In Memories

In Memories
part 50



Jam sudah menunjukan angka 6 pagi, Ziana yang masih bergelung dalam selimut nya terasa sangat berat untuk membuka mata nya, karena rasa nyaman yang tengah ia rasakan saat ini membuatnya betah untuk terus berada dalam posisinya.


Tetapi alarm yang berbunyi dari ponselnya memaksanya untuk segera bangun, ia meraba seluruh permukaan tempat tidurnya untuk mencari ponselnya.


Setelah mematikan nya ia bersiap kembali untuk tertidur tetapi niatnya terpaksa harus ia urungkan mendengar teriakan dari Ibu nya dari luar pintu kamar.


"Zi bangun udah siang ini, udah jam 8."


Ziana malah mengikuti ucapan Ibu nya dari dalam kamar tanpa bersuara, ia sudah tau Ibunya pasti akan membangunkannya dengan menambah 2 jam waktu yang sebenarnya.


"Issh kebiasaan deh si Ibu." Ziana pun bangun dan mulai melangkah menuju pinta kamarnya.


Ceklek


"Zi udah bangun ini mau langsung mandi aja, kosongkan Bu?" tanya Ziana setelah ia keluar dari kamarnya.


"Ia kosong si Zian belum bangun." Bu Rina yang tengah mempersiapkan sarapan tapi tidak seperti biasanya kali ini menu nya masih sama dari semalam, makanan kiriman Aditya.


Setelah beberapa saat semuanya telah bersiap dan berada di meja makan.


"Bu masa kita sarapan pake makanan jepang gini apa nggak akan sakit perut? tanya Ziana yang melihat makanan yang telah tersaji di meja makan.


"Di makan aja udah dari pada di buang lagian ini makanan mahal, jarang - jarang kita sarapan ginian." jawab Bu Rina dengan mulai melahap sarapannya.


"Mahal sih Bu tapi kalau masih pagi makan yang gini trus kita mules gimana?" sahut Zian menimpali ucapan Ibu nya.


"Nggak akan pada dasarnya semua makanan itu baik kok, mau di makan kapan pun asal jangan makan pedas kalau masih pagi. Ini kan nggak ada tuh Ibu pisahin."


"Oke baiklah mari kita mencoba merasakan sarapan horang kaya." Zian mulai mengunyah makanan yang tersaji di meja makan.


"Lagian Zi apa nggak salah pacar kamu ngirim makanan segini banyak. Ibu aja sampai pusing liat nya."


"Nggak tau Bu, nggak ngerti Zi juga."


***


Hari ini merupakan jadwal pemotretan pertama bagi Ziana, setelah selesai jam kuliah ia segera pergi ke perusahaan Aura kosmetik tempat ia mencari nafkah dan pengalaman pertamanya.


Begitu tiba di lobby perusahaan, ia langsung menuju lift untuk menuju ke lantai 4. Saat lift terbuka ia langsung masuk tak menyadari Evan yang ikut masuk ke dalam lift.


"Jadwal pemotretan pertama sekarang Zi?" ucapnya yang kini ada di belakang Ziana


"Eh Evan sorry gue kira bukan lo?" Ziana tersenyum canggung.


"Santai aja." Evan tersenyum dengan membenarkan letak rangsel yang ia sampirkan di bahu kirinya.


"Lo bagian hari ini juga?"


"Iya makanya sekarang gue di sini nggak mungkin juga kalau gue nggak ada kerjaan ke sini."


Tingg..


Pintu lift terbuka, mereka segera melangkah untuk pergi menuju studio pemotretan di lantai 4.


"Hallo saya Dean,selamat datang di team kita karena kamu merupakan model baru, semoga bisa nyaman dengan cara kerja kita." ucap seorang fotografer pada Ziana saat mereka baru memasuki ruangan studio.


"Ah baiklah perkenalan nanti bisa di lanjutkan secara personal sekarang silahkan bersiap dulu, di sebelah sana MUA sudah menunggu." Dean menunjukkan tempat di salah satu sudut ruangan.


"Hai bro mulai sekarang nih?" Ia beralih bertanya pada Evan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi Ziana.


"Iya nih bagian tema couple kan sama dia?"tanya Evan dengan menunjuk Ziana yang telah pergi untuk bersiap - siap.


"Iya sesuai lah ya kayak nya cocok kalau jadi couple beneran." Dean tertawa kecil saat ia mengucapkan hal itu.


"Gue aminin aja deh doa baik baliknya juga baik." Evan pun berlalu pergi untuk bersiap sebelum pemotretan di mulai.


***


Sementara itu di gedung perusahaan yang berbeda, Aditya yang tengah kesal karena ia sangat sulit menghubungi Ziana telpon dan pesan yang ia kirim pun tak ada balasan sama sekali.


"Kemana dia? apa sesibuk itu hingga melihat ponsel pun tak sempat.Arggggggghhh." Ia mengusap wajahnya kasar.


Tok..Tok..Tok


"Masuk."


"Tuan hari ini ada makan siang dengan Tuan Simon di resto xx," ucap Angga begitu ia masuk ke dalam ruangan Aditya.


"Baiklah." Aditya pun segera berdiri dan melangkah pergi untuk menemui klien nya tersebut.


Mobil yang mereka tumpangi mulai meninggalkan perusahaan, mereka berangkat sebelum jam makan siang karena akan sangat memakan waktu yang lama jika berangkat bertepatan dengan jam istirahat pasti akan terjebak kemacetan yang panjang.


Aditya paling membenci akan hal itu, menunggu baginya adalah hal yang sangat ia hindari dalam hidupnya.


Setelah sampai ia pun turun dan melangkah masuk menuju VIP room resto XX, namun mata nya menangkap sosok yang sangat ia kenali. Di saat yang bersamaan ia melihat Ziana yang tengah makan bersama rekan satu team pemotretan nya.


Dan ia juga melihat Evan yang juga ada di sana bersama dengan Ziana. Meski mereka makan tak hanya berdua tapi itu cukup membuat dadanya bergemuruh, kepalanya serasa mendidih dan rahangnya pun mulai mengeras tangannya mulai terkepal melihat gadis yang berstatus miliknya tengah tertawa dengan riangnya dan Evan yang dari tadi terus menatap wajah Ziana.


Itu sudah cukup membuatnya tak bisa mengontrol emosinya. Aditya yang berhenti melangkah dan berbelok menuju tempat berkumpulnya Ziana dan team.


"Bisa kita bicara." Seketika semua nya langsung terdiam dan menatap Aditya sedangkan Angga yang tak mengerti hanya diam mematung di tempat tadi saat Aditya berhenti.


"Kak Ditya." wajah Ziana seketika memucat ia tau dengan pasti jika melihat dari ekspresi Aditya kekasihnya itu sedang menahan amarahnya.


"Aku keluar sebentar ya." Begitu ia berdiri tangan nya langsung di tarik Aditya menjauh dari resto. Evan hanya menatap Ziana pergi tanpa bisa melakukan apa pun.


"Jadi begini kelakuan mu, hah?" Emosi Aditya mulai memuncak mengingat dari tadi ia menunggunya tapi apa yang ia lihat sekarang Ziana nampak bersenang - senang dan tak memikirkannya sedikit pun.


"Apa maksud Kak Ditya?" Ziana yang tak mengerti arah pembicaraan Aditya bertanya dengan wajahnya yang polos.


"Lihat saja ponsel mu."


Dengan segera Ziana pun membuka ponselnya dan ada beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan dari Aditya.


"Maaf Kak, dari tadi aku belum melihat ponselku."


"Cih kau sudah membuatku kecewa, ingat apa janjimu dulu." Aditya menatap dingin Ziana, tak ada lagi sorot keteduhan yang ia perlihatkan setelah menjadi kekasihnya.


"Maaf Kak aku sungguh minta maaf, aku janji nggak akan mengulangi nya lagi tolong maafkan aku Kak." Ziana menggenggam erat tangan Aditya dengan mata berkaca - kaca ia takut kehilangan cinta Aditya.