 


^^^


Ken masih terjaga, lengannya menumpu kepala Alana yang kini dijadikan sebuah bantal oleh kepala wanita itu. Ia memainkan rambut Alana, membelai dan mengusapnya dengan perlahan karna tak mau membangunkannya. Jelas saja, wanita itu sudah tertidur dengan begitu lelapnya. Kedua mata Ken melirik ke arah jam dinding yang terpampang di dalam kamar itu. Waktu menunjukan pukul 23.05 Pm.


"Astaga, aku lupa, aku ada janji bermain kartu dan minum anggur bersama David dan Ashley," gumam Ken.


"Sepertinya, dia sudah tertidur nyenyak." Kedua mata Ken beralih ke arah Alana.


Ken perlahan memindahkan tangan Alana yang melingkar di tubuhnya. Kemudian, ia mencoba perlahan-lahan memindahkan kepala wanita itu ke bantal yang ada di sampingnya.


"Mau ke mana?" Alana tiba-tiba membuka kedua matanya yang masih menyipit dengan tatapan buram.


"Astaga, dia bangun..." Ken mendelik bingung tak karuan.


"Ehm, itu--"


"Kau mau ke mana?" tanya Alana.


"Ehm, aku mau ke kamar David dan Ashley, aku mau bermain kartu sebentar  di sana, karna tadi aku sudah berjanji bermain kartu bersama mereka," ujar Ken. Alana hanya diam saja tak mengiyakan ataupun menganggukan kepalanya.


"Ya sudah tidak apa-apa bermainlah sana, pasti Ashley dan David sudah menunggumu," ujar Alana.


"Istriku yang cantik ini pengertian sekali, mereka memang sudah menungguku. Ya sudah, selamat tidur, aku janji akan segera kembali..." Ken mencium kening Alana dan hendak turun dari tempat tidurnya.


"Seterusnya bermainlah kartu bersama mereka, tidak usah kembali ke mari lagi!" Alana membalutkan selimut ke sekujur tubuh hingga menutupi kepalanya.


"Shit.." seketika itu, Ken mengurungkan niatnya. Dan mengumpat kesal.


"Aku sungguh menyesal memujinya..." gerutu Ken.


"Aku tidak jadi pergi, aku akan tidur saja menemanimu di sini!" Ken kembali merebahkan tubuhnya dan memeluk Alana. Alana hanya terkekeh dari balik selimut tersebut.


 


 


 


 


***


 


Saat tengah malam, Villa terlihat begitu sepi, mungkin semuanya sedang beristirahat di dalam kamar masing-masing, namun tidak dengan Ashley, David dan juga Jasson. Mereka bertiga sedang berada di dalam kamar yang di tempati oleh David untuk bermain kartu dan menikmati anggur sembari menunggu Ken yang tak kunjung datang. Karna, sangat sayang sekali jika liburan mereka hanya digunakan untuk beristirahat. Namun, sudah berjalan setengah jam permainan, namun, Ken juga tak kunjung datang untuk bergabung bersama mereka.


"Ke mana, Ken? kenapa belum kemari juga, apa perlu kita menyusul ke kamarnya?" tanya Ashley.


"Jangan! Biarkan saja...  dia  sedang beristirahat dengan Alana!" larangan David membuat Ashley berdecak tak senang.


"Semenjak Ken menikah, waktu berkumpul kita jadi berkurang, sungguh tidak menyenangkan sekali," gerutu Ashley.


"Makanya menikahlah! Biar kau tau," timpal Jasson.


"Kau saja belum menikah menyuruhku menikah!" seru Ashley.


"Aku masih kuliah, jadi aku tidak memikirkan untuk hal itu." ujar Jasson.


"Kau jangan berbicara seperti itu, dulu Kakakmu juga begitu, tapi kau lihat kan, justru  dia sekarang yang menikah muda," timpal David.


"Kenapa kau tidak menjalin hubungan dengan Kimmy saja? ku lihat dia sangat menyukaimu," ledek Ashley.


"Tapi aku tidak menyukainya..." saut Jasson.


"Kenapa kau tidak menyukainya?" tanya David dengan penasaran.


"Kenapa ini  jadi membahas Kimmy? ayo lanjutkan permainannya!" seru Jasson dengan nada kesal. Mereka bertiga kembali melanjutkan permainan kartunya. Namun, saat di tengah asyiknya bermain kartu. Ashley mendengar suara orang sedang bertengkar. Karna, waktu itu, pintu kamar David terlihat sedikit terbuka. Jadi memudahkan suara apapun terdengar masuk dari dalam sana.


"Coba kalian dengarkan!" perintah Ashley yang sedang melebarkan penuh telinganya.


"Apa?" tanya Jasson.


"Iya suara apa?" timpal David. Ashley masih diam fokus akan suara yang samar-samar yang ia dengar.


"Ashley, kau mau ke mana?" David bertanya dengan heran saat melihat Ashley beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ke arah pintu. David ikut berdiri mengikutinya, namun tidak dengan Jasson yang masih setia di tempat duduknya.


"Ada apa?" tanya David kepada Ashley.


"Apa telingamu tuli? dengarlah! ada suara keributan  dari dalam kamar Nona Valerie," ujar Ashley. David seketika memasang penuh telinganya dan mendengar baik-baik suara yang dimaksud oleh Ashley.


"Apa kau sudah mendengarnya? sepertinya Billy dan Nona Valerie bertengkar," ujar Ashley.


"Biarkan saja, itu urusan mereka, kita tidak perlu ikut campur," tutur David.


"Lebih baik kita melihatnya, karna aku takut  Nona Valerie kenapa-kenapa," ujar Ashley.


"Kenapa kau berbicara seperti itu?"  David mengernyit heran.


"Iya, karna waktu Nona Valerie begitu lama membuatkan kopi untuk Billy. Billy sangat marah dan mengeluarkan kata-kata kasar kepadanya, aku sangat kasihan kepada Nona cantik itu," ujar Ashley. David terdiam sejenak mencerna ucapan Ashley, antara percaya atau tidak namun kenyataannya memang seperti itu.


"Ya sudah, ayo, lebih baik kita lihat saja ke kamar mereka." David dan Ashley mendekati pintu kamar Valerie yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.


Tok... Tok... Tok...


David mengetuk pintu, dan tak lama kemudian pintu terbuka terlihat Billy di sana.


"David, Ashley, ada apa?" tanya Billy, ia tersenyum, namun nada suaranya terdengar tak senang akan kedatangan mereka berdua.


"Maaf, aku tadi mendengar suara keributan, apa ada suatu hal buruk terjadi? tanya David.


"Oh, tidak!  Tidak ada apa-apa. Aku dan Valerie tadi hanya bercanda saja, memang bercandaku memang seperti orang sedang ribut. Maaf jika mengganggu istirahat kalian," ujar Billy dengan sedikit gugup.


Tiba-tiba Valerie menyelonong keluar dari dalam begitu saja dengan menundukan pandangannya. Billy memanggilnya tapi wanita itu tak menghiraukannya dan berlalu pergi. Bahkan, bagian bahu baju yang dikenakan oleh Valerie terlihat robek hingga menyita perhatian Ashley dan David, hingga  menimbulkan begitu banyak tanda tanya di pikiran mereka berdua.


"Oh, Iya, aku sangat lelah sekali, karna aku besok harus kembali. Apa kalian ada perlu lagi?" tanya Billy seraya melebarkan senyumnya, kedua matanya memandang Ashley dan David dengan bergantian, menunggu jawaban mereka.


"Oh tidak ada, kami permisi, maaf kami mengganggumu." David segera menarik tangan Ashley untuk masuk kembali ke dalam kamar.


Saat Billy melihat David dan Ashley sudah masuk ke dalam kamar, ia segera mengikuti Valerie. Namun, langkahnya terhenti. saat melihat Valerie,masuk ke dalam kamar Jesslyn dan juga Kimmy.


"Sialan!"  Billy mengepalkan tangannya dengan begitu geram.


 


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.