
Mobil yang dikemudikan oleh Darrel sudah pergi meninggalkan villa itu. Jesslyn yang masih kesal, ingin sekali mengikutinya. Namun, Ken tak membiarkan adiknya begitu saja.
Jasson yang sedari tadi membekap mulut Kimmy, membuat gadis itu malah kesenangan, bahkan hingga menyandarkan kepalanya di bahu Jasson.
"Jangan dekat-dekat!" Jasson seketika menjauhkan Kimmy dari tubuhnya.
"Siapa yang dekat-dekat denganmu. Jelas-jelas kau sendiri yang mendekatiku!" Kimmy menggerutu sambil mendekati Ken yang terlihat hendak memarahi Jesslyn.
"Kakak Ken, lepaskan Jesslyn!" perintah Kimmy. Jesslyn hanya melirik takut kepada Kakak sulungnya itu.
Ken melepaskan telinga adiknya tersebut. "Kenapa kau jadi liar seperti ini?" tanyanya. Jesslyn hanya diam menunduk.
"Kakak Ken, Kakak ini bagaimana. Di mana-mana yang liar itu binatang bukan Jesslyn!" seru Kimmy.
"Jangan memarahi Jesslyn lagi." Kimmy seketika menghalangi tubuh Jesslyn dari Ken. "Atau--"
"Apa? kau mau Kakak marahi juga?" tukas Ken.
"A-atau, atau Jesslyn akan memarahi balik Kakak..." Kimmy yang takut akan Ken, seketika langsung bersembunyi di balik tubuh Jesslyn.
"Kau ini, aku kira kau akan memarahi Kakakku..." Jesslyn dengan reflek memukul sahabatnya tersebut.
"Aku mana berani..." bisiknya Kimmy denan takut. Ken masih tak melepaskan adiknya tersebut.
"Siapa yang mengajarimu seperti ini?" Ken mencengkram lengan Jesslyn namun tak membuat tangannya menyakiti adiknya itu.
Jesslyn melirik ke arah Jasson. "Jasson..." jawabnya dengan santainya.
"Heh! Kenapa kau membawa-bawa namaku?" tegur Jasson.
"Memang benar. Biasanya kalau kau mengajakku bertengkar kau selalu melepas jaketmu dan menantangku!"
"Ayo sini bergulat denganku!" Jesslyn meletakan kedua tangannya di atas pinggang sembari menirukan bagaimana gaya saudara kembarnya itu saat sedang bertengkar dengannya.
"Kau ..." Jasson merasa kesal dan hendak menghampiri Jesslyn yang seketika takut dan bersembunyi di belakang tubuh Kakaknya. Namun Ken menahan adik laki-lakinya itu.
"Kau mau apa?" tanya Ken memegang dada Jasson.
"Mau memukulnya! Dia sangat menyebalkan! Aku tidak pernah mengajarinya seperti itu, Kak!"
"Kau berani memukul Jesslyn, Kakak yang akan memukulmu! Jangan dihiraukan! Kau juga memang seperti itu jika bertengkar dengan Jesslyn, makanya dia jadi menirumu!" seru Ken. Jesslyn menjulurkan lidahnya kepada Jasson dengan penuh kemenangan. Membuat saudara kembarnya itu semakin kesal dibuatnya.
"Dasar Nenek tua, awas saja kau nanti!" umpat Jasson.
"Jasson!" seru Ken.
"Bela saja terus anak manja itu!" Jasson yang merasa kesal segera berlalu mendahului masuk ke dalam villa. Ken memanggil Jasson berkali-kali, namun Jasson tak menghiraukannya. Ia menggeleng kepalanya dengan pusing melihat kedua adiknya tersebut.
"Jesslyn, Kakak tidak mau melihatmu seperti ini lagi. Kau ini perempuan!" tutur Ken.
"Kenapa memangnya? aku kan hanya ingin melindungi Alana, jangankan dari wanita tidak tau diri itu, kalau Kakak juga menyakiti Alana. Jesslyn juga akan melakukan hal yang sama!" seru Jesslyn dengan penuh ancaman membuat Ken seketika melirik ke arah Alana.
Alana seketika takut akan tatapan mata suaminya. "Ken, aku tidak pernah menyuruh atau mengajari Jesslyn seperti itu, percayalah!" Ken hanya diam tak menghiraukan ucapan Alana.
"Ayo kita masuk!" ajak Ken.
Alana menggandeng tangan Jesslyn dan Kimmy hendak mengajaknya masuk.
Namun, Harry yang baru saja terlihat mengambil jaket milik Jesslyn yang tergeletak di tanah segera menghampiri nya.
"Jesslyn, Jaketmu." Harry menyodorkan jaket itu kepada Jesslyn. Jesslyn hanya meliriknya dan menatapnya dengan tatapan tajam
"Buang saja! Kau sudah menyentuhnya, aku tidak mau memakainya!" Jesslyn berucap dengan ketus seraya melototkan kedua matanya kepada Harry.
"Jesslyn, bicaralah yang sopan!" seru Ken. Jesslyn melihat Kakak sulungnya dengan tatapan takut.
"Kemarikan..." Jesslyn menyaut kasar jaket itu dari tangan Harry. "Awas kau menyentuh barang-barangku lagi!" sambungnya sembari berlalu masuk ke dalam villa.
Harry mematung, memandangi Jesslyn yang menjauh dari pandangannya. "Dari kecil selalu saja galak..." Ia menarik kedua satu sudut bibirnya ke atas.
***
Alana mengajak Jesslyn, Kimmy dan yang lainnya untuk makan siang bersama. Kimmy dan Jesslyn tak henti-hentinya berbicara dan berdebat di sela-sela makannya.
"Jesslyn, seharusnya tadi kau menghajar wanita itu. Jika aku jadi dirimu aku akan menarik rambutnya sekuat tenaga dan akan aku seret mengelilingi villa ini tanpa ampun..." Kimmy berucap seakan penuh dengan emosi membayangkan apa yang sedang ia katakan.
"Memangnya kau berani?" tanya Jesslyn.
"Berani!" Kimmy begitu hebohnya sambil mengunyah penuh makanan di dalam mulutnya.
"Kalau kau tadi berani kenapa kau hanya diam saja dan tidak membantuku?" tanya Jesslyn.
"Aku tadi mau membantumu, tapi dihalangi oleh Jasson!" Kimmy mengerucutkan bibirnya sambil melirik ke arah Jasson yang langsung menatap dingin ke arahnya, Kimmy seketika menunduk takut.
"Alasan saja!" seru Jesslyn.
"Sudah, jangan banyak bicara, cepat lanjutkan makan kalian!" perintah Ken.
Ken sedari tadi memperhatikan Alana, membuat wanita itu dipenuhi dengan pertanyaan di pikirannya. "Kenapa Ken memandangiku seperti itu?" Alana menunduk sesekali menatap ke arah suaminya, ia semakin mempercepat kunyahan makannya dengan tak nyaman.
"Apa dia marah karna sikap Jesslyn? aku harus bagaimana? pasti Ken berpikiran bahwa aku memberi pengaruh buruk kepada Jesslyn," gumamnya.
"Alana, Kakak, kapan kalian akan pulang?" pertanyaan Jesslyn membuat lamunan Alana membuyar.
"Mungkin bulan depan," jawab Alana.
"Kenapa lama sekali? kenapa tidak pulang besok saja bersama kita?" tanya Jesslyn.
"Iya, Alana. Ayo kita pulang besok," timpal Kimmy. Alana terdiam dan memandang Ken. Namun ia masih melihat Ken dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.
"Kenapa Ken masih saja menatapku seperti itu?" Alana kembali menunduk.
"Ehm, sebenarnya aku juga ingin pulang, tapi aku masih betah di sini," jawab Alana.
"Ayolah Alana, kita pulang saja. Biar kita bisa bermain setiap hari," ujar Kimmy.
"Iya, Alana. Ayo kita besok pulang bersama." Jesslyn memelaskan wajahnya dengan penuh harap.
Alana terdiam sejenak, ia juga sangat merindukan rumah yang memiliki banyak kenangan bersama ayahnya. Ia juga rindu akan toko kue miliknya. Ia merindukan Mama Merry dan juga Papa Gio. Alana sangat merindukan itu semua. Napasnya terhela dan membulatkan satu keputusan. "Baiklah, besok aku akan pulang bersama kalian," katanya sambil tersenyum.
"Kau yakin?" pertanyaaan itu dilontarkanoleh Ken. Alana menganggukan kepalanya. "Iya, kita pulang besok saja, Aku sangat merindukan Mama Merry dan aku juga ingin berkunjung ke makam Daddy," jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah, teserah kau saja!"
Mendengar keputusan Alana, Jesslyn dan Kimmy senangnya bukan main hingga ruang makan yang ada di villa itu memecah akan suara mereka saja.
"Kampungan!" umpat Jasson.
"Daven, setelah pulang dari sini, Kakak akan mengajarimu untuk mengelola perusahaan Daddy," tutur Ken.
"Tidak, Kak. Aku tidak mau mengelola perusahaan Daddy," jawab Daven.
"Kenapa?" Ken mengernyit heran.
Garpu dan sendok yang dipegang oleh Daven ia letakan sejenak di atas piring. "Jasson, aku tidak berbakat masalah bisnis seperti itu."
"Daven, semua orang memiliki bakat, tinggal bagaimana saja kita mengasahnya," tutur Harry.
"Iya, Daven. Benar yang dikatakan oleh Harry, kau harus belajar berbisnis. Kakak akan mengajarimu, setidaknya kita bisa mengelola perusahaan Daddy sama-sama," timpal Ken.
Daven terdiam sejenak memeprtimbangkan perkataan Kakak iparnya. Pandangannya tiba-tiba teralihkan ke arah Kimmy yang sedang sibuk menikmati makanannya. Bahkan saus blackpaper yang berwarna hitam membuat mulutnya terlihat belepotan. "Kimmy, kau lebih suka pengusaha atau pembisnis?" pertanyaan itu tiba-tiba dilontarkan Daven kepada Kimmy, membuat wanita itu menghentikan aktivitas makannya.
Kimmy melirik ke arah Jasson. "Ehm, pembisnis, kenapa memangnya?" tanya Kimmy.
"Tidak, aku hanya bertanya saja," jawab Daven.
"Baiklah, Kak. Aku mau belajar berbisnis, tapi aku juga ingin membuka bengkel sendiri, apa boleh?" tanya Daven.
"Tentu saja, kenapa tidak? Kakak akan membukakan sebuah bengkel untukmu," ujar Ken. Daven begitu girang hingga berulangkali mengucapkan terimakasih kepada kakak iparnya tersebut. Jasson seketika melirik ke arah Daven lalu mengalihkannya ke arah Kimmy dengan tatapan heran.
***
Malam harinya setelah makan malam, Daven menemui Alana di kamar, wanita itu terlihat sedang memasukan barang-barang miliknya ke dalam koper. Karna besok ia sudah memutuskan bahwa akan kembali pulang bersama Jesslyn dan yang lainnya.
"Kakak..."
"Ada apa?" Alana yang kala itu duduk berjongkok langsung beranjak berdiri. Daven seketika memeluk kakak kandungnya itu.
"Kau kenapa, Daven?" tanya Alana.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang Kakak akan pulang, aku sangat merindukanmu," jawab Daven seraya melepas pelukannya.
Alana tersenyum dibuatnya. "Kakak juga senang..." sautnya. "Oh, Iya. Bagaimana kabar Mami? apa kau pernah bertemu dengan Mami lagi?" tanya Alana.
"Mami berulang kali mendatangi rumah, tapi Daven tidak mau menemuinya, Kak!" Raut wajah Daven yang mulanya tersenyum, kini menjadi datar seketika. Jelas sekali, bahwa pemuda itu tak mau membahas soal Ibunya.
"Kenapa?" tanya Alana.
"Selama Mami masih di bawah pengaruh Paman, Daven tidak mau menemuinya."
"Daven jangan berbicara seperti itu!"
"Kakak, aku benar-benar kesal terhadap Mami! Kalau saja, Mami tidak datang ke rumah sakit, mungkin Daddy masih ada saat ini!" seru Daven. Alana hanya diam, ia kembali bersedih saat mengingat hari itu.
"Maaf, Kak. Daven terbawa emosi."
Alana mengusap wajah adiknya itu. "Daven, kita tidak tau apa yang terjadi saat itu antara Daddy dan Mami, tapi Tuhan sudah menggariskan takdir kepada setiap manusia, setidaknya sebelum Daddy meninggal. Daddy bisa melihat dirimu dan juga Mami untuk yang terakhir kalinya." Alana mengusap air matanya yang mengalir bebas membasahi wajahnya..
"Kakak juga marah kepada Mami, tapi Mami Ibu kandung kita, jadi semarah atau sekecewa apapun kita, kita tidak boleh membencinya," tutur Alana.
"Kakak..." Daven seketika memeluk Alana. Sebenarnya, Alana benar-benar tidak kuat menahan kesedihan dan rasa sakitnya. Memang dirinya begitu marah kepada Brianna, dan pikirannya masih menyalahkan Brianna atas kepergian ayahnya waktu itu itu. Namun, Alana tidak mau memberi contoh buruk kepada adik satu-satunya tersebut.
Alana melepaskan pelukannya dengan Daven. "Sudah, sekarang kembalilah ke kamar dan istirahatlah!" perintah Alana.
"Baiklah!" Daven hendak berlalu pergi namun tiba-tiba ia mengurungkan niatnya.
"Ada apa lagi?" tanya Alana.
"Ke mana Kakak Ken?" tanya Daven.
"Dia sedang menemui Paman penjaga villa."
"Oh..."
"Oh, iya, Kak. ternyata Kak Ken orang baik, ya. Daven senang Kakak bisa menikah dengan orang seperti Kak Ken." Senyuman Daven merekah kembali.
"Iya, Ken memang baik meskipun kadang menyebalkan." Alana tersenyum sembari mengingat-ingat suaminya itu.
"Benar sekali! Apa kau tau, Kak. Daven dulu mengira Kak Ken itu orang yang tidak baik. Wajahnya saja garang dan menyebalkan seperti itu, tidak ada ramah-ramahnya sekali, tetapi, dia ternyata orang yang baik."
"Menurutlah dengannya!" perintah Alana.
"Tentu saja, Daven akan menurut dengannya..." Daven pun berpamitan, melanjutkan kembali niatnya untuk meninggalkan kamar Kakaknya tersebut. Alana melanjutkan kembali merapikan barang-barangnya. Baru saja ia berjongkok. Namun pintu kamar terbuka kembali, suara langkah kaki berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa lagi Daven?" tanya Alana sembari memasukan baju miliknya satu persatu ke dalam koper tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya itu. Namun tidak ada sautan, hingga membuat Alana menoleh ke arahnya.
"Ken ternyata kau, aku kira Daven." Alana tersenyum, ia beranjak berdiri, namun Ken tak membalas senyuman istrinya itu. Raut wajah Alana menjadi datar, ia masih memandang Ken yang hanya diam dan melontarkan tatapan mata dingin terhadapnya.
"Ehm, kau mau istirahat?" tanya Alana dengan sedikit takut. Namun Ken hanya diam saja.
"Ehm, Ken. Kenapa kau daritadi menatapku seperti itu." Alana menundukan pandangannya.
"Apa kau marah karna melihat sikap Jesslyn seperti tadi? aku minta maaf jika aku sudah memberi pengaruh buruk kepadanya." Alana masih menunduk takut.
"Iya, aku marah!"
Alana memejamkan kedua matanya saat suara suaminya begitu menusuk hingga ke gendang telinganya. Satu langkah kaki membuat tubuh Ken semakin mendekat dengan Alana. Tangannya mengangkat dagu runcing istrinya itu hingga membuatnya lebih leluasa menatap wajah cantik yang saat ini sedang ketakutan karenannya.
"Aku marah ketika mengingat dirimu pernah mencoba bunuh diri!"
Alana seketika mengernyitkan dahinya.
"Kau sudah melihat, bukan? Banyak orang yang mencintaimu, bahkan Jesslyn. Aku sangat tau bagaimana adikku yang nakal itu! Dia tidak pernah peduli dengan orang lain sampai sebegitunya, tapi denganmu? dia benar-benar sangat menyayangimu," tutur Ken. Kedua mata Alana berkaca-kaca. Jantungnya hampir saja dibuat lepas oleh suaminya itu.
"Iya, maafkan, aku Ken. Aku tidak akan menyia-nyiakan orang di sekitarku. Aku juga sangat menyayangi Jesslyn."
Alana tersenyum sembari memeluk suaminya tersebut. "Aku kira kau marah kepadaku!"
"Aku memang benar-benar marah!" Ken melepaskan pelukannya dengan Alana, tangan dan kakinya mencoba menggiring istrinya itu ke tempat tidur. "Rasanya aku ingin sekali memakanmu!"
"Ken..."
Ken menimpa tubuh Alana hingga terjatuh di atas tempat tidur membuat Alana harus mengingatkan suaminya kembali.
Ken mencium bibir Alana, membungkam mulutnya dengan bibirnya, menahan wanitanya itu agar tidak berbicara.
"Ken..." Alana hampir saja kehilangan napas, namun Ken tak mempedulikannya, ia masih melummat bibir tipis itu.
"Ken, apa kau lupa aku sedang datang bulan!" Alana mencoba menjauhkan tubuh suaminya tersebut.
"Aku tidak lupa!"
"Apa ciuman juga dilarang?" Ken mengernyit kesal. Alana sejenak diam lalu menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, Ken membalas senyuman itu dan melanjutkan kembali niatnya tersebut, mereka berdua hanya melakukan makking ouut. meskipun tak bisa leluasa bercinta seperti biasanya.
.
.
.
.
.
.