
Saat Ken melihat Jesslyn hendak masuk ke dalam kamar. ia tak segan langsung memanggilnya.
"Jesslyn," panggil Ken. Jesslyn seketika itu menghentikan langkah kakinya. dan ia terlebih dulu menyuruh Kimy masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Jesslyn.
"Antar Kakak menemui Alana," pinta Ken. kedua mata Jesslyn seketika langsung membulat sangat sempurna.
"Kakak mau bertemu dengan Alana?" tanya Jesslyn seolah tidak percaya. Ken pun menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
"Baiklah, Kak. tunggu di sini. Jesslyn akan bersiap - siap dulu," ucap Jesslyn dengan penuh semangat. Ken pun mengiyakannya dan menunggu adik perempuannya tersebut di ruang depan.
Dengan begitu girangnya, Jessly masuk ke dalam kamar tanpa menyapa Kimy yang sedang sibuk memilih buku yang tertumpuk di samping meja tempat tidur.
Jesslyn mendekat ke arah lemari dan mengambil outer berwarna dark grey. lalu, ia mengenakannya. kemudian, ia mengambil tas jinjing yang biasa ia gunakan untuk berpergian. Kimy pun memperhatikan temannya tersebut dengan kebingungan. ia pun tak segan menegur Jesslyn yang sudah terlihat rapi pagi itu.
"Kau mau kemana, Jesslyn?" tanya Kimy.
"Mau ke tempat Alana," ucap Jesslyn, ia berdiri di depan cermin dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Kimy meletakan buku yang sempat ia pegang dan menghampiri Jesslyn.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Kimy.
"Tidak boleh! aku ke sana hanya sebentar, dan hanya berdua dengan kakakku," seru jesslyn.
"Ayolah, Jesslyn. aku sungguh bosan, aku ingin sekali ikut," pinta Kimy dengan menggelayuti tangan Jesslyn layaknya anak kecil.
"Tidak boleh, ya, tidak boleh! kan, aku dan Kakak mau berbicara suatu hal yang penting dengan Alana. kalau kau merasa bosan, kenapa kau tidak pulang saja ke rumahmu," seru Jesslyn.
"Kau ini sungguh jahat sekali, baiklah aku akan menunggumu di rumah!"
"Memangnya, kalian mau bicara hal penting apa? apa Kakak Ken setuju untuk menikah dengan Alana?" tanya Kimy.
"Entahlah, kemungkinan seperti itu. Kakak hanya memintaku mengantarkannya bertemu dengan Alana, aku harap, Kakak mau menuruti perkataanku semalam," ucap Jesslyn. ia tersenyum dengan penuh keyakinan. Lalu, Jesslyn pamit kepada Kimy dan berlalu meninggalkan kamarnya. kemudian, ia pergi ke dapur untuk menemui Mama Mery untuk berpamitan menemui Alana.
Jesslyn menemui Kakaknya yang sedang menunggu dirinya di ruang tamu. lalu, mereka berdua masuk ke dalam mobil dan hendak menuju ke tempat Alana. namun, saat mobil yang mereka tumpangi hendak keluar dari gerbang rumah. tiba - tiba terlihat mobil Caleey di depan sana. rasanya Caleey hendak menemui Ken.
"Kakak, itu bukannya mobilnya Caleey?" tanya Jesslyn.
"Iya, untuk apa dia kemari?" timpal Ken dengan sedikit kesal. suara clackson mobil Caleey pun terdengar. ia turun dari mobil tersebut dan menghampiri mobil Ken. Caleey mengetuk kaca jendela mobil itu, berharap Ken turun dari mobilnya.
"Kak Ken. tolong turunlah sebentar. aku ingin berbicara denganmu!" kata Caleey. saat Ken hendak melepas selt beltnya, tiba - tiba Jesslyn menghentikannya.
"Kakak tidak usah menemuinya!" perintah Jesslyn.
"Sebentar saja," ucap Ken. ia melanjutkan melepas seat belt nya. lalu, ia turun dari mobil itu. dan Jesslyn pun mengikuti Kakaknya untuk turun dari mobil itu.
"Ada apa kemari?" tanya Ken dengan menajamkan kedua alisnya kepada Caleey.
"Kak, aku mau minta maaf masalah perjodohan dan masalah Daddy yang tiba - tiba memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan Paman Gio. aku benar - benar tidak tau, Kak." Caleey berkata dengan memelas.
"Alasan saja!" celetuk Jesslyn dengan melototkan kedua matanya kepada Caleey.
"Jesslyn, aku sungguh tidak tau kalau Daddy mau menjodohkanku dengan Kak Ken, sungguh!" bantah Caleey.
"Aku akan berbicara membujuk Daddy, agar tidak memutuskan hubungan kerja sama dengan Paman Gio," imbuh Caleey.
"Itu tidak perlu!" saut Ken seraya memalingkan wajahnya dari Caleey.
"Papaku sudah tidak mau bekerja sama lagi dengan perusahaan keluargamu. lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah menginjakan kakimu di rumahku lagi! kau sudah tidak di terima untuk bertamu kemari lagi!" seru Jesslyn dengan melototkan kedua matanya, rasanya ia ingin sekali memakan Caleey hidup - hidup.
"Jesslyn," panggil Ken, ia melebarkan kedua matanya, berharap agar adiknya berbicara dengan sopan.
"Maaf, Kak." Jesslyn menundukan pandangannya.
"Caleey, lebih baik kau pulang saja. karna kami sedang ada perlu," tutur Ken.
"Tapi, Kak Ken. aku minta maaf karna Daddyku, aku mohon jangan membenciku," pinta Caleey.
"Aku tidak membencimu, cepat pulanglah," perintah Ken.
"Ayo Jesslyn," ajak Ken seraya mendahului masuk ke dalam mobil
"Kak Ken, tunggu sebentar," panggil Caleey, namun Ken tak menggubrisnya. Jesslyn pun mengejek Caleey dengan menjulurkan lidahnya. lalu, ia masuk ke dalam mobil. dan Ken melajukan mobilnya tersebut untuk meninggalkan rumahnya.
Saat Caleey melihat mobil yang Ken tumpangi, jauh dari pandangannya. ia pun langsung terlihat begitu frustasi dan bingung sendiri.
"Ya Tuhan, kenapa masalahnya jadi seperti ini?" gumam Caleey.
"Pasti semua keluarga Paman Gio tidak mau bertemu denganku lagi, aku harus bagaimana?" Caleey menggigit kukunya dengan penuh rasa cemas. lalu, ia meraih ponsel miliknya yang tiba - tiba berdering dengan begitu nyaring. terlihat di layar ponsel itu ada satu panggilan masuk dari Daddy-nya, Caleey pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, hallo, Daddy?" sapa Caleey dengan suara yang melemas.
"Kamu di mana, sayang?" tanya Afford.
"Di rumah Paman Gio. Daddy ... apa Daddy tau, Kak Ken dan keluarga Paman Gio rasanya sudah tidak menyukai Caleey lagi, lalu, Caleey harus bagaimana, Dad? Caleey tidak mau jika Kak Ken membenci Caleey, Caleey sangat mencintai Kak Ken," ujar Caleey dengan takutnya.
"Kau tenang saja, Nak. itu tidak akan terjadi, percaya kepada Daddy. kau jangan khawatir." Afford menenangkan anaknya dari balik ponsel itu.
"Benarkah, itu Daddy? kenapa, sih. Daddy harus memutuskan kerja sama dengan perusahaan Paman Gio?" tanya Caleey.
"Iya, Nak. Daddy sengaja memutuskan kerjasama, agar Paman Gio mau menerima perjodohan antara kamu dan Kendrick. hanya dengan cara ini Paman Gio pasti mau menerima perjodohan itu, karna dia tidak punya pilihan lain lagi, karna di Irlandia hanya perusahaan Daddy saja-lah yang bisa membantu perusahaan mereka," tutur Afford, suaranya terdengar dengan begitu sengit dari balik ponsel itu. Caleey pun tersenyum begitu lega.
"Baiklah, Dad." Caleey dan Afford pun mengakhiri panggilan tersebut.
"Jadi, perusahaan mereka ada di tangan Daddy? baguslah, pasti Kak Ken tidak punya pilihan lain selain mau menikah denganku. dan Jesslyn, jika aku sudah menikah dengan Kakakmu, akan ku pastikan, aku akan membalas semua perlakuanmu yang kau perbuat kepadaku selama ini!" gumam Caleey dengan penuh penekanan. seakan banyak sekali dendam yang tersirat di kedua bola mata itu.
Ken melajukan mobilnya menuju ke rumah Alana. karna, kata Jesslyn, setiap pagi, setelah dari rumah sakit. Alana selalu pulang terlebih dulu ke rumah kontrakannya.
"Apa Kakak mau menikahi Alana?" tanya Jesslyn. namun Ken hanya diam saja, dan fokus akan kemudinya.
"Kakak?" panggil Jesslyn.
"Kakak harus melihat dulu, sertifikat kepemilikan perusahaan milik Celouis Company, dan juga kondisi pabriknya." Ken menjawabnya.
"Tapi, Kakak akan menikahi Alana kan?" tanya Jesslyn. rasanya ia benar - benar ingin mendengar jawaban Kakaknya tersebut. namun, sekali lagi, Ken hanya diam dan tak mau menjawab pertanyaan Adiknya itu. Jesslyn pun menggerutu kesal akan Kakaknya.
Dan setibanya di rumah Alana, Ken memarkirkan mobilnya dan mengajak Jesslyn turun. ia pun berjalan bersama Jesslyn, mendekat ke arah pintu rumah Alana yang terlihat nampak masih tertutup rapat. dan Jesslyn, mulai menggerakan tangannya untuk mengetuk pintu tersebut, dengan diiringi suara memanggil - manggil nama Alana.
tak lama kemudian, pintu pun terbuka, terlihat Alana berdiri di sana dengan rambut yang masih terlilit dengan handuk. Alana pun terkejut, ketika tau, bahwa, yang bertamu di rumahnya sepagi itu tak lain ialah Jesslyn dan juga Ken.
"Jesslyn, Tuan Ken?" kedua mata Alana bergantian memandang adik kakak itu.
"Hai Alana," sapa Jesslyn dengan tersenyum kepada Alana. sementara Ken hanya menatap tajam wanita itu.
"Tumben sekali kau pagi - pagi kemari. ada perlu apa, Jesslyn?" tanya Alana sembari menepiskan senyumannya.
"Kami--"
"Sungguh tidak sopan membiarkan tamu berdiri di luar seperti ini," gerutu Ken tanpa menatap Alana.
"Oh iya, Maaf. ayo masuklah." Alana mempersilahkan Ken dan juga Jesslyn masuk. mereka berdua pun masuk dan mendudukan tubuhnya di atas sofa.
"Sebentar, ya, Jesslyn. aku tinggal ke dalam dulu," pamit Alana. Jesslyn mengiyakannya.
Ken memperhatikan rumah yang kini di tempati oleh Alana. ia memperhatikan rumah itu hingga ke setiap sudut - sudut tertentu. tak lama kemudian, Alana keluar dengan membawa nampan yang berisi dua gelas minuman di atasnya, dan ia terlihat sudah melepas handuk yang tadi sempat melilit rambutnya. hingga, rambutnya kini terurai dengan setengah basah.
Alana berjongkok dan meletakan gelas itu di atas meja, tepat di depan Jesslyn dan juga Ken.
"Minumlah," perintah Alana.
"Terimakasih, kami jadi merepotkanmu," saut Jesslyn.
"Tidak merepotkan sama sekali," Alana tersenyum dan kini ia mendudukan tubuhnya di atas sofa, tepat berhadapan dengan Jesslyn. Ken pun memperhatikan Alana sedari tadi.
"Aku sungguh tidak percaya. dia sebenarnya anak orang kaya, tapi, dia bisa hidup dengan sederhana, di rumah kecil seperti ini?" gumam Ken dalam hati seraya memperhatikan Alana. dan seketika itu, Alana pun tak sengaja melihat Ken yang sedang memandanginya. sontak, Ken langsung memalingkan pandangannya dari Alana.
"Ehm, ada apa kalian pagi - pagi kemari?" tanya Alana.
"Kakak ayo bicaralah," perintah Jesslyn.
"Kau saja yang bicara," timpal Ken.
"Kenapa jadi aku? Kakak ini sungguh menyebalkan," gerutu Jesslyn.
"Alana, aku minum dulu, ya?" tanya Jesslyn. Alana dengan senang hati mengiyakannya. Jesslyn langsung meraih gelas minuman yang di sajikan oleh Alana. ia meneguknya. lalu, meletakan kembali gelas minuman itu ke tempatnya semula.
"Eherm." Jesslyn berdehem seraya melirik ke arah Kakaknya.
"Begini Alana, Ehm ... sebenarnya, kedatangan Kakakku kemari karna dia ingin menikahimu," ujar Jesslyn. telinga Ken begitu terkesiap mendengar perkataan adiknya yang begitu konyol.
"Hey, jangan bicara sembarangan kau!" seru Ken dengan melototkan kedua matanya kepada Jesslyn.
"Menikah?" timpal Alana dengan kebingungan.
"Bu-bukan, bukan seperti itu. Jesslyn ini suka ngawur kalau berbicara," Ken mencoba menyangkal. Jesslyn pun menahan tawanya karna melihat ekspresi Kakaknya tersebut.
"Tidak, Alana. aku tidak ngawur! memang benar Kakakku kemari karna dia--"
"Diamlah! sudah jangan ikut bicara," tukas Ken seraya membungkam mulut adiknya tersebut dengan telapak tangannya. Jesslyn pun menjauhkan tangan Kakaknya itu dari mulutnya.
"Bukannya Kakak sendiri yang tadi menyuruh Jesslyn berbicara? kenapa sekarang malah menyuruh Jesslyn diam?" tanya Jesslyn.
"Kakak bilang, diamlah!" seru Ken. Jesslyn pun membungkam seketika dan menahan tawanya. Ken melirik tajam ke arah adiknya tersebut. Jesslyn pun berpura - pura diam.
.
.
.
.
.
.