My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Tidak mengetahui



Hari ini, sudah terhitung empat hari kepergian Holmes hingga meninggalkan luka yang mendalam bagi Alana dan juga Daven. Namun, di sini, Alana yang paling terpukul akan kepergian Ayahnya. Karna dari kecil hingga dirinya dewasa, hanya Holmeslah yang begitu dekat dengannya. Ia bukan hanya sekedar Ayah bagi Alana, namun juga sebagai teman.


 


Pagi itu, ia terlihat duduk di atas tepi tempat tidur, memandang potret masa kecilnya dengan Holmes, Alana benar-benar  sangat merindukan masa-masa bersama ayahnya. Bahkan tak sedikit air mata tertumpah dari kedua matanya, hingga menggenangi pigora yang menampakan foto masa kecilnya bersama ayahnya tersebut.


Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian kerjanya yang sudah rapi, menatap ibah istrinya tersebut. Karna sejak kepergian mertuanya, Alana menjadi begitu murung dan tak bayak bicara. Hari-harinya hanya di habiskan untuk menangis di dalam kamar, bahkan untuk makan pun Ken merasa sulit untuk membujuknya. Ken berjalan  menghampiri Alana dan duduk di sampingnya. "Sayang, ayo kita ke rumah Mama," ajaknya seraya mengusap air mata istrinya.


"Untuk apa ke rumah Mama?" tanya Alana dengan suaranya yang serak.


"Aku hari ini harus pergi bekerja, dan mungkin akan pulang larut malam. Daven juga ada perlu, aku tidak mau meninggalkanmu sendirian di rumah," tutur Ken.


"Aku baik-baik saja, aku akan di rumah!" ucap Alana.


"Kalau kau di rumah sendiri, aku tidak akan tenang pergi bekerja." Ken mengusap kepala Alana mencoba membuatnya mengerti.


"Baiklah, sebentar aku mau ke kamar mandi," Alana meletakan pigora yang ia pegang ke atas meja, ia  beranjak turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk buang air kecil, namun, ia melihat begitu banyak flek di celana dalamnya. Namun Alana tak menghiraukannya. Ia mengambil celana dalam baru dan segera menggantinya. Lalu, Alana mengambil mantel dan juga tas miliknya dan menunggu Ken mengajaknya untuk segera pergi ke rumah Mama Merry.


 


***


Ken dan Alana kini berada di dalam mobil melakukan perjalanan menuju ke rumah Mama Merry. Ken tak lepas memandangi Alana yang sedari tadi hanya menatap jendela dengan tatapan kosong. Tak ada obrolan maupun candaan ringan seperti biasanya, keceriaan pun rasanya sudah hilang dari wajah istrinya tersebut.


Tak lama kemudian, Ken menghentikan mobilnya, tatkala mobil yang ia kendarai sudah sampai di halaman rumah Mamanya. Ia mengajak istrinya tersebut untuk turun dan  masuk ke dalam rumah. Namun, Mama Merry terlebih dulu menyambut mereka berdua di depan pintu. Saat itu, di rumah sangatlah sepi. Hanya ada Mama Merry,  Jasson dan Jesslyn sedang pergi kuliah, sementara Papa Gio sedang berada di luar kota dan akan kembali petang nanti.


"Alana, Ken..." Mama Merry menyambut hangat anak dan menantunya tersebut seraya bergantian memeluknya.


"Ma, Ken, menitipkan Alana di sini dulu, ya. Seperti yang Ken bilang di telepon tadi, Ken akan pulang malam," ujar Ken.


"Iya, sayang." Merry melepas senyumnya dengan ikhlas menunjukan bahwa ia merasa tak keberatan sama sekali.


Ken mendekati Alana yang sedari tadi hanya diam dan sedang menatapnya. Tangannya mengusap kepala Alana. "Aku tinggal bekerja..." pamitnya.


Alana hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Ken pun segera berlaalu pergi meninggalkan rumah Mamanya tersebut. Bahkan sebelum meninggalkan rumah itu, ia berkali-kali melihat ke arah Alana yang sedang menunggunya di depan halaman rumah bersama Mama Merry.


Saat dirasa mobil Ken sudah tak terlihat dari jangkauan mata, Merry segera mengajak menantunya tersebut untuk masuk ke dalam rumah.


 


***


 


Di apartement David, Ashley sedang terlihat duduk di meja makan menikmati sarapan bersama Valerie dan juga David. Selama beberapa hari ini, Valerie masih menginap di apartement laki-laki itu lantaran ia sangat takut sekali jika harus pulang ke rumah neneknya, ia benar-benar tidak mau bertemu dengan Billy.


"Nona Valerie, kau sampai kapan akan tinggal di sini?" tanya Ashley seraya mengunyah makanan dalam mulutnya. Pertanyaan yang Ashley lontarkan membuat Valerie yang kala itu sibuk menguyah makanannya seketika menghentikan aktivitasnya dan terdiam sejenak.


"Ashley..." tegur David.


"Aku hanya bertanya!" saut Ashley.


"Secepatnya aku akan pergi dari sini, aku masih mencari tempat tinggal yang sekiranya tidak mudah di jangkau oleh Billy dan juga Nenekku," jawab Valerie.


"Kau tidak mau pulang ke rumah Nenekmu?" tanya David. Valerie menggeleng kepalanya.


"Aku tidak mau pulang ke rumah Nenekku," jawab Valerie.


"Lalu bagaimana pernikahanmu dengan Billy? bukannya sebentar lagi kalian akan menikah?" tanya Ashley. Valerie terdiam dan menunduk.


"Aku bingung... aku tidak mau melanjutkan pernikahanku dengannya," jawab Valerie.


"Kalau kau tidak melanjutkan pernikahanmu, lalu bagaimana dengan Nenekmu? bukankah kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Ashley kembali.


"Aku sudah tidak mempedulikannya, aku akan menerima konsekuensinya meskipun nantinya aku tidak mendapat warisan sama sekali dari Nenekku, aku tinggal bersama Nenekku hanya karna menuruti  keinginan Ibukku sebelum meninggal supaya warisan Nenekku jatuh ke tanganku. Karna cucu kandung Nenekku hanya aku saja," tuturnya. Kedua mata Valerie memerah seakan menahan air matanya. David memperhatikan wanita itu, jelas sekali, ia melihat banyak sekali kesedihan yang tersimpan  di kedua bola matanya tersebut.


"Setidaknya, aku akan bersembunyi sampai hari pernikahanku," imbuhnya.


"Sebelah Kamar apartementku sedang disewakan. Jika kau mau, kau bisa menyewanya," ujar David. Valerie hanya terdiam, apartement David tergolong sangat elite, jadi mana mungkin Valerie bisa menyewanya? sementara ia hanya memiliki uang yang mungkin cukup untuk dirinya hidup 3 bulan ke depan, karna ia tak membawa uang lagi.


"Aku akan menyewakannya untukmu," imbuh  David.


"Tidak Tuan David, tidak usah... aku akan mencari tempat lain," tolak Valerie. David sejenak menatapnya, ia tau kenapa Valerie menolak bantuannya.


"Kau tenang saja, kau bisa membayarnya saat kau punya uang nanti!" ujar David.


"Apa kau tidak keberatan meminjamkanku uang? harga sewa apartement di sini tidaklah murah," ucap Valerie dengan tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, aku akan meminjamkannya untukmu," saut David.


"Wah, seru sekali jika kau tinggal di kamar sebelah, jadi setiap hari kita akan bertemu," heboh Ashley. Valerie hanya tersenyum.


"Tolong jangan memberitau Ken tentang keberadaanku di sini," pinta Valerie.


"Kenapa?" David mengernyit heran.


"Aku sudah berjanji akan pergi menjauh dari kehidupannya, aku sudah belajar melupakannya," jawab Valerie sambil tersenyum.


"Kau menyukai, Ken?" seru Ashley dengan begitu terkejut, namun tidak dengan David. David menganggukan kepalanya.


"Aku berteman dengan Ken sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, jadi wajar jika dari dulu aku memendam perasaan kepada Ken," jawab Valerie.


"Tidak ada yang salah jika mencintai seseorang, tapi sangatlah salah jika mengharapkan perasaan akan balasan yang sama..." tutur David.


"Memang benar apa yang kau katakan. Aku benar-benar tidak tau jika Ken sudah menikah, seharusnya aku tidak bertemu dengannya lagi. Karna pertemuan waktu itu membuatku merasa sangat  iri terhadap Nona Alana yang sangat beruntung daripada diriku, hingga membuat perasaanku tertutup dan membutakan diriku sendiri. Aku mengharapkan Ken tanpa memikirkan perasaan Nona Alana, yang aku pikirkan hanya perasaanku saja, tanpa sadar aku benar-benar kejam mencintai suami orang lain. Tapi kalian  tenang saja, sekarang aku sudah bisa menerima kenyataan dan belajar melupakan Ken." sambungnya dengan tersenyum.


"Baguslah, jika memang seperti itu!" saut Ashley. Valerie tersenyum, Ia beranjak berdiri dan permisi membersihkan piring kotor yang ada di meja makan.


David masih  tak henti memandangi Valerie dengan penuh pertanyaan. "Dia tidak seburuk yang aku kira, memang cinta begitu kejam. Memang benar, jika menyangkut masalah hati, tidak semua orang bisa dengan mudah mengendalikan perasaanya," gumamnya.


 


***


 


Di rumah Mama Merry,


Malam harinya, Ken baru saja pulang dari pekerjaannya. Ia masuk ke dalam kamar yang biasa dulu ia tempati sebelum menikah dengan Alana. Kedua matanya menatap sendu Alana yang  tidur dengan posisi sembarangan.


Tanpa melepas pakaian kerjanya. Ken duduk di samping Alana dan menyempurnakan posisi tidur istirnya tersebut. Ia memperhatikan wajahnya dengan begitu seksama. Ken bisa melihat sisa-sisa air mata masih melekat di wajah istrinya itu. Ken mengusap lembut kepalanya dan memberikan ciuman di sana. Ia hendak beranjak berdiri berniat untuk mengganti pakaiannya.


"Ken, kau sudah pulang?" suara Alana tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ken menoleh dan melihat Alana memandangnya dengan mata yang sembab menunjukan bahwa seharian penuh ia hanya menangis.


"Iya, aku baru saja pulang. Kenapa kau bangun?" tanya Ken yang hendak melepaskan jas yang melekat di tubuhnya. Alana hanya diam tak menjawabnya, ia beranjak bangun dan turun dari tempat tidur untuk membantu suaminya tersebut menanggalkan jas dan kemejanya, lalu ia berjalan mendekati lemari. mengambilkan Ken baju ganti dari dalam lemari itu.


"Cepat mandilah, aku akan menyiapkan makanan untukmu." Alana menyodorkan baju itu kepada Ken dan hendak pergi dari sana.


"Tidak usah, istirahatlah lagi, aku tadi sudah makan bersama clientku," ujar Ken.


"Kau tidak berbohong?" tanya Alana. Ken menggeleng kepalanya dan tersenyum.


"Apa kau sudah makan malam?" tanya Ken.


"sudah, tadi bersama Jesslyn," jawab Alana.


"Baiklah, aku mandi dulu," Ken berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dan Alana kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari menunggu suaminya keluar dari sana .


Sedari tadi, Alana menatap kosong ke sembarang arah  membuat dirinya melamun, hingga tak menyadari bahwa Ken sudah keluar dari kamar mandi dan kini ikut merebahkan tubuh di sampingnya.


"Apa yang kau lamunkan?" lamunan Alana membuyar saat tangan Ken melingkar di tubuhnya.


"Tidak ada." Alana mencoba tersenyum. Namun senyuman itu terlihat jelas sekali jika dipaksakan.


"Ayo tidurlah." Alana mengangguk dan memeluk erat tubuh Ken menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya tersebut hingga aroma khas tubuh Ken  tercium sangat pekat di indera penciuamannya, pelukan hangat itu begitu menenangkannya. Tangan Ken sedari tadi bergerak mengusap-usap kepala Alana  hingga membuat istrinya tersebut kembali terlelap akan tidurnya.


 


***


Keesokan paginya, biasan sinar matahari yang menyusup bebas ke dalam kamar membuat kedua mata Alana mengerjap  merasa silau. Ia seketika terbangun, namun sudah tak mendapati Ken di sampingnya. Ia hendak turun dari tempat tidur. Namun kepalanya terasa berat, perut bawahnya terasa kram hingga menjalar ke pinggang belakangnya, Alana mengernyit akan rasa sakit yang tiba-tiba meremmas perutnya dengan begitu hebat.


"Kenapa perutku sakit sekali..." Alana mencengkram perutnya. Ia segera  berjalan cepat ke kamar mandi saat merasakan ada sesuatu yang tak nyaman di celananya. Alana terkejut saat melihat  gumpalan darah di celana dalamnya, bahkan tak sedikit darah ikut mengalir begitu banyak di sana. Alana mengira bahwa dirinya hanya sedang mendapat tamu bulanan. Namun kenapa rasanya begitu sakit dari biasanya, bahkan ini sangat menyakitkan.


 


 


^^^


Ken kala itu sedang berada di ruang tamu bersama Papa Gio, Mama Merry dan juga Dr.Louis.


Dr.Louis ke rumah Gio pagi itu  ingin menitipkan Kimmy karna dirinya beserta istrinya akan pergi ke Jepang untuk  melakukan pertemuan antar Dokter. Karna Kimmy tidak mau tinggal di rumah saudaranya, perempuan lucu itu lebih memilih untuk dititipkan bersama Merry dan Gio. Kimmy lebih nyaman tinggal di rumah sahabat orang tuanya tersebut, karna bisa bermain bersama Jesslyn dan juga Alana.


Di tengah perbincangan mereka berempat, tiba-tiba suara Alana terdengar berkali-kali memanggil nama Ken dari dalam kamar.


"Entahlah, Pa. Sebentar."


"Paman Louis, Ken permisi ke kamar," pamitnya kepada ouis.


"Iya, Ken," saut  Louis.


Tubuh tegap Ken dengan cepat mengajaknya untuk pergi ke kamar menemui Alana. Saat ia masuk ke dalam kamar, matanya dibuat terkejut saat menemukan Alana sudah tak sadarkan diri di depan pintu kamar mandi.


"Alana..." Ken dengan segera menghampirinya dengan begitu panik. Ia berkali-kali memanggil dan menepuk-nepuk pipi istrinya, namun tak juga membuatnya sadar.


Ken mengangkat tubuh Alana ke atas tempat tidur dan membaringkannya di sana. Ia dengan cepat keluar dari kamar dan pergi ke ruang depan menemui orang tuanya dan juga Dr. Louis.


"Paman Louis, tolong!" Ken memasang raut wajah dan suara yang panik.


"Ken, kenapa kau tiba-tiba panik seperti itu? ada apa?" tanya Louis.


"Paman, Alana tiba-tiba tidak sadarkan diri, tolong dia Paman."


"Kenapa Alana tiba-tiba tidak sadarkan diri, Ken?" tanya Gio dan Merry yang tak kala paniknya.


"Ken tidak tau..."


"Ayo Ken," Louis beranjak berdiri, ia segera mengikuti Ken yang berjalan mendahuluinya, begitu juga dengan Merry dan Gio yang mengikuti mereka berdua.


Louis segera memeriksa keadaan Alana yang sedang berbaring di atas tempat tidur, dan saat itu juga Alana sadar, kedua matanya mengerjap menyesuaikan pandangan sekitar. Ia melihat Ken. Mama Merry, Papa Gio dan Dr.Louis yang sedang berdiri di sampingnya.


"Ken..." bibir pucat Alana memanggil nama itu.


"Alana, kau kenapa? apa kau merasa pusing?" tanya Louis.


"Iya, Paman. Kepalaku tadi terasa berat sekali, perut bawahku tiba-tiba kram dan sangat nyeri,"  Alana berucap sambil mengernyit mengingat apa yang ia rasakan tadi.


"Apa kau sedang hamil?" tanya Louis.


"Alana tidak tau," jawab Alana dengan begitu polosnya.


"Kapan kau terakhir haid?" tanya Louis. Alana mencoba mengingatnya, kemudian menggeleng kepalanya.


"Alana  lupa, Paman. Alana rasa, Alana sudah tidak haid selama dua bulan ini," jawabnya.


Lalu, Alana menceritakan lebih detailnya kepada Louis bahwa dirinya kemarin sempat melihat flek dan tadi melihat gumpalan darah. Tiba-tiba Louis terdiam dan menatap Ken dan Alana secara bergantian.


"Louis, kenapa dengan putriku?" tanya Gio.


"Paman, tolong beritau, Alana kenapa? apa yang dikatakan Alana baru saja adalah  gejala penyakit?" tanya Ken dengan nada memaksa, karna raut wajahnya terlihat begitu mencemaskan keadaan istrinya.


"Ken, tenanglah!" tutur Merry.


"Bukan, Ken. Ini bukan penyakit," jawab Louis.


"Lalu apa, Paman?" tanya Ken dengan tidak sabar.


"Ken, Paman rasa Alana mengalami keguguran," tutur Dr.Louis. Kedua mata Ken membulat terkesiap, begitu juga dengan Alana.


"Keguguran?" tanya Alana dengan mata yang sudah hampir penuh. Alana beranjak duduk dan dibantu oleh Ken.


"Iya, dari yang Alana katakan, itu adalah gejala keguguran, tapi untuk memastikannya, bawalah  Alana ke rumah sakit untuk melakukan USG," tutur Louis.


Air mata Alana seketika mengalir dari kedua sudut matanya, namun ia tak mengeluarkan suara sedikitpun, ia begitu terkejut akan apa yang dikatakan oleh Louis.


"Alana, apa kau sama sekali tidak tau kalau kau sedang hamil?" tanya Louis. Alana hanya menggeleng kepalanya, sementara Ken, ia  mengusap kasar wajahnya seakan tak percaya sembari menatap Alana.


"Alana, bukannya kau mengkonsumsi obat kontrasepsi itu?" tanya Ken.


"Aku sama sekali tidak meminumnya, Ken. Aku tidak meminumnya..." Air mata Alana semakin menderas membasahi seluruh wajahnya.


"Jika Paman cerna dari apa  yang Alana katakan, kandungan Alana seharusnya memasuki usia sekitar 6 hingga 7 minggu," tutur Dr.Louis. Ken memejamkan kedua matanya seakan tak percaya.


"Kennnn..." Alana menatap Ken dan meremmas tangannya suaminya tersebut.


"Aku tidak mau, Ken. Aku tidak mau kehilangan anakku, Ken..." Alana tiba-tiba berteriak dan menangis dengan begitu histeris, rasanya ini seperti mimpi buruk baginya.


"Alana, tenanglah..." Ken memeluknya mencoba menenangkannya, namun Alana masih saja menangis.


"Ken, aku tidak mau..." Alana menggeleng kepalanya dengan sesenggukan. Mama Merry juga ikut menangis melihat menantunya tersebut, ia tau betul bagaimana rasa sakitnya kehilangan seorang anak yang belum sempat ia lahirkan.


"Alana, jangan menangis sayang, Tuhan pasti akan memberikan kepercayaan lagi kepadamu," tutur Merry yang mengambil alih untuk memeluk Alana dan menciumi wajahnya.


 


Sesuai saran Lous, saat iu juga, Ken dan Merry mengajak Alana pergi ke dokter untuk melakukan USG, dan benar seperti apa yang dikatakan oleh Louis, bahwa Alana memang mengalami keguguran. Kandungannya sudah memasuki usia 6 minggu dan saat di USG yang terlihat hanya tinggal kantungnya saja, mendengar pernyataan Dokter. Alana kembali menangis. Belum sembuh akan luka kehilangan ayahnya, kini ia harus terluka akan kehilangan janin yang tanpa ia sadari tumbuh di dalam rahimnya.


 


***


 


Sepulang dari rumah sakit, Ken mengantarkan Alana untuk  pergi ke kamar dan menyuruhnya istirahat Karna dokter menyarankan Alana agar bed rest selama beberapa hari. Alana sedari tadi tak berhenti menangis membuat Merry dan Ken semakin bingung untuk mencoba menenangkannya.


"Alana..." panggil Ken.


Alana menatap Ken dengan mata yang sudah membengkak hingga hampir tak melihatkan kedua bola matanya "Kenapa Tuhan mengambil apa yang aku miliki, Ken?  kenapa dia tidak membiarkanku bahagia dan mengambil semuanya," Alana berucap dengan sesenggukan hingga suaranya hampir tak terdengar.


"Alana, kau tidak boleh berbicara seperti itu, ini sudah takdir." Ken memeluk erat Alana mencoba menenangkan istrinya tersebut.


"Coba saja, waku itu kau mau pergi ke dokter, setidaknya aku tau kau sedang hamil, dan aku akan lebih bisa menjagamu," tutur Ken.


"Ken, kenapa kau berbicara seperti itu?" teriak Merry.


"Memangnya kenapa, Ma? memang benar, sebelumnya Ken sudah memaksa Alana untuk pergi ke dokter, tapi dia keras kepala dan tidak mau pergi. Kalau saja Alana mau---"


"Ken, cukup!"


"Di saat seperti ini jangan menyalahkan Alana!" seru Merry.


"Ken tidak menyalahkan, Alana, Ma!" bantah Ken.


"Kau berbicara seperti itu, sama saja kau menyalahkannya!" teriak Merry.


Perdebatan Ken dan Mama Merry membuat Alana semakin merasa bersalah, ia benar-benar  menyesalinya. Karna terlalu larut akan kepergian Ayahnya, Alana harus kehilangan janinnya.


"Maafkan, aku  Ken. Aku benar-benar tidak tau, ini semua salahku," ucap Alana.


"Tidak! Kau tidak salah.  Aku yang seharusnya minta maaf. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kita masih bisa memiliki anak lagi," tutur Ken.


"Tapi, Ken--"


"Jangan memikirkan hal ini lagi, sekarang istirahatlah, kau harus banyak istirahat!" perintah Ken. Alana mengangguk dan Ken membantu istrinya tersebut untuk merebahkan tubuhnya. Meskipun ia mengiyakan kata-kata Ken namun hatinya menolak akan hal itu.


"Mama, temani Alana sebentar, Ken akan mengambilkan minum untuknya," pinta Ken. Merry pun mengiyakannya.


Saat Ken hendak pergi ke dapur, ia berpapasan dengan Louis yang hendak berpamitan pulang. Karna dirinya sedari tadi masih belum pergi meninggalkan kediaman rumah keluarga sahabatnya itu.


"Ken, bagaimana Alana?" tanya Louis.


"Entahlah, Paman. Ken bingung, Alana benar-benar tidak bisa menerima kenyataan, apalagi Paman tau sendiri, Ayahnya baru saja meninggal," jawab Ken.


"Sungguh kasian Alana," ujar Louis.


"Ken, temani istrimu dan  jangan meninggalkan atau membiarkan dia sendirian," tutur Louis.


"Kenapa Paman?" tanya Ken dengan bingung.


"Dia benar-benar sangat terpukul. Jadi jangan pernah meninggalkannya sendiri hingga membuat dirinya merasa kesepian!" tutur Louis.


"Iya, Paman. Ken tidak akan membiarkan Alana sendiri. Terimakasih banyak,"  ucap Ken.


"Baiklah, Paman permisi pamit pulang," Louis menjabat tangan Ken dan menepuk bahu anak sahabatnya, lalu segera berpamitan pergi dari sana.