My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Menggoda sekali



Seusai makan malam, Jasson dan juga Harry berpamitan pulang. namun tidak untuk Jesslyn dan Kimy. mereka berdua akan bermalam di rumah Kakaknya tersebut. karna mereka masih ingin merayu Ken agar bisa mendapatkan maaf darinya.


Setelah berbicara dengan Jesslyn dan juga Kimy di dalam kamar tamu. Alana kembali ke dalam kamarnya. Ia perlahan - lahan membuka sedikit pintu kamarnya yang tertutup rapat.


ia mengintip ke dalam untuk melihat situasi. dan saat dirinya tak melihat Ken di dalam kamar itu. Ia pun segera masuk ke sana dan menutup kembali pintu kamar itu.


Namun, baru beberapa langkah Alana melangkahkan kakinya. tiba - tiba ia di kejutkan oleh Ken yang  baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Alana membulatkan kedua matanya dengan takut seraya menelan salivanya dengan susah payah.


Ken tak menegur istrinya tersebut. Ia berlalu melewati Alana dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Alana mencoba berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Sesekali kedua matanya memperhatikan Ken yang baru saja memejamkan mata.  Alana perlahan - lahan menarik bantal dan juga selimut yang ada di samping Ken. namun, tiba - tiba, Ken menarik tangan Alana hingga membuat serasa jantungan di buatnya.


"Mau kau bawa ke mana selimut dan bantal itu?" tanya Ken seraya membuka kedua matanya.


"Ken?"


"Ma-mau aku bawa ke kamar sebelah, aku akan tidur bersama Jesslyn dan Kimy," ucap Alana dengan sedikit takut. Ken beranjak berdiri dan mendekati Alana. bahkan, Alana mencoba memundurkan langkah kakinya.


"Kenapa tidak sekalian saja kau bawa baju - bajumu keluar dari rumah ini?" seru Ken dengan kesal.


"Kau mau mengusirku? kalau kau mengusirku aku akan pergi sekarang juga," ucap Alana dengan polosnya. ia mencoba menarik tangannya berharap Ken melepaskannya. Namun, Ken malah menarik balik tangan Alana, hingga kini ia mendekap tubuh wanita itu dan menghimpitnya.


"Ken, lepaskan aku!" pinta Alana seraya meronta.


"Bukankah kau sendiri yang menginginkannya? lebih baik kita lakukan dengan sadar, bukan?" Ken dengan sengaja menggoda Alana hingga membuat istrinya itu sulit bergerak.


"Ken, aku tidak melakukan apapun. Percayalah, aku tadi hanya ingin membantu Kimy dan juga Jesslyn saja agar kau mau memaafkan mereka." Alana memasang wajah semelas mungkin di hadapan Ken. berharap mendapat belas kasih dari laki - laki itu.


"Kau pikir aku percaya? jelas - jelas kau sendiri tadi yang sudah mengakui semuanya." Ken menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. ia sangat suka menggoda Alana seperti itu.


"Aku bersumpah tidak melakukan apapun. Aku tidak tau kalau Jesslyn dan Kimy mencampurkan--"


"Mencampurkan apa?" tanya Ken seraya memperhatikan Alana yang sedang menggigit bibir bawahnya.


"Emm, mencampurkan--" Alana begitu enggan menyebutkan obat itu.


"Iya mencampurkan apa, katakan?" Ken menahan senyumnya. Ia semakin menggoda Alana. Dan memperhatikan wajah Alana yang memucat dengan begitu gemasnya.


"Mencampurkan itu--"


"Kenapa kau berkeringat seperti ini?" Ken mengusap dahi Alana yang di lapisi begitu banyak keringat di sana.


"Ken, ayo, tolong lepaskan aku. biarkan aku tidur di kamar sebelah..." pinta Alana.


"Lalu, kau meninggalkanku sendirian di sini?" tanya Ken. Ia menjatuhkan tubuh Alana di atas tempat tidur dan sedikit menindihnya.


"Ken... " wajah Alana semakin memucat di buatnya.


"Apa kau tau? tadi sebelum kau masuk ke dalam kamar dan menyuruhmu untuk meminum jus itu. Aku sempat sedikit meminum jus itu terlebih dulu." Ken tersenyum menggoda. kedua mata Alana membulat seakan tak percaya.


"Ka-kau meminumnya?" tanya Alana. Ken mengiyakannya dengan menarik kedua alisnya ke atas.


"Tenang, Alana... kata Jesslyn dia tidak menyukai wanita. jadi jelas dia tidak normal dan dia tidak akan mungkin melakukannya," Alana mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Jadi sekarang kau harus tanggung jawab." Ken berbisik di telinga Alana. bahkan, membuat wanita itu geli saat udara yang keluar dari mulut Ken menyentuh telingannya.


"Ta-tanggung jawab apa? a-aku sama sekali tidak terlibat dalam rencana Jesslyn dan Kimy, percayalah." Alana menelan salivanya dengan sangat keras. Ia mencoba meyakinkan Ken. namun, raut wajah Alana yang begitu ketakutan membuat Ken semakin gemas di buatnya. rasanya, ia tidak pernah setertarik ini menggoda dan berbuat usil kepada seorang wanita. sekalipun (dia).


"Ken, tolong jangan seperti ini."


"Aku tidak peduli, kau sendiri yang sudah menggodaku," bisik Ken. ia memperhatikan bibir tipis Alana yang sedari tadi begitu menggoda di kedua matanya.


"Me-menggoda apa? aku tidak pernah menggodamu. aku bersumpah tidak melakukan apapun. tolong percayalah, aku benar - benar tidak tau kalau Kimy dan Jesslyn memasukan obat itu ke dalam minumanmu. tolong percayalah," bantah Alana.


"Kalau aku tidak percaya?" tanya Ken. dan ia semakin menindih tubuh Alana hingga Alana merasakan sesuatu yang keras menempel di bagian tubuhnya. seketika itu, Alana membulatkan kedua matanya.


"Ya Tuhan, aku rasa dia masih normal," gumam Alana dalam hati.


"Kenapa melotot seperti itu?" seru Ken.


"A-aku tidak melotot. tolong lepaskan aku." Alana sekuat tenaga menahan napasnya.


Ken pun tak tega, ia melepaskan Alana dan beranjak berdiri menjauhkan tubuhnya. Ia membiarkan Alana begitu saja. namun, saat Alana hendak pergi dari kamar itu. Ken tiba - tiba menarik kembali tangan Alana dan mencium lembut bibirnya, hingga membuat Alana terkejut di buatnya.


Begitu juga dengan Ken. bahkan, ia sendiri juga terkejut kenapa dirinya bisa tiba - tiba mencium wanita itu? Ken yang baru saja menyadari tindakannya, ia seketika langsung menjauhkan tubuhnya dari Alana.


Alana masih mematung menatap Ken seakan tak percaya dengan apa yang baru saja laki - laki itu lakukan kepadanya. Jantungnya seakan sedang berdisko di dalam sana. Bahkan suaranya terdengar beradu dengan begitu  gaduh.


"Ken..." Alana berucap lirih.


"Maaf, aku--" Ken berbalik badan menghindari tatapan mata Alana.


"Kenapa kau menciumku?" tanya Alana. Ken menoleh dan ia sedikit merasa kesal akan pertanyaan itu.


"Kenapa memangnya? apa hanya mantan kekasihmu saja yang boleh menciummu?" tanya Ken.


Alana hanya terdiam, kedua matanya berkaca - kaca menatap Ken.


"Alana... " suara ketukan pintu di iringi dengan teriakan suara Kimy tiba - tiba terdengar dari luar pintu kamarnya.


"Keluar dari sini, dan lupakan apa yang baru saja terjadi!" Ken berbalik badan. dengan begitu entengnya ia mengusir Alana seperti itu. Alana masih mematung dan benar - benar tak percaya apa yang baru saja terjadi.


"Aku tidak pernah berciuman sebelumnya. bahkan sekalipun aku pernah memiliki seorang kekasih," ucap Alana. ia mengusap kedua sudut matanya yang basah. ia mengambil bantal dan juga selimut dan berlalu pergi meninggalkan Ken. Ken melirik ke arah Alana yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia mengernyitkan dahinya seakan tak percaya.


Alana kembali ke kamar sebelah bersama Kimy dan menemui Jesslyn di sana. ia mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa berkata sepatah kata satupun. bahkan, Alana tak mendengar saat Kimy dan Jesslyn saling melempar pertanyaan kepadanya.


"Alana ...." Kimny berteriak sangat keras di telinga Alana.


"Maaf, ada apa?" tanya Alana. Kimy dan Jesslyn menggeleng - gelengkan kepalanya dengan kesal.


"Kau ini sebenarnya kenapa, Alana?" tanya Jesslyn.


"Tidak apa - apa, aku hanya lelah saja, ayo kita tidur," ajak Alana. Jesslyn dan Kimy mengiyakannya. mereka bertiga tidur saling memeluk satu sama lain. tak butuh waktu lama. Kimy dan juga Jesslyn langsung terlelap akan tidurnya. namun tidak dengan Alana. ia sedari tadi memegangi bibinya. sesekali ia menggigit bibir itu dengan perasaan kacau.


"Dia benar - benar menciumku," gumam Alana. Alana mengusap bibirnya dengan ibu jari. ia mengingat bagaimana Ken tadi  menciumnya dengan secara mendadak.


 


***


Sementara, Ken. ia juga terlihat susah tidur. kedua matanya menatap kosong plafon kamar itu dengan perasaan yang sama kacaunya dengan Alana.


"Omong kosong, jika dia tidak pernah berciuman," gerutu Ken. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala.


"Apa benar dia tidak pernah berciuman?" Ken terdiam sejenak dan mengingat - ingat perkataan Alana yang sempat mengatakan bahwa dia tidak pernah berciuman sekalipun pernah memiliki seorang kekasih.


"Aku tadi hanya ingin menggodanya. tapi kenapa malah jadi menciumnya?" gumam Ken.


"Argh, sungguh memalukan saja." Ken mengacak - acak rambutnya dengan mendesah kasar.


"Salah siapa sendiri, bibirnya menggodaku seperti itu," gumamnya kembali.


.


.


.


.


.


.