
Hari demi hari di lalui Alana dan juga Ken. seperti biasa, keduanya melakukan akivitas dan kesibukannya masing - masing. terkadang, karna hal kecil mereka sering adu debat. terkadang pula mereka juga tak bertegur sapa. itu sudah hal menjadi kebiasaan mereka berdua.
sedangkan Holmes, ia juga masih di rawat di rumah sakit karna dokter belum mengizinkannya pulang.
Malam itu, Alana terlihat sedang membaca buku sembari berselonjoran di atas sofa yang ada di dalam kamarnya. sementara, Ken, ia juga terlihat sedang membaca buku di atas tempat tidur.
Di tengah aktivitas mereka berdua. tiba - tiba suara dering dari ponsel milik Ken yang ada di samping meja tempat tidur memecah heningnya isi kamar itu. Ken meletakan bukunya di atas meja dan menukarnya dengan ponsel miliknya tersebut.
di layar ponsel itu terlihat satu panggilan masuk dari Papa Gio.
"Ada apa Papa menelpon malam - malam seperti ini?" gumam Ken. ia pun segera menerima panggilan masuk dari Papanya tersebut.
"Hallo, iya, Pa. ada apa?" sapa Ken.
"Kau sedang di mana, Ken?" suara Gio bertanya dari balik ponsel tersebut.
"Di rumah ini, Pa."
"Alana juga di rumah?" tanya Gio.
"Iya, Pa. dia juga di rumah," jawab Ken seraya melihat ke arah Alana yang masih sibuk membaca buku di tangannya.
"Kenapa memangnya, Pa?" tanya Ken.
"Tidak apa - apa, Papa hanya ingin memastikan kabar kalian saja. Oh, iya, Ken. besok jangan lupa, ya." Gio mencoba mengingatkan kembali.
"Lupa? lupa apa memangnya, Pa?" tanya Ken dengan sedikit bingung.
"Besok, kan hari jum'at, Nak. kita harus menghadiri undangan pernikahan putrinya Tuan Hilton," ujar Gio.
"Astaga, Ken sampai lupa. baiklah, Pa. untung Papa tadi mengingatkan," ucap Ken.
"Ya sudah, Nak. Papa akhiri panggilannya ya, sampaikan salam Papa dan juga Mama kepada Alana," tutur Gio.
"Baiklah, Pa. selamat malam." Ayah dan anak itu saling mengakhiri panggilannya.
Ken meletakan ponsel miliknya ke tempat semula. lalu, ia turun dari tempat tidur dan menghampiri Alana.
"Anak dari rekan bisnis terdekat Papa, besok akan melangsungkan pernikahan. mereka mengundang keluarga kita. jadi, besok temani aku untuk ikut menghadirinya," ujar Ken.
"Kau berbicara denganku?" tanya Alana dengan mendongakan kepalanya ke arah Ken.
"Tidak! Aku sedang berbicara dengan bukumu!" seru Ken dengan kesal.
"Hmm, siapa tadi katamu yang mau menikah?" tanya Alana dengan penasaran.
"Putri dari rekan bisnis Papa," jawab Ken.
"Ehm, tapi, kalau aku ikut denganmu. aku tidak punya gaun pesta," ucap Alana.
"Bukan alasan. besok belilah bersama Jesslyn," ujar Ken. ia kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya kembali di sana.
"Baiklah." Alana menyutinya dengan penuh semangat.
Ken yang merasa lelah. seketika langsung terlelap akan tidurnya. bahkan ia tak melanjutkan kembali untuk membaca buku miliknya.
Sementara Alana, ia masih fokus akan membaca bukunya. hingga lewat tengah malam, membuat wanita itu kelelahan membaca dan tak sengaja tertidur di atas sofa. bahkan, kedua tangannya tak terlepas dari buku tersebut.
Kedua mata Ken tiba - tiba mengerjap. ia merasakan tenggorokannya begitu kering, bahkan membuat dirinya berkali - kali berdehem seakan ada dahak yang tersangkut di sana.
Ken langsung beranjak dari tempat tidur dan pergi ke dapur. ia menuang air ke dalam gelas dan meneguknya. kemudian, ia kembali lagi ke kamar. dan saat ia hendak merebahkan tubhnya kembali. tiba - tiba ia mengurungkan nya saat dirinya melihat Alana tertidur di atas sofa.
Ken pun mendekati istrinya tersebut. ia perlahan mengambil buku yang masih di pegang oleh Alana. dan memindahkan buku itu di atas meja.
lalu, ia berganti mengangkat tubuh Alana dan memindahkannya di atas tempat tidur.
Ken memperhatikan wajah Alana yang tak sengaja tertutup rambut. ia menggerakan tangannya untuk menyibakan rambut istrinya tersebut. hingga kini wajah Alana terlihat jelas di kedua matanya. Ken masih tak bergeming memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur itu. bahkan kedua matanya bergantian memandangi kelopak mata Alana dan juga bibirnya. ia menarik selimut dan membalutkan selimut itu ke sebagian tubuh Alana. setelah itu, ia segera melanjutkan kembali tidurnya.
***
Keesokan paginya,
saat Alana dan Ken masih terlelap akan tidurnya. tiba - tiba suara gedoran pintu di selingi dengan bell rumah memecah suasana heningnya pagi di rumah itu.
kedua mata Ken dan Alana saling mengerjap.
"Siapa bertamu sepagi ini?" Ken berdecak kesal seraya beranjak dari tempat tidurnya.
"Mana ku tau, aku saja baru bangun tidur," saut Alana seraya menguap dan meregangkan pinggangnya.
"Aku tidak bertanya denganmu!" Ken berlalu keluar dari kamar dan berjalan menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu itu.
"Jelas - jelas bertanya di depanku! pagi - pagi sudah membuat orang kesal saja." dengan mulut menggerutu kesal. Alana beranjak turun dari tempat tidur dan mengikuti suaminya tersebut dari belakang.
"Jesslyn..." Ken berdecak kesal saat tau yang bertamu dengan gaduh sepagi itu tak lain ialah adik perempuannya. Ken langsung membalas pelukan adiknya tersebut.
"Kakak, aku sangat merindukanmu." Jesslyn semakin mengeratkan pelukannya dengan manja.
"Kakak juga merindukanmu. ayo masuk," ajak Kem sembari menutup pintu itu kembali.
"Jesslyn," panggil Alana.
"Alana?" Jesslyn seketika langsung memeluk tubuh Alana.
"Aku sangat merindakanmu," ucao Jesslyn dengan manjanya.
"Sama, aku juga sangat merindukanmu." Alana mengajak adik iparnya tersebut untuk masuk ke dalam.
***
Satu jam kemudian, Alana mengajak Jesslyn dan juga Ken untuk sarapan di dapur.
setelah sarapan. Ken berpamitan untuk pergi ke kantor. namun, hanya beroamitan kepada Jesslyn saja.
"Kakak, kau belum berpamitan kepada Alana," tegur Jesslyn. Ken terdiam sejenak seraya memandang Alana.
"Aku beringkat," pamit Ken. Alana hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Ken hendak berlalu pergi dari sana. namun, ia terlupa sesuatu.
"Ada apalagi, Kak?" tanya Jesslyn.
"Jesslyn, nanti siang antarkan Alana mencari gaun untuk acara nanti malam. nanti pulang kerja akan Kakak jemput." perintah Ken.
"Siap, Kak." Jesslyn begitu bersemangat mengiyakan perintah kakaknya tersebut.
****
Sore harinya, Jesslyn, mengajak Alana ke salah satu boutique yang ada di dalam Mall yang kini sedang mereka kunjungi.
Boutique itu ialah toko langganan Jesslyn dan juga Mama Merry.
tak lama kemudian, terlihat Ken datang menghampiri adik dan juga istrinya yang sedang sibuk memilih gaun di boutique tersebut.
"Loh, Kakak sudah pulang bekerja, kok bisa tau kita di sini?" tanya Jesslyn.
"Iya, Kakak menelponmu berkali - kali tapi kau tidak mengangkat ponselmu. untung Kakak punya pikiran mencoba ke boutique langganan Mama. jadi, Kakak langsung kemari," ucap Ken.
"Maaf, Kak. Jesslyn lupa tidak membawa ponsel, tadi." Jesslyn menyengir.
"Pantas saja," gerutu Ken.
"Ken, kau pasti lelah kan? duduklah dulu!" suruh Alana.
"Sudah tau lelah. masih saja bertanya!" seru Ken sembari mendudukan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tunggu.
"Sabar, Alana. sabar," Alana mengusap kasar dadanya dengan kesal. bahkan, hidungnya terlihat memgembang kempis untuk menahan rasa sabarnya.
"Ya sudah, Kak. Jesslyn sudah membantu Alana mencari gaun. sekarang giliran Jesslyn yang mencari gaun," ujar Jesslyn dengan penuh semangat. Ken pun mengiyakannya.
Alana sibuk membantu Jesslyn untuk mencarikan gaun. lalu, pikirannya tiba - tiba tertuju kepada Ken.
"Aku membeli baju. tapi, Ken tidak membeli baju. rasanya tidak adil. lebih baik, aku membelikan baju untuknya juga," gumam Alana dalam hati.
"Jesslyn, aku tinggal ke Kakakmu sebentar, Ya?" pamit Alana.
"Iya, Alana. cepatlah kembali," saut Jesslyn.
Alana pergi menemui Ken di ruang tunggu. namun, ia tak mendapati suaminya di sana.
"Di mana dia?" kedua mata Alana menyoroti seluruh ruangan itu. namun, tetap saja ia tak melihat Ken di sana.
"Lebih baik, aku belikan sendiri saja kemeja untuknya." Alana berlalu keluar dari boutique itu dan mencarikan baju untuk suaminya di toko lain.
.
.
.
.
.
.