
Keesokan paginya,
Ken terbangun akan bisingnya suara kicauan burung yang bersautan di depan rumah. kedua matanya mengerjap dan ia melihat Alana masih tidur dalam dekapannya dengan posisi menghadap dirinya. Bahkan membuat jarak di antara mereka berdua begitu dekat. Ken sejenak memperhatikan Alana. kedua matanya menyapu seluruh wajah istrinya dengan begitu seksama. ia perlahan menjauhkan tangannya tersebut.
"Aku hanya kasian dengannya. itu saja tidak lebih." Ken mencoba beranjak bangun. ia meregangkan otot - ototnya yang kaku, lalu, masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Alana juga terbangun dan ia sudah tak mendapati Ken di sampingnya. kedua matanya masih menyesuaikan cahaya matahari yang terbias dari jendela kaca kamarnya. Alana beranjak duduk. tiba - tiba kejadian semalam terlintas kembali di pikirannya. hingga membuat wajah Alana menjadi murung seketika. sudah hal biasa bagi Alana. ia terlalu berperasaan, jadi ia selalu memasukan segala sesuatunya ke dalam hati. Alana mencoba mengesampingkan pikiran yang membuat mood paginya tersebut menjadi buruk. ia turun dari tempat tidur dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Ken.
Saat Ken selesai mandi. ia sudah tak melihat Alana di dalam kamar. ia langsung keluar kamar dan mencarinya. hatinya melega seketika, saat ia melihat Alana sedang berada di dapur sibuk memotong sayur. Alana pun menoleh, saat ia melihat bayangan seseorang yang terpantul di lantai dapur itu.
"Ada apa?" tanya Alana seraya menghentikan aktivitas memotong sayurnya.
"Tidak." Ken berlalu pergi dari dapur dan kembali ke kamar.
"Aneh, kadang dia baik. kadang kasar." Alana melanjutkan kembali memotong sayur itu.
"Tapi semalam dia sangat baik sekali, dia benar - benar bisa menenangkanku. aku sangat nyaman dengannya, senyaman saat bersama Daddy," gumam Alana sembari tersenyum lirih.
"Astaga, bicara apa aku ini, ah lupakan - lupakan. kenapa jadi memikirkan dia." Alana menepuk jidatnya berkali - kali.
satu jam kemudian, saat di rasa semua makanan sudah matang. Alana pergi ke kamar untuk memanggil Ken dan menyuruhnya untuk sarapan. Ken berjalan mengikuti Alana ke dapur. Alana menyiapkan Ken makanan dan mereka berdua pun makan bersama.
"Apa hubunganmu dengan laki - laki semalam?" pertanyaan Ken menghentikan Alana yang sedang mengunyah makanan.
"Bukankah, laki - laki semalam itu adalah laki - laki yang tidak ingin kau temui di boutique waktu itu?" imbuh Ken tanpa memandang Alana. Alana terdiam sejenak. ia kembali mengunyah makanan itu dan menelannya.
"Iya, dia laki - laki yang di boutique waktu itu. dia, mantan kekasihku. dan putri Paman Hilton adalah sahabatku dulu," ucap Alana. ia seakan berat mengatakannya. Ken hanya melirik tanpa menyauti perkataan Alana.
Ting... Tong...
Alana hendak melanjutkan makannya. namun, suara bell rumah mengurungkan niatnya.
"Aku akan membukakan pintu dulu," pamit Alana. Ken menganggukan kepalanya sembari mengunyah makanan tersebut. ia memperhatikan Alana yang berjalan menjauh dari meja makan.
"Mantan kekasih? jadi semalam dia menangis dan tidak bisa tidur. hanya merasa terluka karna mantan kekasihnya menikah dengan sahabatnya?" gumam Ken. ia mengernyitkan dahinya seakan terlihat rasa kekesalan di wajah laki - laki itu.
Alana pergi ke depan untuk membuka pintu rumah. Dan saat pintu sudah terbuka. Ia melihat Jesslyn dan juga Kimy berdiri di sana.
"Jesslyn, Kimy?" Alana melebarkan senyumnya dengan begitu senang
"Alana." Jesslyn dan Kimy saling berpelukan dengan Alana. Alana mempersilahkan Kimy dan juga adik iparnya tersebut untuk masuk.
"Alana, di mana, Kakak?" tanya Jesslyn seraya mendudukan tubuhnya di samping Alana. lalu, di susul oleh Kimy.
"Kakakmu sedang sarapan. Apa kalian sudah sarapan?" tanya Alana.
"Sudah, kok, Alana." Kimy dan jesslyn bergantian menjawab.
"Alana, apa kau baik - baik saja. Semalam, Mama sudah menceritakan semuanya." Jesslyn menggenggam erat tangan Alana. berharap jika Kakak iparnya itu baik - baik saja.
"Aku baik - baik saja, Jesslyn. kau tidak perlu khawatir," ucap Alana sembari menepiskan senyumnya.
"Maaf aku tidak ada di sana. coba saja kalau aku ada di sana. sudah ku remmas - remmas wajah mereka dengan menggunakan garam, terlebih lagi Caleey," seru Jesslyn.
"Iya, aku juga ingin melihat bagaimana reaksi Kak Caleey, saat tau Kakak Ken sudah menikah dengan Alana." Kimy ikut berkomentar.
"Hah, pasti hati dia meledak - ledak layaknya kembang api." Jesslyn tersenyum dengan penuh kemenangan. namun, Alana tak menanggapi pembicaraan mereka berdua. tiba - tiba ia terdiam dan melemaskan tubuhnya.
"Kau kenapa, Alana?" tanya Jesslyn.
"Tidak apa - apa. aku hanya bingung saja. setelah tau aku menikah dengan Kakakmu. sepertinya Kak Caleey akan sangat semakin membenciku," ucap Alana dengan menatap ke sembarang arah.
"Untuk apa kau memikirkan saudara semacam dia? kan, kau sekarang sudah punya saudara yang cantik, menggemaskan dan sangat menyayangimu." Jesslyn menggelayuti tangannya.
"Siapa memangnya?" tanya Alana. rasanya, pikiran Alana yang masih di penuhi masalah, membuat ia tidak bisa mencerna dengan baik apa yang di ucapkan oleh Jesslyn.
"Siapa lagi kalau bukan Aku! ah, Alana kau ini sungguh menyebalkan..." Jesslyn menjauhkan tubuhnya dari Alana sembari mengerucutkan bibirnya.
"Haha, Maafkan aku, aku kira siapa. iya, aku sungguh beruntung memiliki saudara sekaligus sahabat yang cantik dan menggemaskan seperti dirimu." Alana seketika langsung memeluk Jesslyn dengan gemasnya. Jesslyn begitu senang akan pujian itu.
"Alana, ayo kita jalan - jalan," ajak Jesslyn.
"Iya, Alana. ayo kita jalan - jalan, kita berbelanja lalu makan sepuasnya." Kimy ikut menimpalinya.
"Tapi, bagaimana dengan Kakakmu, Jesslyn? Kakakmu sedang libur, masa iya aku meninggalkannya sendirian di rumah?" ucap Alana dengan sedikit bingung.
"Jesslyn, Kimy, kalian di sini?" terlihat Ken berjalan menghampiri mereka.
"Kakak, kebetulan sekali..." Jesslyn beranjak berdiri. ia berjalan menghampiri Kakaknya tersebut,
"Kakak, apa aku boleh mengajak Alana jalan - jalan?" tanya Jesslyn dengan penuh harap.
"Ke mana?" tanya Ken. namun kedua matanya memandang ke arah Alana.
"Ke mall, Kak." Jesslyn menggelayuti tangan Kakaknya tersebut. namun Ken hanya diam saja.
"Jesslyn, lebih baik kita di rumah saja. sepertinya Kakak Ken tidak mau berpisah dengan Alana." Kimy meledek seraya bergantian melihat ke arah Ken dan juga Alana.
"Hey, bicara apa kau? siapa yang tidak mau berpisah dengan dia? ajaklah dia sejauh mungkin sana, di rumah dia juga menyusahkanku!" seru Ken.
"Baiklah, Kak. terimakasih. aku akan mengajak Alana pergi jalan - jalan sejauh mungkin," Jesslyn dan Kimy begitu heboh. Ken berlalu pergi dari sana.
"Hmm, dia itu memang benar - benar menyebalkan. memangnya aku menyusahkan apa?" gerutu Alana dalam hati.
"Ayo Alana, bersiap - siaplah." Jesslyn kembali menghampiri Alana. Alana pun mengiyakannya dan masuk ke dalam kamar untuk bersiap - siap.
Jesslyn dan Kimy menunggu Alana di ruang tamu. kedua mata Jesslyn menatap ke sembarang arah dengan pikiran yang begitu gelisah. rasanya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat itu.
"Jesslyn, kita jalan - jalan hingga sore, ya," ucap Kimy. namun Jesslyn hanya diam saja.
"Jesslyn?"
"Jesslyn!" Kimy dengan kesal mendorong tubuh Jesslyn.
"Hey, kenapa kau mendorongku?" teriak Jesslyn.
"Aku sedang berbicara tetapi kau malah diam saja. kau ini kenapa?" tanya Kimy.
"Maaf, aku sedang bingung." ucap Jesslyn seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Bingung kenapa?" Kimy menggeser duduknya lebih mendekat dengan Jesslyn.
"Aku bingung. bagaimana, ya, caranya mendekatkan Kakak dengan Alana? kau tadi lihat sendiri kan. bagaimana sikap Kakak kepada Alana?" tanya Jesslyn.
"Iya, Kakak Ken tidak bisa lembut dengan Alana. kalau, Alana memiliki anak dengan Kakak Ken. pasti hubungan mereka akan lebih dekat," ujar Kimy.
"Tapi, ku rasa sepertinya Kakak dan juga Alana, belum sampai ke tahap itu." Jesslyn berdecak dengan bingung. ia memutar otak dengan sangat keras memikirkan cara mendekatkan Alana dan juga Kakaknya tersebut.
"Ah aku ada ide, kenapa kita tidak membuat Kak Ken yang terlebih dulu tertarik kepada Alana?" suara Kimy mengagetkan Jesslyn.
"Apa akau bisa biasa saja kalau berbicara? suaramu itu merusak gendang telingaku!" seru Jesslyn.
"Katakan apa idemu?" tanya Jesslyn.
"Kita buatkan Kakak Ken minuman lalu kita campur dengan obat perangsang!" ucap Kimy dengan penuh semangat.
"Apa kau sudah gila? Mana bisa, bodoh!" seru Jesslyn seraya memukul pelan kepala Kimy.
"Jelas bisa, nanti Kakak Ken pasti akan tergoda dengan Alana." Kimy mencoba meyakinkan Jesslyn.
"Apa benar pasti berhasil? aku sungguh ragu. karna otakmu kan kadang terletak tidak pada tempatnya!" ujar Jesslyn dengan penuh keraguan.
"Tidak! aku jamin ini pasti berhasil ... aku saja ingin sekali mencobanya kepada Jasson." Kimy tertawa dengan tidak jelas.
"Kau bilang apa?" tanya Jesslyn. Kimy seketika berhenti tertawa saat melihat Jesslyn melototkan kedua mata ke arahnya.
"Aku hanya bercanda." Kimy mengusap kasar wajah Jesslyn.
"Ya sudah, nanti sepulang dari jalan - jalan saja kita mencobanya. tapi, ingat. kalau sampai idemu ini tidak berhasil. aku tidak akan segan menjadikanmu sebagai makanan anjing." Jesslyn mengancam dengan penuh penekanan. hingga membuat Kimy takut melihatnya.
"Kenapa jadi seperti itu? tidak, tidak usah gunakan ide itu, ide yang lain saja," ucap Kimy.
"Sudah terlanjur! jadi menggunakan ide konyolmu itu saja." seru Jesslyn. Kimy pun terpaksa mengiyakan kata Jesslyn.
Alana bersiap - siap di dalam kamarnya. sementara Ken, terlihat sedang sibuk membaca koran harian di atas sofa yang ada di kamar itu. sesekali kedua matanya melirik ke arah Alana yang sedang berias di depan cermin.
"Ken, apa kau tidak apa - apa aku tinggal sendirian di rumah?" tanya Alana. Ken menutup koran yang ia pegang dan menatap tajam ke arah Alana.
"Kau pikir aku anak bayi yang harus selalu kau jaga?" seru Ken.
"Bukan seperti itu, Ken. maksudku--"
"Sudah cepat pergilah sana!" perintah Ken. Alana mengambil tas miliknya dan menggerutu kesal. ia pun hendak berlalu keluar dari kamar itu.
"Tunggu!" suara Ken menghentikan langkah kaki Alana.
"Ada apa lagi?" Alana berdecak kesal. Ken berjalan mendekati Alana.
"Berapa nomer ponselmu?" tanya Ken. Alana terkejut saat mendengar Ken menanyakan nomer ponsel miliknya.
"Untuk apa?" tanya Alana. namun Ken hanya diam saja dan menajamkan kedua matanya.
"Ba- baiklah, kemarikan ponselmu. aku akan menuliskan nomerku sendiri." Alana menyaut ponsel milik Ken yang baru saja Ken ambil dari saku celananya.
Alana memasukan nomer ponsel miliknya dengan menahan tawa. hingga membuat Ken curiga melihatnya.
"Kenapa kau tertawa?" tegur Ken.
"Siapa juga yang tertawa. ini sudah, ambilah ponselmu!" Alana mengembalikan ponsel itu kepada Ken.
"Bye, Ken. aku pergi dulu. jangan mengacak - acak rumah, dan pup sembarangan, ya." Alana berlalu dengan cepat meninggalkan kamar itu untuk menemui Jesslyn dan juga Kimy di depan.
"Sialan, dia berbicara seolah - olah aku ini seekor kucing!" gerutu Ken dengan kesal.
Ken kembali mendudukan tubuhnya di atas sofa. ia mencoba mengecek nomer ponsel milik Alana yang sempat tadi Alana tulis sendiri.
+3545566998
My Pretty Wife (istriku yang cantik)
"My Pretty Wife?" Ken mengernyitkan dahinya saat membaca nama itu di nomer ponsel milik Alana. ia hendak menghapus dan mengganti dengan nama Alana. namun, Ken tiba - tiba mengurungkannya.
"Dasar gadis bodoh." Ken tersenyum dan meletakan ponsel tersebut di atas meja.