
"Sayaaaaang... kukumu cantik sekali."
Alana berucap dengan begitu gemasnya, Ken hanya diam, menatap dengan tatapan datar. Seakan wajahnya begitu tersiksa akan kelakuan istrinya malam itu.
"Apanya yang cantik? ini sungguh menjijikan!" Ken berulang-kali mengumpat dalam hati, wajahnya sedaritadi ditekuk kesal. Namun di sisi lain, ia juga bahagia melihat senyuman di raut wajah istrinya, meskipun senyuman itu begitu menyiksa suaminya.
"Kenapa wajahmu seperti itu? kau tidak menyukainya, ya?" tanya Alana, memperhatikan raut wajah Ken.
"Sudah tau, masih saja bertanya," gumam Ken.
"Tidak, aku sangat menyukainya," jawab Ken. Menepiskan senyuman paksanya.
"Kau menyukainya?" dahi Alana mengernyit heran.
"Iya, aku menyukainya. Sangat menyukainya, cat kukunya bagus, sangat bagus." Ken berucap tanpa intonasi suara.
"Kau kan laki-laki, tidak boleh menyukai cat kuku! Sejak kapan kau mulai menyukai cat kuku?" seru Alana.
"Lihatlah, apapun jawabanku pasti serba salah," decak Ken. Mendengus kesal.
"Memang aku laki-laki, mana mungkin aku menyukai cat kuku! Tapi berhubung kau yang mengecat kukuku, jadi aku menyukainya." Jawab Ken.
"Sudah, kan, bermainnya?" tanya Ken.
"Ehem, sudah, ayo kita tidur, aku sangat mengantuk..." ajak Alana sambil menguap lebar.
"Enak saja! Bantu bersihkan dulu cat kukunya," seru Ken.
"Katanya kau menyukainya? kan bisa kita bersihkan besok pagi, sayang sekali kalau cat kukunya harus dibersihkan sekarang." Alana menarik tangan Ken dan memperhatikannya, seakan tak tega jika cat yang ia poles di kuku suaminya itu dibersihkan begitu saja.
"Aku memang menyukainya, tapi bukan berarti aku harus memakai cat kuku ini, SAYANG!" Ken berucap dengan begitu gemas.
"Baiklah, aku akan membersihkannya." Alana mengambil cairan pembersih cat kuku dan juga kapas, ia segera membantu menghapus cat kuku itu satu persatu, sebenarnya, Alana sangat menyayangkan jika cat kuku tersebut harus dihapus secepat itu, namun bagaimana lagi, ia terpaksa harus menghapusnya.
"Yang bersih, jangan sampai ada cat yang tertinggal!" perintah Ken.
"Cerewet!" saut Alana. Ken terkekeh mendengar sautan istrinya tersebut.
Hampir 15 menit Alana membersihkan cat itu dari kuku suaminya, hingga kini semua kuku Ken terlihat sudah bersih tanpa noda cat sedikit pun yang melekat di kukunya tersebut. Setelah itu, seperti biasanya, Ken membuatkan susu untuk Alana terlebih dahulu. Lalu, mengajak istrinya tersebut untuk beristirahat.
***
Keesokannya, Alana terbangun dan sudah tak mendapati Ken di sampingnya. Ia hendak turun dari tempat tidur, namun kilas matanya teralihkan akan secarik kertas yang tertindih oleh gelas yang berisi susu coklat di atas meja samping tempat tidurnya, sepiring sandwich juga terlihat di sana.
Alana menarik secarik kertas itu dan segera membacanya.
Aku tinggal berangkat bekerja, kau tadi tertidur sangat nyenyak, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu. Aku sudah meninggalkan beberapa ciuman di wajahmu, membuatkanmu susu dan juga roti keju untukmu, jangan lupa diminum dan dimakan. Kabari aku jika kau sudah bangun.
Your Husband ~ Kendrick.
Alana tersenyum, ia memegang pipinya yang terlihat bersemu merah yang ia yakini bahwa suaminya telah meninggalkan beberapa ciuman di sana.
Seperti anak remaja yang baru saja menerima surat dari sang kekasih, berasa seperti merasakan jatuh cinta, Itulah yang Alana rasakan saat ini.
Ia menyimpan secarik kertas itu, mengalihkan kesibukannya untuk mengambil ponsel dan meninggalkan beberapa pesan singkat untuk suaminya, untuk memberi kabar bahwa dirinya sudah bangun.
Alana pergi ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya, tidak seperti ibu hamil pada umumnya yang merasakan morning sickness, selama kehamilannya Alana tidak pernah merasakan itu semua, kalaupun mual, mungkin saat dirinya merasa kekenyangan atau terlalu bosan mengkonsumsi makanan yang sama.
Makanan jenis apapun tidak pernah mulut Alana tolak sedikitpun, itu sebabnya, tubuhnya kini terlihat sedikit lebih berisi dibanding sebelumnya. Alana tak mempermasalahkan itu semua, tak memikirkan bagaimana bentuk badannya nanti, yang ia pikirkan saat ini hanya kesehatan janin yang ia kandung, karna ia tidak ingin hal buruk terjadi kepada calon anaknya seperti yang ia alami sebelumnya.
Seusai mandi, Alana membuka sempurna tirai jendela yang semula hanya terbuka sebagian saja. Ia mengambil susu dan roti yang telah dibuatkan oleh Ken untuknya, Ia mendudukan tubuhnya di atas sofa, bersantai sambil menikmatinya.
***
AFC Company.
Di salah satu ruangan, terlihat Afford yang nampak bersemangat siang itu, ditemani oleh dua orang laki-laki yang tak lain kaki tangannya dan juga Caleey, yang saat itu sudah mulai belajar berbisnis dengan ayahnya tersebut.
"Daddy yakin akan menjual sebagian dari saham perusahaan kita?" tanya Caleey.
"Tentu saja, Nak. Daddy tidak punya pilihan lain, tapi kau tidak perlu khawatir. Daddy tidak sebodoh itu menjualnya begitu saja, Daddy memiliki rencana lain supaya bisa mendongkrak perusahaan kita seperti semula, salah satunya dengan memperalat orang yang akan membeli sebagian dari saham kita. Dan Daddy sudah menemukan orang yang tertarik untuk membeli sebagian saham perusahaan kita," tutur Holmes dengan tersenyum licik.
"Siapa orangnya Daddy?" tanya Caleey.
"Entahlah, katanya dia memiliki beberapa perusahaan ternama di kota ini, tapi Daddy masih belum tau siapa orang itu. Hari ini dia akan menemui Daddy. "
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka, sekertaris pribadi Afford terlihat masuk ke dalam ruangan itu dan memberitaukan, bahwa seseorang sedang ingin menemuinya di ruang tamu yang ada di lobby utama. Afford pun mengiyakannya, ia mengajak putrinya untuk ikut menemui tamu yang sudah ia ketahui maksud kedatangannya di perusahaannya tersebut.
Di ruang tamu lobby utama, terlihat dua orang laki-laki sedang duduk memunggungi Afford yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Ia dan Caleey saling memandang, lalu tersenyum. Merapikan pakaiannya dan segera menghampiri kedua orang tersebut.
"Selamat siang Tuan, Maaf jika sudah menunggu." Afford berucap, hendak menjabat tangan kedua tamunnya tersebut, Namun ia dibuat terkejut saat mengetahui bahwa tamunya itu tak lain ialah Ken dan juga Leon.
"Ken? sedang apa kau di sini?" Afford menarik jabatan tangannya kembali. Guratan di wajahnya terlihat jelas akan ketidaksukaan pemuda itu datang di kantornya.
"Selamat siang, Paman Afford. Nona Caleey." Ken berucap dengan nada dan senyuman seakan meledek di kedua mata Afford. Tak ada balasan maupun tanggapan apapun dari ayah dan anak itu.
"Kak Ken sedang apa kau di sini? kau ingin mencari masalah?" tanya Caleey.
"Mencari masalah? Kedatangan Kami di sini justru ingin membantu masalah perusahaan ayahmu," ujar Ken.
"Perusahaan kami tidak sedang mengalami masalah!" bantah Afford. Ken tersenyum mentah, beranjak berdiri hingga kini kakinya menapak sejajar dengan Afford.
"Paman, kalau tidak sedang mengalami masalah, untuk apa Paman menjual sebagian saham milik perusahaan Paman? kedatangan kami kemari bermaksud baik, Ken ingin membantu Paman untuk membeli saham itu, setidaknya bisa melunasi hutang Paman yang tidak seberapa itu."
"Aku tidak butuh bantuanmu! dan aku tidak akan pernah mejual saham perusahaanku kepadamu!"
"Lebih baik kalian pergi dari sini!" perintah Afford. Suaranya terdengar menggelegar, tak membuat Ken takut, malah membuat dirinya tersenyum.
"Apa salahnya Paman menerima bantuan dari suami keponakan Paman sendiri?" tanya Ken.
"Iya kan Caleey?" Ken mengalihan pandangannya kepada wanita yang pernah menaruh hati terhadap dirinya dulu.
"Bagaimana Paman?" lanjut Ken.
"Pergi dari sini, atau--"
"Apa? mau mengusirku?" tukas Ken. Ia berjalan lebih mendekat ke arah Afford.
"Paman Afford, kekacauan yang kau alami saat ini, tidak ada apa-apanya dengan kekacauan yang keluarga istriku rasakan!" bisik Ken dengan penuh penekanan.
"Oh, jadi, kau memang sengaja ingin menjatuhkan perusahaanku?"
"Benar sekali! Aku memang ingin menjatuhkan perusahaanmu!"
"Tapi jangan samakan aku dengan dirimu yang ingin menjatuhkan perusahaan orang lain dengan bermain curang!"
"Aku sama sekali tidak pernah bermain curang jika menyangkut persoalan bisnis!" Afford begitu geram, rahangnya mengeras sambil menegaskan jari telunjuknya di hadapan Ken.
"Kau pikir aku tidak tau, apa yang telah kau lakukan kepada perusahaan Daddy Holmes?
"Aku benar-benar tidak menyangka... orang macam apa kau ini? takut tersaingi hingga tega menjatuhkan saudaramu sendiri!"
"Jaga tutur katamu dan pergi dari tempatku!" teriak Afford.
"Kau takut?" ledek Ken, menaraik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Pergi!" teriak Afford.
"Baiklah, aku akan pergi. Sebentar lagi kau juga akan pergi, bersama kehancuran dan keserakahanmu itu!" Ken mengajak Tuan Leon untuk segera berlalu pergi dari sana.
"Arghhh, sialan! Dia kemari hanya ingin menghinaku!" teriakan Afford diiringi dengan gebrakan di meja yang dekat dengan jangkauannya.
Membuat Caleey begitu bingung dan bertanya-tanya.
"Daddy, apa maksud Kak Ken berbicara seperti itu? memangnya apa yang Daddy lakukan kepada perusahaan Paman Holmes?" tanya Caleey.
"Tidak tau! Jangan bertanya kepadaku!" teriak Afford, dengan penuh amarah, ia berlalu pergi meninggalkan putrinya dari tempat itu.
***
Ken terlihat berada di dalam mobil bersama Tuan Leon, hendak menuju ke arah kantor. Namun, Ken meminta sopir yang mengemudikan mobil itu mengantarkannya terlebih dulu ke kantor David.
setibanya di kantor sahabatnya, Ken turun dari mobil dan menyuruh Tuan Leon untuk kembali ke kantor terlebih dahulu.
Ken segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor tersebut. Menuju ke letak ruangan sahabatnya berada, namun saat ia hendak ke ruangan David, ia dikejutkan oleh Valerie yang kala itu berjalan berpapasan dengannya dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
"Valerie?"
"Ken, kau di sini?" tanya Valerie.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Ken dengan heran. Valerie hendak menjawab pertanyaannya, namun diurungkan oleh Ashley dan juga David yang kala itu tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.
"David, sedang apa Valerie berada di kantormu?" tanya Ken.
"Sudah satu minggu ini Valerie bekerja di tempatku, Ken," jawab David.
"Oh..." Ken membulatkan bibirnya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau datang kemari, Ken?" tanya David.
"Iya, kebetulan aku lewat kantormu, maka dari itu aku mampir kemari."
"Kebetulan sekali, Ken. Ayo kita ke canteen berdama untuk makan siang," ajak Ashley. Ken pun mengiakannya. David menyuruh kedua sahabatnya itu untuk pergi ke canteen terlebih dahulu. Saat Ken dan Ashley sudah tak terlihat dari pandangan matanya, David mendekati Valerie.
"Kau mau ke mana?" tanya David seraya meperhatikan tumpukan kertas yang dibawa oleh Valerie.
"Aku disuruh oleh sekertarismu, untuk foto copy berkas-berkas ini," jawab Valerie.
"Kau bisa melakukannya nanti, ini sudah jam makan siang. Lebih baik beristirahatlah!" tutur David.
"Baiklah, terimakasih."
Tanpa menjawabnya, David berlalu pergi dari sana. Kedua mata Valerie masih tak bergeming, menatap punggung laki-laki itu yang kini berjalan menjauh dari jangkauannya.
"David laki-laki yang sangat baik," gumamnya sambil tersenyum.
***
Kini, Ken sedang menikmati makan siang di kantin bersama kedua sahabatanya tersebut, menyelipkan candaan dan juga obrolan ringan di sela-sela makan mereka.
getar dan nada dering pendek terdengar jelas dari ponsel miliknya, membuat laki-laki itu sejenak menghentikan aktivitasnya dan segera mengambil ponsel yang terselip di dalam saku celanannya tersebut.
Terlihat ada satu pesan masuk dari Alana tertera di layar ponselnya. Ia segera membuka pesan itu dan membacanya.
Ken, kau pulang jam berapa? ~ Alana.
Seperti biasanya sayang. Kenapa? ~ Ken.
Tidak apa-apa, aku hanya merindukanmu. ~ Alana.
"Tumben sekali," gumam Ken. Hendak membalas pesan itu, namun ia terlebih dulu menerima satu pesan lagi dari Alana.
Nanti kalau kau sudah pulang kita bermain ya. ~ Alana.
"Pasti ada saja maunya," gerutu Ken.
Baiklah, tunggu aku pulang. ~ Ken.
Ken mengembalikan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Ia melanjutkan kembali memakan makanannya sambil mengobrol dengan kedua sahabatnya tersebut.
"Ken, apakah kau tau, David akan segera menikah? minggu depan dia akan bertunangan," heboh Ashley.
"Menikah?" Dahi Ken mengernyit tak percaya, karna yang ia ketahui, kedua sahabatnya itu tidak pernah memiliki kekasih, lantas bagaimana mau menikah?
"David, apa benar yang dikatakan oleh Ashley?" tanya Ken. David menghela napas, membenarkannya dengan suara malas.
"Kau akan menikah dengan siapa?" tanya Ken.
"Putri dari teman Ibuku," jawab David.
"Kau dijodohkan?" tanya Ken.
"Iya, sudahlah Ken, jangan membahas ini. Aku sungguh pusing," decak David.
"Kenapa kau tidak memberitau hal penting ini kepadaku?" seru Ken.
"Bukan suatu hal yang penting, jadi aku tidak mau memberitau siapapun!" saut David.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya, kemarin sebenarnya mau update, tapi naskahnya hilang dan ngga ke save, jadi aku terpaksa nulis ulang, dan seadanya. maaf kalau episode ini kurang memuaskan.