
"Oh iya, Alana tunggu dan duduklah di sini dulu," perintah Jesslyn dengan membantu Alana duduk di tepi tempat tidur.
"Kau mau kemana, Jesslyn?" tanya Alana.
"Sebentar, aku mau ke Mama."
"Ayo Kimy," ajak Jesslyn.
"Tidak mau, aku di sini saja," ucap Kimy.
"Ayooo!" Jesslyn melototkan kedua matanya kepada Kimy hingga membuat wanita itu terpaksa mengiyakan permintaan Jesslyn untuk ikut dengannya.
Jesslyn pun menarik tangan Kimy untuk keluar dari sana.
"Kau mau mengajakku kemana, sih, Jesslyn?" tanya Kimy.
"Tolong pergilah ke kamar Kakaku, dan bilang aku sedang memanggilnya. setelah itu, kau langsung pergilah ke ruang tengah membantu Mamaku," perintah Jesslyn. Kimy pun berdecak dengan malas akan perintah Jesslyn.
"Kenapa tidak kau saja yang langsung ke kamar Kakak Ken?" tanya Kimy.
"Kenapa memangnya? apa kau tidak mau memanggilkan Kakakku?" tanya Jesslyn dengan melotot.
"Ti-tidak, siapa yang bilang tidak mau? aku mau kok, aku mau. tunggu, aku akan memanggilkan Kakak Ken."
"Ehm, Jesslyn. kalau Kakak tidak mau bagaimana?" tanya Kimy.
"Paksa sampai mau, kalau Kakakku tidak datang ke kamarku, kau lihat saja nanti!" seru Jesslyn dengan melototkan kedua matanya kepada Kimy.
"Iya, iya, baiklah." Kimy berlalu meninggalkan Jesslyn untuk pergi ke kamar Ken.
Jesslyn melirik ke dalam kamarnya dan ia masih melihat Alana duduk di posisi yang sama seperti yang ia perintahkan tadi. ia pun tersenyum dan pergi dari sana.
***
Saat Ken tengah sibuk merapikan kemeja miliknya di depan cermin. tiba - tiba Kimy masuk tanpa mengetuk pintu kamarnya itu.
"Kakak Ken," panggil Kimy. Ken langsung menoleh ke arah pintu.
"Kimy, lain kali kalau masuk, harus mengetuk pintu dulu, ya," tutur Ken pelan.
"Astaga, maaf, Kak. Kimy lupa," jawab Kimy.
"Ada, apa?" tanya Ken dengan membaltkan jas berwarna silver miliknya ke tubuh kekarnya.
"Kakak, Jesslyn memanggilmu di kamarnya," kata Kimy.
"Aku tidak mau. bilang saja kepadanya, kalau dia mau berbicara suruh kemari," kata Ken.
"Jesslyn tidak mau, Kak. dia menyuruh Kakak ke sana," ucap Kimy.
"Nanti kalau Kakak tidak menemuinya, Jesslyn akan memarahiku," kata Kimy dengan memelas.
"Astaga, anak itu selalu saja memaksa," gumam Ken dalam hati.
"(Menghela napas) baiklah, habis ini Aku akan ke kamarnya," kata Ken.
"Baiklah, Kak." Kimy pun berlalu pergi dari kamar Ken.
Dan tak lama kemudian, Ken keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kamar Jesslyn. pintu kamar Jesslyn terlihat sedikit terbuka. Ken langsung mendorong pintu itu tanpa mengetuknya. ia pun berjalan masuk ke dalam kamar. namun yang ia dapati di kamar adiknya itu hanyalah ada Alana. Alana pun menoleh ke arah Ken hingga membuat mereka berdua sejenak beradu pandang. Alana beranjak berdiri dan berjalan mendekati calon suaminya tersebut.
"Ada apa kau kemari?" tanya Alana.
"Ini kamar adikku. aku kemari jelas aku mencari adikku. mana mungkin aku mencarimu," seru Ken.
"Jesslyn tidak ada di sini, dia keluar," kata Alana dengan memalingkan pandangannya. Ken pun tak bergeming memperhatikan Alana yang terlihat begitu sangat cantik waktu itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? apa kau tidak pernah melihat wanita cantik setelah berdandan?" seru Alana.
"Cantik? justru kau sangat aneh berdandan seperti itu. seperti seorang badut," komentar Ken.
"Seorang badut? benarkah? tapi kata Jesslyn dan Kimy tadi aku cantik." Alana langsung mendekat ke arah cermin dan memperhatikan dandananya dengan seksama.
"Tuan Ken, apa benar dandananku seperti seorang badut?" tanya Alana dengan panik, ia masih sibuk memperhatikan dandanannya. namun Ken hanya diam saja.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Alana. lalu, ia melirik ke arah jam dinding.
"Masih ada waktu setengah jam kan? aku akan menghapus make up ini dan berdandan sendiri," Alana mendekati meja rias. ia mengambil beberapa lembar tissue dan hendak menghapus Make upnya. namun Ken berjalan cepat menghampiri Alana.
"Hey, kau jangan macam - macam!" kata Ken dengan menahan tangan Alana agar tidak menghapus make upnya.
"Siapa yang mau macam - macam? aku hanya mau menghapus make upku saja!" bantah Alana.
"Jangan di hapus!" perintah Ken dengan menajamkan kedua alisnya.
"Tidak mau! katamu dandananku seperti badut," kata Alana dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, kau tidak seperti badut, aku hanya bercanda tadi.," kata Ken.
"Mana mungkin kau bercanda? jelas - jelas kau tidak suka bercanda! aku tidak mau, aku mau menghapusnya," Alana mencoba menyingkirkan tangan Ken.
"Kau berani menghapusnya. aku tidak akan segan menghabisimu, nanti!" seru Ken. Alana langsung membungkam karna takut. Ken menarik tissue itu dari tangan Alana dan membuangnya.
"Kakak," panggil.Jesslyn. mendengar suara Jesslyn. Alana dan Ken menoleh secara bersamaan.
"Jesslyn, kau membohongiku!" Alana mengerucutkan bibirnya.
"Membohongi apa?" tanya Jesslyn.
"Katanya aku cantik, tapi kata Kakakmu dandananku seperti badut," ujar Alana dengan kesal.
"Astaga, wanita ini benar - benar bodoh," umpat Ken dalam hati.
"Tidak, kok. mana ada badut secantik ini?" jawab Jesslyn.
"Kakak, kau yang benar saja mengatakan calon istrimu sendiri seperti badut?" seru Jesslyn dengan meletakan kedua tangannya di atas pinggang.
"Ayo puji Alana cantik," perintah Jesslyn dengan melototkan kedua matanya. namun Ken hanya diam saja.
"Kakak!" teriak Jesslyn.
"Benar - benar bisa gila aku, jika setiap hari menghadapi mereka berdua," gerutu Ken seraya berjalan dan menggaruk - garuk rambutnya dengan begitu frustasi.
"Tuh kan, Alana. kata Kakak, kau cantik," ujar esslyn.
"Dia terpaksa bicara seperti itu. jelas - jelas kata dia tadi dandananku seperti badut," ucap Alana.
"Tidak, kau benar - benar cantik. coba kemari, lihatlah di cermin. kau cantik kan? apa yang kau lihat saat ini adalah apa yang orang lain lihat," tutur Jesslyn. seraya mengajak Alana berdiri di depan cermin.
"Tapi kata Kakakmu--"
"Tidak usah mendengar perkataan Kakak," tukas Jesslyn.
"Sudahlah, acara akan segera di mulai. lebih baik kita kita bersiap - siap," tutur Jesslyn. Alana pun mengiyakannya.
****
Siang hari itu, para tamu terlihat memadati kediaman rumah Gio dan Merry. memang tidak banyak tamu yang hadir di sana. karna, memang, Gio dan Merry hanya mengundang sebagian rekan dan kerabat saja.
hingga, inti dari acara pernikahan mereka berdua pun di mulai. Alana dan Ken pun sama - sama mengikat janji suci pernikahan. ya, meskipun tak bisa di pungkiri. pernikahan mereka berdua hanya sebatas bisnis semata. namun, mereka berdua harus sama - sama saling menerima demi membantu bisnis orang tuanya.
Alana benar - benar tidak menyangka akan hari ini. ia menikah tanpa keluarga yang menyaksikannya. karna, Ayahnya tidak di perbolehkan oleh dokter untuk keluar dari ruangannya. sementara, ia juga tidak memberitaukan tentang pernikahan ini kepada Ibu dan juga adiknya.
Carrol, Andrew dan juga Harry terlihat ikut hadir dalam pesta perayaan itu. namun, tidak dengan keluarga Caleey. karna Gio memang sengaja tidak mau mengundang keluarga mereka.
Gio dan Andrew terlihat sedang sibuk berbincang dengan para tamunya. sedangkan, Jasson terlihat duduk di sudut ruangan bersama Harry. namun raut wajah Jasson seakan memalas tak seperti biasanya.
Sementara Jesslyn, Merry dan juga Carrol, berjalan menghampiri Alana dan juga Kendrick.
"Sayang, selamat, ya atas pernikahan kalian," ucap Merry. seraya bergantian memeluk Alana dan Ken.
"Alana, perkenalkan. ini Bibi Carrol, sahabat Mama," ujar Merry.
"Hallo Bibi Carrol," Alana menyapa Carrol dan tersenyum.
"Hallo Alana, kamu sangat cantik sekali, Bibi jadi gemas," kata Carrol dengan mencubit lembut dagu Alana.
"Bibi bisa saja," Alana tertawa pelik akan pujian Carrol yang ia rasa terlalu berlebihan.
"Kakak, Alana, selamat untuk kalian. ku harap kalian bisa memberi Jesslyn keponakan yang banyak dan lucu - lucu," heboh Jesslyn dengan raut wajah yang begitu girangnya.
"Bicara omong kosong!" seru Ken dengan berdecak kesal. Jesslyn memperhatikan raut wajah Alana yang sedari tadi tak menikmati acara pernikahannya.
"Alana, kenapa ku perhatikan dari tadi kau cemberut seperti itu? apa kau tidak bahagia?" tanya Jesslyn.
"Tidak." Alana menyautinya tanpa sadar. hingga membuat Merry dan Carrol mengernyit keheranan saat mendengarnya. bahkan Ken melototkan kedua matanya kepada Alana.
"Tidak?" tanya Merry.
"Ma-maksud Alana. Ti-tidak mungkin Alana tidak bahagia, Alana bahagia kok, Bibi. Alana hanya bersedih saja, karna tidak ada Daddy, di sini," jawab Alana dengan kebingungan.
"Mama, sayang. bukan Bibi," tutur Merry dengan tersenyum.
"I-iya Mama," saut Alana ia membalas senyuman Merry.
"Mama tau, Nak. kesedihan yang kamu rasakan. tapi ini hari bahagia kamu, jadi bagaimanapun kamu harus tersenyum, ya," tutur Merry.
"Iya, Ma." Alana tersenyum. lalu, Merry, Carrol pamit kepada Alana dan juga Ken untuk menemui tamu undangan lainnya. dan Jesslyn pun juga mengikuti Mamanya tersebut.
Ken hendak berbicara kepada Alana. namun, tiba - tiba ia mengurungkannya, akrna, David dan Ashley menghampiri Alana dan juga Ken. David sejanak melihat ke arah Alana dan membuat mereka beradu pandang. bahkan, Ken pun meperhatikan sahabatnya yang sedang beradu pandang dengan Alana.
Alana pun langsung memalingkan pandangannya dari David.
"Ken, Alana. selamat menempuh hidup baru," ucap David dengan memberi selamat. begitu juga Ashley.
"Terimakasih," saut Alana.
"Tuan Ken, Aku, permisi ke Jesslyn dan Mamamu dulu, ya?" pamit Alana dengan berbisik di telinga Ken. karna ia malas berlama - lama dengan David. bukannya apa. ia hanya tidak nyaman saja dengan laki - laki itu.
"Hem." Ken menyautinya. seketika itu, Alana berlalu menginggalkan Suaminya dan kedua sahabat suaminya itu.
David pun masih meperhatikan Alana. lalu, ia lansgung memeluk Ken. ia juga ikut berbahagia dengan pernikahan sahabatnya. meskipun ia masih merasa sedikit kecewa dengan hatinya.
"Ken, aku sungguh tidak menyangka kau akan menikah di usia muda," kata Ashley dengan memukul pelan kepala Ken lalu memeluknya.
"Kau saja tidak menyangka, apalagi aku!" gerutu Ken.
"Apa maksudmu?" Ashley mengernyit kebingungan dengan perkataan Ken.
"Tidak apa - apa, lupakan saja," saut Ken. Ashley hanya menggaruk - garuk kepalanya dengan heran akan sikap Ken.
"Ken ..." panggil David dengan merangkul bahu sahabatnya tersebut.
"Iya?" saut Ken.
"Lihatlah mereka," kata David dengan menunjuk ke arah Alana, Jesslyn dan juga Merry yang tengah tertawa dan berbincang bersama.
"Kenapa memangnya?" tanya Ken.
"Kau memiliki seorang Ibu dan juga adik perempuan. kau begitu sangat menyayangi dan memperlakukan mereka berdua dengan baik. ku harap, kau juga akan melakukan hal yang sama kepada Alana," tutur David.
"Aku tau, kau menikahi Alana hanya karna sebatas kesepakatan bisnis. tapi, setidaknya, kau juga harus memperlakukan dia dengan semestinya. karna dia sekarang istrimu. tidak ada yang namanya pernikahan bisnis. yang ada pernikahan sah. kau sudah sah menikahi wanita yang hanya menukar statusnya demi kebahagiaan Ayahnya," tutur David. Ken membungkam dan menatap David.
.
.
.
.
.
.
.