My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Suka sekali



Ken mengeluarkan ponsel milik Alana dari dalam saku celananya. ia memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. sebelumnya, saat Ken keluar dari cafe dan  hendak kembali ke kantor. ia terlebih dulu menghapus History percakapan pesan singkat antara Brianna yang mengajak Alana  untuk bertemu.


"Kenapa ponselku ada di dirimu?" tanya Alana sambil memiringkan kepalanya.


"Tadi terjatuh di bawah kursi mobil. kau terlalu ceroboh!" ujar Ken.


"Astaga." Alana menepuk jidatnya.


"Untung jatuhnya di mobilmu." Alana terkekeh.


"Oh, iya, Ken. aku membuatkan kue untukmu." tangan Alana mulai di sibukan mengeluarkan kotak kue dari kantong palstik yang sempat ia bawa. kemudian, ia membuka kotak tersebut. seketika itu, bau harum yang berasal dari  kue itu menyeruak di indera penciuman Ken.


"Baunya manis sekali." Ken berulang kali mengendus aroma kue itu.


"Sama seperti diriku, kan." Alana menimpalinya dengan melebarkan senyumnya.


"Terserah kau saja mau bicara apa." Ken dengan gemas mengacak-acak rambut Alana.


"Ku ini selalu saja, mengacak-acak rambutku!" Alana merapikan rambutnya dengan bibir yang mengerucut kesal.


Alana mengambil salah satu kue itu dan memberikannya kepada Ken. Ken dengan cepat mengambil kue itu dan melahapnya dengan rakus.


"Pelan-pelan! kau ini seperti anak kecil yang tidak pernah makan kue saja," tutur Alana. namun, Ken tak memperdulikannya. ia sibuk memakan kue itu. bahkan tak sedikit remahan kue itu ikut masuk ke dalam mulutnya.


"Bagaimana? enak?" tanya Alana.


"Lumayan..." saut Ken. jawaban itu selalu membuat Alana kecewa. namun, setidaknya ia senang karna Ken sangat menyukai kue buatan mililknya. Ken mengambil satu lagi kue dari tempatnya. kemudian, ia mencuil sebagian kue itu dengan tangannya.


"Buka lebar mulutmu!" Ken menyodorkan cuilan kue itu mendekati mulut Alana. Alana segera membuka mulutnya dan melahap kue itu hingga giginya menyentuh jari tangan Ken. Ken sontak menjauhkan tangannya.


"Kenapa tidak kau gigit saja tanganku sampai putus?" seru Ken.


"Maaf, aku hanya bercanda." Alana terkekeh dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


Suara getar ponsel yang bersentuhan dengan meja. membuat Alana bergerak untuk segera meraihnya. terlihat satu pesan singkat masuk dari Jesslyn. Alana segera membuka isi pesan dari adik iparnya itu.


Alana, sepulang ku dari kampus. apa kau mau makan dan minum kopi bersamaku dan Kimmy? ~ Jesslyn.


Tentu saja mau ~ Alana.


Baiklah, 2 jam lagi kita bertemu di Coffee shop milik Kakak, ya. ~ Jesslyn.


Okay ~ Alana.


Alana mengakhiri pesan singkat itu. ia mengembalikan ponsel miliknya ke tempat semula. ia menatap Ken dengan tatapan penuh harap. ia masih menyusun kata-kata untuk meminta izin kepada suaminya itu.


"Ada apa? tanya Ken.


"Ehm, Ken, aku mau pergi makan dan minum kopi bersama Jesslyn dan Kimmy. apa boleh?" tanya Alana dengan penuh harap. Ken terdiam sejenak


"Di mana?" tanya Ken.


"Di Coffee shop milikmu," ujar Alana. namun Ken hanya diam saja dan menatap Alana.


"Tidak boleh, ya?" tanya Alana dengan memelaskan wajahnya. rasanya Ken begitu gemas melihat raut wajah wanita yan ia cintai itu begitu menjengkelkan.


"Boleh, asal setelah itu langsung pulang," jawab Ken. Alana langsung melebarkan senyumnya.


"Terimakasih, Ken." Alana seketika memeluk erat tubuh Ken.


***


Dua jam kemudian, Alana menerima pesan singkat lagi dari Jesslyn yang mengatakan bahwa perempuan itu sudah pulang dari kampus dan akan segera menuju ke tempat yang sudah telah di rencanakan awal. Alana segera bersiap-siap.


"Aku akan mengantarkanmu." Ken yang kala itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. ia segera beranjak berdiri dan meraih kunci mobil yang kala itu tergeletak di atas meja kerjanya.


"Tidak usah, Ken. aku akan naik taxi saja. kau kan sedang bekerja, aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu," ujar Alana sambil menyelempangkan tas miliknya.


"Tidak apa-apa, sayang. kau sama sekali tidak mengganggu pekerjaanku." ujar Ken seraya menyibakan rambut Alana dengan kedua tangannya. Alana begitu terkesiap dengan panggilan yang tiba-tiba  menyenangkan hatinya itu. ia sungguh menyukai panggilan itu. namun, ia mencoba memastikan kembali.


"Sayang?" tanya Alana dengan melebarkan kedua matanya. Ken menaikan kedua alisnya.


"Kenapa? kau tidak suka aku memanggilmu seperti itu?" tanya Ken.


"Suka sekali." wajah Alana berubah menjadi bersemu merah merona. rasanya, Alana seperti anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta. seindah itu.


"Ya sudah, ayo aku akan mengantarmu." Ken mencoba menarik tangan Alana.


"Tidak usah, Ken. aku naik taxi saja, ya."


"Tidak usah pergi!" seru Ken seraya menautkan kedua alisnya.


"Permisi, Tuan." terlihat Vannya yang tiba-tiba berdiri dan mengetuk pintu ruangan Ken hingga  membuat Ken dan juga Alana menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar itu.


"Ada apa?" tanya Ken dengan suara yang terdengar masih kesal.


"Tuan Ken, ada beberapa Client Tuan Gio yang ingin bertemu dengan anda," ujar  Vannya. Ken seketika langsung berdecak.


"Aku kan sudah bilang, aku pergi sendiri saja naik taxi," ucap Alana. Ken sejenak memandang Alana.


"Jangan naik taxi. biar kau di antar oleh sopir saja," tutur Ken dengan nada suara yang terdengar lembut.


"Suruh mereka menunggu sebentar aku mau mengantar istriku dulu ke lobby," tutur Ken. Vannya mengiyakannya.


"Ayo..." Ken merengkuh pinggang Alana dan mengajak istrinya itu untuk berjalan beriringan. bahkan,  ia melewati Vannya tanpa permisi dan keluar dari ruangan itu.


"Sialan, aku sangat iri dengan wanita itu. bagaimana bisa dia  membuat Ken melunak seperti itu? bahkan, selama aku 8 tahun bekerja di sini, aku tidak pernah mendengar tutur kata Ken yang lembut seperti itu. dia selalu berbicara dengan nada yang acuh." Vannya memegangi dadanya dan  menggertakan kakinya dengan kesal. ia mengikuti Alana dan Ken dar belakang.


Ken mengajak Alana masuk ke dalam lift untuk turun ke lobby dan di ikuti oleh Vannya. kebetulan, lift yang ada di dalam kantor itu sudah selesai di perbaiki.


Di dalam Lift. Ken terlihat melipat kedua tangannya di atas perut dan bersandar. sedangkan, Alana berdiri tepat di depan Ken. dan Vannya berdiri di dekat pintu lift, tak sedikit lirikan matanya mencoba menjangkau Alana dan Ken yang saat ini ada di belakangnya.


"Silahkan, Nona... Tuan..." Vannya menahan tombol open agar lift tetap terbuka, Ken yang hendak keluar dari sana, langkahnya di halangi oleh tubuh Alana. rupanya, Alana memang sengaja ingin menggoda suaminya itu. bahkan tak sedikit senyuman yang menahan di wajah cantiknya. Ken menggeleng kepalanya dan tersenyum.


"Kau ini suka sekali menggodaku." Ken memeluk Alana dari belakang dan mencium kepalanya.


"Ken lepaskan aku!  ada Nona Vannya." bisikan Alana terdengar jelas di telinga Vannya. membat wanita itu semakin panas di buatnya.


"Makanya jangan menggodaku!" Ken merangkul bahu Alana dan segera keluar dari lift itu.


"Sial... sial... sial... tidak sopan." Vannya mengumpat dengan kesal.


"Setiap kali melihat kemesraan mereka. rasanya aku ingin bunuh diri saja!" Vannya tak henti-hentinya bersungut dalam hati sembari memperhatikan Ken dan Alana yang saat ini berjalan di depannya.


Ken menyuruh salah satu sopir perusahaan yang biasa mengawal Papa Gio. dengan sigap sopir itu menyiapkan mobilnya untuk segera mengantar Alana.


"Nanti, jika pekerjaanku selesai aku akan menjemputmu. kabari aku jika sudah sampai. dan aku juga titip Jesslyn," tutur Ken. Alana mengiyakannya dengan penuh semangat.


"Hati-hati membawa mobilnya, jangan mengebut!" perintah Ken kepada sopir itu.


"Siap, Tuan."


"Bye, Ken. semangat kerjanya." Alana segera masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya kepada suaminya tersebut. saat di rasa mobil yang di tumpangi Alana pergi dari sana. Ken segera masuk kembali ke dalam kantor.


"Di mana client Papa?" tanya Ken kepada Nona Vannya yang sedari berdiri di belakangnya.


"Ada di lantai lima, Tuan. mari saya antarkan." Vannya membiarkan Ken berjalan mendahuluinya.


***


Jesslyn duduk di depan gerbang kampus sembari menunggu Jasson yang hendak menjemputnya. karna, Jasson sedang dalam perjalanan. sudah lebih dari  15 menit Jesslyn menunggu saudaranya di tempat itu. namun, Jasson tak kunjung juga datang. mulut Jesslyn tak henti menggerutu kesal, karna rasa tak sabar akan menunggu, jari-jari tangannya menyelip ke dalam tas yang ada di pangkuannya. ia meraih ponsel dan segera mengirim pesan singkat kepada saudara kembar laki-lakinya tersebut.


Lama sekali, kau ketiduran di jalan? ~ Jesslyn.


Jasson, ayo cepatlah! ~ Jesslyn.


Cerewet! ~ Jasson.


Kau ini jadi menjemputku atau tidak! nanti Alana terlalu lama menungguku! ~ Jesslyn.


Kalau tidak sabar menunggu, naiklah taxi sendiri! ~ Jasson.


Ya sudah, aku akan bilang kepada Papa kalau kau menyuruhku naik taxi. ~ Jesslyn.


Bisanya hanya mengancam. sabarlah sebentar, dasar nenek tua! ~ Jasson.


"Jasoonnnn!" Jesslyn setengah berteriak dan reflek hendak melempar ponselnya karna kesal terhadap saudaranya tersebut.


"Oops, untung tidak aku lempar." Jesslyn terkekeh. sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan Jesslyn. Jesslyn menyipitkan kedua matanya memperhatikan kaki mulus seorang wanita yang baru saja  turun dari mobil itu.


"Jesslyn..." ketika melihat kilas wajah dan mendengar suara cempreng dari wanita itu. Jesslyn mengumpat kesal. wanita itu tak lain ialah Kimmy. dengan ransel kecil  di punggungnya, Kimmy berjalan cepat mendekati Jesslyn dan mendudukan tubuhnya di samping temannya itu.


"Kau kenapa kemari?" tanya Jesslyn.


"Kan kita mau ke cafe bertemu dengan Alana. kau ini bagaimana?" seru Kimy seraya memukul pelan kepala Jesslyn.


"Aku, tau bodoh! maksudku, kenapa kau tidak langsung ke cafe saja! kan aku bilang kita bertemu di cafe!" ujar Jesslyn.


"Aku tadi sudah ke coffee shop milik Kakak Ken. tapi kau dan Alana  tidak ada di sana. ya sudah, aku menjemputmu saja kemari! kita berangkat bersama-sama menggunakan mobil Jasson." Kimy melebarkan senyumnya dengan begitu polos.


"Jangan tersenyum seperti itu. aku sungguh geli melihatnya!!" seru Jesslyn.


"Ya sudah, jika geli jangan di lihat!" Kimmy langsung merengutkan wajahnya.


Tak lama kemudian, sebuah mobil putih yang tak lain milik Jasson berhenti di sana. kaca pintu mobil itu terbuka sebagian hingga menampakan wajah Jasson dengan kacamata hitam yang melapisi kedua lingkaran matanya. Jesslyn dan Kimmy segera beranjak dari tempat duduknya.


"Cepat masuk! menyusahkan saja!" perintah Jasson tanpa memandang ke arah Kimmy dan juga Jesslyn.


"Hai, Jasson. lama tidak bertemu." Kimmy melambaikan tangannya kepada Jasson. namun, Kimmy tak mendapatkan respon apapun dari laki-laki itu. Kimmy sedikit kecewa, namun, tak mengubah wajah cerianya sama sekali


Jesslyn dan Kimmy segera masuk ke dalam mobil. dan di samping Jasson terlihat Harry yang duduk di sana sambil melingkarkan senyumnya yang jelas di tujukan kepada Jesslyn. Jesslyn membuang tatapan yang tidak menyenangkan kepada Harry.


"Lama sekali!" gerutu Jesslyn sembari menutup keras pintu mobil itu. dan di ikuti oleh Kimmy.


"Jesslyn, Maaf. gara-gara aku, Jasson jadi terlambat menjemputmu," ujar Harry.


"Pengacau! kau memang pengacau!" Jesslyn melototkan kedua matanya kepada Harry.


"Turun!" teriak Jasson yang saat ini menoleh dan menatap tajam saudara kembarnya itu.


"Kenapa kau menyuruhku turun?" tanya Jesslyn, suaranya terdengar begitu nyolot.


"Kau selalu saja membuat masalah! jika kau membuat keributan di dalam mobilku aku tidak akan segan menurunkanmu dan temanmu ini di tengah jalan, kau mengerti!!" seru Jasson. Jesslyn membungkam tak mau membantah karna ia merasa membutuhkan Jasson. padahal, hatinya sudah mengumpat habis-habisan  akan rasa kekesalannya. ia hanya bisa menampakan wajahnya yang merengut.


"Kenapa aku jadi di bawa-bawa? kan aku tidak membuat keributan!" Kimmy berkomentar sambil melebarkan kedua matanya. Jasson mengalihkan tatapan dingin ke arah Kimmy. hingga wajah Kimmy bersembunyi di balik rasa takutnya. tangan Kimmy mengunci mulutnya yang ikut lancang berbicara.


"Maaf..." Kimmy menundukan pandangannya. sesekali ia melirik Jasson yang tak mau  melepaskan tatapan dingin itu. Jasson membuang wajahnya dengan kesal. ia segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera melajukan mobil itu ke tempat yang menjadi tujuan saudara kembarnya.


***


Setibanya di coffee shop milik Ken.  Jasson menghentikan mobilnya di parkiran. namun, Jesslyn dan Kimmy tak berpindah sama sekali dari tempat duduknya.


"Menunggu apa? menunggu aku usir?" tanya Jasson tanpa melihat ke belakang.


"Sebentar! tunggu Alana. dia masih dalam perjalanan,: jawab Jesslyn. ia sibuk menyentuh layar ponselnya untuk mengirim pesan singkat kepada Alana. bahwa dirinya sudah sampai di lokasi.


"Menyebalkan! awas saja. aku akan mengadukan kau ke Papa dan Kakak. kau dari tadi memarahiku!" ucap Jesslyn dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayo, Kimmy." Jesslyn membuka pintu mobilnya dan segera turun dari sana.


"Jasson, aku turun, Ya." Kimmy membuka pintu mobil dan mengikuti Jesslyn.


"Kau turun atau pergi sejauh mungkin, aku mana peduli." Jasson bersungut kesal.


"Jasson, kau ini kenapa marah-marah? kasihan Jesslyn," tutur Harry.


"Biarkan saja, aku kesal! dia sudah dewasa, tapi bertingkah seperti anak kecil. apalagi temannya itu. selalu saja membuatku pusing," decak Jasson sambil mengernyitkan dahinya.


"Wajar saja, Jesslyn dari kecil kan memang seperti itu," ujar Harry. Jasson melirik ke arah Harry.


"Ku rasa dari dulu kau sangat memperhatikan Jesslyn, ada apa memangnya?" tanya Jasson dengan menyipitkan kedua matanya.


"Ehm, ma-maksudku. kan dari kecil kita selalu main bersama, jadi wajar kan aku memperhatikan dia, pertanyaanmu ada-ada saja," ujar Harry.


"Ku kira." Jasson menarik salah satu sudut bibirnya.


"Kau tidak ingin turun? kita minum kopi sebentar," ajak Harry.


"Aku malas sekali dengan Kimmy," ucap Jasson dengan suara termalasnya.


"Kenapa dengan Kimmy? dia sangat cantik bukan?" tanya Harry.


"Dia terlalu berlebihan. Aku tidak menyukai wanita barbar seperti itu," Jasson membuang tatapan wajahnya ke sembarang arah.


"Barbar apanya? Kimmy sangat polos dan lucu, meskipun dia terlihat bodoh. tapi dia sangat pintar," tutur Harry. namun Jasson hanya diam saja.


"Aku heran, tipe wanita yang seperti apa yang kau inginkan?" tanya Harry.


"Seperti Alana," bibir Jasson berucap tanpa sadar.


"Alana?" Harry mengernyitkan keningnya.


"Ma-maksudku, yang sikapnya ke ibuan dan tidak banyak bertingkah seperti Alana," Jasson mencoba membantah apa yang sempat tadi ia ucapkan.


"Oh..." Harry membulatkan bibirnya.


"Ehm, ayo kita minum kopi. turunlah dulu dan carikan tempat. jika kau menemukan tempat. beri tau aku lewat pesan singkat! cari tempat duduk yang jauh dari jangkauan Kimmy dan Jesslyn!" perintah Jasson.


"Hah, kau selalu saja seperti itu. baiklah, aku akan mencari tempat di dalam." Harry menepuk bahu Jasson dan segera turun dari mobil untuk masuk ke dalam cafe.


***


Alana terlihat baru saja tiba di coffee shop. kaki jenjangnya yang baru saja turun dari mobil mengajaknya untuk melangkah menemui Jesslyn dan Kimmy yang begitu heboh meneriaki namanya dari kejauhan.


saat tubuh Alana mendekati meja yang menjadi tempat pilihan Kimmy dan Jesslynb untuk duduk. mereka berdua segera merengkuh tubuh Alana dan saling memeluk satu sama lain.


"Alana, aku sangat merindukanmu." Jesslyn dan Kimmy begitu heboh seakan tak pernah bertemu dengan Alana selama bertahun-tahun lamanya.


"Aku juga merindukan kalian." tiga wanita itu akhirnya duduk melingkar di sana. mereka bertiga mengobrol dan tertawa dengan begitu renyah. rasanya, hanya mereka bertiga-lah yang paling memecah keramaian di heningnya suasana cafe itu.


Jesslyn melirik ke arah kalung yang menggantung dengan indah di leher Alana. ia juga melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. senyuman cantik menyeringai wajah Jesslyn.


"Pasti Kakak yang memberikan ini untukmu," ujar Jesslyn sambil menyentuh kalung milik Alana.


"Iya, Ken memberikan ini untukku." Alana melebarkan senyumnya.


"Cantik sekali. ini berlian mahal." Kimmy memperhatikan kalung Alana dengan begitu seksama.


"Bagi Kakak, ini tidak ada harganya untuk orang yang paling berharga," ucap Jesslyn. Alana mengernyit menyamakan perkataan Ken yang begitu mirip dengan apa yang baru saja di katakan oleh Jesslyn.


"Iya kan Alana?" tanya Jesslyn.


"Iya, Ken juga berkata seperti itu kepadaku." Alana menimpalinya dengan penuh tanda tanya.


"Kakak juga memberi kalung berlian dengan jenis yang sama seperti ini untukku dan Mama. Kakak selalu bilang, aku dan Mama sangatlah berharga. dan sekarang, kau juga sangat berharga bagi Kakak," ujar Jesslyn dengan memegang erat tangan Alana.


"Kau, Mama dan Kimmy sangat berharga bagiku. kalian orang - orang baik yang benar-benar mau menerimaku, bahkan kalian tak memiliki waktu lama untuk mengenal diriku. tapi kalian sudah sangat baik terhadapku." ucap Alana dengan mata yang berkaca-kaca. ia mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"Alana, kau jangan berbicara seperti itu. kau membuatku ingin menangis saja." Kimmy memeluk Alana.


"Orang baik pasti akan di pertemukan dengan orang-orang baik pula, Alana.


jangan biarkan orang yang berbuat tidak baik kepada kita mengubah jati diri kita untuk melakukan hal yang sama. kebaikan tidak hanya datang dari satu orang saja, bukan."  Jesslyn ikut memeluk Alana dan menumpahkan rasa harunya tanpa malu meskipun mereka bertiga berada di tempat umum.


Kimmy tiba-tiba melepas pelukannya karna teringat sesuatu. hingga membuat Alana dan dan Jesslyn terhenyak.


"Jesslyn, ponselku mana?" tanya Kimmy.


"Ya mana ku tahu, kenapa kau tanya aku. kau pikir aku pencuri ponsel apa!" saut Jesslyn dengan nada ketusnya.


"Kau tadi meletakannya di mana?" tanya Alana.


"Entahlah, Alana. aku tidak ingat."


"Di mana ponselku? aku harus menghubungi Papa, kalau aku pulang terlambat. nanti Papa pasti khawatir." Kimmy begitu sibuk merogoh tas ransel dan juga saku celananya. namun, ia tak mendapati ponselnya di sana.


"Apa tidak jatuh di mobil Jasson?" tanya Jesslyn.


"Entahlah, aku juga tidak tau." Kimmy begitu kebingungan sambil mengacak-acak rambutnya.


"Itu kan Si Pengacau, sedang apa dia  di sini?" kedua mata Jesslyn menangkap wajah Harry yang terlihat seakan sedang mencari sesuatu.


"Harry berada di sini? berarti Jasson masih ada di sini?" gumam Kimmy.


"Sebentar ya Jesslyn, Alana. aku mau mencari ponselku." Kimmy beranjak dari duduknya dan berlari mendekati Harry. ia menanyakan kebaradaan Jasson. Harry pun memberitau wanita itu, bahwa Jassson masih ada di parkiran. dengan langkah kaki yang terburu-buru. Kimmy segera menghampiri mobil Jasson untuk mencari ponselnya di sana. barangkali saja, ponsel miliknya terjatuh di mobil.


Kimmy melihat mobil milik Jasson masih terparkir di tempat yang sama seperti sebelumnya.


Kimmy menggigit bibir bawahnya dan mendekati mobil itu.


Kimmy hendak mengetuk kaca pintu mobil. namun, Jasson terlebih dulu membuka kaca pintu mobilnya itu.


"Ada apa, kau kemari lagi?" tanya Jasson tanpa menatap Kimmy.


"Jasson, apa kau melihat ponselku?" tanya Kimmy.


"Tidak!" singkat Jasson.


"Apa aku boleh masuk ke dalam mobil? barangkali ponselku jatuh di dalam. karna, aku harus menghubungi Papaku," ujar Kimmy.


"Cepatlah! " seru Jasson. guratan di dahinya menunjukan rasa ketidak nyamanannya akan Kimmy. bukan hanya Kimmy saja, tetapi kepada semua wanita apalagi yang baru saja Jassom kenal. bukankah Jasson selalu bersikap seperti itu kepada semua wanita. kecuali Alana!


Saat Kimmy mendapat izin dari Jasson. ia segera masuk ke dalam mobil dan mencari ponselnya di kursi yang ia duduki tadi. suara dering ponsel miliknya tiba-tiba terdengar begitu nyaring di sana.


"Ponselku..." Kimmy mencari asal suara dari ponselnya itu. ia menelungkupkan tubuhnya di bawah kolong kursi mobil. dan ia melihat ponselnya menyala dan berbunyi  di bawah kolong  kursi mobil itu. tak lama kemudian, suara ponsel itu kembali sunyi. Kimmy mencoba meraih ponsel tersebut dengan tangan kanannya.


"Yeay ponselku." Kimmy begitu girang saat sudah bisa meraih ponsel itu. ia segera beranjak bangun dengan penuh semangat.


Jeduk


"Awwww..." Kimmy tiba-tiba  berteriak saat kepalanya terbentur keras pintu mobil. bahkan, membuat perhatian Jasson tersita ke arahnya.


"Kau kenapa?" tanya Jasson. ia segera turun dari mobil dan menghampiri Kimmy yang saat ini menggelatakan tubuhnya untuk duduk di aspal.


"Kepalaku sakit." Kimmy memegangi bagian kepalanya yang terbentur.


"Kenapa begitu bodoh dan tidak berhati-hati!" Jasson menyentuh kepala Kimmy dan mencoba memastikan apa di sana terdapat luka. namun, ia tak menemukan luka sama sekali di sana. namun permukaan kepalanya seakan tak merata saat ia rabah.


"Hanya sedikit benjol," ujar Jasson.


Namun Kimmy hanya diam saja. ia memejamkan kedua matanya merasakan kepalanya yang berdenyut hebat. benar-benar sakit. bahkan ia merasakan sedikit pusing.


"Kimmy, apa kau baik-baik saja?" tanya Jasson sambil memegang bahu Kimmy.


Jantung Kimmy tiba-tiba berdetak tak karuan. bukankah, ini pertama kalinya. Kimmy berada dengan jarak sedekat ini dengan Jasson?


"A-aku baik-baik saja, terimakasih." Kimmy mencoba menjauhkan tangan Jasson darinya. kemudian, ia mencoba beranjak berdiri dengan bantuan Jasson. ia memegangi kepalanya dan berjalan menjauh dari Jasson untuk kembali menemui Alana dan juga Jesslyn. Kimmy segera pergi dari sana, karna wanita itu benar-benar takut tidak bisa mengendalikan perasaannya di depan laki-laki yang ia suka.


***


"Kau ini lama sekali!" seru Jesslyn kepada Kimmy yang baru saja kembali.


"Maaf." Kimmy mendudukan tubuhnya di tempatnya semula. tangannya tak mau lepas dari kepalanya yang masih merasa sakit akibat benturan tadi.


"Kimmy, kau kenapa? kenapa kepalamu?" tanya Alana.


"Iya, Kimmy. kau kenapa?" Jesslyn terlihat khawatir.


"Tidak! tidak apa-apa. aku baik-baik saja. tadi kepalaku sedikit terbentur pintu mobil. tapi sekarang sudah tidak apa-apa." Kimmy memicingkan kedua matanya. menyesuaikan rasa sakit yang perlahan sirna dengan sendirinya.


"Dasar ceroboh!" seru Jesslyn.


"Kimmy, minumlah dulu." Alana menyodorkan air putih kepada Kimmy. Kimmy segera meneguk habis air itu.


***


Tak lama kemudian, terlihat Jasson masuk di cafe itu. ia terlihat sedang menghampiri Harry yang sedang duduk di meja yang jangkauannya cukup jauh dari meja Kimmy dan juga Jesslyn.


"Jasson dan si pengacau juga ada di sini." Jesslyn mengumpat kesal.


Kimmy melihat ke arah Jasson dan memperhatikan laki-laki itu dari kejauhan. tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan seakan ingin meledak. apalagi saat Jasson menyentuh dirinya tadi.


***


Kimmy, Alana dan Jesslyn melanjutkan kembali obrolannya yang sempat terputus tadi. mereka mengobrol dan bercanda bersama dengan di temani oleh masing - masing cangkir berwarna putih yang di dalamnya berisi Esspreso.


Drrtt


Drrtt


Tiba-tiba, getar ponsel milik Alana terasa jelas di dalam tas miliknya hingga membuat dirinya menghentikan obrolannya. ia segera meraih ponsel itu dan memastikan. terlihat ada satu pesan masuk dari Nona Felly di sana.


Nona Alana, wanita yang kapan hari menemui Nona kemari lagi, dia memaksa ingin bertemu Nona dan tidak mau meninggalkan toko. saya harus bagaimana, Nona? ~ Felly.


"Astaga, mau apa lagi, Caleey?" Alana menggeleng kepalanya dengan bingung.


Suruh dia menunggu, Nona.  aku akan segera ke sana. ~ Alana.


Baiklah, Nona Alana. ~ Felly.


Alana segera memasukan ponsel miliknya ke dalam tas selempang yang ada di pangkuannya. ia meraih cangkir yang masih terisi sebagian kopi di dalamnya. Alana segera meneguk habis isi kopi itu.


"Jesslyn, Kimmy. aku harus pergi dulu," Alana beranjak berdiri dan merapikan pakaiannya.


"Kau mau ke mana Alana? kenapa terburu-buru?" tanya Jesslyn.


"Ada hal penting yang harus aku selesain. Bye..." Alana beranjak berdiri dan meninggalkan Cafe itu untuk pergi ke toko miliknya untuk menemui Caleey.