In Memories

In Memories
part 17



Mobil sport itu terus melaju kencang menuju tempat makan yang berada di tengah kota, sebuah restoran yang hanya bisa di datangi oleh mereka kaum atas bukan menengah apalagi bawah.


Setelah mobil terparkir mereka keluar dan berjalan menuju restauran dan dengan cepat pelayan langsung memberikan sambutan.


"Selamat siang, Tuan dan Nona apakah sudah pesan tempat?? atau....." ucapan pelayan wanita yang belum sempat terucap di potong Aditya.


"Vip room 1." ujar Aditya.


"Oh baik silahkan." Pelayan tadi lalu berjalan di depan mereka untuk mengantar tamu nya ke tempat yang di tuju.


Setelah itu pelayan tersebut membuka kan pintu, di sana sudah terdapat beberapa hidangan yang sudah di pesan. Ruangan dan segala yang ada di dalam nya itu sudah di persiapkan oleh Angga maka Aditya tak perlu repot harus mempersiapkan semua nya.


"Silahkan Tuan dan Nona selamat menikmati, jika ada yang kurang anda bisa memanggil kami." dengan sedikit membungkuk pelayan tersebut pamit untuk pergi.


Mereka berdua masuk dan duduk dengan saling berhadapan.


"Jika ada yang masih ingin di pesan, pesan saja." Aditya berucap dengan mengambil minuman yang ada di hadapan nya.


"Ah tidak ini sudah cukup Kak." Ziana tersenyum kemudian melihat ke arah meja makan dengan beberapa masakan, ada yang belum pernah ia coba. Dengan tanpa di sadari ia menelan saliva nya melihat makanan enak tersaji di depan mata.


Ini makanan *pasti enak semua biar pun gue belum pernah coba tapi gue yakin pasti enak apalagi ini resto mahal. Sampai tuyul berambut pun gue mana bisa makan di tempat ini. batin Zia*na.


Lihatlah kelakuan nya yang selalu ekspresif, lihat makanan seperti ini saja matanya begitu berbinar apalagi dengan yang lain. Kamu apa adanya tidak seperti perempuan lain yang selalu menjaga image nya. batin Aditya.


"Makan dulu setelah itu ada yang mau saya bicarakan."


"Baik lah." Ziana menjawabnya dan mulai melahap makanan yang ada di meja itu.


Mereka makan dalam diam, Ziana terlihat sangat menikmati hidangan yang di sajikan restoran mahal ini, dan setelah beberapa lama akhirnya mereka pun selesai makan.


"Ini dan ini baca dan pelajari." Aditya memberikan paper bag besar kepada Ziana dan sebuah kertas kepada nya.


"Ini apa dan buat apa?" Ziana yang tak mengerti dengan segera melihat apa yang di berikan Aditya.


"Baju untuk nanti malam, dan itu tulisan yang harus kamu hapal agar saat orang tua saya bertanya jawaban kita sama." Aditya memberikan penjelasan dengan tangan yang satu memegang ponsel dan satunya lagi membuat gesture di dagu.


"Oh oke hanya ini kan?" Ziana bertanya dengan tangan yang masih sibuk memegang kertas yang di berikan oleh Aditya.


Berasa mau ujian tapi ini ujian sandiwara dengan camer bohongan, panjang banget ini kayak mau sidang skripsi. Kapan gue ngapalin nya coba??


lagian gue dapat apa sih ikutan ginian dia yang untung gue yang puyeng. arggggghhhh


"Hmmm..." Aditya mengangguk sebagai jawaban.


"Apa sekarang kita bisa pulang? aku kan harus menghapal ini dulu kalau ke buru sore nggak bakal hapal ini."


"Baiklah." Aditya beranjak berdiri dan langsung meninggalkan Ziana yang dengan segera ia mengikuti langkah Aditya pergi ke parkiran. Begitu masuk mobil, Aditya dengan segera menghidupkan mobilnya dan langsung pergi meninggalkan restauran itu.


Selama perjalanan tidak ada perbincangan hanya hening seperti biasa. Keadaan yang canggung membuat Ziana hanya bisa memperhatikan kertas yang tadi untuk mulai menghapalnya.


Mobil pun sampai di depan rumah Ziana, saat Ziana akan turun dari mobil, Aditya menoleh.


"Nanti saya jemput jam 8, ingat hapalkan!!" ucapnya dengan wajah nya yang kaku tanpa ada senyuman.


"Baiklah pasti aku hapalkan." Ziana tersenyum dengan mengacungkan kertas hapalannya.


Seperti biasa Aditya langsung pergi melaju meninggalkan rumah Ziana. Sedangkan ia sendiri melangkah masuk rumah agar bisa secepatnya istrahat dan menghapal.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Bu Rina.


"Baru pulang kamu?"


"Iya Bu ini aku baru pulang, masih banyak kerjaan nya Bu?" tanya Ziana dengan pergi ke arah dapur untuk mengambil minum. Ia merasa setiap berbicara dengan aditya yang selalu menguras emosi yang terpendam membuat nya membutuhkan asupan cairan untuk membasahi tenggorokan dan hati nya yang panas agar dingin kembali.


"Sedikit lagi Ibu kebut biar bisa nongki cantik sama Ibu - Ibu di depan."


"Ishh Ibu gibah terus harusnya dengerin ceramahnya Mamah Ebeh biar Ibu bisa sedikit lembut." Ziana mencibir.


"Halah kamu kalau Ibu ceramahin dikit aja kayak


Mamah Ebeh kuping kamu langsung panas, apalagi kalau ibu rajin liat ceramahnya, pasti kamu sama Zian yang ibu kasih ceramah ala Mamah Ebeh dan itu Ibu pastikan sampai satu jam lebih. mau kamu?" tanya balik Ibu nya dengan terus membereskan laundryan nya.


Ziana begidik ngeri mendengar apa yang di ucapkan oleh Ibu nya, tak akan bisa di bayangkan jika itu terjadi.


"Nggak usah Bu, udah Ibu gosip aja kalau bisa sampai ada data statistik dan konkret nya biar detail dan akurat sekalian." Ziana langsung pergi ke kamarnya.


"Mau kemana kamu, makan dulu?" teriak Bu Rina.


"Udah makan tadi Bu." Ziana pun menutup pintu kamar lalu pergi merebahkan dirinya di kasur.


"Ah capek nyaa coba gue liat baju apa yang harus gue pake ntar malam." guman Ziana dan tangannya pun meraih paper bag besar yang ada di hadapan nya. Ia pun terkejut melihat gaun indah yang ada di hadapan nya kini.


"Ya ampun ini bagus banget pasti mahal, padahal cuma mau makan malam sama orang tua sendiri tapi kayak mau pergi ke pesta, ah dunia orang kaya selalu nggak pernah ngerti gue." Ia lalu menyimpan kembali gaun itu dan mulai membaca kertas yang harus di hapalnya.


***


Setelah pertandingan basket kemarin yang di lihat semua anak kelas satu dan tiga, dirinya makin di kenal. Setiap ia melangkah selalu saja ada yang menyapa atau hanya tersenyum terhadapnya dan itu sudah di pastikan hanya kaum siswi yang makin terpesona dengan Zian.


"Lo makin tenar aja Zian, kasian si Frida." Ucap Luki yang berjalan sejajar dengan Zian.


"Apa hubungan nya?" Zian mengerutkan keningnya tak mengerti perkataan temannya itu.


"Kan saingan dia makin banyak." Luki menjawab dengan terkekeh.


"Monyong lo, biarin lah biar dia berhenti ganggu gue."


"Padahal tinggal di terima aja toh dia cantik."


"Ogah gue." ketus Zian.


Mereka pun berjalan masuk menuju kelasnya, karena tadi mereka berdua ke toilet setelah dari kantin.


Tanpa mereka sadari ada orang yang dengan hati terluka mendengarkan omongan mereka.


"Apa sesulit itu membuka hati untuk ku Zian? apa aku harus mundur setelah perjuangan ku tak pernah kamu hargai." tanpa teras air mata nya jatuh menetes pada pipinya yang mulus itu.