My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Siapa yang berulang tahun?



Alana terbangun dan melihat jam dinding yang menunjukan pukul 12.52. "Astaga, sudah jam 12." Alana mengalihkan tangan Ken yang melingkar di tubuhnya, ia beranjak turun dari tempat tidur dan segera keluar dari kamar, ia menuju ke ruang tamu, namun tidak ada siapapun di sana.


"Ke mana Jesslyn dan Kimmy, katanya mereka kemari jam setengah 12?" gumamnya, ia sejenak membuka pintu rumah dan menengok ke halaman rumah, tidak ada siapapun kecuali penjaga yang sedang duduk bersantai menikmati kopi. Melihat Alana keluar dari rumah, para penjaga itu menegurnya.


"Nona Alana, ada apa keluar tengah malam seperti ini?"


"Apa Paman melihat Kimmy dan juga Jesslyn kemari?" tanya Alana.


"Tidak ada, Nona. Tidak ada siapapun yang kemari."


"Baiklah, Paman. Terimakasih." Alana dengan wajah ditekuknya segera masuk ke dalam rumah.


"Ke mana mereka berdua?" Alana kembali masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel miliknya. Ia berulang kali mencoba menghubungi Jesslyn dan Kimmy secara bergantian, namun tidak ada yang mengangkatnya, hingga kekesalan Alana semakin bertambah.


"Pasti mereka ketiduran." Alana berdecak kesal. Ia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan waktu pukul 12.58. Tak mau menunggu, Alana pergi ke dapur. Ia mengambil kue yang sudah ia buatkan untuk Ken dari dalam lemari pendingin, lalu ia membawanya ke kamar Daven.


Daven yang terlihat sedang tertidur pulas, sengaja Alana bangunkan. Membuat laki-laki yang terihat kelelahan itu serasa tak rela ada seseorang yang sedang mengganggu tidurnya.


"Daven... bangunlah!" Alana yang baru saja meletakan kue di atas meja dan membuat kegaduhan di kamar adiknya itu dengan tak sabar membangunkannya.


"Ada apa, Kak?"


"Ayo bantu Kakak!" Alana menarik paksa  tangan Daven hingga kini tubuhnya duduk dengan sempurna.


"Bantu apa?" decak Daven.


"Ken sedang berulang tahun, ayo bantu Kakak memberi kejutan untuknya," Alana menarik-narik tangan Daven agar turun dari tempat tidur.


"Iya, tetapi jangan menarikku seperti ini!" seru Daven. Ia beranjak turun dari tempat tidur. Alana dengan segera mengajak adiknya tersebut untuk pergi ke kamar suaminya.


 


***


Di dalam kamar, Ken terlihat masih tertidur. Daven berdiri di depan kamar dengan malas-malasan.


"Daven ayo!" Alana melototkan kedua matanya kepada adiknya tersebut hingga membuatnya takut. Alana menyuruh Daven menyalakan api di atas lilin yang menunjunjukan angka 2 dan 6  yang baru saja ia tancapkan di atas kue tersebut.


Alana mendekati Ken, satu tangannya memegang kue dan tangan lainnya menggoyang-goyangkan bahu suaminya tersebut. Usahanya tak sia-sia, tak lama kemudian, Ken pun terbangun.


"Selamat ulang tahun, Sayanggg." Alana berteriak dengan begitu heboh dan bersemangat dengan mendekatkan kue ulang tahun itu kepada Ken. Ken hanya diam dan menatap istri dan adiknya secara bergantian.


"Ayo tiup lilinnya..." perintah Alana yang menyodorkan kue itu kepada Ken.


Dahi Ken  mengernyit bingung. "Ulang tahun?"


"Memangnya siapa yang berulang tahun?" Pertanyaan Ken membuat raut wajah Alana  yang mulanya bersemangat kini berubah menjadi datar. Ia memandang ke arah Daven yang sedari tadi hanya diam saja tak berucap suara, lalu mengalihkan pandangannya kepada Ken.


"Ehm, bukannya kau hari ini berulang tahun?" tanya Alana.


"Tidak, aku tidak berulang tahun," kata Ken sambil menggeleng kepalanya.


"Kakak, kau ini bagaimana. Katanya Kak Ken berulang tahun?" seru Daven.


"Memang berulang tahun," jawab Alana. Tatapannya terlihat begitu bingung.


"Kata siapa aku berulang tahun?" tanya Ken.


"Kata Jesslyn dan Kimmy," saut Alana.


"Lalu di  mana mereka?" tanya Ken.


"Ehm, entahlah," Alana terlihat semakin bingung. " Mereka tidak datang kemari, padahal tadi Jesslyn dan Kimmy sudah membuat janji sebelum jam 12 mereka akan ke rumah, tapi--"


"Tapi mereka tidak datang?" tukas Ken. Alana menganggukan kepalanya.


"Mereka sepertinya mengerjaimu." Alana seketika terlihat begitu kecewa.


"Ah, Kakak. Lihatlah, kau jadi mengganggu istirahatku tengah malam! Aku kira Kakak Ken benar-benar berulang tahun!" seru Daven yang memasang wajah kesal.


"Sudah lupakan saja. Letakan kue itu ke dapur lalu kita beristirahat," perintah Ken. Alana masih mematung memegang kue tersebut, tak mau memindah posisinya, ia menatap Ken dengan kedua tatapan yang begitu sendu.


"Mereka keterlaluan!" Alana berucap dengan suara berat.


"Sudahlah, ayo kita beristirahat," ajak Ken.


"Aku sudah bersusah payah membuatkan kue ini untukmu, kau benar-benar tidak berulang tahun?" suara dan tatapan Alana begitu memelas dan kecewa.


"Kau membuat kue ini sendiri?" tanya Ken, Alana menganggukan kepalanya.


"Kenapa menangis?" tanya Ken seraya mengusap  kedua sudut mata istrinya yang terlihat basah.


"Jesslyn dan Kimmy keterlaluan, aku akan membuang saja kuenya!" Alana yang terlihat begitu kecewa hendak berlalu  keluar dari kamar itu.


"Alana..." Ken turun dari tempat tidur dan mencoba mengikutinya.


"April Mop..." Teriakan itu memecah dan membuat Alana begitu terkejut, hingga membuat jantungnya hampir terlepas  saat melihat  Jesslyn, Kimmy dan Jasson tiba-tiba begitu saja muncul di depan kamar, bahkan kue yang ia pegang hampir saja terjatuh.


"Kalian?"


Alana melihat mereka semua tertawa begitu juga dengan suami dan adiknya. Mendengar gelak tawa mereka yang meledeknya, membuat Alana semakin marah.


"April mop... April mop..." Kimmy dan Jesslyn begitu heboh dan tak mempedulikan raut wajah kesal Alana.


"Kalian keterlaluan! Ini tidak lucu! Kalian semua membohongiku!"


"Membohongi? kita tidak membohongimu!" satu Kimmy.


Kimmy mengambil alih kue yang masih dipegang oleh Alana, karna ia takut Alana yang saat itu marah akan membuang kue tersebut


"Alana, kenapa kau jadi begitu marah, ini april mop, kita bebas membuat candaan atau lelucon," timpal Jasson.


"Tapi kalian keterlaluan! Aku sudah bersusah payah membuat kue dan bangun tengah malam hanya ingin memberi kejutan untuk Ken, dan ternyata kalian semua malah mengerjaiku seperti ini!" seru Alana.


"Alana..." Ken berjalan mendekatinya.


"Jangan mendekatiku! Kau tidak melihat aku sedang marah-marah?" seru Alana.


"Kau tidak ikhlas membuatkan kue ini untukku?" tanya Ken, Alana hanya diam dan menatap Ken dengan tatapan yang begitu kesal. Namun sepatah kata satupun tak lolos dari mulutnya.


"Alana dengarkan aku dulu, Kakak memang benar-benar berulang tahun hari ini," ujar Jesslyn.


"Kau berbohong! Ken sendiri yang bilang bahwa  dia tidak berulang tahun!" seru Alana.


"Lalu kau percaya?" tanya Jasson. Alana sejenak diam, lalu menganggukan kepala dengan wajah polosnya hingga membuat siapapun yang berada di situ tertawa saat melihatnya.


"Daven, lihatlah, jika marah wajah Kakakmu  begitu menggemaskan..." kata Ken yang mengapit kedua pipi istrinya itu.


"Tidak lucu!" Alana melototokan kedua matanya kepada Ken, namun tidak membuat suaminya itu takut.


"Kalau tidak lucu mana mungkin Daven sampai tertawa seperti itu?" ledek Ken. Alana melirik ke arah adik laki-lakinya yang masih tak berhenti tertawa.


"Aku hari ini memang berulang tahun, terimakasih." Ken menghujani wajah Alana dengan begitu banyak ciuman.


"Jadi kau benar-benar berulang tahun?" tanya Alana.


"Iya, aku memang berulang tahun." Ken terkekeh.


"Kau benar-benar menyebalkan!" ucap Alana dengan suara manjanya.


"Kau yang menyebalkan! Ya sudah, ayo ke dapur dan memakan kue buatanmu." Ken yang mengajak Alana beserta adik-adiknya itu segera pergi ke dapur dan memilih tempat duduknya masing-masing.


Jesslyn menyalakan kembali lilin ulang tahun yang apinya sempat padam itu, dan memberikan kue tersebut kepada Alana.


"Yeayyyyy..." Kimmy dan Jesslyn bersorak dengan begitu hebohnya, hingga membuat telinga Jasson yang kala itu duduk di dekatnya  begitu sakit saat mendengarnya.


"Berisik!" seru Jasson.


"Selamat ulang tahun kakak." Jesslyn berpindah posisi memeluk dan memberi ciuman kepada kakak sulungnya, dan ucapan selamat ulang tahun di ucapkan secara bergantian kepada Ken.


Setelah itu, Alana memotong kue buatannya dan membagikan rata kue itu, namun potongan kue yang paling besar ia tujukan buat dirinya sendiri.  Mereka semua memakan kue buatan Alana. Pujian yang dilontarkan oleh Ken akan kue buatan istrinya, membuat Alana begitu senang mendengarnya.


"Aku sungguh heran, kenapa kau jadi suka memakan kue? bahkan kata Valerie kau menghabiskan banyak kue saat di rumahnya," tanya Ken.


"Entahlah, aku ingin sekali memakan kue," jawab Alana.


"Oh iya, berarti kalian semua memang sudah berencana ingin mengerjaiku?" tanya Alana seraya mengunyah penuh kue yang ada di dalam mulutnya.


"Kami tidak berniat mengerjaimu, tapi ini semua rencana kakak," jawab Jesslyn.


"Iya, Kakak Ken yang menyuruh kami semua, kakak Ken sudah tau kalau kita akan memberikannya kejutan," timpal Kimmy. Alana melirik ke arah Ken.


"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Alana kepada Ken.


"Dari kecil setiap kali aku berulang tahun, Jesslyn selalu memberiku kejutan setiap tahunnya tak peduli apapun itu, jadi wajar saja jika aku tau bahwa ulang tahunku kali ini dia akan memberi kejutan bersamamu. Eh tapi malah kau yang terkejut," Ken terkekeh.


"Haha, iya, Kak. Rasanya aku ingin sekali tertawa saat melihat wajah Kakak tadi," saut Daven yang tertawa di sela-sela makannya.


"Kami sudah datang sejak jam 11 malam, aku memarkirkan mobilku di halaman rumah tetangga sebelah, lalu kita bersembunyi di kamar Daven lalu pindah ke kamar tamu," timpal Jasson.


"Menyebalkan!" Alana yang begitu kesal tiba-tiba  mengambil begitu saja kue milik Ken dan melahapnya dengan rakus.


"Kau memakan kueku!" seru Ken.


"Biarkan saja! Salah siapa menyebalkan!" suara Alana hampir tak terdengar karna tertahan oleh kue itu. Ken begitu gemas mengacak-acak rambut istrinya tersebut.


Jam 01.45 Am. Mereka semua mengakhiri perayaan  pesta kecil itu dan melanjutkan untuk beristirahat. Jasson tidur di kamar Daven, Kimmy dan Jesslyn tidur di kamar tamu. Sementara Ken dan Alana kembali ke kamarnya sendiri.


Alana dan Ken kini sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Apa yang kau harapkan tadi? kenapa kau berdoa begitu lama?" tanya Alana yang sangat ingin tau sekali.


"Tidak boleh tau... ayo tidurlah!" Ken memeluk Alana dan menyuruhnya untuk segera  tidur.


 


 


 


****


 


Alana terbangun terlebih dahulu, dan Ken terlihat masih pulas akan tidurnya.  Pagi itu Alana sudah berniat akan melakukan test kehamilan menggunakan test pack yang sudah  ia beli di apotek kemarin sore.


Ia masuk ke dalam kamar mandi, menunggu test pack yang sudah ia masukan  ke dalam wadah dan tergenangi oleh  urinenya untuk beberapa saat.


"Alana, apapun hasilnya, kau tidak boleh kecewa. Jangan terlalu berharap, jangan terlalu berharap..." Alana berulang kali menekankan kata-kata itu dipikirannya. Ia memejamkan kedua matanya dan mengambil test pack itu dari wadah tersebut.


Jantungnya berdegub tak karuan, ia benar-benar takut jika hasilnya ternyata tidak sesuai denan apa yang ia harapkan. Alana menarik dan mengembuskan napasnya dengan gemetar. Ia membuka salah satu matanya melihat hasil tersebut, merasa tak jelas,  Alana membuka kedua matanya dengan sempurna dan memandangi hasil dari test pack itu dengan begitu seksama. Senyumannya  tiba-tiba merekah, saat melihat dua garis merah tertera di alat tersebut.


"Apa aku tidak salah melihat?"


Ia meraih dan membaca ulang kemasan alat test kehamilan yang belum sempat ia buang itu, memastikan kembali bahwa dirinya tidak salah.  Namun senyumannya yang semakin merekah sempurna menunjukan bahwa dirinya memang tidak salah membaca hasil tersebut.


"Aku hamil... Aku hamil..." Demi apapun Alana senangnya bukan main, bahkan sangking terlalu bahagianya, ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri waktu itu.


Alana masih belum percaya sepenuhnya, keraguan akan hasil dari alat itu tak membuatnya puas. Untuk memastikannya kembali, pagi itu Alana pergi  ke dokter kandungan tanpa sepengetahuan Ken dan ia meminta Paman Lux untuk mengantarkannya.


dan dokter pun membenarkan kabar kehamilan Alana saat melakukan USG, Alana begitu bahagia sekali saat mendengar pernyataan dari dokter ysng menyatakan bahwa dirinya benar-benar hamil,  menatap hasil usg janinnya yang berusia 3 minggu itu, membuatnya ingin sekali menangis, Alana benar-benar tak mempercayai ini semua. Bahkan selama perjalanan kembali pulang ke rumah, bibirnya tak henti melontarkan puji syukurnya kepada Tuhan.


 


 


***


Alana turun dari mobil dengan langkah kaki tak sabar, ia segera masuk ke dalam rumah. Rumah terlihat begitu sepi, semua orang mungkin masih tertidur.


Alana hendak masuk ke dalam kamar. Namun suara Ken yang entah berasal  dari mana tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan membuatnya menoleh.


"Kau dari mana saja? apa kau tau aku mencarimu?" seru Ken.


"Maaf, Ken. aku baru saja dari dokter," jawab Alana seraya tak henti melebarkan senyumnya di kala kepanikan melanda pikiran suaminya itu.


"Kau ke dokter dan tidak memberitauku? kau sakit? apa kau terluka, bicaralah?" Ken dengan paniknya memeriksa seluruh bagian tubuh Alana, mencoba memastikannya, namun ia sama sekali tak menemukan luka maupun tanda-tanda sakit sedikitpun, ia melihat Alana begitu sehat.


"Ken..."


"Kau sakit apa, katakan?" desak Ken.


"Aku tidak sakit!"


"Kalau tidak sakit lalu kenapa pergi ke dokter?" Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Alana malah tersenyum hingga membuat Ken begitu kesal.


"Aku sedang bertanya dengan panik dan kau malah tersenyum, jawab pertanyaanku untuk apa kau pergi dokter?" teriaknya dengan kesal.


"Ayo kita masuk ke kamar dulu." Alana menggiring tangan Ken dan mengajaknya untuk duduk di atas tepi tempat tidur. Alana mengeluarkan sebuah lembaran yang tak lain foto hasil  USG  dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepada Ken.


"Apa ini?" tanya Ken yang menerima lembaran tersebut.


"Lihat saja..." perintah Alana, Ken pun memandangi foto hasil USG tersebut.


"Apa ini fotomu waktu masih janin?" pertanyaan Ken yang konyol membuat Alana begitu kesal.


"Mana mungkin aku menyimpan fotoku waktu masih janin! Jelas-jelas ini hasil USG masih baru sekali," seru Alana.


"Kalau begitu ini hasil foto janin siapa?" tanya Ken. Ia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari lembaran yang ia tatap saat ini.


"Anak kita," suara Alana yang diiringi dengan senyuman membuat Ken seketika menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh.


Telinga Ken menadadak tuli. "Maksudmu?" tanyanya.


"Aku tadi pergi ke dokter bukan karna sakit, tapi karna mau memastikan apakah aku benar-benar hamil atau tidak. Dan ternyata aku hamil." Raut wajah Alana terlihat begitu bahagia sekali, namun Ken hanya diam saja dan menatapnya membuat Alana bertanya-tanya.


"Kenapa wajahmu seperti itu? kau tidak suka?" tanya Alana, suaranya terdengar datar.


"Kau benar-benar hamil, kau tidak bercanda?" tanya Ken.


"Iya, aku hamil. Itu hasil USG anak kita yang masih berusia 3 minggu," ujarnya dengan senyuman yang memenuhi wajahnya. Namun Ken hanya diam dan mengalihkan pandangannya memandang kembali  lembaran yang masih ia pegang  itu, matanya terlihat berkaca-kaca, ia benar-benar tidak menyangka secepat itu Tuhan menitipkan kepercayaan lagi  kepada istrinya.


"Kau tidak percaya? aku akan menunjukan test pack yang sempat aku beli di apotek kemarin, hasilnya juga positif." Alana beranjak hendak pergi ke kamar mandi, namun Ken menarik tangannya.


"Aku percaya..."  Ken menarik tangan Alana dan menyuruhnya untuk duduk kembali.


"Lalu kenapa kau diam saja? Kau tidak bahagia, ya?" tanya Alana.


Ken mengusap kepala wanita itu dan menatapnya dengan tatapan haru. "Mana mungkin tidak bahagia, aku sangat bahagia sekali."


"Siapa yang tidak bahagia jika istrinya memberi kado seistimewa ini?" Ken melebarkan tangannya dan mendekap tubuh Alana, memberikan begitu banyak ciuman di puncak kepala istrinya tersebut. Bahkan Ken berulang kali bersumpah akan benar-benar menjaga istri dan calon anaknya agar kejadian serupa tidak akan terulang lagi.