My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Memutuskan



Jesslyn berdiri dan menghampiri Alana untuk menyuruhnya duduk kembali. lalu, ia menghampiri Kakaknya tersebut.


"Kakak, pergilah dulu dari sini!" perintah Jesslyn.


"Apa aku salah berbicara seperti itu?" tanya Ken.


"Sangat salah! cepat Kakak pergi dulu dari sini!" seru Jesslyn. Ken pun mengiyakannya dan berlalu meninggalkan Jesslyn dan juga Alana.


"Memangnya, aku salah di mananya?" gumam Ken dengan berjalan cepat di corridor rumah sakit tersebut.


 


***


Jesslyn kembali mendekati Alana dan duduk di sampingnya seraya melingkarkan tangannya di bahu Alana.


"Alana, tolong maafkan Kakakku," pinta Jesslyn. Alana hanya mengangguk dan menyeka air matanya yang masih menderas di sana.


Dan tak lama kemudian, Dokter terlihat keluar dari ruangan bersama perawatnya. dan Dokter itu memanggil Alana. Alana langsung beranjak berdiri dan menghampiri Dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan Daddy saya, Dok?" tanya Alana sembari mengusap air matanya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. tapi tolong! Tuan Holmes belum benar - benar pulih. jadi, jangan membuat Tuan Holmes tertekan atau mengejutkannya," tutur Dokter. Alana pun mengiyakannya dengan perasaan yang penuh dengan ketakutan.


Dokter beserta perawat itu pergi meninggalkan ruangan Holmes. lalu, Alana masuk menemui Ayahnya dan di ikuti oleh Jesslyn dari belakang.


Holmes terlihat masih memejamkan matanya. Alana merengkuh jari-jari tangan ayahnya tersebut, dan menangis di sana. Jesslyn mengusap - usap punggung Alana mencoba menenangkannya.


Tiba - tiba, kedua mata Holmes tiba mengerjap. ia melihat ke arah sekitar dengan pandangan yang sedikit buram.


"Alana," panggil Holmes pelan.


"Alana di sini, Daddy." Alana manyutinya.


"Apa Daddy baik - baik saja?" tanya Alana. Holmes mengangguk pelan.


"Alana, perusahaan itu tidak boleh di sita, tidak boleh, Nak." Holmes berbicara dengan suaranya yang berat.


"Tidak, mereka tidak akan menyitanya, Daddy. Daddy istirahat, ya." Alana mencoba menenangkan Ayahnya.


"Hanya perusahaan itu yang Daddy punya, Nak. Daddy dan Kakek bersusah payah mendirikannya, hutang Daddy tidak sebanding dengan perusahaan kita, Nak." Holmes berbicara dengan nafas sedikit tersengal.


"Sudah, Daddy. ayo Daddy istirahat, nanti Alana akan memikirkan jalan keluarnya," tutur Alana.


"Tapi, Alana--"


"Daddy percaya, kan. dengan Alana?" tanya Alana dengan penuh keyakinan. seraya menatap kedua bola mata ayahnya dengan tatapan yangbegitu sendu. Holmes pun mengiyakannya. seketika itu, Holmes memejamkan matanya kembali untuk beristirahat. lalu, saat di rasa Ayahnya sudah tidur, Alana mengajak Jesslyn keluar dari sana.


"Ya Tuhan." Alana memejamkan kedua matanya dengan begitu frustasi.


"Alana" panggil Jesslyn.


"Jesslyn, lebih baik kau pulang saja. ayo ku antar," perintah Alana.


"Alana, aku masih ingin di sini," pinta Jesslyn.


"Jesslyn, aku mohon. pulanglah dulu," ujar Alana. Jesslyn menghela napas beratnya dan terpaksa mengiyakan perintah Alana.


Alana berjalan bergandengan dengan Jesslyn keluar dari rumah sakit. dan ia berpapasan dengan Ken yang sepertinya hendak kembali  masuk ke dalam rumah sakit itu. Alana seketika itu langsung memalingkan wajahnya dari Ken. rasanya ia masih kesal dengan laki - laki itu.


"Mau kemana?" tanya Ken.


"Ayo kita pulang dulu, Kak," ajak Jesslyn.


"Ehem," Ken mengiyakannya dengan berdehem.


"Ayo, ku antar ke rumahku. mobilnya kan di rumahku," kata Alana.


"Tidak perlu!" saut Ken.


"Aku berbicara dengan Jesslyn, bukan dengan dirimu!" seru Alana dengan ketusnya, ia menggandeng  tangan Jesslyn dan berjalan cepat mendahului Ken.


"Astaga, kenapa jadi begini?" gumam Jesslyn dalam hati seraya menggaruk - garuk kepalanya.


Ken berjalan di belakang Alana dan juga Jesslyn. sesekali Jesslyn melirik ke arah Kakaknya. lalu, melirik ke arah Alana. ia terlihat begitu bingung.


"Aku, harus mengajak Alana berbicara. aku harus membujuknya agar mau menikah dengan Kakak, tapi bagaimana? ini semua gara - gara Kakak, coba saja tadi tidak terlalu gegabah memberi tawaran kepada Alana," gumam Jesslyn.


 


***


 


Setibanya di rumah Alana. Alana terlebih dulu menyuruh Jesslyn dan Ken untuk mampir. namun, Ken tak menyautinya. ia malah duduk di depan kursi panjang yang ada di halaman rumah Alana.


"Ehm, Alana. apa aku boleh menumpang kamar mandi? aku ingin buang air kecil," pinta Jesslyn.


"Tentu saja, ayo, ku antarkan ke dalam." Alana mengantar Jesslyn masuk ke dalam rumahnya dan menunjukan kamar mandi. Jesslyn pun masuk ke dalam kamar mandi tersebut. namun, di dalam kamar mandi, Jesslyn tak buang air kecil, ia hanya berdiri dan mondar mandir di dalam sana,  dengan raut wajah yang bingung. ia begitu bingung memikirkan Perusahaan milik Papanya.


"Aku tidak bisa mlihat perusahaan Papa terkena masalah. tapi, aku harus bagaimana membujuk Alana agar mau menikah dengan Kakak? Ya Tuhan..." gumam Jesslyn seraya memijat keningnya.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Jesslyn, kenapa lama sekali? apa kau baik - baik saja di dalam?" tanya Alana, suaranya terdengar dari balik pintu luar itu.


"Iya Alana, aku baik - baik saja, tunggu!" Jesslyn menyaut dan segera mungkin keluar dari  kamar mandi tersebut. ia melihat Alana berdiri di depan kamar mandi itu sembari tersenyum kepadanya. dan Jesslyn berpura - pura merapikan bajunya.


"Ehm, Alana. apa aku boleh minta minum? tenggorokanku terasa sangat kering sekali," pinta Jesslyn dengan berdehem seolah tenggorokannya benar - benar kering. padahal tidak. itu hanya alasannya saja, agar ia bisa lebih lama tinggal di rumah Alana.


"Tentu saja, tunggulah di ruang tamu. aku akan membuatkan minuman untukmu!" perintah Alana. Jesslyn pun mengiyakannya.


Tak lama kemudian, Alana terlihat keluar dari arah dapur dengan membawa  2 gelas minuman berwarna orange di kedua tangannya.


"Minumlah." Alana menyodorkannya satu gelas minuman itu kepada Jesslyn


"Dan, ini tolong berikan kepada Kakakmu," perintah Alana dengan menyodorkan gelas satunya kepada Jesslyn..


"Tidak mau! kau saja yang memberikannya ..." saut Jesslyn, seraya tangannya meraih gelas minuman tersebut.


Alana menghela napas. ia terpaksa keluar menghampiri Ken yang tengah duduk di kursi panjang yang ada di halaman rumahnya. Alana sebenarnya enggan memberikan minuman itu kepada Ken. namun, bukankah Ken seorang tamu? jadi mau tidak mau, Alana harus bersikap sopan kepada tamunya.


Alana berjalan mendekati Ken. dan tanpa berkata, ia meletakan gelas minuman tersebut di samping Ken dan berlalu masuk kembali ke dalam rumah. Ken pun melirik Alana yang sudah masuk kembali ke dalam rumahnya. dan Ken memperhatikan gelas minuman itu. ia meraih gelas itu dan dengan cepat meneguk minuman yang ada di dalamnya


Alana kembali menemui Jesslyn di dalam. ia mendudukan tubuhnya di samping Jesslyn yang terlihat sedang menikmati minuman yang telah ia buatkan.


"Alana?" panggil Jesslyn seraya meletakan gelas yang ia pegang di atas meja.


"Maaf, jika aku ikut campur. bagaimana? apa kau mau menerima tawaran Kakakku?" tanya Jesslyn dengan takut jika Alana akan marah kepadanya.


"Tawaran? tawaran apa?" tanya Alana, ia berharap agar temannya itu memperjelas pertanyaannya.


"Tawaran untuk  menikah dengan Kakakku?" ucap Jesslyn pelan. Alana terdiam dan memalingkan pandangannya ke sembarang arah. tiba - tiba, buliran cairan bening membasahi kedua sudut mata Alana.


"Maafkan aku, Alana. aku tidak bermaksud--"


"Aku tidak bisa, Jesslyn. aku belum siap untuk menikah," tukas Alana seraya mengusap sudut matanya yang basah.


"Aku tidak bisa meninggalkan Daddyku sendirian," imbuhmya.


"Alana ... siapa yang menyuruhmu untuk meninggalkan Daddymu? kalau kau menikah dengan Kakakku, kau akan tetap bersama Daddymu. kau bisa memberikan kehidupan yang layak lagi untuk Daddymu, dan perusahaan Daddymu bisa berjalan seperti semula, Kakakku akan membantumu untuk mengelola perusahaan milik Daddymu. Aku dan Kakakku tidak ada niatan buruk, Alana." tutur Jesslyn. Alana terdiam dan menggigit bibir bawahnya dengan perasaan bingung.


"Apa kau tidak kasihan dengan Daddymu? setelah Daddymu sembuh, kau malah mengajaknya untuk tinggal di rumah kecil seperti ini? apa kau tega, Alana? bukankah kau selalu bercerita kepadaku, kalau Daddymu selalu memberikan kehidupan yang layak untuk dirimu? apa kau tidak ingin membalas jasa Daddymu selama ini?" Jesslyn menuturkan dengan penuh penekanan, ia berbicara seperti itu, berharap bisa meyakinkan Alana. Alana menelan ludahnya dan mencerna perkataan Jesslyn, air mata terlihat masih mengalir di sana.


"Terlebih lagi, kau masih memiliki banyak hutang, kau juga berhutang kepada Kakakku bukan? bagaimana kau akan melunasi semua hutangmu?"


"Alana, kalau kau menikah dengan Kakakku, kau bisa melunasi semua hutangmu. Kau dan Daddymu bisa hidup tenang tanpa terbayang - bayang masalah. kau bisa hidup seperti dulu lagi! dan kau bisa membalas dendam perlakuan buruk semua orang terhadap dirimu dan juga Daddymu!" imbuh Jesslyn seraya menepuk bahu Alana. Alana menarik nafasnya dalam - dalam dan mengalihkan pandangannya kepada Jesslyn.


"Aku tidak pernah dendam kepada siapapun, Jesslyn. aku menganggap, semua yang terjadi kepada diriku dan Daddy, hanya sebuah ketidak keberuntungan saja," tutur Alana dengan penuh rasa sesak di Dadanya.


Jesslyn mendengarnya dengan begitu terharu. Alana memanglah sosok perempuan baik yang menurutnya pantas untuk Kakaknya. jadi, Jesslyn tak akan melepaskan Alana begitu saja.


"Kalau begitu, pikirkan saja tentang kehidupan Daddymu kedepannya. kau tidak perlu menjawabnya sekarang, kau masih bisa mempertimbangkannya. bukankah, kau masih memiliki waktu satu bulan lagi?" ujar Jesslyn. Alana hanya terdiam dengan tatapan kosongnya.


"Aku permisi pamit pulang. kau jaga diri baik - baik. salamkan untuk Paman Holmes," pamit Jesslyn. ia sejenak memeluk Alana. kemudian, ia beranjak berdiri, lalu,  keluar dari rumah itu dan menemui Kakaknnya yang masih duduk di luar rumah Alana.


Jesslyn, mengajak Kakaknya tersebut untuk pulang, dan mereka berdua masuk ke dalam mobil dan seketika itu, Ken melajukan mobil nya menuju ke arah rumah.


saat di dalam mobil, Jesslyn melirik ke arah Kakaknya yang sedari tadi hanya diam saja.


"Kakak?" panggil Jesslyn.


"Kakak sudah memutuskan. Kakak terpaksa akan menikahi Caleey. Kakak tidak peduli Papa melarangnya atau tidak. Kakak tidak mau Papa dan perusahaannya terkena masalah, selama ini. Kakak belum bisa membahagiakan Papa," saut Ken tanpa memandang adiknya tersebut.


"Kakak ... Jesslyn mohon. jangan menikah dengan Caleey," pinta Jesslyn dengan memelas.


"Lalu bagaimana? apa Kakak harus melihat Papa dan perushaannya terkena masalah, Iya ?" seru Ken dengan kesal.


"Kakak ... setidaknya, tunggu keputusan Alana dan Paman Holmes dulu," tutur Jesslyn.


"Kau bisa melihat sendiri, kan. bagaimana temanmu tadi menolak tawaran Kakak secara mentah - mentah? sok cantik sekali, lagi pula, Kakak memberi tawaran untuk menikahinya karna terpaksa demi perusahaan Papa," gerutu Ken dengan kesal.


"Wajar saja jika Alana tadi menolak Kakak! karna  Kakak tadi memberi tawaran kepada dia di waktu yang tidak tepat! Ayo lah, Kak. Jesslyn masih mencoba membujuk Alana! " ujar Jesslyn.


"Sudahlah, Kakak tidak mau membahas masalah ini,"


"Tapi, Kak--"


"Kakak bilang, Kakak tidak mau membahas masalah ini!" teriak Ken. Jesslyn pun menghela napas dan langsung membungkam.


 


 


 


****


 


 


Sore harinya, Ken terlihat duduk di sofa yang ada di ruang tamu, sembari memangku laptop miliknya. ia terlihat begitu kebingungan. bahkan, ia begitu tidak fokus. rasanya seakan banyak sekali beban tersimpan di dalam pikirannya waktu itu.


"Arrgggh pusing!" Ken mengacak - acak rambutnya dengan begitu frustasi. ia sejenak memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Tok ... tok ... tok ...


suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah.


Tok ... Tok ... Tok ...


ketukan pintu itu terdengar kembali. Ken seketika membuka matanya dan menghela napas.


"Ke mana Bi Molley ini?" gumam Ken, ia berdecak  seraya memindahkan laptopnya ke atas meja yang ada di depannya. ia pun beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu rumah itu. lalu, ia membuka pintu tersebut. dan saat pintu sudah terbuka. Ken pun tak bergemming saat kedua matanya beradu pandang dengan seseorang yang sedang berdiri di depan sana. seseorang tersebut tak lain ialah Alana.


"Ada apa kau kemari? Jesslyn sedang pergi bersama Mamanya," kata Ken dengan mengernyitkan dahinya.


Alana menunduk sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Aku kemari tidak mencari Jesslyn," kata Alana pelan.


"Lalu?" tanya Ken dengan mengernyit heran. Alana terdiam sejenak.


"Aku kemari mencarimu, bisakah kita berbicara sebentar?" pinta Alana tanpa memandang Ken.


.


.


.


.


.


.


 


yang minta update banyak, nulis sendiri wkwkwk, maaf, aku belum bisa update banyak


percayalah anak - anak... mamah nulis satu episode ini butuh waktu 2 hari.


ntar kalau aku banyakin updatenya, alurnya nggak nyambung dan amburadul  pada protes. kan makin pusing aku wkwk


 


 


selera humorku receh, aku suka becanda jadi tolong jangan di ambil hati ^_^