
Pagi ini cuaca begitu cerah, sengatan cahaya matahari pagi menyentuh hangat permukaan kulit setelah semalam di guyur hujan hingga pagi menjelang. Dan pagi ini adalah hari libur bagi Ziana, ia terus bergelung dalam selimut meskipun cahaya mentari pagi telah masuk menembus jendela kamarnya.
"Bangun sweety, apa kau akan terus seperti ini, hmm?" Ziana terus memeluk tubuh Aditya, ia terus mendekap erat tubuh suaminya seakan tak ingin di tinggalkan.
"Apa hari ini kau bekerja?" tanya nya dengan mendongakan kepalanya dan masih dalam posisi memeluk Aditya.
"Iya hari ini ada pertemuan dengan klien baru, kenapa kau mau ikut ke perusahaan?"
"Apa tidak bisa di tunda? hari ini aku ingin sekali seharian bersama mu." rengek Ziana dengan manja nya.
"Tidak bisa sweety, begini saja kau ikut dengan ku ya? setelah itu kita akan kencan di luar bagaimana?"
"Tidak mau pasti membosankan jika aku ikut dengan mu, aku akan di rumah saja rebahan seharian menunggumu pulang. Setelah itu kita kencan di luar ok?"
"Baiklah aku setuju, ingat jika kau akan keluar appartemen segera kabari ya jangan pergi sendirian." Ucap Aditya dengan mencium puncak kepala istrinya yang mengangguk setuju dengan apa yang ia katakan.
Kau begitu menggemaskan dengan tingkah manja mu, aku semakin mencintai mu.
"Kalau begitu aku akan membersihkan diri ku lebih dulu." Aditya pun menggeser tubuh istrinya yang entah mengapa hari ini begitu manja dan begitu lengket kepadanya.
"Jangan lama ya." Ziana tersenyum dan ia pun beranjak berdiri untuk menyiapkan segala keperluan suaminya.
Setelah itu ia menuju walk in closet untuk memilihkan kemeja, jas, dasi, sepatu dan juga jam tangan yang akan di kenakan suaminya nanti. Ziana berjalan ke dapur untuk membuatkan sarapan sederhana untuk suaminya seperti biasa hanya 2 gelas susu dan juga sandwich.
Begitu selesai Aditya keluar kamar dan duduk di meja makan untuk sarapan bersama Ziana.
"Sweety kau libur berapa hari?"
"Ke sambung weekend jadi lama, mungkin hampir seminggu." ucapnya dengan menggigitt sandwichnya.
"Bagaimana kalau kita liburan apa kau mau?" ucap Aditya dengan meminum susu dan melanjutkan sarapannya.
"Mau banget, kemana suami ku?" Tanya Ziana dengan matanya yang berbinar juga tingkah manjanya.
"Terserah kali ini kemana tempat impian yang ingin kau kunjungi?"
"Aku ingin pergi ke Paris, kau bilang itu kota romantis kan?"
"Baik lah nanti Angga yang mengurus semuanya, kebetulan minggu ini kerjaan ku tak terlalu banyak." Aditya beranjak berdiri karena ia telah selesai sarapan. Ziana pun melakukan hal yang sama dan ia pun memeluk tubuh Aditya dengan erat.
"Jangan pulang lama - lama ya, aku akan sangat merindukan mu."
"Kenapa hari ini kau sangat manja, hmm?"
"Aku juga tak mengerti tapi aku ingin selalu bersama mu."
Cuppp
Ziana pun mengecup pipi suaminya, dan itu membuat Aditya tersenyum bahagia ini merupakan pertama kalinya Ziana berinisiatif sendiri tanpa di minta, mencium nya meski hanya di pipi. Tanpa membuang kesempatan Aditya pun mencium bibir istrinya lembut setelah itu ia mencium kening Ziana.
"Tunggu aku sweety, aku pasti pulang cepat."
Beberapa jam setelah Aditya pergi, Ziana mulai merasa bosan dengan segara ia pun mendial nomor sahabatnya Lena.
"Hallo calon manten." seru Ziana.
"Gue matiin nih." Jawba dari suara di sebrang sana dengan kesal.
"Ishh ngambek terus cepet keriput lo, mau ngalahin Oma lo?"
"Udah deh lo intinya apa nih?"
"Lo sibuk nggak? jalan yuk."
"Gue lagi nggak di rumah ini, nganter Oma ceriwis ke rumah sodara gue, gimana dong?"
"Oh ya udah nggak apa- apa kok, kalau gitu gue ke tempat suami gue aja kayaknya."
"Nah gitu dong sesekali lo kasih dia surprise gitu biar dia makin kaya ulet keket sama lo."
"Monyong lo, udah ah."
Panggilan pun terputus dengan Ziana yang mengakhirinya. Setelah itu ia pun berjalan menuju bathroom karena bosan hanya menunggu di appartemen maka Ziana memutuskan untuk pergi ke perusahaan suaminya memberi kejutan pada Aditya.
Setelah selesai membersihkan diri, ia menuju walk in closet saat ini pilihan busana yang ia kenakan berbeda dari biasanya untuk menghargai suaminya. Pakaian yang tak pernah ia beli sebelumnya karena Aditya menyiapkan segala keperluannya dari mulai baju, tas, sepatu bahkan sampai skincare telah di sedia kan suaminya, apalagi soal perhiasan yang sudah berderet cantik di lemari khusus perhiasan untuknya.
Pilihannya jatuh pada dress putih cantik selutut dengan memakai perhiasan berlian dan juga sepatu high heels berwarna senada, agar menunjang penampilnnya ia pun menenteng tas kecil yang juga berwarna putih. Setelah itu riasan wajahnya yang ia poles dengan riasan natural.
"Ah sudah selesai tinggal, aku ingin memberikan kejutan untuk suami ku. Tapi tadi katanya aku harus memberitahunya jika keluar appartemen, jika ia tau lebih dulu namanya bikan surprise dong." gumam Ziana, dan ia memutuskan untuk tak memberi tahu Aditya.
Saat ini ia pun turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift, setelah sampai di lobby appartemen ia pun berjalan karena taxi oline pesanan nya sudah sampai.
Selama beberapa menit perjalanan menuju perusahaan Erlangga Corp, jantung Ziana terus berdebar ia merasa gugup dan juga gelisah.
"Gue kenapa sih? padahal cuma mau ketemu suami sendiri, ini jantung kayak lagi di kejar kamtib." ia pun mencoba mengatur nafasnya agar tak terlalu gugup.
Begitu sampai di depan perusahaan ia pun menghentikan taxi nya agar tak masuk ke dalam gedung, karena ia ingin membeli coffe latte juga chocolate tiramisu kesukaan ia dan suaminya sebagai buah tangan yang ia bawa di caffe sebrang jalan perusahaan Erlangga Corp.
Ia pun pergi menuju caffe tersebut dan memesan coffe latte dan juga chocolate tiramisu, saat menunggu pesanan nya Ziana terus menatap ponsel melihat foto Aditya, ia berharap bahwa suaminya akan senang melihat kedatangannya.
Pesanan pun sudah di tangan maka ia pun melangkah dengan pasti untuk segera menemui Aditya, saat akan menyebrang jalan sebuah mobil suv hitam melaju dengan kecepatan tinggi.
Brakkk
"Aaaaa." Ziana berteriak beruntungnya ada seseorang yang menarik tangan nya dan memeluknya sebelum ia tertabrak, sehingga orang yang menolongnya yang terserempet mobil dan mereka pun jatuh, kepala Ziana membentur jalan hingga mengeluarkan darah. Dan orang yang menolongnya juga jatuh dengan luka robek di tangan dan kakinya.
Darah segar yang keluar dari kepalanya menjadikan baju putih yang ia pakai pun berubah warna. Dengan merangkak ia mendekati Ziana yang masih setengah sadar.
"Bangun,aku mohon bangun Ziana." Sesaat sebelum matanya tertutup Ziana sempat tersenyum. Dan menggapai wajah pria yang telah menolongnya, setelah itu banyak orang mendatangi mereka untuk menolong, karena memang ini masih jam kerja maka sedikit orang yang mengetahui kejadian nya.