My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Semuanya aneh



Alana membalikan badannya dan hendak berlalu meninggalkan Ken di sana. namun, tiba - tiba, Alana menghentikan langkah kakinya. kedua mata Alana membulat lebar saat ia melihat seorang laki - laki yang tak asing di kedua matanya.


"Darrel." bibir Alana bergumam pelan. lalu, Darrel menoleh ke arah Alana. seketika itu Alana membalikan kembali tubuhnya menghadap ke tubuh Ken. bahkan lebih mendekat, sebatas jarak antara jari telunjuk tangan. Karna, Alana benar - benar takut, jika Darrel melihatnya di sana. namun, Darrel masih memperhatikan Alana. rasanya Darrel mengetahui keberadaan Alana.


"Kau kenapa?" tanya Ken. namun Alana hanya diam saja. Kedua mata Ken beralih ke arah Darrel yang sedang memperhatikan Alana. ia melihat laki - laki itu hendak berjalan mendekati Alana. namun, tiba - tiba, Ken langsung memeluk Alana dan menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya.


Seketika itu, Darrel langsung menghentikan langkah Kakinya saat melihat wanita yang hendak ia hampiri di peluk oleh seorang laki - laki. terlebih lagi, suara seorang wanita tiba - tiba memanggil namanya. wanita itu tak lain ialah Lecya.


Namun, Darrel tak menghiraukan panggilan Lecya. ia masih tak bergemming memperhatikan seorang wanita yang sedang ada di pelukan laki - laki yang ia lihat saat ini, lalu, kedua mata Darrel beralih ke arah Ken yang sedang menatapnya dengan begitu tajam seakan hendak menerkamnya hidup - hidup.


"Sayang, ayo!" suara Lecya memanggil Darrel dengan sebutan sayang. terdengar begitu jelas di telinga Alana.


"Sepertinya aku salah lihat, aku kira Alana." Darrel bergumam dalam hati.


"Sayang, kau ini memperhatikan apa? ayo!" seru Lecya dengan kesal. Darrel pun mengangguk dan menghampiri Lecya. lalu, mereka berdua pergi dari sana.


Saat di rasa laki - laki itu sudah pergi dari sana. Ken seketika langsung melepasakan pelukannya. ia melirik ke arah Alana yang masih mematung di dekapannya tersebut.


"Dia sudah pergi," kata Ken. Alana membuka kedua matanya dan sejenak menatap mata Ken dengan jarak yang begitu dekat. Alana memutar kepalanya dan menoleh ke belakang, saat Alana sudah tidak melihat Darrel di sana. Ia langsung bernapas dengan begitu lega. Ken pun memperhatikan perubahan raut wajah Alana. jelas sekali perempuan itu terlihat sedang memendam sesuatu.


"Terimakasih, aku akan ke ruang ganti melepas gaun ini dulu. dan membungkusnya ke kasir," pamit Alana.


"Hem," saut Ken. Alana pun berlalau meninggalkan Ken di sana.


"Siapa laki - laki tadi? kenapa dia sampai tidak ingin laki - laki itu melihatnya?" gumam Ken dalam hati, seraya memperhatikan Alana yang berjalan semakin menjauh darinya.


Ken hendak mendudukan tubuhnya kembali di atas sofa. namun tiba - tiba Jesslyn datang menghampirinya.


"Kakak, di mana Alana?" tanya Jesslyn dengan melihat ke sekelilingnya. namun, ia sama sekali tak mendapati Alana di sana.


"Sedang melepas gaunnya di ruang ganti," kata Ken dengan kesal seraya menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di atas sofa yang ada di ruang tunggu itu. Jesslyn pun mengerucutkan bibirnya dan ikut duduk di samping Kakaknya tersebut.


"Kakak! Kakak kenapa, sih. Jutek sekali terhadap Alana? seharusnya Kakak bersikap yang ramah dengannya! perhatian, bersikap manis, dan tunjukan kalau Kakak menyukainya!" tutur Jesslyn.


"Apa yang mau di tunjukan?  jelas - jelas Kakak tidak menyukainya!" seru Ken.


"Setidaknya, kan. Kakak harus bersikap lembut sedikit kepadanya, dia itu akan menjadi istri Kakak! Alana itu gadis baik, Kak. kenapa Kakak bersikap lembut kepada seorang wanita saja sulit sekali!" ujar Jesslyn.


"Sudahlah,  Jesslyn. Lebih baik kamu diam lah. tidak usah ikut campur masalah Kakak. akhir - akhir ini kau begitu menyebalkan, selalu membuat Kakak kesal saja!" seru Ken. namun, Jesslyn tiba - tiba diam. Ia pun menatap Kakaknya dengan tatapan memelas. hingga membuat Ken tak tega.


" Astaga," gumam ken.


"Kau tidak menyebalkan, Kakak hanya bercanda sayang.  kemarilah," Ken langsung memeluk adik perempuannya tersebut.


"Kakak yang menyebalkan," ujar Jesslyn dengan sedikit kesal.


"Iya terserah kau saja," kata Ken. Ia tidak ingin berdebat dengan adiknya tersebut.


 


***


Alana menarik reseleting yang melekat di belakang gaun itu dari atas hingga ke ujung punggungnya. lalu,  ia perlahan - lahan melepas gaun itu.  Namun, Alana terlihat nampak memikirkan sesuatu.  Pikirannya kembali kacau saat dirinya sempat melihat Darrel dan Lecya berada di tempat yang sama dengannya.


"Dia sepertinya benar - benar akan menikah dengan Lecya," gumam Alana seraya memejamkan kedua matanya. ia begitu mengingat bagaimana hubungan baik dan hangat antar dirinya dan keluarga mantan kekasihnya tersebut. Bahkan, Alana seringkali di puji - puji oleh Ibu Darrel. mungkin karna saat itu Alana masih kaya. tapi, setelah mengetahui keluarga Alana jatuh bangkrut. keluarga Darrel perlahan - lahan menjauh. Bahkan, Ibunya menyuruh Darrel memutuskan hubungannya dengan Alana. bagaimana bisa? padahal, Alana ingat betul, ia sudah di anggap seperti anaknya sendiri oleh nenek lampir itu. tapi nyatanya?


"Aku tidak pernah terluka atau cemburu sedikitpun. karna sejak saat itu, aku sudah benar - benar melupakan semuanya. Aku hanya menyesal, karna pernah menjalin hubungan baik dengan orang - orang semacam mereka. aku sangat bersyukur kepada Tuhan. setidaknya,  Karna cobaan yang ku jalani bersama Daddy saat ini, aku bisa tau, mana manusia yang benar - benar baik dan mana manusia yang hanya berpura - pura baik," Alana tersenyum getir.


Alana melanjutkan kembali untuk melepas gaun itu. namun, ia begitu kesulitan melepas seluruh gaun itu. jadi, ia melepas gaun itu dengan sangat  hati - hati. lalu, Alana melipat gaun yang baru saja ia lepas. dan keluar dari ruang ganti.  dan saat Alana keluar dari ruang ganti itu,  ia melihat Ken dan jesslyn sedang berjalan menghampirinya.


"Melepas gaun seperti itu saja lama sekali! apa kau tau? kau itu sungguh membuang - buang waktuku saja!" tegur Ken dengan ketusnya.


"Kakak!" seru Jesslyn dengan melotot kepada Ken.


"Kau pikir mudah apa melepas gaun sebesar ini?  Ayo kemarilah,  coba pakailah gaun ini. Aku ingin lihat seberapa cepat kau melepasnya!" seru Alana dengan kesal seraya menarik - narik tangan Ken hendak mengajaknya masuk ke ruang ganti.


"Lepaskan, jangan menarik - narik tanganku seperti ini!  apa kau sudah gila menyuruhku memakai gaun itu!" seru Ken seraya menepis tangan Alana.


"Iya, memang aku sudah gila, memangnya kenapa? Kau ada masalah!" celetuk Alana dengan kesalnya.


"Wanita ini sungguh berbahaya," gumam Ken dalam hati sembari menatap tajam Alana.


"Kenapa kau diam? Kau itu laki - laki menyebalkan yang pernah ku temui! Menunggu tidak sampai 10 menit saja kau bilang lama! apanya yang lama? coba katakan kepadaku!" seru Alana. mulutnya tak berhenti menceloteh calon suaminya tersebut. Namun,  Ken hanya diam saja. Ia benar - benar tidak mood untuk berdebat saat itu.


"Apa kau bisa diam? kau berani bicara lagi, aku akan menyuruhmu membayar gaun ini sendiri!" seru Ken.


"Untuk apa aku membayarnya? aku tidak memakai gaun seperti ini tidak akan rugi, kau pikir aku akan merengek - rengek kepadamu minta di belikan gaun ini? cih!" saut Alana, ia melempar gaun itu ke arah Ken. ia juga mengembalikan uang yang sempat di berikan oleh Ken kepadanya.


"Ambil ini, ambil semua!" Alana berlalu pergi meninggalkan Ken dan juga Jesslyn.


"Alana tunggu kau mau ke mana?" teriak Jesslyn. namun Alana tak menggubrisnya, karna ia benar - benar kesal terhadap Ken.


"Kakak, sih. lihatlah Alana jadi marah, kan." Jesslyn melotot kepada Kakaknya tersebut.


"Biarkan saja, apa pedulinya aku!"


"Bayarkan, gaun ini ke kasir sana," perintah Ken dengan menyodorkan gaun itu dan beberapa lembar uang kepada adiknya.


"Bayar saja sana sendiri!" seru Jesslyn ia ikut kesal dan berlalu meninggalkan Kakaknya tersebut.


"Jesslyn," panggil Ken. namun Jesslyn malah semakin mempercepat langkah kakinya keluar dari sana.


"Astaga, kenapa mereka berdua jadi marah kepadaku?" gumam Ken dengan kebingungan. ia pun menggeleng - gelengkan kepalanya dengan begitu frustasi. lalu, ia menuju ke kasir untuk membayar gaun itu.


***


Jesslyn mengikuti Alana keluar dari Boutique itu. langkah kaki Alana terhenti dan ia terlihat mendudukan tubuhnya di atas kursi besi yang ada di seberang Boutique itu. Jesslyn pun ikut duduk di samping Alana.


"Alana," Jesslyn memanggil.


"Jesslyn, maaf. aku kesal kepada Kakakmu," ucap Alana dengan sedikit tidak enak hati dengan Jesslyn.


"Tidak apa - apa, untuk apa kau minta maaf, lupakan saja. Kakakku memang keterlaluan, tapi sebenarnya Kakak baik, kok, Alana. percayalah," tutur Jesslyn.


"Baik apanya?" gumam Alana dalam hati. Alana menghela napas, ia tersenyum dan berpura - pura mengiyakan apa yang Jesslyn katakan.


"Baru kali ini aku melihat ada wanita yang berani memarahi Kakak di depan umum. biasanya semua wanita yang ada di dekat Kakak selalu bertutur lembut, lemah gemulai, dan kegenitan seperti cacing yang telah di beri garam  hah sungguh menjijikkan melihat wanita seperti ini," umpat Jesslyn sembari menahan tawanya.


Lalu, Ken terlihat keluar dari Boutique itu dengan membawa kantung tas yang berisi gaun yang sempat ia bayar di kasir. ia pun menghampiri Jesslyn dan Alana. kemudian, mengajak mereka berdua untuk pulang. dan Ken terlebih dulu mengantarkan Alana untuk pulang ke rumah kontrakannya.


 


 


 


Malam harinya, Ken pergi ke bar miliknya. di sana ia sudah membuat janji bertemu bersama kedua sahabatnya. yaitu Ashley dan juga David.


di sana, David dan juga Ashley terlihat sedang duduk dan menikmati Live music yang ada di bar milik Ken tersebut sembari meneguk anggur dengan perlahan.


"Hey," Ken menepuk bahu kedua sahabatnya tersebut dan ikut mendudukan tubuhnya di sana.


"Maaf aku terlambat," kata Ken.


"Tidak apa - apa. kau dari mana saja? aku rasa akhir - akhir ini kau begitu sibuk," kata David.


"Hem, sibuk membuat drama!" saut Ken. ia meraih botol anggur, dan memindahkan cairan itu ke dalam cawan transparant. lalu, ia meneguknya dengan kasar.


"Drama, apa?" timpal Ashley dengan penasaran.


"Nanti kalian juga akan tau," kata Ken. sekali lagi, ia meneguk anggur itu. tiba - tiba bayangan wajah Alana muncul di pikirannya.


"Aku lusa akan menikah," kata Ken. saat Ashley dan David sedang asyik menikmati minumannya. ia langsung tersedak mendengar pernyataan Ken. Ashley seketika itu langsung tertawa terbahak - bahak.


"Apa kau bercanda, Ken?" tanya Ashley dan juga David. Ken mnggeleng - gelengkan kepalanya seraya meletakan cawan yang ia pegang di atas meja.


"Kau bermimpi apa ingin menikah hah? hahaha," Ashley tak berhenti tertawa. karna ini hal yang terdengar konyol baginya. bagaimana bisa? dekat dengan seorang wanita saja. Ken sudah seperti orang yang terkena alergi. lalu, sekarang, tiba - tiba dia mendengar kabar Ken akan segera menikah. Ken pun melotot kepada Ashley yang tak berhenti menertawakannya. Ashley seketika langsung membungkam karna takut.


"Maaf, Ken. aku hanya bercanda," kata Ashley tertawa pelik.


"Kau akan menikah dengan siapa, Ken?" tanya David dengan penasarannya. Ken terdiam sejenak. lagi - lagi bayangan wajah itu muncul kembali di pikirannya.


"Alana," saut Ken. kedua mata David langsung membulat dengan sempurna. telinganya begitu tersentak saat mendengar nama itu.begitu juga dengan Ashley.


"Alana yang kau maksud itu, Alana--" timpal Ashley.


"Iya Alana itu. memangnya Alana siapa lagi?" tukas Ken dengan mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kau tiba - tiba mau menikahinya?" David tiba - tiba setengah berteriak. hingga membuat Ashley dan David keheranan saat melihatnya.


"Kenapa memangnya? apa ada yang salah?" tanya Ken. David mengernyitkan dahinya seakan tidak suka.


"Apa kau sedang bercanda Ken?" tanya Ashley.


"Apa kau pernah melihatku bercanda?" tanya Ken. Ashley menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Ken, Alana itu tidak jelas asal - usulnya, kenapa kau mau menikahinya? masih mending menikah dengan Caleey, cantik, anggun, dia sungguh wanita idaman, bukan?" saut Ashley.


"Menjijikan!" umpat Ken.


"Apa alasanmu menikah dengan Alana?" tanya David dengan penuh penekanan. Ken memandang David dengan begitu heran.


"Karna aku menyukainya," saut Ken.


"Konyol! aku sangat tau siapa dirimu, Ken." seru David. Ken hanya tersenyum sinis dan meneguk kembali anggur yang ada di depannya.


"Ayo katakan, Ken. kenapa kau tiba - tiba ingin menikahi Alana?" David memaksa.


"Kau sepertinya, ingin tau sekali alasannya? ada apa memangnya? apa kau menyukai Alana?" tanya Ken.


"Ti-tidak. aku hanya ingin tau saja. mana mungkin aku menyukainya," bantah David.


"Ya sudah, kalau kau tidak menyukainya. untuk apa bertanya!" seru Ken.


"Aku balik dulu, kepalaku sudah terasa berat," pamit Ken.


"Ken, ayolah ...  kau baru saja sampai, kenapa kau  terburu - buru?" tanya Ashley. namun, Ken tak menghiraukannya. dan ia berlalu cepat meninggalkan bar miliknya tersebut.


"Aku sungguh tidak percaya ini!" gumam David, ia beranjak berdiri dan berlalu naik ke lantai atas.


"David, kau juga mau ke mana?" teriak Ashley. namun David hanya diam saja.


"Kenapa, malam ini orang - orang sungguh aneh sekali?" gerutu Ashley. ia kembali meneguk habis anggur miliknya.


di lantai atas. David sedang mencoba menghubungi seseorang. seseorang itu tak lain ialah Jesslyn. David pun bertanya tentang kebenaran pernikahan Ken dan juga Alana. dan Jesslyn pun membenarkannya. David mendesak Jesslyn agar mau memberitau, alasan kenapa Ken tiba - tiba ingin menikahi Alana. dan Jesslyn pun terpaksa memberitaukan semua alasannya. David begitu terkejut mendengar pernyataan Jesslyn, yang menyebutkan bahwa Ken menikahi Alana hanya karna bisnis saja. seketika itu, David langsung mengakhiri panggilan telponnya. ia mengepalkan tangannya dengan geram. ia turun dari lantai atas dan berlalu keluar meninggalkan bar itu tanpa berpamitan kepada Ashley.


 


 


 


Keesokan paginya, saat di rumah Alana. Alana bersiap - siap mau pergi ke rumah sakit menjenguk Ayahnya. lalu, ia berniat pergi ke supermarket untuk berbelanja bahan - bahan toko  kuenya yang telah habis. saat dirinya terlihat sudah sangat rapi, Alana pun keluar dari rumah dan hendak mengunci pintu rumahnya.


"Alana." tiba- tiba suara seorang laki - laki menyentak telinga Alana. hingga membuat wanita itu langsung menoleh ke arahnya.


"David?" bibir Alana berucap. ia terkejut saat melihat David bertamu di rumahnya pagi itu.


"David, ada apa kau ke mari?" tanya Alana.


"Aku ingin berbicara denganmu! apa kita bisa berbicara sebentar?" tanya David. Alana mengangguk, ia membuka kembali pintu rumahnya dan mempersilahkan laki - laki itu untuk masuk.


.


.


.


.


.


.


.