
Semenjak hari itu, Ken semakin menjaga jarak dengan Alana. Ia juga tidak menggoda Alana seperti yang pernah ia lakukan sebelum - sebelumnya. Karna Ken takut tidak bisa menahan dirinya akan hal itu.
***
Satu bulan berlalu, kini Holmes sudah pulang dari rumah sakit dan tinggal bersama Alana dan juga Ken. Ken memanggil seorang perawat untuk merawat mertuanya tersebut. ia juga mempekerjakan seorang pembantu yang bernama Bi Ester untuk membantu keseharian Alana mengerjakan pekerjaan rumah.
Pagi itu, seusai sarapan. Ken hendak menemui Alana di dalam kamar Ayahnya. karna, pagi itu Alana sedang menyuapi Ayahnya.
Ken berdiri di depan pintu sembari melihat raut wajah Ayah dan anak itu begitu nampak bahagia. bahkan, gelak tawa Alana memecah saat Ayahnya menyelipkan sebuah candaan di dalam obrolan mereka. jelas sekali, Alana begitu sangat menyayangi Ayahnya.
"Selama ini aku tidak pernah melihatnya tertawa seperti itu," gumam Ken. ia memperhatikan Alana dari ujung pintu kamar itu.
"Ken?" suara Holmes membuyarkan lamunan Ken. Alana menengok ke arah suaminya itu. Ken tersenyum dan berjalan menghampiri mereka berdua.
"Pagi, Paman." Ken menyapa mertuanya tersebut. Holmes menyapa balik menantunya itu.
"Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Alana.
"Tidak, aku hanya ingin melihat Ayahmu saja," jawab Ken.
"Oh." Alana membulatkan bibirnya dan mengangguk - anggukan kepalanya.
"Apa kau mau pergi bekerja, Nak?" tanya Holmes.
"Tidak, Paman. Ken mau ke pedesaan melihat bangunan di sana," ucap Ken.
"Pedesaan? aku sangat ingin sekali pergi ke pedesaan. pasti di sana sangat sejuk dan teduh," ucap alana sembari membayangkan suasana teduhnya desa yang di tumbuhi dengan rindangnya pepohonan.
"Apa kau mau ikut?" tanya Ken.
"Memangnya boleh?" tanya Alana.
"Ehem." Ken mengiyakannya.
"Ya sudah aku mau ikut," ucap Alana dengan penuh semangat. namun, ia tiba - tiba terdiam saat melihat ke arah Holmes.
"Ehm, tidak usah, Ken. sepertinya lain kali saja," ucap Alana.
"Alana, ikutlah bersama suamimu, jangan memikirkan Daddy, Daddy baik - baik saja di sini," tutur Holmes sembari tersenyum.
"Tidak, Daddy. Alana tidak mau meninggalkan Daddy sendirian," bantah Alana.
"Sayang, pergilah." Holmes memaksa Alana. karna ia tau sekali bahwa putrinya tersebut sangat ingin sekali pergi ke sana.
"Tapi, Daddy?"
"Daddy baik - baik saja, Nak." Holmes mencoba meyakinkan putrinya tersebut. Alana menatap Ken sejenak.
"Paman akan baik - baik saja di rumah. ada perawat dan Bi ester yang menjaga Paman," ucap Ken. Alana seakan terhipnotis oleh perkataan Ken hingga membuat dirinya tak lagi khawatir meninggalkan Ayahnya di rumah.
"Baiklah," ucap Alana. Ken menyuruh Alana bersiap - siap. sementara Ken menggantikan posisi Alana untuk menyuapi mertuanya tersebut. perawat ingin mengambil alih pekerjaannya. namun, Ken menolaknya. hingga membuat Ken sendirilah yang menyuapi makanan kepada Holmes hingga habis tak tersisa.
***
Alana sudah bersiap - siap. ia dan Ken berpamitan kepada Holmes untuk pergi ke pedesaan. Ken menitipkan mertuanya sekaligus rumahnya kepada Perawat dan juga Bi Ester.
Kini, Ken dan Alana berada di dalam mobil menuju ke tempat tersebut. mereka menempuh perjalanan kurang lebih dua hingga tiga jam lamanya.
"Di sana jangan menyusahkan!" seru Ken.
"Memangnya aku pernah menyusahkanmu apa?" gerutu Alana dengan kesal. Namun, Ken hanya meliriknya saja.
Sepanjang perjalanan, Kedua mata Alana di sugukan dengan rindangnya pepohonan yang berjajar di setiap jalan yang memiliki tanjakan. terlebih lagi suasana mendung menyelimuti pedesaan itu sungguh teduh di kedua mata Alana.
"Aku ingin sekali tinggal di pedesaan," ucap Alana. Ken hanya meliriknya.
"Oh iya, Ken. sebenarnya, kau mau ngapain di pedesaan seperti ini?" tanya Alana. namun Ken hanya diam saja. Alana menghela napas seraya mengerucutkan bibirnya karna merasa kesal akan pertanyaannya yang tidak di jawab oleh suaminya tersebut.
Tak lama kemudian, Ken menghentikan mobilnya di depan bangunan rumah berwarna putih yang sangat luas dan besar. rasanya itu bangunan baru. karna terasa sekali bau cat yang masih basah di indera penciuman mereka berdua.
"Turun!" perintah Ken. Alana pun turun. Dan di susul oleh Ken.
"Tempat apa ini Ken?" tanya Alana. kedua matanya menyapu ke setiap arah yang di jangkau oleh kedua matanya.
"Ayo," ajak Ken. tanpa menjawab pertanyaan Alana dan berjalan mendahuluinya.
Alana mengikuti Ken dari belakang dan masuk ke dalam bangunan rumah itu. dan di sana banyak sekali anak - anak kecil dan juga orang tua. ternyata tempat itu semacam rumah singgah yang di khusukan untuk menampung tuna wisma dan anak yatim piatu.
Ken begitu di sambut dengan baik oleh semua orang yang ada di sana tak terkecuali anak - anak kecil.
Terlihat empat orang wanita paru baya sedang berjalan menghampiri Ken. Mereka menarik dan mempersilahkan Ken untuk duduk. dan wanita itu tak menghiraukan Alana.
"Tuan Ken, kau lama sekali tidak berkunjung kemari?" salah dari seorang mereka bertanya.
"Iya, maaf. karna saya baru pulang dari Amerika dan sedang sibuk akhir - akhir ini," ucap Ken.
"Kenapa tidak kemari dengan Nona Valerie, Tuan? dua bulan yang lalu juga begitu. Nona Valerie ke mari tapi dia bersama dengan seorang laki - laki asing."
"Oh, benarkah?" raut wajah Ken nampak sedikit kecewa mendengar hal itu.
"Bagaimana dengan bangunan baru ini? Apa kalian semua merasa lebih nyaman?" tanya Ken. Ia dengan sengaja ingin mengubah topik pembicaraannya.
"Sangat nyaman sekali, Tuan. kami sangat berterimakasih karna Tuan sudah mau membantu kami untuk memperbaiki bangunan ini."
Alana berjalan perlahan mendekat dan menghampiri suaminya. suara langkah kaki yang tercipta dari sepatu Alana. Membuat semua mata menyorot dan tertuju ke arah Alana.
"Siapa wanita ini, Tuan?"
"Dia istri saya," Ken menarik tangan Alana dan mengajak dia duduk di samping nya. Alana tersenyum dan menyapa mereka semua.
"Tuan Ken sudah menikah? saya kira Tuan akan menikah dengan Nona Valerie."
"Iya, Tuan. kenapa tidak menikah dengan Nona Valerie saja? Nona Valerie kan sangat cantik dan baik."
Namun Ken hanya diam saja akan pertanyaan mereka.
Alana merasa tak nyaman dan sedikit terluka akan Pertanyaan yang di lontarkan oleh orang - orang yang sedang mengelilingi Ken saat itu.
"Ken, aku tinggal melihat ke anak - anak itu ya?" ucap Alana dengan menunjuk ke arah anak - anak yang sedang bermain di sudut sana.
Ken sejenak memperhatikan Alana. ia bisa merasakan perubahan raut wajah wanita itu. Ken pun mengiyakan permintaan istrinya tersebut.
Alana beranjak berdiri dan menghampiri anak - anak itu. kedua mata Ken masih mengawasi setiap langkah kaki Alana. Alana mendudukan tubuhnya di dekat beberapa anak kecil yang sedang sibuk bermain. Tak butuh waktu lama membuat Alana langsung akrab dengan anak - anak yang menggemaskan itu.
***
Bahkan hingga sore hari, Alana dan juga Ken berada di tempat itu. mereka berdua saling membantu aktivitas semua orang yang tinggal di rumah singgah itu. ini hal yang sangat menyenangkan buat Alana.
namun, Alana merasa ada ketidaknyamanan di sana, saat ia di banding - bandingkan dengan seorang perempuan yang bernama Valerie.
Seusai Alana membantu memasak untuk makan malam.
Alana terlihat duduk menyendiri sembari memperhatikan suaminya yang sedang mengajari anak - anak kecil menggambar dari kejauhan sana.
Alana pun melamun, ia merasa tidak ada yang menyukai kehadirannya di sana. Karna, sekalipun mereka semua tau bahwa dirinya ialah istri Ken. namun, tetap saja orang - orang di sana selalu membahas nama "Valerie" nama yang begitu asing di telinga Alana.
"Mau pulang sekarang?" suara Ken tiba - tiba mengejutkan Alana.
"Ehm, terserah kau saja," kata Alana.
"Ya sudah ayo kita pulang. sepertinya mau turun hujan," ucap Ken dengan memandang ke arah luar. Alana mengiyakannya. Ken mengajak istrinya tersebut untuk berpamitan. kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah singgah itu.
***
Ken kembali melajukan mobilnya menuju ke arah rumah. namun, saat di tengah perjalanan. hujan lebat mengguyur deras. bahkan, menutupi kaca mobil depan milik Ken. hingga membuat laki - laki itu mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan - pelan karna derasnya air hujan membuat pandangan matanya tidak bisa menjangkau jalanan dengan maksimal.
Namun, tiba - tiba mobil yang mereka tumpangi mendadak berhenti di tengah jalan. Ken mencoba menghidupkan ulang mesin mobil itu berkali - kali. namun hasilnya nihil. Mesin mobil itu tidak mau menyala sama sekali.
"Sial, mobilnya mogok!" umpat Ken seraya memukul setir mobil itu dengan tangannya.
"Lalu bagaimana, Ken?" tanya Alana.
"Tunggulah di sini jangan turun!" perintah Ken. Alana mengiyakannya. Ken turun tanpa mengenakan payung, ia mencoba memperbaiki mesin mobilnya itu. namun, tidak ada hasil. dengan basah kuyup, ia kembali menghampiri Alana masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak bisa memperbaiki mobilnya, di depan ada penginapan, lebih baik kita menginap saja di sana," tutur Ken. Alana hanya diam karna dirinya bingung, ia merasa tak tenang jika meninggalkan Ayahnya di rumah dalam situasi hujan seperti ini.
"Ayahmu akan baik - baik saja, percayalah!" tutur Ken. ia sudah mengerti apa yang sedang Alana pikirkan.
"Baiklah," ucap Alana. Ken hendak turun kembali dari mobil itu.
"Kau mau ke mana?" tanya Alana seraya menarik tangan Ken.
"Mau mendorong mobilnya. kau pikir mobilnya akan jalan sendiri ke penginapan!" seru Ken.
"Ayo, aku akan membantumu." Alana hendak turun juga dari mobil itu.
"Tidak usah! tunggu di sini saja dan jangan keluar!" perintah Ken.
"Tapi Ken, mobil ini kan berat," ucap Alana.
"Memangnya siapa yang bilang ringan? Kau pikir ini mobil - mobilan apa!"
"Tunggu di dalam. jangan keluar!" Alana mengiyakannya dan Ken segera turun dari mobil. Ia mulai mendorong mobil tersebut ke penginapan yang letaknya 50 meter dari jangkauannya saat ini.
Alana memperhatikan Ken dari pantulan kaca spion. rasanya ia begitu tak tega melihat suaminya bersusah payah mendorong mobil di tengah derasnya hujan seperti ini. Alana yang merasa tak tega, ia pun turun dan menghampiri Ken untuk ikut membantunya.
"Ken, aku akan membantumu," ucap Alana. hujan pun dengan leluasa ikut membasahi tubuh Alana.
"Kenapa kau turun dari mobil? ayo cepat masuk! jangan hujan - hujanan." Ken menarik tangan Alana dan mencoba menyuruhnya masuk kembali ke dalam mobil.
"Tidak mau! aku mau membantumu," ujar Alana.
"Aku tidak butuh bantuanmu! Cepat masuk!" perintah Ken dengan penuh penekanan.
"Tidak mau, Ken. aku akan menemanimu hujan - hujanan di luar," bantah Alana.
"Jangn seperti anak kecil. cepat masuk ke dalam mobil! kau nanti sakit. kalau kau tidak mau masuk, aku akan meninggalkanmu sendirian di sini!" seru Ken dengan kesal akan istrinya yang begitu keras kepala.
"Baiklah, aku akan masuk." Alana pun terpaksa masuk ke dalam mobil. dan Ken kembali mendorong mobil itu hingga ke penginapan terdekat.
setibanya di penginapan Alana pun turun dan menghampiri Ken.
"Kau basah kuyup." Alana menyentuh baju yang di kenakan Ken.
"Apa kau tidak membawa baju ganti?" tanya Alana.
"Aku membawa beberapa baju ganti di mobil." Ken mengambil beberapa baju miliknya yang ada di dalam mobil. Lalu, ia mengajak Alana untuk masuk ke penginapan itu.
Mereka mendapat satu kamar yang letaknya di lantai atas. Ken mengajak Alana untuk masuk ke dalam kamar yang sudah mereka dapati itu.
Alana begitu menggigil kedinginan saat masuk ke dalam kamar itu. terlebih lagi AC yang ada di dalam kamar itu menyala. Membuat hawa dingin semakin menusuk hingga ke tulang belulangnya.
"Ken, aku kedinginan," Alana mendekap tubuhnya. Ken meraih remote AC dan segera mematikan AC tersebut
"Aku kan sudah bilang, tadi jangan ikut keluar dari mobil. kenapa kau malah keluar? Bajumu jadi basah seperti ini." Ken memegang baju Alana yang basah. Lalu, ia menyuruh Alana untuk mengenakan baju miliknya yang sempat ia ambil dari mobil tadi.
dan tak lama kemudian, Alana keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju milik Ken yang begitu kedodoran di tubuhnya. Ken memegangi rambut Alana yang basah.
"Lihatlah, rambutmu juga jadi ikut basah seperti ini. Kalau kau sakit, Aku sendiri yang akan kerepotan." Ken mengambil handuk yang masih terlipat rapi di dalam kamar mandi. kemudian, Ken membantu mengeringkan rambut Alana yang basah dengan handuk tersebut.
Alana tak henti memperhatikan Ken yang sedang sibuk mengeringkan rambut panjang miliknya. mungkin bagi orang lain, Ken terlihat sedang memarahi Alana. namun yang Alana rasakan saat ini. suaminya tersebut sedang mengkhawatirkannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tegur Ken dan Alana hanya menggeleng kepalanya tanpa bersuara.
Saat Ken merasa rambut Alana sudah cukup kering. ia melempar handuk itu ke sembarang tempat.
Ken berlalu meninggalkan Alana masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakainnya.
***
Mereka berdua pun merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu untuk beristirahat. Alana memjulurkan Blanket ke sekujur tubuhnya untuk mengurangi rasa dingin akan malam itu. meskipun blanket tebal itu membaluti seluruh tubuhnya. namun tetap saja, tak mengurangi rasa dingin yang sedang di rasakan oleh Alana.
"Ken?" panggil Alana.
"Ada apa?" tanya Ken dengan nada malasnya.
"Ken, aku kedinginan," ucap Alana dengan menatap sendu suaminya itu.
"Kau kan sudah menggunakan selimut," ujar Ken.
"Iya, tapi rasanya masih sangat dingin sekali." Alana mengeratkan blanketnya dengan sedikit menggigil.
"Kemarilah, agak mendekat denganku!" perintah Ken.
"Mau apa?" tanya Alana.
"Katanya kau kedinginan. cepat mendekatlah kemari!" seru Ken dengan sedikit kesal. Alana pun menggeser tubuhnya lebih mendekat dengan Ken.
"Tidurlah." Seketika itu Ken langsung mendekap tubuh Alana hingga membuat wanita itu sedikit terkejut. namun, Alana tak menolak akan hal itu. justru ia merasa sangat nyaman di buatnya.
"Hangat sekali," gumam Alana. Ia tersenyum dan menghirup dalam - dalam aroma khas tubuh suaminya yang seakan membuatnya candu. bahkan ia mencari posisi ternyamannya. Alana benar - benar merasakan kehangatan dan kenyamanan di dekapan tubuh suaminya itu. Bahkan, Ia tak memperdulikan apapun saat itu.
"Apa kau masih kedinginan?" tanya Ken. namun Alana tak menjawab pertanyaan Ken. karna ia sudah terlelap akan tidurnya.
"Cepat sekali dia tertidur?" Ken menggerutu saat melihat Alana yang sudah asyik berada di alam mimpinya.
.
.
.
.
.
.
.