
Ken sejenak mengangkat ponselnya yang tiba-tiba berdering, karna ada satu panggilan masuk dari Papa Gio, Ken menjauh dari Alana dan menyuruhnya untuk menunggu sebentar.
sama seperti halnya Jasson, ternyata Papa Gio menelpon Ken sepagi itu hanya untuk memberitaukan kabar tentang perusahaan Afford yang sedang collapse. Lagi-lagi, senyuman kemenangan itu tertepis di wajah Ken. Namun, Ken berpura-pura seolah tidak tau akan hal itu.
"Ken, bagaimana perusahaan mertuamu?" tanya Gio.
"Selama Ken menangani pekerjaan maupun hal apapun, semuanya pasti berjalan lancar dan terkendali, Pa. Termasuk perusahaan milik Daddy Holmes," Ken begitu menyombongkan dirinya jika menyangkut perihal bisnis.
"Anak Papa..." sautan Gio terdengar diselingi dengan senyuman.
"Apa Paman Afford meminta bantuan Papa?" tanya Ken.
"Mana berani dia!" saut Gio.
"Ken berharap, di dunia ini tidak ada orang yang mau membantunya, biar keluarga Paman Afford bisa merasakan apa yang Alana dan Daddy Holmes rasakan!" Ken meremmas tangannya dengan geram. Rahangnya mengeras saat mengingat bahwa Afford pernah membuat perusahaan Papanya berada di ambang masalah. Bukan hanya itu saja, ia juga kesal akan perusahaan milik mertuanya yang dulu memang sengaja disabotase oleh Afford yang memiliki otak licik itu.
"Ken, kau tidak boleh mendoakan hal buruk kepada orang lain seperti itu!" tutur Gio.
"Maaf, Pa. Ken terbawa emosi, Ken hanya tidak menyangka saja akan sifat buruk keluarga Paman Afford yang sudah lama kita kenal," saut Ken.
"Iya, Papa tau, Nak. Tetapi kau tidak boleh berdoa hal buruk seperti itu!" tutur Gio kembali.
"Iya, Maaf, Pa."
"Ya sudah, Pa. Ken akhiri dulu panggilannya, karna Ken mau menemani Alana," ujar Ken. Gio mengiyakannya, kemudian, anak dan ayah itu segera mengakhiri panggilan suara tersebut.
***
Ken kembali menghampiri Alana yang sedang menunggunya. Lalu, ia mengajaknya ke depan villa, namun, Alana masih disibukan dengan rasa khawatir akan keluarga pamannya, membuat wanita itu termenung, bahkan, sekalipun Ken dibuat kesal saat dirinya sedang bertanya, namun Alana sama sekali tak meresponnya.
"Kau ini kenapa?" tanya Ken. Alana hanya menggeleng kepalanya.
"Ayo duduklah kemari!" Ken menarik salah satu tangan Alana mengajaknya untuk duduk di kursi panjang yang ada di depan vila itu.
"Bicaralah, kau kenapa?" tanya Ken. Namun Alana hanya diam saja.
"Alana?"
"Ken, apa benar perusahaan Paman sedang berada dalam masalah?" tanya Alana.
Ken terdiam sejenak memandang kedua manik mata Alana secara bergantian. "Seperti yang kau dengar dari Jasson tadi," ujarnya.
Alana mengalihkan pandangannya dengan tatapan kosong, seolah hal tersebut menjadi beban pikiran juga baginya.
"Sayang..." panggil Ken.
"Kau memikirkan Paman Afford?" tanya Ken. Alana mengangguk.
"Untuk apa kau memikirkannya?"
"Ken, Paman Afford keluargaku, Kakak dari Mami, jelas aku memikirkannya!" ujar Alana.
"Mereka tidak pernah menganggapmu keluarga!" seru Ken.
"Apa kau tidak ingat bagaimana perlakuan Paman Afford dan Caleey kepadamu?" tanya Ken.
"Ken, aku sudah melupakan itu semua! Aku hanya kasihan kepada Paman, pasti Paman kebingungan seperti Daddy waktu itu," ujar Alana dengan kedua mata yang berkaca-kaca saat mengingat kembali waktu perusahaan milik ayahnya berada dalam masalah.
"Untuk apa kau kasihan dengan orang licik seperti pamanmu? seharusnya kau kasihan dengan Daddy! Apa kau tau, kalau Afford yang sudah---" Ken tiba-tiba tak melanjutkan kalimat selanjutnya, hingga membuat Alana mengernyit penasaran. Hampir saja, dirinya keceplosan memberitau Alana bahwa Afford-lah yang menyebabkan kekacauan di perusahaan ayahnya hingga bangkrut.
"Kenapa, Paman, Ken?" tanya Alana dengan begitu penasaran, ia memasang telinganya dengan baik, berharap Ken segera menuntaskan perkataannya yang belum sempat terselesaikan.
"Ehm, tidak apa-apa..."
"Perusahaan Paman Afford, hanya mengalami sedikit penurunan saja, kau jangan terlalu memikirkannya, Pamanmu sangat pandai dalam berbisnis, hal semacam ini sudah biasa terjadi di dalam dunia bisnis, jadi dia pasti bisa mengatasi masalah ini," tutur Ken, ia berbicara seperti itu karna mencoba menenangkan Alana agar tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
"Apa benar seperti itu?" tanya Alana.
"Iya, Sayang. Kau jangan terlalu memikirkannya!" tutur Ken. Ia menarik tubuh Alana mendekapnya dan memberikan sentuhan di kepalanya.
"Kenapa kau begitu polos, masih memikirkan orang-orang yang telah menyakitimu? mungkin kau bisa memaafkan dan melupakan perilaku buruk Afford, tapi tidak denganku!" gumam Ken dalam hati seraya bibirnya menyentuh kening Alana. Ken mengingat bagaimana hatinya ikut terasa sesak saat melihat Alana menangis waktu itu, membuat dirinya berkali-kali bersumpah akan membalas siapapun orang yang menyakiti istrinya tersebut.
Ken sejenak melepaskan pelukannya. "Ayo kita ke sana..." ia mengajak Alana ke taman yang ada di samping Villa itu. Alana mengiyakan, mereka berdua berjalan beriringan menuju ke taman tersebut, pemandangan yang begitu sejuk di mata.
Alana menikmati suasana pagi di sana. Bau tanah basah akibat guyuran air hujan semalam, begitu pekat di indera penciumannya. Alana menghirup dalam-dalam udara pagi yang belum tercemar itu, bau hujan menjadi bau yang sangat Alana gemari, setelah bau khas tubuh suaminya.
Ken memeluk Alana dari belakang, memberikan beberapa ciuman di kepalanya. Namun, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh Jesslyn dan juga Kimmy, yang begitu heboh merengek minta pergi ke pantai.
Sebenarnya, Ken begitu enggan pergi ke pantai. Rasanya ia masih ingin berduaan dengan Alana. Namun bagaimana lagi, Alana sudah mengiyakan permintaan Kimmy dan juga adik perempuannya tersebut untuk pergi ke pantai.
"Sepertinya perlu berbulan madu supaya tidak ada yang mengganggu..." umpat Ken dengan kesal.
"Jesslyn, kau tidak mengajak Nona Valerie ke pantai?" tanya Alana.
"Valerie tidak mau, dia mau memberesan barang-barangnya untuk bersiap-siap pulang," ujar Jesslyn.
"Oh, baiklah."
"Tunggulah di sini, aku akan mengajak yang lain." Ken berpamitan untuk masuk ke dalam villa memanggil Jasson dan yang lainnya untuk mengajak mereka pergi ke pantai, tak lama kemudian Ken kembali menemui Alana, Jesslyn dan Kimmy. Namun, dirinya kembali hanya sendiri.
"Di mana yang lain?" tanya Alana.
"Ashley dan Jasson menunggu David, nanti mereka menyusul!" jawab Ken.
"Kita berjalan kaki saja, Kak. Pantainya kan tidak terlalu jauh," usul Kimmy.
"Iya, berjalan kaki saja..." timpal Alana.
"Baiklah..."
Mereka berempat berlalu meninggalkan Villa berjalan bersama sambil mengobrol menuju ke pantai.
Ken terlihat menggandeng erat tangan Alana, seakan tak mau jauh-jauh dari wanita yang ia cintai itu. Mereka berdua berjalan di belakang Kimmy dan juga Jesslyn. Namun, baru setengah perjalanan, napas Alana terasa sudah ngos-ngosan hingga tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" tanya Ken. Langkah kakinya pun ikut terhenti.
"Ken, aku sangat lelah..." rancau Alana dengan suara manjanya, seraya memegangi pinggangnya.
"Sebentar lagi sampai, ayo..." Ken menarik tangan Alana. Namun Alana menepisnya.
"Aku benar-benar lelah." Kedua mata Alana melirik ke arah kursi rotan yang kala itu di dekat jangkauannya. Ia segera mendudukan tubuhnya di kursi rotan tersebut sembari memijit-mijit kakinya yang ia rasa begitu lelah. Ken pun mengikuti Alana dan menghampirinya, tangan kekarnya ikut memberikan pijatan kecil di kaki istrinya tersebut.
Sementara, Kimmy dan Jesslyn, mereka menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan saat merasa Ken dan juga Alana tak ada di belakangnya.
"Kakak... Alana... Ayo." Jesslyn berteriak dengan suara kencangnya.
"Sebentar," saut Ken. Karna rasa penasaran, Kimmy dan Jesslyn segera menghampiri Ken dan Alana yang sedang duduk di kursi rotan itu.
"Kakak, Alana, kenapa kalian malah duduk?" tanya Jesslyn.
"Iya, kenapa berhenti?" tanya Kimmy.
"Alana kelelahan," jawab Ken.
"Aku sangat lelah sekali..." ucap Alana.
"Astaga, baru saja kita berjalan, kau sudah kelelahan! Tau begitu lebih baik menggunakan mobil!" ujar Jesslyn.
"Ayo lah Alana kita lanjutkan perjalanannya, sebentar lagi kita sampai, nanti istirahat di pantai saja sambil berjemur," imbuhnya.
"Jesslyn, jangan memaksa! Kau dan Kimmy berjalan terlebih dulu, nanti Kakak dan Alana menyusul," perintah Ken.
"Baiklah..." Jesslyn sedikit kecewa.
"Setibanya di pantai, tunggulah Kakak! Jangan bermain di laut jika ombaknya besar. Dan jangan ke mana-mana! Apa kau mengerti?" tutur Ken.
"Ehem, kami mengerti..." saut Jesslyn. Ia menarik tangan Kimmy dan segera berlalu meninggalkan Alana dan juga Ken untuk pergi ke pantai terlebih dahulu.
Ken memperhatikan Alana yang benar-benar nampak kelelahan, ia mengusap keringat yang mengucur di dahi Alana dengan telapak tangannya. "Apa sudah tidak lelah?" tanya Ken.
"Masih." Alana mendengus kecil.
"Di sini tidak ada toko." Ken memperhatikan sekitar, namun yang ia lihat hanyalah bangunan tua yang tak dihuni dan juga lahan kosong saja di sana.
"Untuk apa kau mencari toko?" tanya Alana.
"Membelikanmu minum..." jawab Ken.
"Aku tidak haus, aku hanya lelah," saut Alana.
"Biasanya kau berjalan dari toko ke rumah yang jaraknya 4km saja kau bergitu sanggup tanpa mengeluh lelah sama sekali. Lalu, kenapa sekarang berjalan kaki dari villa ke pantai yang menempuh jarak tidak sampai 100 meter kau sudah mengeluh lelah?" tanya Ken.
"Kenapa memangnya? kau mau mengataiku sudah tua? pergilah sana, tinggalkan aku sendirian!" seru Alana dengan kesal.
Ken mengernyit. "Kenapa kau jadi marah? aku kan hanya bertanya!" ujarnya.
"Kau menyebalkan!" seru Alana.
"Menyebalkan?"
"Iya, kau menyebalkan! Kau pikir aku berpura-pura lelah?" seru Alana.
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri di sini!" imbuhnya dengan nada kesal.
"Siapa yang tidak percaya, kau lelah?"
"Aku percaya, sayang! Aku hanya bertanya saja," ujar Ken seraya mengusap kepala Alana.
"Sudah jangan marah! Ayo, ku gendong." Ken duduk berjongkok membelakangi Alana dan menundukan punggungnya tepat di depan Alana.
"Tidak usah, seperti anak kecil saja!" seru Alana.
"Memang anak kecil!" gerutu Ken.
"Kau bicara apa?" Alana melototkan kedua matanya kepada Ken.
"Tidak, tidak berbicara apa-apa," bantah Ken.
"Kau pikir aku tidak dengar? jelas-jelas kau berbicara!" seru Alana. Ken mengurungkan niatnya untuk menyauti perkataan Alana karna jika dia menyautinya, pasti akan panjang dan melebar ke mana-mana. Ken memilih diam menatap Alana dan menghela napasnya dengan kasar. Ia tak mau berdebat dengan istrinya tersebut.
"Apa maunya dia?" gumam Ken sembari menggeleng kepalanya dengan bingung, namun ia menahan rasa kesalnya.
"Jangan marah-marah, aku semakin gemas." Ken memeluk erat Alana dengan begitu gemasnya. Hanya cara ini yang menurut Ken mampu mendinginkan hati istrinya itu. Terbukti sekali, raut wajah Alana yang mulanya merengut kesal, kini nampak melengkungkan senyumannya dengan raut wajah yang bersemu merah.