My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Last Friday Night



30 menit kemudian, Jesslyn sudah menemukan gaun yang ia cari. setelah membeli gaun itu, ia ingin kembali menghampiri Kakaknya dan juga Alana di ruang tunggu. namun, yang ia lihat di ruang tunggu hanyalah ada Ken saja.


"Kakak, di mana, Alana?" tanya Jesslyn. kedua matanya melihat ke arah sekitar. namun, ia sama sekali tak mendapati Alana di sana.


"Kakak tidak tau, bukannya tadi bersamamu?" tanya Ken.


"Tidak, dia tidak bersamaku. justru, tadi dia pamit mau menemui Kakak," ujar Jesslyn dengan kebingungan.


"Kakak tidak bersamanya. Tadi Kakak sehabis dari toilet."


"Lalu, kemana dia?" tanya Ken.


"Ya, mana Jesslyn tau. kalau Jesslyn tau. Jesslyn tidak akan bertanya kepada Kakak!" celetuk Jesslyn.


"Dia ini sungguh menyusahkan saja!" gerutu Ken dengan kesal. kedua matanya juga mengitari sekitar mencari Alana. Ia mengajak adiknya keluar dari boutique itu dan mencari Alana. Namun, tetap saja, mereka sama sekali tak mendapati Alana di sana.


"Jesslyn, coba telpon dia," perintah Ken.


"Jesslyn kan tidak membawa ponsel, Kak. coba Kakak yang menelponnya." Jesslyn memerintah balik.


"Menelponnya?" Ken mengernyitkan dahi.


"Iya, cepat telepon dia, Kak." Jesslyn merogoh ponsel Ken di dalam saku celananya.


"Kakak tidak memiliki nomernya Alana."


"Kakak jangan bercanda!" seru Jesslyn.


"Mana mungkin Kakak bercanda. Kakak benar - benar tidak memiliki nomer ponsel Alana!" dengus Ken.


"Oh, iya, Jesslyn ingat. waktu Jesslyn pernah masuk rumah sakit. Jesslyn pernah menyuruh Alana menghubungi Kakak menggunakan ponsel miliknya. coba Kakak cari di History panggilan," perintah Jesslyn.


"Kakak sudah menghapus semua history panggilan Kakak, Jesslyn." ujar Ken.


"Kakak ini bagaimana? Nomer istri sendiri saja tidak punya. Kakak sungguh menyebalkan!" ketus Jesslyn.


"Temanmu itu yang menyebalkan!" seru Ken.


Dan saat adik Kakak itu sedang berdebat. Tiba - tiba Alana datang menghampiri mereka berdua dengan membawa Paper bag di tangannya.


"Alana kau dari mana saja?" tanya Jesslyn.


"Kau dari mana saja? apa kau tau dari tadi kami kebingungan mencarimu!" seru Ken dengan kesalnya. bahkan, guratan di dahinya terlihat sangat jelas.


"Maafkan aku, aku baru saja mencarikan kemeja untukmu." Alana menunjukan paper bag yang berisi sebuah kemeja di dalamnya.


"Memangnya aku menyuruhmu, untuk membelikanku kemeja? Tidak kan! Aku tidak butuh kau membelikan sesuatu untukku! Cepat pulang. menyusahkan saja, waktuku terbuang hanya karna dirimu!" seru Ken.


"Kakak ... Kakak kenapa berbicara seperti itu? Bicaralah yang sopan kepada istrimu!" timpal Jesslyn.


"Jesslyn!" Alana menarik lengan Jesslyn dan menggeleng - gelengkan kepalanya. berharap adik iparnya tersebut tidak membelanya. Namun, Jesslyn menepis tangan Alana.


"Alana kan sudah meminta maaf. Dia hanya mencarikan kemeja untuk Kakak! Apa Kakak tidak bisa berbicara lembut sedikit dengannya!" Jessly semakin mengeraskan suaranya. bahkan membuat kekesalan yang ada di dalam diri Ken semakin memuncak.


"Jangan berteriak di depan Kakak seperti itu! Apa karna dia, kau jadi lupa cara berbicara sopan kepada saudara yang lebih tua? jangan terlalu ikut campur urusan Kakak. Cepat pulang!" seru Ken. Ia berlalu meninggalkan Alana dan juga Jesslyn terlebih dulu.


"Kenapa dia selalu berbicara kasar seperti itu? Padahal aku hanya ingin membelikannya kemeja." gumam alana dalam hati. rasanya ia benar - benar ingin sekali menangis. namun, ia tahan karna tidak ingin Jesslyn melihatnya.


"Alana tolong maafkan Kakakku," ucap Jesslyn seraya melingkarkan kedua tangannya di bahu Alana.


"Memaafkan untuk apa? Kakakmu tidak salah apa - apa. aku yang salah." Alana berbicara dengan begitu lembutnya.


"Aku sangat kesal dengan Kakak. Kakak selalu saja berbicara kasar kepadamu,"


"Jesslyn, Kakakmu memang seperti itu. Kau tidak boleh berbicara seperti tadi di depan Kakakmu. nanti minta maaflah kepadanya," perintah Alana.


"Aku tidak mau!" Jesslyn melipatkan kedua tangannya di atas perut dengan begitu kesal.


"Jesslyn, kau tidak boleh seperti itu. Kalau kau tidak mau minta maaf dengan Kakakmu. Aku akan marah denganmu!" seru Alana.


"Baiklah, nanti aku akan minta maaf kepada Kakak." Jesslyn melepas lipatan kedua tangannya. Alana pun tersenyum lega.


"Anak pintar. ya sudah, ayo kita pulang." Alana mengusap kepala Jesslyn. Lalu, ia mencoba menarik tangan Jesslyn untuk pergi dari sana.


"Alana ...?" panggil Jesslyn. Ia menarik balik tangan Kakak iparnya tersebut.


"Iya, Jesslyn. Ada apa? " tanya Alana.


"Jangan pernah membenci Kakakku ya, Alana." Jesslyn menatap Alana dengan begitu sendu.


"Kakakmu sudah menjadi suamiku. Jadi mana mungkin aku membencinya." Alana mencoba meyakinkan Jesslyn dengan ucapannya tersebut.


"Terimakasih, Alana. aku sangat menyayangimu," Jesslyn langsung memeluk erat Alana seraya memejamkan kedua matanya. Alana pun tersenyum haru.


"Aku juga sangat menyayangimu." Alana membalas pelukan Jesslyn.


Setelah itu, mereka berdua saling melepas pelukannya. Lalu, berlalu meninggalkan tempat itu dan menghampiri Ken di parkiran mobil.


Ken terlihat duduk di kursi kemudi dengan raut wajah yang sama sekali nampak tak ramah. mungkin, ia masih kesal terhadap Alana dan juga Jesslyn.


Jesslyn membuka pintu mobil belakang dan hendak duduk. namun, tiba - tiba Alana menarik tangannya.


"Jesslyn, duduklah di depan," perintah Alana. Ken langsung melirikkan kedua matanya ke arah Alana.


"Kenapa kau menyuruhku duduk di depan? Kau tidak mau duduk di samping Kakak?" tanya Jesslyn.


"Bukan, bukan tidak mau. aku hanya ingin duduk di belakang saja," bujuk Alana sembari tersenyum.


"Okay, baiklah." Jesslyn keluar dari mobil dan memindah posisi duduknya di samping Ken. sedangkan Alana duduk tepat di belakang kursi kemudi yang di duduki oleh suaminya tersebut.


Ken mulai melajukan mobilnya menuju ke arah rumah. dan selama perjalanan pulang, Ken memperhatikan Alana dari balik kaca spion. Ia melihat wanita itu sedang bersandar dan menatap ke arah luar jendela mobil. Seakan sedang memikirkan sesuatu.


Karna, memang jelas sekali di kedua mata Alana. Ia memasukan perkataan kasar Ken tadi ke dalam hatinya.


Setibanya di rumah, Ken terlebih dulu turun dan segera masuk ke dalam. lalu di ikuti oleh Jesslyn dan Alana.


"Kakak tunggu!" panggil Jesslyn. Ia berjalan cepat menghampiri Kakaknya tersebut. namun, Ken tak menghiraukannya dan semakin berjalan cepat.


"Kakak, tunggu!" Jesslyn meraih tangan Kakaknya. dan seketika itu. Ken menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa?" tanya Ken dengan berdecak kesal.


"Maafkan, Jesslyn. karna Jesslyn tadi berbicara tidak sopan dengan Kakak." Jesslyn memeluk erat Kakaknya tersebut. namun Ken hanya diam saja.


"Kakak, maafkan, Jesslyn." dengus Jesslyn.


"Kakak sudah memaafkanmu. Cepat bersiaplah sana!" perintah Ken.


"Baiklah, Kak."


Ken langsung masuk ke dalam kamar dan mandi. karna ia harus bersiap - siap menghadiri pesta pernikahan putri Tuan Hilton.


Begitu juga Jesslyn dan Alana. Alana menunggu Ken untuk bergantian mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya tersebut. Karna kamar mandi yang ada di dekat dapur di gunakan oleh Jesslyn.


Tak lama kemudian, Ken keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada seraya mengusap wajahnya yang basah dengan handuk yang melilit di sebagian lehernya. Bahkan, sisa - sisa air masih melekat membasahi tubuh kekarnya.


Namun, Alana hanya menundukan pandangannya dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menegur suaminya itu.


Dan saat Ken hendak mendekati lemari pakaian. kedua matanya di fokuskan ke arah paper bag yang ada di atas sofa.


Ken meraih paper bag itu dan mengeluarkan isi dari paper bag tersebut.


Sebuah kemeja berwarna maroon kini ada di tangannya. Kemeja yang sempat Alana belikan untuknya waktu di mall tadi.


tanpa berpikir panjang. Ken langsung membalutkan kemeja itu di tubuh kekarnya. Ia mengancingkan satu - persatu kemeja itu. sambil berjalan keluar dari kamarnya.


Tak lama kemudian, Alana keluar dari kamar mandi. ia memakai gaun yang sempat ia beli tadi. Lalu, ia berdandan secantik mungkin.


Karna, bukankah acara ini akan di hadiri oleh orang - orang penting? Jadi, Alana tidak mau jika membuat keluarga suaminya malu.


Alana mengepang rambut atasnya hingga setengah lingkaran. dan ia membiarkan rambut bawahnya tergerai begitu saja.


Malam itu, Alana terlihat begitu cantik sekali. Dengan dandanan yang sederhana, namun nampak teduh bagi siapa saja yang melihatnya. terlebih lagi, balutan gaun berwarna soft semakin memperindah lekuk tubuhnya.


Ceklek (pintu terbuka)


"Alana ..."


Alana menoleh saat Jesslyn memanggilnya.


"Alana, kau cantik sekali," puji Jesslyn. Ia memandangi Alana dengan begitu terpukau.


"Jesslyn, kau selalu saja memujiku seperti itu," ucap Alana dengan tersenyum malu.


"Kau memang benar - benar cantik sekali. aku tidak bohong," Jesslyn meyakinkan Alana akan ucapannya tersebut.


"Kau juga terlihat sangat cantik sekali," puji Alana balik.


"Kau bisa saja, Alana."


"Oh Iya, Alana. Aku harus mendatangi pesta ulang tahun temanku terlebih dulu. Jadi aku menyusul kalian di sana. aku sudah pamit kepada Kakak dan juga Mama Papa. Kalau begitu, aku tinggal dulu, ya, Alana. Karna taxiku sudah menunggu di depan," pamit Jesslyn.


"Baiklah, hati - hati. ponselmu jangan terlupa lagi. nanti kabari aku jika sudah sampai," ucap Alana.


"Siap, Alana." Jesslyn berlalu pergi dari kamar itu dengan terburu - buru. Namun, ia terlebih dulu menutup kembali pintu kamar itu.


"Jesslyn itu memang lucu sekali, aku sungguh gemas dengannya." Alana tersenyum sembari menggeleng - gelengkan kepalanya. Ia kembali menghadap cermin dan merapikan rambutnya.


Ceklek.


(Pintu kamar terbuka kembali)


"Ada apa lagi, Jesslyn?" Alana menoleh. namun tiba - tiba ia membungkam saat yang ia lihat masuk di dalam kamarnya bukanlah Jesslyn melainkan suaminya. Ken berjalan mendekati Alana.


Sama halnya dengan Jesslyn. Ken terlihat begitu terpukau akan Alana malam itu. Hingga membuat mereka berdua sejenak beradu pandang.


Alana mengalihkan pandangannya ke arah kemeja yang saat ini di kenakan oleh Ken.


"Itu kan kemeja yang aku belikan tadi," gumam Alana.


"Dia memakainya?" hati Alana tiba - tiba senang saat melihat Ken mengenakan baju yang ia belikan tadi.


"Cepatlah, Mama dan Papa sudah berangkat dari rumah," ucap Ken.


"Aku sudah selesai," kata Alana seraya menggigit bibir bawahnya. Ken masih tak bergeming akan posisinya. Ia dengan seksama memperhatikan wajah dan juga rambut Alana hingga membuat wanita itu sedikit salah tingkah.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku tidak pantas menggunakan kepangan rambut seperti ini?" tanya Alana seraya menyentuh rambutnya.


"Iya sangat aneh!" seru Ken.


"Ehm, kalau begitu aku akan melepas ikatannya."Alana hendak menarik pita rambut yang mengunci kepangan rambutnya tersebut. Namun, tangan Ken tiba - tiba menghentikannya.


"Jangan merusak ikatan rambutmu! Waktu kita sudah mepet!" seru Ken.


"Hanya sebentar, kok. tidak sampai memakan waktu 5 menit," bantah Alana.


"Aku bilang tidak usah ya tidak usah!" seru Ken.


"Katamu tadi aneh, aku tidak mau membuatmu malu di sana," ucap alana dengan polosnya.


"Tidak, sudah biarkan begitu saja! Cepatlah, aku tunggu di depan!" Ken berlalu meninggalkan Alana.


"Dia terlihat sedikit cantik malam ini. Tapi hanya sedikit," gumam Ken dalam hati seraya keluar dari kamar itu.


.


.


.


.


.


.


.


Oh iya, Just info. Tanggal 21 - 23 Mamah slow update ya, Nak - anak. Karna Mamah mau liburan nenangin pikiran. Sapa tau pulang liburan dapet jodoh. eh #Typo dapet Inspirasi maksudnya wkwkwkwk 😂😂😂😂😂