My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Kukumu cantik sekali



Selama masa kehamilan, hari-hari Alana terasa begitu menyenangkan, karna Ken lebih perhatian dan selalu meluangkan lebih banyak waktu untuknya.


Semakin hari perut Alana semakin membesar karna kehamilannya kini sudah memasuki usia 5 bulan. Ken sudah membatasi aktivitas fisik yang dilakukan oleh istrinya, termasuk mengurus toko kue,


untuk memperingankan pekerjaan Alana, Ken menunjuk Jesslyn agar mau membantu Alana mengurus toko kuenya, hitung-hitung mengajarkan adik perempuannya tersebut agar bisa sedikit lebih mandiri.


Sebenarnya Jesslyn begitu enggan untuk melakukan pekerjaan itu. Namun, apapun demi  Alana dan Calon keponakannya, Ia rela melakukan apa saja untuknya.


Bahkan, setiap hari seusai pulang kuliah ia tidak pernah pulang ke rumah dulu, ia lebih memilih pulang ke rumah Alana, menemani kakak iparnya tersebut, seperti yang ia lakukan saat ini.


Jesslyn yang baru saja tiba di rumah Alana di antar oleh Jasson, segera masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu rumah itu terlebih dahulu, karna kebetulan pintu rumah terbuka sebagian jadi membuat perempuan itu leluasa masuk begitu saja ke dalam rumah Kakaknya.


Jesslyn terlihat membawa satu kantung plastik berwarna merah muda di tangannya. Dengan langkah tak sabar, ia berjalan menuju ke kamar Alana.


berteriak-teriak memanggil-manggil nama Kakak iparnya tersebut, membuat Alana yang mendengarnya, segera menghampirinya.


"Jesslyn..." Melihat Alana yang baru saja  keluar dari kamar, membuat Jesslyn seketika memeluknya. Seakan sedang melepas rindu, padahal setiap hari mereka selalu bertemu.


"Alana, apa Mama tadi ke mari?" tanya Jesslyn.


"Iya, Mama tadi kemari membawakanku makanan dan kue," jawab Alana.


"Bagaimana kabar keponakanku hari ini? apa dia sudah makan?" tanya Jesslyn, mengusap perut Alana yang sudah membuncit itu.


"Tentu saja sudah, bahkan sejak daritadi pagi dia tidak berhenti ku ajak makan," jawab Alana sambil terkekeh.


"Aku tidak sabar ingin dia segera lahir, lalu menggendongnya seperti ini." Jesslyn memperagakan apa yang sedang ia katakan. "Menggemaskan."


"Ph, iya, Alana. Aku tadi membeli cat kuku. Warnanya lucu-lucu sekali, lihatlah..." Jesslyn mengeluarkan dan menunjukan satu set cat kuku dengan warna berbeda dari dalam kantung plastik yang ia bawa.


"Wah, lucu sekali..." Alana menyautnya, melihat warnanya dengan begitu gemas, seakan tak sabar ingin memakainya.


"Ayo kita bermain cat kuku," ajak Jesslyn.


"Kau kan baru pulang kuliah, makanlah siang dulu, baru kita bermain..."  tutur Alana.


"Tidak mau, aku tidak lapar!" tolak Jesslyn.


"Ya sudah, kalau kau tidak makan, tidak usah bermain." Ancaman Alana seketika membuat Jesslyn terpaksa mengiyakannya,  Alana menarik tangan Jesslyn, mengajaknya ke dapur dan menemani adik iparnya itu untuk makan siang.


Saat sedang makan siang, Daven terlihat baru saja pulang dari kuliah,  ia berjalan menuju ke dapur dan kedua matanya terlihat celingukan di sana, seperti sedang mencari seseorang.


"Daven, kau sudah pulang?" tegur Alana.  "Ayo makanlah dulu!" perintahnya.


"Nanti saja, Kak. Daven mau ganti pakaian, karna harus pergi ke bengkel."


"Jesslyn, kau datang sendiri?" tanya Daven, kedua matanya masih menyoroti sekitar.


"Iya, aku datang sendiri..." jawab Jesslyn sambil mengunyah makanannya.


"Di mana Jasson?"


"Tadi setelah mengantarkanku dia langsung pergi, katanya dia  latihan basket."


"Kalau Kimmy?" pertanyaan Daven yang terdengar sedikit ragu, membuat Jesslyn menatapnya dengan penuh selidik.


"Kimmy pergi ke luar kota bersama Paman Louis selama beberapa hari."


"Oh... kapan dia akan kembali?" tanya Daven.


"Ya mana ku tau, kau pikir aku Mamanya Kimmy," jawab Jesslyn dengan ketusnya.


Daven terkekeh saat mendengar jawaban Jesslyn. "Benar kata Harry," ucapannya yang tak begitu jelas, terdengar oleh Jesslyn.


"Harry? memangnya apa yang dia katakan?" mendengar nama Harry, seakan begitu kesal.


"Tidak, tidak berkat apa-apa. Bye..." Daven cepat-cepat berlalu pergi dari sana.


"Daven..." Jesslyn beranjak berdiri hendak mengejar laki-laki itu akan rasa penasarannya, namun Alana menahannya.


"Jangan pergi ke mana-mana, sebelum kau menghabiskan makananmu!" perintah Alana. Jesslyn mengiyakan dan melanjutkan kembali memakan makanan miliknya.


"Memangnya apa si pengacau itu katakan kepada Daven? gumam Jesslyn dengan kesal. Namun, ia tak mau ambil pusing memikirkan teman kecil  yang tidak ia sukai itu.


***


Celouis Company.


Sore itu, Ken memeriksa keadan mesin  produksi yang ada di pabrik, ia terlihat mengenakan masker, helm safety dan juga hand glove yang membalut kedua tangannya  untuk menghindari polusi dan kemanannya di sana.


Ken benar-benar membuat perusahaan milik Ayah mertuanya itu berjaya seperti semula, buktinya mesin produksi yang ada di pabrik tak pernah berhenti ber-operasi sedikitpun.


Terlebih lagi,  beberapa waktu yang lalu dirinya baru tau bahwa Holmes secara diam-diam telah  mengalihkan perusahaan itu atas namanya tanpa sepengatuahan dirinya dan juga Alana.


Sebenarnya Ken merasa tidak berhak mendapatkan ini semua, mengingat bahwa ayah mertuanya juga memiliki seorang anak laki-laki yang seharusnya menjadi ahli waris perusahaan itu. Namun bagaimana lagi, mau tidak mau, Ken terpaksa menerimanya.


Flashback On.


Waktu itu, di ruang tamu. Ken mengajak Alana dan Daven berduskusi berencana  untuk mengalihkan Celouis Company yang kala itu sudah dialihkan atas namanya supaya dialihkan menjadi atas nama Daven. Namun Daven menolaknya secara mentah-mentah.


"Kak, tolong hargai Daddy! Daddy bukan  orang sembarangan yang memutuskan suatu hal dengan mudahnya.   Daddy mengalihkan kepemilikan Celouis Company atas nama Kakak, karna Daddy percaya penuh kepada Kakak Ken. Sama seperti halnya Daddy yang   mempercayakan Kakakku kepadamu. Jadi tolong hargai kepercayaan Daddy."


"Daven, Kakak tidak bisa menerima ini, kau yang berhak atas kepemilikan perusahaan milik Daddy, Kakak benar-benar tidak berhak. Kakak di sini hanya ingin membantu Daddy, itu saja. Demi Tuhan, Kakak sama sekali tidak mengharapkan ini semua."


"Kalau Kakak ingin membantu Daddy, Kakak harus menerima keputusan yang sudah dibuat oleh Daddy, untuk menerima pengalihan perusahaan itu atas nama Kakak!


Kak, lagipula Daven sama sekali tidak tertarik untuk terjun di dunia bisnis, Daven benar-benar tidak bisa  menjalankan perusahaan itu. Daven, hanya ingin fokus mengembangkan bengkel milik Daven saja," tutur Daven.


"Tapi, Daven--"


"Sayang, sudahlah! Yang dikatakan Daven benar, tolong hargai keputusan Daddy," tutur Alana seraya mengusap bahu suaminya.  Ken benar-benar bingung waktu itu, dirinya sama sekali tak mengharapkan ini semua, namun karna paksaan dari istri dan adik iparnya. Ia pun terpaksa membulatkan keputusannya untuk menerima pengalihan Celouis Company atas namanya.


"Baiklah, aku bersumpah. Akan menjaga amanah Daddy untuk menjalankan dan mengembangkan Celouis Companny." Keputusan Ken, membuat Alana dan Daven begitu lega. Karna Alana sendiri juga takut, jika perusahaan itu dialihkan atas nama Daven. Tidak berkemungkinan, Afford dan Brianna akan mencari cara mempengaruhi adiknya. Tapi, jika perusahaan itu di alihkan atas nama Ken, mereka tidak akan pernah berani mengutiknya sedikitpun.


Flashback Off.


Seusai menyelesaikan pekerjaannya, Ken bersiap-siap untuk pulang, rasanya ia tak sabar ingin segera kembali ke rumah, tempat yang paling nyaman baginya, karna setiap kali dirinya bekerja, Ia selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa melepas rindu bersama  istri dan calon anaknya di rumah.


Dengan tubuh tegap dan langkah kaki yang penuh semangat, Ken hendak meninggalkan kantornya. Namun langkah kakinya terhenti, tatkala suara Paman Leon seorang laki-laki yang menjadi kaki tangannya, sedang memanggilnya.


"Ada apa Paman?" tanya Ken, memutar badannnya hingga kini tubuhnya berhadapan dengan sempurna dengan laki-laki seumuran Papa Gio itu.


"Ken, Paman baru mendapat informasi penting dari Afc companny bahwa  Afford sekarang sedang menjual 25% saham perusahaan untuk menutupi sebagian hutangnya, karna Paman pantau semakin hari perusahaannya semakin kacau dan menurun dari pasaran bisnis," ujar Leon.


Senyuman Ken tiba-tiba  melesat di wajah tampannya itu.


"Paman, apa besok kita ada meeting dengan client?" tanya Ken.


"Tidak ada, Ken. Kenapa?"


"Tolong Paman atur, besok Ken ingin menemui Afford, kita akan membeli saham itu," perintah Ken dengan penuh keyakinan.


"Ken, kau serius ingin membeli saham itu?" tanya Leon seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada dihadapannya saat ini.


"Paman melihatnya bagaimana?" Melihat raut wajah Ken yang tak main-main, membuat Leon mempercayainya.


"Haha, baiklah, Nak!"


"Tapi jangan sampai Afford tau kalau Ken yang akan membeli saham itu Paman! Ken ingin memberi sedikit kejutan kecil kepadanya!" tutur Ken.


"Tenang saja, Paman akan mengatur semuanya."


"Baiklah, Paman. Kalau begitu Ken pamit." Ken berlalu pergi meninggalkan Leon.


Senyuman penuh kemenangan masih mengiringi langkah kakinya.


"Aku bukan hanya sekedar membeli sahammu, tapi aku juga sedang membeli harga dirimu, Afford!"


***


Ken baru saja tiba di rumah.


Alana ialah tujuan utama yang ia cari. Masuk ke dalam kamar, melihat wanitanya itu duduk  di atas tempat tidur dan sedang sibuk membersihkan kukunya yang dipenuhi dengan cat kuku.


"Sayang." Ken menghampirinya. Memeluk dan memberi ciuman di bibir dan perut Alana, mengusap perut itu dan mengajak calon anaknya berbicara sebentar, membuat Alana merasa geli, namun menyukai pemandangan itu.


"Kenapa kukumu?" tanya Ken, menarik tangan Alana.


"Aku sedang membersihkan kukuku, tadi aku bermain cat kuku bersama Jesslyn, tapi hasil catnya jelek seperti ini, makanya ingin aku bersihkan saja," jawab Alana yang menunjukan jari tangannya kepada Ken.


"Jesslyn sudah pulang?" tanya Ken.


"Iya, baru saja Papa menjemputnya."


"Oh, kemarikan, biar ku bantu membersihkan kukumu!" Ken meraih kapas dan cairan pembersih cat kuku itu dari tangan Alana, dan mulai membantu  menghapus cat kuku yang masih melekat di kuku istrinya satu persatu.


***


Malam harinya setelah makan malam, Ken dan Alana kembali ke kamar. Ken menjatuhkan tubuhnya dengan keras di atas tempat tidur, meregangkan otot-otot yang ia rasa begitu melelahkan akibat pekerjaan yang hari itu terasa sangat banyak.


"Sayang, kau malam ini  tidak bekerja?" tanya Alana yang berdiri di samping tempat tidur.


"Tidak." Ken menarik tangan Alana membuatnya duduk di tepi tempat tidur. "Kenapa?" tanyannya, beranjak duduk dan menyibakan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu.


"Kalau kau tidak bekerja, ayo kita bermain cat kuku," ajak Alana dengan penuh semangat.


"Selalu ada saja yang diminta, jika tau begitu, aku tadi  bilang bekerja saja," umpat Ken.


"Ken?"


"Astaga, sayang, maaf, aku lupa. Aku ternyata ada pekerjaan, lain kali saja ya kita bermain cat kukunya," bujuk Ken.


Alana seketika diam memasang wajah kesalnya.


"Tadi katanya tidak bekerja? aku inginnya bermain sekarang!" perkataanya terlontar sekan tidak mau tau.


"Iya, aku lupa. Ternyata aku belum memeriksa laporan keuangan perusahaan," bujuk Ken. Alana hanya diam tak mempercayainya, memasang wajah kesal, cemberut gemas dan tak karuan, membuat Ken tak bisa menolak ajakan wanita yang sedang mengandung anaknya itu.


"Ya sudah ayo kita bermain cat kuku."


"Kau tidak bekerja?"


"Tidak! kukerjakan besok saja. Ayo mana cat kukunya?" pinta Ken, menadahkan tangannya.


"Yeay, baiklah. Tunggu sebentar aku akan mengambil cat kukunya." Alana beranjak berdiri,  membuka laci meja rias dan mengambil cat kuku yang sempat dibelikan oleh Jesslyn siang tadi. Lalu, ia kembali menghampiri Ken, naik di atas tempat tidur. Duduk menyilangkan kedua kakinya dan kini saling berhadapan dengan suaminya tersebut.


"Mana, aku bantu mengecat kukumu," pinta Ken. Alana mengiyakannya, menyodorkan cat kuku itu kepada Ken, Ia  menjulurkan punggung telapak tangannya yang menampakan kukunya yang panjang itu.


"Bagaimana menggunakannya?" tanya Ken, memubuka salah satu cat kuku berwarna merah, menampakan kuas dan juga cairan yang melapisinya.


"Tinggal mengolesnya saja setelah itu tunggu kering. Tapi hati-hati, supaya tidak belepotan." Ken mengiyakannya, ia mulai memoles kuku istrinya itu satu persatu menggunakan cat kuku berwarna merah dengan berhati-hati.


"Hati-hati, jangan belepotan! Jika belepotan, kau harus mengulangnya dari awal!" celoteh Alana.


"Cerewet!"


Ken melanjutkan kembali memoles kuku Alana dengan cat tersebut, hingga semua jarinya terlapisi oleh cat kuku itu dengan sempurna.


Meskipun ada beberapa kuku yang catnya terlihat tak merata, namun Alana tak mempermasalahkannya, ia menghargai kerja keras suaminya itu. Alana menunggu beberapa waktu agar semua  kukunya itu kering merata sempurna, tak jarang, Ken membantu meniupi kuku itu satu persatu supaya cepat kering.


"Sudah kering," kata  Ken yang mencoba memegang salah satu kuku yang sudah tak basah saat ia sentuh.


"Sekarang gantian kukumu yang aku poles menggunakan cat." Alana menarik tangan Ken, namun Ken menolaknya.


"Kau yang benar saja, aku laki-laki mana mungkin memakai cat kuku!" seru Ken.


"Kan tidak ada yang tau, yang tau hanya kita berdua saja. Jadi tidak apa-apa."


"Kau yang tidak apa-apa, tapi aku?"


"Aku tidak mau!" tegas Ken.


"Ken... sekali saja!" Alana berucap dengan suara manjanya, mendayu-dayu, kedua mata sayunya  membuat Ken tak bisa menolaknya.


Ken berdecak kesal. "Kau ini ada-ada saja, ya sudah cepatlah!" Ken menyodorkan punggung telapak tangan yang menampakan kukunya itu.


Alana begitu kegirangan saat Ken mau menuruti keinginannya. Ia bersemangat memoles cat di kuku suaminya dengan 3 warna cat kuku yang berbeda sambil bernyanyi dan tak henti tersenyum, seolah hal ini sangatlah menyenangkan baginya. Namun tidak dengan Ken.


"Yeayy... sudah selesai, tunggu beberapa menit sampai catnya kering." Alana menutup dan  meletakan cat kuku yang ia pegang ke sembarang tempat, lalu memperhatikan 10 kuku suaminya yang sudah di poles cat kuku secara merata olehnya. Tidak ada yang cacat ataupun belepotan sedikitpun.


"Sayaaaaang... kukumu cantik sekali."


Alana berucap dengan begitu gemasnya, Ken hanya diam, menatap dengan tatapan datar. Seakan wajahnya begitu tersiksa akan kelakuan istrinya malam itu.