My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Perdebatan



Jesslyn terlihat duduk di tepi tempat tidur kamarnya  dengan membaca buku miliknya. tangan kanan dan juga mulutnya tak berhenti bergerak saat Bi Molley menyuguhkan camilan untuknya. dan saat dirinya sedang asyik membaca buku, tiba - tiba Caleey menghampirinya dan duduk di samping Jesslyn.


"Jesslyn," panggil Caleey.


"Hem?" Jesslyn menyaut sembari mengunyah makanan tanpa menatap Calley.


"Apa kakimu masih sakit?" tanya Calley, Jesslyn menggeleng - gelengkan kepalanya tanpa bersuara, rasanya ia enggan  untuk berbicara dengan wanita yang saat ini duduk tepat di hadapannya.


"Sudah tidak. kenapa kau masih di sini? bukannya kau ada kelas hari ini?" tanya Jesslyn dengan sewot.


"Ehem, aku berangkat ke kampus nanti saja." ucap Caleey.


"Jesslyn, kenapa Alana tadi di sini?" tanya Caleey. Jesslyn terdiam dan melirik ke arah Caleey.


"Kau kenal dengannya?" tanya Jesslyn.


"Ehm tidak, aku tidak mengenalnya. aku hanya tau dia dari beberapa temanku saja. bukannya dulu dia wanita yang populer di kampus kita, kan. dan dulu dia--"


"Hoaammm, Apa ada yang masih ingin kau bicarakan? aku sangat mengantuk sekali, aku ingin tidur dulu karna semalam aku kurang  tidur," tukas Jesslyn sembari menutup bukunya. ia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Baiklha, aku akan pulang. semoga lekas sembuh," pamit Caleey.


"Hem," Jesslyn menyaut. Caleey mengambil tas miliknya dan segera berlalu keluar rumah itu.


"Percuma juga bertanya kepada Jesslyn. dia selalu saja bersikap seperti itu. entahlah, kenapa dia tidak menyukaiku padahal aku sudah baik kepadanya."


"Kau lihat saja nanti, jika aku sudah mendapatkan kakakmu. aku akan membuatmu menurut kepadaku," Caleey menggerutu dan masuk ke dalam mobil miliknya. rasanya ia begitu kesal akan sikap Jesslyn terhadapnya.


 


***


Alana baru saja tiba di rumah sakit, Jasson pun mengikuti wanita itu ke ruangan ayahnya. dan Alana datang di saat yang tepat. karna, kebetulan sekali, dokter sedang menyiapkan proses operasi ayahnya. namun, Alana tidak bisa menemui ayahnya secara langsung. karna dokter melarangnya. jadi, Alana hanya bisa melihat ayahnya dari balik jendela kaca transparant yang ada di ruangan itu. Alana, tersenyum ke arah Ayahnya dan memberikan semangat. Ayah Alana membalas senyuman yang di berikan oleh putrinya tersebut. Jasson hanya memandangi Alana dari samping. 5 menit kemudian, dokter mendorong tempat pembaringan Ayah Alana keluar dari ruangan itu dan hendak memindahkannya ke ruang operasi. Alana, sejenak berbicara kepada Ayahnya.


"Semoga operasinya lancar, ya, Daddy. setelah Daddy pulih, nanti kita pulang bersama - sama, ya." Alana tersenyum menahan air matanya agar tidak tumpah di depan ayahnya. padahal ia benar - benar terluka berkata seperti itu. Ayah pun tersenyum. guratan di wajahnya menyiratkan bahwa ia  begitu semangat saat mendengar kata - kata putrinya. perawat kembali mendorong tempat pembaringan ayah Alana ke ruang operasi. Alana mengikuti kemana ayahnya di bawa pergi, begitu juga dengan Jasson. saat Ayahnya masuk di ruang operasi. Alana menunggu di luar ruangan.


"Jasson, kenapa kau masih di sini?" tanya Alana.


"Ehm, ya, karna, aku ingin di sini saja," saut Jasson.


"Pergilah, aku bisa menunggu Daddyku sendiri," tutur Alana.


"Aku akan menemanimu, lagi pula aku tidak ada kesibukan di luar," tutur Jasson.


"Baiklah, terserah kau saja," ujar Alana. ia pun duduk di kursi tunggu dan Jasson ikut duduk di sampingnya. sesekali ia memperhatikan wanita yang tengah melamun itu.


Alana begitu gelisah menunggu operasi Daddynya, hatinya begitu kacau dan  tak karuan. hingga beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan itu dan menyatakan bahwa operasinya berjalan dengan lancar. Alana bernafas dengan begitu lega. namun, dokter memberitau bahwa hanya menunggu untuk sadarkan diri.


Hingga sore hari dan hendak menjelang malam, Jasson masih saja berada di sana. Alana menyuruh Jasson untuk pulang. sebenarnya, Jasson enggan pergi dari sana. namun, Alana memaksanya, hingga membuat laki - laki itu mengiyakannya.


"Apa kau tidak menginap di rumah lagi? bukannya kau sudah janji  dengan Jesslyn?" tanya Jasson.


"Iya, nanti aku akan ke sana," ujar Alana, tanpa menatap Jasson.


"Ya sudah, kalau begitu sekalian saja, aku menunggumu di sini," ucap Jasson.


"Jasson, ku mohon pulanglah dulu. aku akan menyusul nanti," tutur Alana.


"Baiklah, aku pulang," pamit Jasson. ia berlalu meninggalkan Alana. namun sesekali ia tak lepas memandangi wanita yang sedang mendudukan tubuhnya di kursi ruang tunggu itu.


 


 


***


 


"Dari mana saja, sampai pulang selarut ini?" suara Ken, tiba - tiba mengagetkan Jasson. Ken menghampiri Jasson dengan menautkan kedua alisnya begitu tajam.


"Tadi aku dari kampus, lalu aku--"


"Sejak kapan kau belajar berbohong?" tukas Ken. Jasson membungkam.


"Aku tidak berbohong, Kak." Jasson membantah dengan memalingkan pandangannya.


"Kau tadi dari mana sampai tidak kuliah? kau pikir kakak tidak tau?" tanya Ken dengan menatap tajam kedua mata adiknya. Jasson hanya diam dan menatap kakaknya. ia tidak bisa menjawab pertanyaan kakaknya tersebut.


"Kenapa kau diam saja?" teriak Ken.


"Maaf, Kak. aku sangat tidak menyukai mata kuliah hari ini," ucap Jasson.


"Kakak tidak peduli, apapun itu alasannya. seharusnya kau kuliah dengan bersungguh - sungguh. jangan hanya karena wanita, kau jadi di butakan seperti ini! uang saja kau masih meminta kepada Papa," seru Ken.


"Siapa yang di butakan wanita?" tanya Jasson dengan kesal.


"Kau pikir kakak tidak tau, kalau kau tadi bersama dengan Alana?" seru Ken. Jasson membungkam seketika,


"Aku hanya menemaninya, karna aku merasa kasian terhadapnya, itu saja.tidak lebih!" bantah Jasson.


"Memang aku tidak sepertimu yang pandai mencari uang sejak sekolah. tapi, aku tau diri jika menggunakan uang Papa," saut Jasson berlalu meninggalkan Ken untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Jasson," teriak Ken dengan geram. namun Jasson tak menghiraukannya.


"Gara - gara wanita itu, adik - adikku tidak sopan kepadaku," gumam Ken seraya mengepalkan erat tangannya. kemudian, Jesslyn terlihat menghampiri Ken yang sedang kesal.


"Kakak kenapa memarahi Jasson?" tanya Jesslyn.


"Tidak kenapa- kenapa , ayo kita makan malam, ajaklah Jasson," perintah Ken.


"Tunggu Alana, ya, Kak. habis ini Alana kemari," ucap Jesslyn. Ken hanya diam, dan berlalu begitu saja meninggalkan Jesslyn.


"Sebenarnya, ada apa dengan Kakak? aku heran, kenapa dia begitu tidak menyukai Alana? Aku harus membuat Kakak agar tidak membenci Alana, kalau bisa aku akan membuat Kakak menyukai Alana, lagi pula, Alana wanita yang baik" gumam Jesslyn. tiba -  tiba sebuah senyuman usil menyeringai wajah cantik Jesslyn.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.