My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Kembali lagi



Sudah satu bulan lebih  Alana dan Ken tinggal di villa milik Papa Gio. Kesedihan Alana semakin hari semakin memudar dan teralihkan, meskipun tak bisa dipungkiri. Bahwa wanita itu belum sepenuhnya lupa akan kehilangan ayah dan juga calon anaknya,  insiden yang nyaris merenggut nyawa istrinya waktu itu, membuat Ken semakin waspada dan tak pernah sedikitpun meninggalkannya.


obat penenang yang biasanya harus dikonsumsi rutin oleh Alana, kini sedikit berkurang jumlah dosisnya, bahkan sudah satu minggu  ini Alana terlepas akan mengkonsumsi obat itu.


Hangatnya mentari melingkupi sekitar lingkungan villa itu. Menyusup bebas ke cela yang sekiranya bisa ditembus olehnya. silaunya matahari yang membias kamar Ken,  memaksa lelaki yang kala itu tidur pulas  harus terbangun karenannya. Tubuhnya beranjak dengan malas-malasan, menguap dan meregangkan otot-ototnya.


Ken membulatkan niatnya  hendak masuk ke dalam kamar mandi, namun ia baru disadarkan bahwa kedua matanya tak mendapati Alana di sana. Ken seketika mengurungkan niatnya,  Ia keluar dari kamar dan segera mencari Alana. Dapur menjadi tujuan utamanya, namun tak ada siapapun di dapur itu.


"Alana..." suara Ken memanggil-manggil nama istrinya itu. Menelusuri setiap ruangan dan lorong kamar yang ada di villa yang cukup besar itu, namun ia tak mendapati Alana juga.


"Ke mana dia?" gumam Ken dengan sedikit cemas. Ia hendak keluar dari villa mencari Alana di sekitar sana. Namun langkahnya diurungkan tatkala penjaga villa memnggilnya.


"Tuan muda mencari Nona Alana?"


Ken yang kala itu meletakan kedua tangannya di atas pinggang dan menyoroti sekitar villa segera membalikan tubuhnya menghadap ke penjaga villa itu. "Iya, apa Paman tau di mana Alana?" tanya Ken.


"Nona sedari tadi ada di atas balkon, Tuan." Mendengar informasi itu, kedua mata Ken membulat dengan sempurna.


"Kenapa tidak memberitauku dari tadi?" Ken mengeraskan suaranya, membuat penjaga villa itu mengernyit serba salah. Pikiran buruk tiba-tiba  terlintas dipikiran Ken, hingga mengharuskan laki-laki itu untuk bergerak cepat menghampiri istrinya di atas balkon villa.


Memang benar yang dikatakan oleh penjaga villa itu. Saat Ken tiba di atas balkon, ia mendapati Alana berdiri di sana, ia terlihat memegang pembatas balkon sambil memejamkan kedua matanya dengan sedikit mendongakan wajahnya ke atas langit.


"Alana..." Ken berteriak, ia seketika menarik tangan Alana dan menjauhkan tubuhnya dari pembatas balkon itu. Membuat wanita itu terkejut dibuatnya.


"Ken?"


"Apa kau sudah gila? apa kau mau menyakiti dirimu lagi?" teriak Ken dengan wajah yang cemas.


"Ken, apa maksudmu?" tanya Alana dengan bingung.


"Kau mau mengakhiri hidupmu lagi?" serunya.


"Tidak..." Alana menggeleng kepalanya dengan menatap polos


"Lalu sedang apa kau di sini, kalau tidak berniat mengakhiri hidupmu?" tanyanya.


"Aku hanya ingin menghangatkan tubuhku di bawah sinar matahari saja," jawab Alana.


"Aku dari tadi berjemur di sini." Alana melebarkan senyumnya. Ken dengan seksama memperhatikan wajah dan tubuh Alana yang  basah akan penuh keringat, Tubuh Ken melemas, ia seketika bernapas dengan begitu lega.


Ken mengumpulkan suaranya yang hampir hilang bersama tenaganya, karna kepanikannya yang terlelu berlebihan. "Aku kira kau akan bertindak hal bodoh lagi," ucapnya sambil mengusap keringat di wajah Alana.


"Aku kan sudah berjanji  tidak akan melakukan hal bodoh  seperti itu lagi," kata Alana sambil tersenyum.


"Aku terlalu paranoid, berjemurlah, aku akan menemanimu di sini," tutur Ken.


"Kau tidak sarapan?" tanya Alana.


"Nanti saja..." jawab Ken seraya mendudukan tubuhnya di atas kursi yang di teduhi oleh payung besar di atasnya, membuat sinar matahari tak mengjangkau tubuhnya.


"Ken, kapan kita akan pulang?" tanya Alana.


"Terserah, kau ingin pulang kapan?"  tanya Ken.


"Sebenarnya aku ingin sekali tinggal di sini, suasananya..." Alana menghirup dalam-dalam udara sejuk di sana.


"Menenangkan sekali," sambungnya sambil tersenyum.


"Tapi, banyak sekali pekerjaanku dan pekerjaanmu yang tidak bisa di tinggalkan, toko kueku juga. Jadi kita pulang bulan depan," usul Alana.


"Baiklah, terserah kau saja," jawab Ken.


"Aku akan berjemur lagi..."


"Jangan terlalu dekat dengan pembatas!" perintah Ken. Alana mengiyakannya. Ia kembali berjemur di bawah teriknya sinar matahari, teriknya sang surya kala itu, memeras semua keringat yang ada ditubuh Alana hingga baju yang ia kenakan terlihat sudah basah sempurna. Saat ia sudah puas berjemur, Alana kembali menghampiri Ken yang masih setia menunggunya di sana.


"Sudah berjemur?" tanya Ken. Alana mengangukan kepalanya.


"Ayo kita turun..." ajak Alana, ia menarik tangan Ken dan segera turun dari balkon villa tersebut, mereka berjalan beriringan kembali ke kamar.


"Apa kau sudah mandi?" tanya Alana.


"Kau lihatnya bagaimana?" tanya Ken.


"Entahlah." Alana mengangkat kedua bahunya.


"Mandi maupun tidak, aku selalu terlihat tampan," jawab Ken.


"Percaya diri sekali..." gerutu Alana. Ia mendekati lemari dan mengambil handuk bersih di dalam lemari yang baru saja ia buka itu.


Ken tiba-tiba memeluk Alana dari belakang, membuat wanita terkejut dibuatnya. "Bau keringat..." ledek Ken seraya menutupi hidungnya.


"Kalau bau, jangan memelukku!" seru Alana seraya mencoba menjauhkan tubuh Ken darinya.


Ken terkekeh. "Ayo, aku akan memandikanmu," katanya.


"Aku bukan anak kecil... jadi aku bisa mandi sendiri," saut Alana. Ia berlalu meninggalkan Ken dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Namun, langkah kaki Ken tak gentar mengikutinya.


"Kau mau apa?" tanya Alana saat Ken berdiri di ambang pintu sambil menahan pintu kamar mandi yang hendak di tutup olehnya.


"Mau mandi juga..." Ken menerobos masuk begitu saja.


"Tidak! Kita bergantian..." tutur Alana seraya mendorong tubuh Ken agar keluar dari sana, namun tangannya sama sekali  tak memindahkan tubuh suaminya itu.


"Kita tidak pernah mandi bersama bukan? aku akan memandikanmu..." Ken mencoba merayu Alana.


"Tidak... tidak mau, keluarlah..." Alana berusaha mendorong tubuh Ken. Namun tangannya terlalu lemah untuk itu.


"Ken... keluarlah!"


"Ayolah, Alana..." Ken masih tak menyerah untuk merayu istrinya itu, membuat Alana mengernyit kesal.


"Alana..." Ken merayu memanggil nama itu dengan suara mendayu-dayu. Wajahnya yang menyebalkan membuat Alana terpaksa membiarkan suaminya tersebut untuk masuk dan  mandi bersamanya.


Alana terlihat duduk di dalam bath up yang di genangi oleh air dengan posisi membelakangi tubuh Ken, hingga laki-laki itu lebih leluasa memandangi punggung mulus istrinya itu. Ken begitu gemar sekali memainkan rambut panjang Alana yang dipenuhi oleh busa shampoo yang baru saja ia tuangkan ke tangannya.


Kedua tangan Ken yang mulanya sibuk mencuci rambut Alana, kini berpindah tempat menyentuh apa yang ingin sekali ia sentuh. Tangan itu mulai merayu tubuh istrinya hingga membuat mereka berdua bercinta di dalam sana.


***


Seusai mandi bersama, Alana dan Ken hendak pergi ke dapur untuk sarapan, namun suara dering yang berasal dari ponsel milik Ken, terpaksa  menghentikan langkah kaki mereka berdua yang hendak meninggalkan kamar itu. Ken berbalik dan segera meraih ponselnya yang kala itu tergeletak bebas di atas tempat tidur.


Terlihat ada satu panggilan video masuk dari Jesslyn.


"Alana, Jesslyn menelpon..." mendengar hal itu, Alana begitu girang. Ia mendekati Ken dan menyaut ponsel itu dan segera mengangkatnya.


"Jesslyn..." Alana menghadapkan wajahnya tepat di depan layar ponsel yang sudah memperlihatkan wajah Jesslyn dengan samar.


"Alana... bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Jesslyn.


"Oh iya, aku mau memberitaumu. Besok siang, aku, Kimmy dan Jasson akan ke villa menghampirimu dan kakak," ujar Jesslyn dengan penuh semangat.


"Benarkah?" tanya Alana. Jesslyn membenarkannya.


"Sungguh pusing kepalaku..." Ken menggerutu sambil menggeleng kepalanya, membuat Alana melirik ke arahnya.


"Jesslyn, tolong ajaklah Daven, aku sangat merindukannya..." pinta Alana.


"Baiklah, nanti aku akan menyuruh Jasson untuk mengajak Daven, sampai bertemu di sana..." heboh Jesslyn.


"Baiklah, terimakasih banyak..." Alana segera mengakhiri panggilan video bersama adik iparnya itu dan mengembalikan ponsel itu kepada suaminya.


"Ken... besok Jesslyn akan kemari." Alana melompat-lompat dengan begitu girang, membuat Ken tersenyum saat melihatnya.


"Sebegitu senangnya dirimu?"


"Ehem, Aku akan memasakan makanan spesial untuk Jesslyn, kita harus berbelanja untk besok," ujar Alana yang masih tak lepas akan kegirangannya.


"Biar Paman saja yang berbelanja, karna supermarket sangat jauh sekali dari sini," tutur Ken.


"Tidak mau, aku ingin berbelanja sendiri," rengek Alana.


Ken menghela napas. "Ya sudah nanti sore kita berbelanja," ujarnya. Ken menarik tangan Alana dan segera mengajaknya ke dapur untuk menikmati sarapan.


****


Sore harinya, Ken dan Alana akan pergi ke supermarket, namun Ken di sibukkan berdiri di depan pintu kamar mandi  sedang menunggu istrinya yang sangat lama sekali berada di dalam sana. "Alana cepatlah, supermarketnya sangat jauh, takut nanti akan kemalaman." Ken berkali-kali mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup itu hingga tak lama kemudian Alana membukakan pintu kamar mandi itu dengan raut wajah yang tak enak dipandang. Handuk berwarna putih terlihat melilit di pinggangnya.


"Ken, apa kau mempunyai pembalut?" tanya Alana.


"Kau yang benar saja, untuk apa aku punya  pembalut!" seru Ken. "Memangnya untuk apa pembalut?" tanyanya.


"Aku sedang datang bulan, jadi aku membutuhkan pembalut." Alana memelaskan wajahnya.


"Kau datang bulan? coba lihat..."


"Apanya yang mau di lihat?"  seru Alana sembari menjauhkan tangan Ken yang hendak menarik handuknya dan menyentuh area kesukan suaminya itu.


"Tolong mintakan pembalut kepada Bibi..." perintah Alana.


"Harus aku?" wajah Ken datar dengan suara malasnya. Alana melebarkan senyumnya  dan mengangguk dengan penuh harap. Ken mengembuskan napas kasar seakan itu hal yang berat baginya, ia pun terpaksa mengiyakan perintah istrinya untuk meminta pembalut kepada istri penjaga villa, setelah ia mendapatkan pembalut yang dimaksud oleh istrinya, ia kembali menemui Alana yang sedang menunggunya di dalam kamar.


"Ini..." Ken menyodorkan dua lembar pembalut kepada Alana.


"Kenapa hanya dua lembar?" protes Alana.


"Bibi kehabisan pembalut, pakai seadanya. Nanti kita beli di supermarket," tutur Ken. Alana mengiyakannya dan segera memakai pembalut tersebut.


Setelah itu, mereka berdua lekas pergi ke supermarket yang memiliki jarak tempuh 14,5 km dari villa yang mereka tempati saat ini dengan menggunakan mobil. Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membuat Alana lebih puas memperhatikan pemandangan sore hari di sepanjang jalanan yang dilewatkan oleh suaminya tersebut.


Setibanya Ken memarkirkan mobilnya dan mengajak Alana turun, supermarket yang mereka kunjungi terlihat dipenuhi oleh pengunjung. Karna hanya supermarket itulah satu-satunya tempat perbelanjaan kebutuhan sehari-hari yang terlengkap  di kawasan pedesaan itu, sangat beda sekali dengan di perkotaan, di mana supermarket dan toko bisa ditemui di mana-mana bahkan sangat mudah untuk dijangkau.


Ken dengan begitu sabar mendorong trolly dan mengikuti istrinya  ke sana dan kemari untuk membeli bahan-bahan makanan dan kebutuhannya sehari-hari yang sekiranya ia butuhkan. Bahkan saking lamanya Alana berbelanja membuatnya tak menyadari bahwa langit terlihat sudah hampir gelap.


***


Setelah Ken membayar semua barang belanjaan istrinya, ia segera mengajaknya untuk pulang.  Saat sudah berada di dalam mobil, Ken melajukan mobilnya untuk kembali ke villa, gelapnya malam dengan minimnya penerangan cahaya, membuat Ken harus berhati-hati mengemudikan mobil yang ia bawa saat ini.


"Apa kau takut?" tanya Ken yang sedari tadi memperhatikan Alana menunduk karna tidak mau melihat jalanan yang ia rasa menyeramkan itu. Alana mengangguk. Ken seketika menarik tubuh Alana dan menyuruh istrinya itu untuk bersandar dan memeluknya.


Kurang 300 meter perjalanan menuju ke villa, tiba-tiba Ken menghentikan paksa mobilnya, tatkala dirinya melihat  seseorang menghadang di depan mobilnya hingga membuat Alana terkejut.


"Ken, itu orang atau hantu?" tanya Alana yang seketika panik dan ketakutan, ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Itu orang..."


"Tunggulah, Aku akan turun sebentar," Ken hendak melepas sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya, namun tangan Alana menahan tubuh suaminya itu.


"Jangan turun, Ken. Bagaimana kalau dia orang jahat?" tanya Alana.


Tok... Tok... Tok...


suara ketukan di jendela kaca mobil membuat Ken mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Alana.


"Tuan, tolong..." orang itu berkali-kali mengetuk pintu mobil Ken. Ken segera membuka kaca pintu mobil itu hingga menampakan wajah seorang pemuda yang  asing baginya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Ken.


"Tuan, aku membutuhkan bantuan. Aku dan teman-temanku sedang melakukan perjalanan menuju ke villa yang letaknya masih 32km dari tempat ini, Sedangkan mobil kami mengalami  overheat,  dan salah satu temanku jatuh terpeleset saat sedang mengambil air hingga sampai sekarang dia belum sadarkan diri, tolong bantu kami..." pinta pemuda itu dengan raut wajah panik.


Ken hendak membuka pintu mobil itu dan turun, namun tangan Alana lagi-lagi menahannya. "Ken jangan..." Alana menggeleng kepalanya dengan raut wajah ketakutan.


"Alana, mereka butuh bantuan, kita harus menolongnya!" tutur Ken.


"Bagaimana kalau mereka orang jahat?" tanya Alana dengan berbisik namun laki-laki itu mendengarnya.


"Tidak, percayalah kepadaku!"


"Nona, aku bukan orang jahat, aku dan teman-temanku benar-benar membutuhkan bantuan," saut laki-laki itu.


Alana pun terpaksa melepaskan tangan Ken membiarkan suaminya itu turun dari mobil.


"Tuan, Di sini tidak ada bengkel dan sangat jauh dari klinik. Kebetulan villaku tidak jauh dari sini, ikutlah bersama kami. Kami akan memberikanmu tumpangan dan penginapan. Setidaknya sampai besok pagi," ujar Ken.


"Kami berlima, apa kau tidak keberatan memberi kami tumpangan?" tanya laki-laki itu. Ken terdiam sejenak menatap ragu.


"Tiga di antara temanku adalah  wanita, dan temanku yang jatuh terpelesat adalah seorang wanita, Tuan, kami benar-benar membutuhkan bantuan..." imbuhnya dengan meyakinkan.


"Baiklah..." jawab Ken.


"Terimakasih banyak... Aku akan memberitau teman-temanku terlebih dahulu..." laki-laki itu berlari cepat ke arah mobil yang terlihat berhenti 30 meter dari depan sana. Ken kembali masuk ke dalam mobil dan mengikuti orang tersebut.


"Sayang, kau membantunya? bagaimana jika mereka orang jahat?"  Alana melontarkan pertanyaan yang sama.


"Mereka membutuhkan bantuan kita, jadi kita harus membantunya, Sayang.


Kita berniat baik ingin membantu mereka, Tuhan akan melindungi kita, jika mereka berniat buruk. Jadi jangan takut," penuturan Ken membuat Alana sedikit tenang.


Ken menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil yang terhenti di depan mobilnya saat ini, laki-laki yang meminta tolong kepadanya terlihat keluar dari mobil itu sambil menggendong seorang wanita yang tengah tak sadarkan diri, ada beberapa wanita dan satu orang laki-laki yang mengikutinya dari belakang namun minimnya cahaya membuat wajah mereka begitu samar.


Mereka berlima berjalan menuju ke mobil Ken. Ken dan Alana turun membantu membukakan pintu mobil tersebut.


"Alana?" suara seorang laki-laki yang tak asing di pendengaran Alana membuat wanita itu menoleh, ia  dengan seksama  memperhartikan dan memastikan wajah laki-laki itu.


"Darrel?" Alana berucap lirih. Ia begitu terkesiap saat melihat mantan kekasihnya tersebut. Bahkan bukan hanya Darrel saja, tetapi juga ada Lecya dan Clara. Alana mengalihkan pandangannya melihat ke arah wanita yang digendong oleh laki-laki tadi, wanita itu tengah tak sadarkan diri dan di penuhi dengan beberapa luka di bagian tubuhnya.


"Laurrent?" Alana seketika menjauhkan tubuhnya, mundur beberapa langkah dari mereka.