
"Apa kau mau makan? biar aku pesankan makanan untukmu," tanya Ken.
"Aku belum lapar. nanti, saja." Alana melepaskan pelukannya dengan Ken.
"Oh, iya. nanti sore, kita mampir ke boutique langganan Mama untuk membeli gaun," ujar Ken.
"Membeli gaun, untuk siapa?" tanya Alana sambil memiringkan kepalnya.
"Ya untukmu! mana mungkin untukku!" seru Ken.
"Apa kau bisa berbicara pelan sedikit! selalu saja menggunakan emosi!" seru Alana.
"Makanya, kau jangan menyebalkan! sudah tau gaun untuk wanita masih saja bertanya!" seru Ken.
"Ehm untuk apa memangnya membeli gaun?" tanya Alana.
"Untuk nanti malam menghadiri pertunangan Adam. apa kau mau menggunakan gaun lamamu?" tanya Ken.
"Tidak mau! beli yang baru saja..." Alana melebarkan senyumnya. karna memang, dari dulu jika ada pesta atau perayaan tertentu. Alana sudah terbiasa selalu membeli gaun baru untuk menghadiri pesta.
"Ya sudah, nanti sepulang dari sini aku akan mengantarkanmu," ujar Ken.
"Permisi..." suara seorang wanita menghentikan percakapan mereka. Alana dan Ken secara serentak melihat ke arah pintu ruangan yang terbuka itu.
"Permisi Tuan Ken..." wanita itu tak lain ialah Vannya.
"Ada apa?" tanya Ken dengan nada yang kurang enak di dengar.
"Tuan, Nona... sebelumnya saya mau minta maaf untuk hal tadi... saya benar-benar tidak tau--"
"Lupakan saja!" tukas Ken.
"Apa ada hal penting lainnya yang ingin anda sampaikan? jika tidak ada keluarlah!" seru Ken.
"Ehm, ada, Tuan. ini ada beberapa lampiran berkas yang perlu di tandangani, Tuan." Vannya masih berada di posisi yang sama dengan membawa tumpukan kertas di tangannya.
Ken melirik ke arah Alana yang sedang sibuk memperhatikannya, "Aku tinggal bekerja dulu, ya?" tanya Ken.
"Iya, bekerjalah. memang siapa yang menyuruhmu menemaniku di sini!" saut Alana.
"Kau ini..." Ken mengacak-acak rambut Alana dengan gemas dan beranjak berdiri untuk berpindah tempat duduk di meja kerjanya.
"Ken... kau ini sungguh menyebalkan. rambutku jadi berantakan, kan!" seru Alana sambil merapikan rambutnya. Ken hanya tersenyum seakan tak memiliki dosa. bahkan, baru kali ini Vannya melihat Ken tersenyum seperti itu. seketika itu, kedua mata Vannya berpindah alih ke arah Alana.
"Bagaimana bisa wanita itu mengambil hati Ken? apa dia menggunakan sihir?" gumam Vannya dalam hati.
"Apa anda masih ingin berdiri di situ hingga jam kerja selesai, Nona Vannya?" suara Ken mengagetkan Vannya yang sedang sibuk bertanya - tanya tentang Alana.
"I-iya, Tuan. maaf." Vannya segera mendekati meja kerja Ken dan duduk hadapannya. Vannya memperhatikan Ken dengan begitu dekat.
"Aku bekerja di sini sudah hampir 8 tahun semenjak aku kuliah semester 2 dan hanya sebagai karyawan accounting hingga sekarang memperoleh jenjang karir. dan selama aku bekerja di sini, aku tidak pernah melihat Ken bersikap ramah. melihat dia tersenyum seperti tadi saja tidak pernah. sudah bisa di pastikan, wanita itu pasti menggunakan sihir untuk memikat hati Ken," gumam Vannya dalam hati.
Sementara Alana, wanita itu sedang mencari posisi nyaman untuk menyandarkan punggungnya di sofa. kedua matanya melirik ke arah Ken yang sedang sibuk menandatangani kertas-kertas yang saat ini ia pegang. sedangkan Nona Vannya, ia sedang sibuk berbicara memberitau tentang perkembangan perusahaan kepada Ken.
"Dia benar-benar berbeda sekali. aku jadi ingat, waktu pertama kali belum terlalu mengenalnya," gumam Alana sambil tak henti memperhatikan suaminya yang sedang sibuk bekerja.
"Jangan menyentuhku! hah, ingat sekali aku kata-kata itu, jika dia berbicara seperti itu. rasanya ingin sekali ku remmas mulutnya." Alana menahan tawanya saat mengingat pertemuannya dengan Ken dulu sembari tak lepas memperhatikan suaminya tersebut. Ken yang sadar sedari tadi di perhatikan oleh Alana. ia seketika langsung melirik tajam ke arah istrinya itu. bukannya takut, Alana malah melebarkan senyumnya kepada Ken.
Saat urusan Nona Vannya dengan Ken sudah selesai. ia segera keluar dari ruangan itu. dan tak lama kemudian, seorang wanita yang tak lain sekertaris pribadi Papa Gio bergantian masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi, Tuan Ken. saya mau mengantar berkas persetujuan permohonan kerja sama dengan perusahaan lain." suara gemulai wanita itu terdengar merinding di telinga Alana. Ken segera menyuruh wanita itu masuk. wanita itu berjalan dengan tubuh yang meliuk - liuk di balik balutan mini dress dan Blazzer berwarna putih.
"Huh panas sekali... " Alana melirik ke arah Ken sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangan. namun, Ken hanya meliriknya.
Alana melirik ke arah name tag yang melekat di baju wanita itu.
Alice Maurrent
Private Secretary
"Sekretaris pribadi?" kedua mata Alana membulat.
"Ken punya sekretaris pribadi? Kenapa aku tidak tau? Pantas saja dia betah. Sekretarisnya cantik dan seksi seperti itu," gerutu Alana sembari mengernyitkan dahinya karna kesal.
"Kenapa dia dari tadi cemberut seperti itu?" gumam Ken yang saat ini sedang memperhatikan Alana.
Saat wanita yang memiliki jabatan sebagai sekertaris pribadi itu pergi. Ken segera berjalan menghampiri Alana.
"Kau kenapa?" tanya Ken.
"Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa tapi cemberut saja. Bicaralah!" perintah Ken.
"Kau punya sekretaris pribadi? Cantik ya? Pantas saja kau betah," ujar Alana sambil melirik tajam ke arah Ken.
"Sekretaris pribadi? Aku mana punya!" Ken menggeleng kepalanya sambil duduk di samping Alana.
"Lalu tadi? wanita cantik itu?" tanya Alana.
"Itu sekretaris pribadi Papa. kalau Papa kan memang perlu sekretaris pribadi untuk mengatur jadwal pertemuannya dengan client. kalau aku untuk apa punya sekretaris pribadi? cukup kau dan Jesslyn saja yang membuatku pusing," ujar Ken.
"Pusing kenapa?" Alana melototkan kedua matanya.
"Astaga, salah bicara lagi..." gumam Ken.
"Pusing kenapa?" tanya Alana kembali.
"Tidak apa-apa lupakan..." seru Ken.
Baru saja duduk, beberapa orang laki-laki terlihat masuk ke ruangan itu. Ken segera beranjak dari duduknya dan berpindah ke tempat semula.
Alana yang sejak tadi memperhatikan suaminya yang sedang sibuk bekerja. Ia kini merasa bosan. Bahkan, rasa kantuk yang melanda, membuat wanita itu menguap berkali-kali, tak sedikit matanya terlihat berair. Karna tak bisa menahan rasa kantuknya, Alana tak sadar bahwa dirinya saat ini sedang ketiduran di atas sofa.
Ken hanya melirik dari meja kerjanya dan tersenyum melihat istrinya yang sedang tidur hingga membuat laki-laki itu bersemengat agar segera cepat menyelesaikan pekerjaannya. Saat di rasa pekerjaannya sudah selesai. Ken beranjak dari tempat duduknya dan kembali menghampiri Alana.
"Kasian dia..." Ken tersenyum dan mencium pipi Alana dengan gemas hingga membuat Alana terbangun karenanya.
"Ken... " Alana berucap sambil mengucek kedua matanya yang masih buram.
"Bagaimana? Nyenyak tidurmu?" tanya Ken.
"Tidak! memangnya siapa yang tidur?" bantah Alana.
"Kau tadi tidak tidur?" tanya Ken.
"Tidak... siapa yang tidur. lihatlah aku tidak tidur, kan." Alana menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melebarkan kedua matanya kepada Ken.
"Oh, kau tidak tidur? Baiklah..." Ken terpaksa mengiyakan apa kata Alana.
"Kapan kau menyelesaikan pekerjaanmu? Aku sangat bosan, Ken." Alana menggelayuti tangan suaminya tersebut.
"Di rumah bosan, di sini bosan, di mana-mana kau selalu bilang bosan... Seperti Jesslyn saja kau ini," seru Ken dengan kesal.
"Memang membosankan. tidak ada yang menyenangkan!" saut Alana.
"Begini saja, aku antar kau ke boutique sekarang. Nanti aku akan menjemputmu, Bagaimana?" tanya Ken. Alana mengiyakannya dengan penuh semangat. Ken pun segera mengantar Alana ke boutique yang di tuju.
"Kau mungkin belanja akan memakan waktu sekitar setengah jam. nanti 15 menit setelah kau belanja aku akan menjemputmu," ujar Ken sambil memberikan Alana beberapa lembar uang dari dalam dompet yang baru saja ia ambil dari saku celananya.
"Jangan ke mana-mana sebelum aku menjemputmu!" seru Ken.
"Iya, cerewet sekali!" gerutu Alana sambil turun dari mobil.
"Bye, Ken. hati-hati... " Alana melambaikan tangannya ke arah mobil Ken yang baru saja melaju meninggalkan tempat itu.
***
Setelah Alana selesai membeli gaun di boutique langganan Mama Merry untuk menghadiri acara pesta pertunangan Adam yang akan di adakan nanti malam. Alana segera keluar dari boutique itu dan duduk di kursi besi yang ada di depan boutique sembari menunggu Ken datang.
Kedua mata Alana mengikuti setiap gerak orang yang lewat di depannya. bahkan membuat wanita itu menguap berkali-kali. Namun, Ken tak kunjung datang. ia merogoh tas miliknya untuk mengambil ponsel.
"Oh iya... Aku kan tidak membawa ponsel." Alana menepuk dahinya. Lagi-lagi ia harus menunggu, bahkan lebih dari waktu yang semestinya.
"Kenapa Ken lama sekali? Tadi bilang 15 menit. Tapi, ini sudah lebih dari 45 menit." Alana berkali-kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dan tak lama kemudian, mobil Ken terlihat berhenti di seberang sana, ia membunyikan clackson berulang kali berharap Alana segera menhampirinya. namun, Alana malah berpura-pura seolah tak melihatnya.
"Sepertinya, dia sengaja." Ken pun turun dari mobil dan menghampiri Alana. namun, Alana masih berpura-pura tak melihatnya.
"Alana... " panggil Ken. Alana seketika langsung menoleh dan menatap Ken dengan kesal.
"Kenapa tidak sekalian menjemputku besok pagi saja?" seru Alana.
"Maaf, aku tadi terlupa sesuatu. Ayo sekarang kita pulang." Ken menarik tangan Alana dan mengajaknya menyebrang jalan menuju ke mobil. Alana masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang di tekuk.
"Kau sudah membeli gaun?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
"Jangan cemberut aku tidak suka!" tegur Ken.
"Aku sungguh kesal denganmu! Aku menunggumu hampir satu jam! Kalau kau tadi tidak bisa menjemput, kan bisa bilang. biar aku naik taxi!" seru Alana.
"Maaf... aku kan sudah bilang aku terlupa sesuatu." Ken mencoba meyakinkan Alana hingga Alana bisa sedikit mengertikan alasannya. Ken segera melajukan mobilnya menuju untuk pulang ke rumah.
***
Malam harinya, Ken dan alana terlihat bersiap-siap untuk menghadiri pesta pertunangan Adam. Alana mengenakan balutan long gown berwarna peach yang sempat ia beli tadi, dengan rambut panjangnya yang di biarkan menggantung begitu saja, membuat Alana terlihat cantik dan terkesan anggun. terlebih lagi, polesan make up tipis yang semakin menambah kecantikannya.
Sementara, Ken. Ia malam itu terlihat nampak berbeda dengan setelan jas berwarna abu-abu yang membaluti tubuh kekarnya.
Ken yang sudah terlihat rapi, segera menghampiri Alana yang sedang sibuk berdandan di depan cermin. ia melingkarkan tangannya di tubuh Alana hingga membuat Alana terkejut.
"Kau sudah selesai?" tanya Alana.
"Kenapa kau berdandan saja lama sekali?" tanya Ken yang kini memperhatikan Alana yang terlihat begitu cantik.
"Kenapa melihatiku seperti itu?" tanya Alana.
"Tidak apa-apa, kau terlihat cantik sekali..." puji Ken.
"Kau ini senang sekali mengajakku berdebat! Aku kan hanya bercanda, biar kau senang saja!" seru Ken dengan terkekeh.
"Kau tadi hanya bercanda?" tanya Alana dengan mengerucutkan bibirnya.
"Berangkat saja sana sendiri, aku tidak mau ikut!" seru Alana.
"Astaga... aku hanya bercanda, kau benar-benar cantik. begitu saja marah!" seru Ken.
"Sudah, jangan marah!" imbuhnya.
"Nanti, setelah acara aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Ken bertutur dengan suara terendahnya sambil menyentuh kedua pipi Alana.
"Kemana?" tanya Alana.
"Nanti, kau akan tau."
Ting Tong
Ting Tong
Ting Tong
Suara Bell berbunyi berkali-kali.
"Bi Ester sepertinya sibuk, sebentar aku akan membuka pintu," pamit Alana. Ken mengiyakannya.
Alana berjalan sambil membalutkan jam di pergelangan tangannya. ia segera keluar dari kamar untuk membukakan pintu rumah. dan saat itu juga, ia berpapasan dengan Bi Ester yang hendak membukakan pintu itu juga.
"Biar Alana saja, Bi." Bi Ester seketika kembali masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaannya. Alana membuka pintu rumahnya. dan di depan pintu, terlihat dua orang laki - laki berpakaian rapi. mereka tak lain ialah David dan Ashley.
"Kalian?" sapa Alana. kedua mata David tak lepas memandangi Alana yang terlihat begitu cantik dan anggun. rasanya benar-benar menyejukan hatinya. namun sayang, wanita itu sudah menjadi milik sahabatnya.
"Mana Ken?" tanya David..
"Ada di dalam, ayo masuklah."
"Kau cantik sekali Alana?" puji Ashley secara terang-terangan.
"Kalau kau yang cantik kan tidak lucu... ayo masuklah!" perintah Alana. ia membuka lebar pintu itu dan membiarkan sahabat suaminya itu leluasa masuk ke dalam rumah. Alana mempersilahkan tamunya tersebut untuk duduk. kemudian, ia masuk ke dalam menemui Ken di kamar.
"Siapa?" tanya Ken yang saat ini sedang sibuk memasang sepatu fantovelnya.
"Ashley dan David." Alana kembali berdiri di depan cermin dan memperhatikan sekilas penampilannya.
"Sudah cantik! daritadi bercermin saja!" ujar Ken tanpa melihat ke arah Alana.
"Hehe, aku tidak mau mempermalukanmu," ujar Alana. setelah Ken membalutkan sepasang sepatu di kedua kakinya. ia berjalan mendekati Alana dan sejenak memperhatikan wanita itu.
"Kau tidak pernah mempermalukanku," ucap Ken.
***
Ken dan Alana segera keluar menemui David dan Ashley yang sedang menunggunya di luar.
mereka berempat segera berangkat ke pesta pertunangan Adam dengan menggunakan dua mobil.
setibanya di sana. mereka berdua segera masuk ke gedung yang sudah di penuhi oleh kerumunan banyak orang yang menghadiri acara tersebut.
Ken mengajak sahabat dan istrinya untuk menemui Adam dan calon istri sahabatnya itu. mereka memberi ucapan selamat kepada Adam dan membekalinya dengan doa. Adam juga tak lepas memperhatikan Alana yang nampak begitu berbeda di banding minggu lalu saat di mana pertama kali dirinya bertemu istri sahabatnya itu.
"Istrimu cantik sekali, Ken." Adam berbisik kepada Ken sambil menyenggol bahunya. namun Ken hanya diam saja dan memperhatikan Alana yang sedang melihat ke sana kemari seakan sedang kebingungan melihat begitu banyaknya orang yang ada di sana.
"Apa kau haus?" tanya Ken yang saat ini mendekati Alana.
"Iya, aku haus sekali..."
"Tunggulah di sini, aku akan mengambilkan minuman untukmu.
"Tidak usah, biar aku sendiri saja yang mengambil minum..." Alana segera berlalu pergi dari sana dan mendekati meja minuman.
***
Saat Alana hendak kembali setelah mengambil minuman yang letaknya ada di ujung meja sana. beberapa laki-laki tak sengaja menabraknya hingga membuat gelas yang saat itu di pegang oleh Alana terjatuh menyentuh lantai dan pecah seketika. suara pecahan gelas itu membuat perhatian semua orang tersita melihat ke arah Alana.
"Ya Tuhan, lagi-lagi aku membuat kekacauan." Alana menundukan pandangannya karna malu.
"Maaf, Nona. apa kau baik-baik saja?" salah satu dari laki-laki itu memegang tangan Alana dan mencoba memastikan.
"Tidak! tidak apa-apa." Alana sontak menjauhkan tangannya. Alana merasa malu karna menjadi sorotan semua orang karna begitu ceroboh.
"Maaf, aku tidak sengaja!" ujar laki-laki itu. Alana hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Apa kau bisa berhati-hati sedikit? gunakan matamu jika berjalan!" seru Ken yang tiba-tiba datang menghampiri Alana dan memasang wajah tak suka kepada laki-laki yang telah menabrak istrinya itu.
"Maaf, lain kali aku hati-hati..." laki-laki itu berlalu pergi dari sana.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ken sembari menyentuh lengan Alana. Alana menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Jangan!" Ken melarang Alana yang hendak memunguti serpihan gelas yang tercecer di lantai itu.
"Ken, maaf. aku membuat kekacauan di pesta sahabatmu. aku benar-benar tidak sengaja, tolong maafkan aku..." ucap Alana sambil menggigit bibirnya karna merasa tidak enak.
"Kenapa minta maaf? tidak apa-apa, aku tidak marah," tuturnya dengan suara terendahnya.
"Ayo kita ke sana..." ajak Ken. ia merengkuh tangan Alana dan hendak mengajaknya pergi menemui teman-temannya.
"Ken..." langkah kaki Ken dan Alana terhenti saat seorang wanita tiba-tiba berhenti menghalangi jalannya.
"Ken?" wanita itu tersenyum kepada Ken.
"Valerie?" Ken seketika melepaskan tangan Alana dari genggamannya, bahkan, Alana melihat sendiri bagaimana saat Ken melepaskan tangannya itu.
"Valerie?" Alana mengulang nama itu dalam hati. telinga Alana tersentak saat Ken berucap nama itu. nama yang tak asing di telinga Alana.
"Wanita ini yang bernama Valerie?" kedua mata Alana memperhatikan wanita yang tersenyum kepada suaminya. bahkan, lesung pipit yang mengapit di kedua pipinya semakin mempercantik senyuman wanita itu.
"Kau menghadiri pesta Adam juga?" tanya Ken.
"Iya, tentu saja. aku menghadirinya," ucap Valerie. Alana masih tak bergeming memperhatikan Valerie, bahkan, lesung pipit wanita itu selalu nampak setiap kali dirinya berbicara.
"Lama kita tidak bertemu... kapan kau kembali dari Amerika?" tanya Valerie sambil menjabat tangan Ken dan Ken membalasnya.
"Sudah 3 bulan yang lalu," ucap Ken.
"Oh..." Valerie membulatkan bibirnya. kemudian, wanita itu kini melirik ke arah Alana yang saat ini berdiri di samping Ken. Alana tersenyum kepadanya. namun, ia tak mendapatkan balasan yang sama dari Valerie.
"Ehm, apa dia kekasihmu, Ken?" tanya Valerie dengan pertanyaan yang sedikit ragu.
"Bukan! dia bukan kekasihku." jawaban Ken sempat membuat Valerie lega mendengarnya.
"Dia istriku..." imbuhan kata Ken yang belum sempat terucap membuat kedua mata Valerie melebar seakan terkejut mendengarnya.
"Istri?" tanya Valerie sambil melirik ke arah Alana. Alana tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Ka-kau sudah menikah?" tanya Valerie.
"Iya, aku sudah menikah. ini Alana istriku," Ken melingkarkan tangannya di pinggang Alana.
"Hai Nona Valerie?" sapa Alana. ia hendak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Valerie. namun, Valerie hanya melambaikan tangannya kepada Alana.
"Kenapa kau tidak memberitauku jika sudah menikah, Ken? ehm, maksudku... kenapa kau tidak mengundangku?" tanya Valerie. tatapan matanya seakan di penuhi rasa kecewa.
"Aku hanya mengundang kerabat dan keluarga saja," ujar Ken.
"Kata Adam kau akan segera menikah? mana calon suamimu?" tanya Ken.
"Ehm, a-aku, aku hanya datang sendiri di sini," ucap Valerie.
"Oh, baiklah.. aku permisi dulu. aku mau ke temanku," pamit Ken. ia semakin melingkarkan tangannya di pinggang Alana dan mengajak istrinya itu berlalu dari sana. Valerie memperhatikan Ken dan Alana yang semakin jauh dari jangkauan matanya.
"Bahkan, dia tidak pernah memberiku kesempatan,"gumam Valerie dengan raut wajah yang bersedih dan kedua tatapan matanya terlihat begitu sendu.
***
"Valerie cantik sekali. bahkan terlihat sangat anggun, pantas banyak yang menyukai dan memuji-mujinya. tidak mungkin jika Ken hanya berteman dengan wanita secantik itu," gumam Alana sambil menelan keras ludahnya. pikirannya saat ini di penuhi pertanyaan tentang wanita itu.
"Alana, ayo kita makan," ajak Ken. namun Alana hanya diam saja dan malah memperhatikan Ken.
"Alana?"
"Dia yang bernama Valerie?" tanya Alana dengan suara terendah. Ken sejenak terdiam dan bergantian memandang keda bola mata Alana yang menatapnya dengan begitu sendu. kemudian, Ken mengangguk tanpa bersuara.
"Ayo kita makan..." ajak Ken kembali seolah tak ingin membahas hal itu.
"Apa benar kalian hanya berteman?"
"Maksudku, bagaimana bisa laki-laki dan perempuan bisa berteman dengan akrab, kecuali--"
"Kecuali apa?" tukas Ken dengan menatap tajam Alana dan sedikit mengeraskan suaranya.
"Jangan membuatku marah di sini!" seru Ken. Alana seketika langsung diam dan menatap Ken dengan tatapan sendu. hati Alana merasa tak tenang.
"Aku sudah berbicara berulang kali kepadamu! dan kau tidak mempercayainya?" imbuh Ken.
"Bukan seperti itu, Ken." Alana menggeleng kepalanya.
"Lalu apa?"
"Ken, apa kita bisa berbicara sebentar?" tiba-tiba Valerie datang memutus pembicaraan Ken dan Alana.
"Jika ingin berbicara. bicaralah di sini!" perintah Ken tanpa menatap Valerie.
"Sebentar saja, Ken. aku ingin berbicara berdua." Valerie meminta dengan penuh harap. Ken terdiam dan memandang Alana.
"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu di sini," kata Alana mencoba memaksa senyumnya. Ken dengan kesal berlalu dan berjalan mendahului Valerie.