My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Sangat merindukan



Valerie masih memandang David dengan tatapan tidak suka. "Aku tidak pernah mengerti kenapa kau berpikiran buruk tentangku, ada baiknya sebelum kau menilai seseorang, kau harus mengenalinya terlebih dahulu!" tutur Valerie dengan begitu tegas.


"Tanpa mengenalmu pun aku sudah tau!  Sebaik atau secantik apapun seorang wanita, mereka akan lemah jika berurusan dengan masalah hati!  Bahkan sebagian dari mereka akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi apa yang mereka inginkan."


"Tidak semua wanita seperti itu!" bantah Valerie.


"Apa aku bilang semua? aku hanya bilang sebagian! Bisa jadi kau salah satu di antara mereka!" Kata-kata David membuat Valerie diam seribu bahasa.


"Aku tidak pernah punya niatan seperti itu!" bantah Valerie.


"Jelas saja, karna kau masih berencana!" saut David.


"Sebenarnya apa maumu!" Valerie meninggikan suaranya, bahkan guratan di wajahnya menunjukan rasa kesal akan setiap perkataan yang David lontarkan yang seolah selalu menyudutkannya.


"Jangan pernah--"


David tak melanjutkan perkataannya ketika melihat Ken kembali menghampirinya dan juga Valerie. Ken menyapa, ia merasakan ada hawa yang panas di antara mereka berdua.


"Ada apa, David?" tanya Ken. Ia bergantian memandang ke arah David dan Valerie.


"Tidak ada, apa-apa! Oh iya, Ken. Tadi Alana menelpon." David menyodorkan ponsel yang ia pegang ke pemiliknya.


"Lain kali, jangan meletakan ponsel sembarangan, karna sekarang musim yang sangat rawan, seseorang tidak hanya mencuri ponsel, kesempatan saja bisa jadi dicuri," ujar David dengan penuh sindiran sambil melirik ke arah Valerie. Membuat wanita itu mendelik ingin memakinya, ia benar-benar tak menyukai perkataan David yang sudah jelas ditujukan untuknya. Ken mengernyit bingung sembari mencerna apa yang David ucapkan.


"Ken, lebih baik kita kembali ke kamar," ajak David.


"Baiklah, ke mana Billy?" tanya Ken melihat ke arah sekitar namun ia tak mendapati Billy di sana.


"Billy ke kamar Tuan Sanichi, ada keperluan." jawab Valerie.


"Oh, kalau begitu sampaikan salam kita kepadanya," pinta Ken tanpa memandang Valerie. Ken meraih jas miliknya yang tergeletak di atas tempat duduk yang sempat ia duduki tadi. Ia hendak berlalu pergi dari sana, namun, langkah kakinya terhenti saat melihat tangan Valerie mendekap tubuhnya sendiri  dan menggigil kedinginan karna dinginnya angin malam. Bahkan, tubuh wanita  yang dibalut denga pakaian yang minim  itu, membuat angin lebih leluasa menyentuh tubuhnya.


"Pakailah." Ken menyodorkan jas miliknya kepada Valerie tanpa menatapnya.


"Tidak usah terimakasih, pakailah saja!" tolak Valerie.


"Angin malam tidak baik," ujar Ken. Valerie terpaksa mengambil jas tersebut, Ken segera pergi dari sana dan diikuti oleh David.


Kedua mata Valerie tak bergeming mengikuti tubuh Ken yang bergerak menjauh dari pandangan matanya, cairan bening begitu mengkilat melapisi kedua bola matanya. Valerie menelan salivanya sembari memejamkan kedua matanya. Ia membalutkan jas milik Ken di tubuhnya dan mencium dalam-dalam aroma khas tubuh Ken yang masih melekat dibalutan jas yang sedang ia kenakan saat itu.


"Hal yang sama ia lakukan kepadaku di tempat ini," gumam Valerie sambil mendekap erat jas itu, mengingat beberapa tahun yang lalu saat dirinya menghabiskan hari bersama Ken di tempat itu.


"Vale?" suara laki-laki yang tak lain Billy membuyarkan lamunan Valerie, membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


"Kau sudah kembali?" tanya Valerie dengan nada suara yang malas.


"Hem, di mana David dan Ken? apa dia sudah kembali dari kamar mandi?" tanya Billy. Valerie mengangguk cepat.


"Dia sudah kembali ke kamar mereka," jawab Valerie.


"Oh, baiklah." Kedua mata Billy terfokus kepada  jas yang membalut tubuh Valerie.


"Bukannya itu jas milik Ken?" tanya Billy.


"Benar, kenapa memangnya?" tanya Valerie.


"Kenapa bisa ada di dirimu?" tanya Billy, kedau alisnya menaut secara tiba-tiba.


"Dia meminjamkannya untukku," jawab Valerie.


"Oh, ya sudah, ayo kembali ke kamar," ajak Billy seraya memegang pinggang Valerie.


"Aku bisa berjalan sendiri." Valerie menepis tangan Billy dan berjalan mendahuluinya.


"Tunggu saja sampai kesabaranku habis!" Billy mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya menatap Valerie yang berjalan cepat meninggalkannya.


 


***


 


 


Ken dan David kembali ke kamar mereka. Ken segera melepas kemeja kerjanya dan kini hanya memakai kaos putih polos yang masih membalut tubuh kekarnya. sedangkan David, laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Ken merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan segera mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Alana melalui panggilan suara.


Beberapa saat nada tersambung, kemudian menyambung kepada Alana hingga keduanya saling menyapa dari balik ponsel mereka masing-masing.


"Kenapa kau tadi mematikan telponku?" tanya Alana.


"Maaf, aku tadi di kamar mandi membersihkan bajuku karna tertumpah sup," jawab Ken.


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Ken.


"Aku menunggumu menelponku," jawab Alana.


"Ya sudah, kalau begitu tidurlah," ujar Ken.


"Tunggu Ken. jangan mematikan telponnya,"  pinta Alana.


"Tidurlah, besok kita akan berangkat berlibur, bukan!" perintah Ken.


"Aku tidak bisa tidur," suara Alana terdengar manja, membuat Ken tersenyum saat mendengarnya. Rasanya ia merindukan sekali wanita itu, bahkan hatinya bersumpah berkali-kali akan memeluknya dan tidak akan melepaskannya saat pulang nanti.


"Kenapa? apa kau tidak mengantuk?" tanya Ken.


"Ehmmmm--" Ken masih sibuk menunggu jawaban istrinya tersebut.


"Tidak bisa tidur tanpaku?" goda Ken.


"Tidak! Siapa yang tidak bisa tidur tanpamu, aku bisa tidur tanpamu!" bantah Alana.


"Ya sudah kalau begitu tidurlah!" perintah Ken kembali.


"Ya sudah aku akan tidur, tapi nyanyikan dulu satu lagu untukku," pinta Alana.


"Lagu apa?  aku tidak bisa bernyanyi! Kau yang benar saja!" seru Ken.


"Ya sudah, aku tidak mau tidur," jawab Alana. Ken tiba-tiba mengakhiri panggilan suaranya, sejenak membuat Alana terhenyak, namun dirinya lega saat Ken menyambung percakapannya kembali melalui video call. Kini kedua pasangan itu saling bertatap muka dari balik layar ponsel.


"Ayo tidurlah, ini sudah hampir tengah malam, lihatlah kau sudah mengantuk," tutur Ken yang memperhatikan kedua mata Alana yang  sudah sayu.


"Aku tidak bisa tidur, sayang." Alana mengubah posisi tidurnya menjadi miring, namun masih menempatkan layar ponsel di depan wajahnya.


"Aku akan menemanimu, sampai kau tidur," kata Ken sambil menguap. Bahkan kedua matanya terlihat berair.


"Baiklah, jangan diakhiri panggilannya sampai aku tertidur, kau mengerti?" perintah Alana.


"Jangan dimatikan," ucap Alana dengan mata yang masih terpejam. Ken pun mengurungkannya sambil menggeleng kepalanya.


"Iya..." seru Ken. Ken masih tak bergeming memandangi Alana di layar ponselnya, hingga tiba-tiba layarnya menjadi kosong dan gelap ketika ponselnya terlepas dari tangan Alana.


"Sepertinya dia sudah tertidur." Ken tersenyum, kemudian, segera mengakhiri panggilannya tersebut dan meletakan ponsel miliknya di atas meja.


 


 


***


Seusai dari kamar mandi, David menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sama dengan Ken, ia sejenak mengecek notifikasi ponselnya, namun tidak ada notifikasi pesan atau panggilan sama sekali di ponselnya hingga membuatnya meletakan kembali ponsel itu ke tempat  semula.


"Notif dari siapa yang kau tunggu?" ledek Ken.


"Sialan, kau ini."  David tertawa akan ledekan sahabatnya itu.


"Kapan kau akan mencari pasangan?" pertanyaan Ken membuat David menoleh ke arah sahabatnya.


"Entahlah, Ken." David melipat kedua tangannya di belakang kepala menatap langit-langit kamar itu.


"Apa kau ingat Ken, waktu dulu kita mendaki, kita bermain tebak-tebakan dengan Ashley, di antara kita bertiga, siapa yang akan terlebih dulu menikah, dulu aku dan Ashley mengira, kau yang akan terakhir menikah, karna kau sangat tertutup sekali dengan wanita. Tapi ternyata dugaanku dan Ashley salah, ternyata kau terlebih dulu yang menikah." David tertawa mengingat-ingat masa remajanya bersama Ken dan juga Ashley.


"Aku juga tidak menyangka akan  menikah muda, kalau saja, aku tidak mengenal Alana mungkin saat ini aku belum menikah, aku akan menikah di usia 33 tahun," ujar Ken.


"Kau menyesal menikahinya?" tanya David.


"Tidak! Tidak  sama sekali, dia begitu sangat berarti untukku," jawab Ken dengan tatapan kosong yang membuat pikirannya hanya dipenuhi oleh Alana waktu itu, bahkan, ucapannya terdengar begitu dalam. David terdiam sejenak, kemudian tersenyum begitu lega.


"Segeralah menikah! carilah pasangan!" tutur Ken. David menghela napas dengan berat seolah apa yang dikatakan oleh Ken itu ialah suatu hal yang mudah baginya.


"Ibuku juga menyuruhku menikah, tapi, kau kan tau, Ken. Aku tidak ada waktu untuk melakukan itu, pekerjaanku lebih penting dari itu semua," kata David dengan nada enteng.


"Mau sampai kapan? kelak kau juga akan membutuhkan seseorang yang bisa diajak untuk berbagi keluh kesahmu setiap hari!" ujar Ken. David terdiam mencerna apa yang dituturkan oleh sahabatnya itu. David membenarkannya.


"Apa perlu ku carikan pasangan untukmu?" ledek Ken.


"Kau ini sungguh konyol. Kau menemukan pasanganmu sendiri saja harus dipaksa, bagaimana kau bisa mencarikan pasangan untukku!" David tertawa tiada henti.


"Kalau kau tidak dijodohkan atau dipaksa menikah, kau tidak akan pernah mau menikah!" seru Ken.


"Sudahlah, Ken. Lupakan saja, lebih baik kita istirahat. Besok pagi kita harus kembali," ujar David.


"Baiklah..." saut Ken.


"Ingatlah, kau harus segera mencari pasangan!" imbuh Ken.


"Semenjak menikah, kau jadi banyak bicara sekali!" ledek David.


"Entahlah, sebagian sifat Alana yang ku rasa menyebalkan jadi menular kepadaku," Ken menggeleng kepalanya, membuat David semakin  tertawa.


 


***


Keesokan paginya,


Langit masih terlihat petang, jarum jam yang berdetak di pergelangan tangan Ken menunjukan waktu pukul 03.45 Am. Sang fajar masih bersembunyi, membuat jalanan terlihat begitu sepi, namun, tak mengubah niat Ken dan David untuk melakukan perjalanan pulang ke rumah.


Karna tak banyak alat transportasi yang menggunakan jalanan,  Ken dan David menempuh perjalanan pulang lebih cepat dari perkiraan waktu yang semestinya. Mereka berdua menghemat waktu 1 jam lebih awal untuk sampai ke kotanya. Bahkan kini, sang surya sudah mulai membentangkan  sinarnya dengan sangat sempurna.


 


Setibanya,


Ken terlebih dulu mengantarkan David ke apartementnya. "Mobilmu masih di rumahku, jadi nanti gunakan mobil Ashley saja untuk ke sana," ujar Ken.


"Baiklah, nanti siang setelah bersiap-siap aku dan Ashley akan ke rumahmu," ucap David sembari turun dari mobil Ken.


"Baiklah, sampai bertemu nanti!" Ken segera melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah.


 


***


Setibanya di rumah, Ken segera memarkirkan mobilnya di halaman, ia menenteng tas miliknya, tubuh tegapnya mengajakanya untuk melangkah masuk ke dalam rumah. Ia di sambut oleh Bi Molley yang kala itu membukakan pintu untuknya.


"Selamat pagi Tuan muda," sapa Bi Molley, Ken menyapanya balik.


"Mama dan Papa belum pulang, Bi?" tanya Ken kepada Bi Molley.


"Belum, Tuan. Nyonya dan Tuan besar masih dalam perjalanan pulang, karna baru saja Nyonya  menelpon dan menanyakan Nona Jesslyn," jawab Bi Molley.


"Oh, baiklah, apa Alana masih tidur?" tanyanya kembali.


"Nona Alana sepertinya tadi sudah bangun, Tuan."


Tanpa menjawab, Ken segera berlalu meninggalkan Bi Molley untuk pergi ke kamarnya menemui Alana. Ken membuka pintu kamar yang kala itu terbuka sebagian, ia menutup kembali pintu itu tanpa menimbulkan suara.


Kedua matanya melihat Alana yang  sedang membelakanginya karna sibuk merapikan tempat tidur, bahkan, Alana tak sadar akan kedatangan suaminya itu.


Ken tersenyum meletakan perlahan  tas miliknya ke sembarang tempat, ia mendekati Alana, tangannya seketika melingkar ke perut Alana dan memeluknya dengan erat,  hingga membuat Alana terjingkat di buatnya.


"Astaga, Sayang." Salah satu tangan Alana reflek  memegangi letak jantungnya berada.


"Kau sungguh mengagetkanku!" seru Alana.


"Kau sudah pulang, cepat sekali?" Alana melepaskan kain sprei yang masih ia pegang. Ken hanya mengangguk tanpa bersuara, ia berusaha menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu. Sehari tanpa bertemu dengan Alana, rasanya ia hampir terbunnuh dengan kerinduannya. Rasanya, ia benar-benar tidak bisa jauh dari istrinya tersebut.


"Ken..." Alana mencoba melepaskan tangan Ken dari perutnya. Namun, Ken tak mau melepaskannya, ia masih sibuk memeluk Alana dari belakang dan memberikan banyak sekali ciuman di kepalanya. Alana hanya tersenyum, wajahnya memerah saat merasakan pelukan yang begitu menghangatkan paginya  itu.


.


.


.


.


.


.


.