
"Ishh mulut lo kalau ngomong bisa kedengeran sampai alam barzah tau nggak sih!" Ziana membungkam mulut Lena yang berbicara dengan nada tinggi tanpa melihat keadaan sekitar yang tengah ramai oleh lalu lalang mahasiswa.
"Awas ih tangan lo." Lena menghempaskan tangan Ziana yang menutup mulutnya itu.
"Makanya ngomong itu pelan dikit, ini ngomong kenceng udah gitu ngebahas masalah ranjang lagi. Malu tau." Ziana mengerucutkan bibirnya.
"Berarti benar kan dugaan gue, sehari lo pasti belah duren berkali - kali liat tuh bibir lo aja sampai bengkak kayak di sengat lebah tapi bedanya yang nyengat lo bukan lebah tapi predator. Terus aja lo di giling Mun." Lena tertawa terbahak - bahak saat mengucapkan hal itu.
"Monyong lo, emang kalau urusan mojokin orang lo nomor satu Dah." Ziana menoyor kepala sahabat gesreknya yang jika mengeluarkan kata - kata tidak pernah di filter lebih dulu.
"Eh gimana rasanya? cerita sama gue dong penasaran ini." Mereka terus berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan setiap kelas.
"Lo penasaran dan mau tau gimana rasanya?" tanya Ziana dengan menoleh ke arah Lena yang tengah menatapnya bagai kucing yang ingin di beri makan.
"Iya buruan lo cerita."
"Nikah aja dulu noh sama dokter Bara, ntar juga lo kan rasain sendiri gimana rasanya." ucap Ziana dan ia pun kini berlari untuk menghindari amukan Lena karena perkataan dari nya.
"Mumun alias Ziana binti Risman, jangan lari lo! gue gibeng lo nyungsep di kandang sapi tau. Woy tunggu!" Lena pun berlari menyusul Ziana yang terus berlari dan sesekali Ziana berbalik menjulurkan lidahnya meledek Lena.
Sampai akhirnya karena tak memperhatikan jalan di depannya, Ziana menabrak seseorang di depannya.
Bruukkk..
"Aduh." Buku yang di bawa Ziana berserakan jatuh di lantai.
"Maaf." ucap Ziana dengan refleks langsung memunguti buku nya dan Evan yang juga ikut membantu. Ya orang bertabrakan dengan Ziana adalah Evan.
"Jangan lari untung lo nabrak gue kalau nabrak tembok bisa patah hidung lo." Jarak Evan dan Ziana yang dekat karena kini mereka tengah membereskan buku yang berserakan di lantai. Secepat kilat Ziana langsung berdiri, ia takut suaminya akan tau dan salah paham.
"Sorry gue tadi buru - buru."
"Nah kan kena karma instan lo." Ucap Lena yang datang dari arah belakang dengan mengatur nafasnya.
"Ah kalau gitu gue permisi dulu ya, bye." Ziana langsung menarik tangan Lena untuk segera pergi dari tempat itu.
"Eh lo kira gue kucing main tarik aja, baru juga gue ngatur nafas ini."
"Udah sih lo ikutin gue aja, nurut kenapa." Mereka terus berjalan meninggalkan Evan yang kini melihat mereka dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Gue kangen lo, Zi..
Setelah mereka sampai di kelas, Ziana pun langsung menghempaskan dirinya di kursi. Ia pun menghela nafas panjang karena lelah dan juga karena detak jantungnya yang tak normal, di saat hari pertamanya masuk kuliah ia malah bertemu dengan orang yang paling ia hindari.
"Kenapa sih lo liat si Evan udah kayak liat buto ijo, kan cape gue." Lena yang kini tengah mengipaskan buku di depan wajahnya karena keringat yang keluar saat ia berlari tadi.
"Nggak perlu di jawab juga lo pasti tau." ucap Ziana yang kini masih merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Gue juga bingung masalahnya gue nggak mau suami gue tau, dia nggak suka banget sama Evan dan gue nggak mau ribut aja sampai rumah kalau dia sampai tau." ucap Ziana yang kini tengah mencari ponselnya yang tengah bergetar karena ada notif masuk.
"Heran gue jadi laki cemburuan amat lagian udah sah juga gitu mana mungkin di ambil orang juga." celoteh Lena yang tak mengerti dengan sikap Aditya.
"Namanya juga cinta." Ziana membela suaminya dengan gaya jumawanya.
"Preetttt."
Tak berapa lama dosen pun masuk untuk memulai perkuliahan di pagi hari ini.
***
Aditya terus berjalan mondar - mandir dan pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu Ziana, istrinya. Saat ini penampilannya sudah sangat berantakan, rambut nya yang telah menutupi kening, dasi yang longgar dengan lengan baju yang telah ia gulung sampai siku lengannya. Penampilan nya seperti bad boy tapi itu justru malah menambah kadar ketampanannya.
Ia membawa ponsel yang ada di mejanya dan mendial nama orang yang bisa membantunya untuk bertukar pendapat tentang permasalahannya saat ini.
"Hallo bro ada hal penting apa nih?" Bara mengangkat telpon dari sahabatnya, ia tau jika Aditya menelpon saat jam sibuk pasti ada sesuatu yang tak beres.
"Ziana di incar orang." Aditya menghela nafasnya, Bara adalah salah satu orang yang ia percaya, selain Angga dan team Eagle.
"Whatt!" seru Bara yang kaget mendengar perkataan Aditya.
"Kok bisa?" lanjutnya dengan masih berdiri karena kaget mendengar ucapan sahabatnya itu.
Aditya pun menceritakan semua nya, tentang teror yang ia terima sebagai ancaman baginya dengan menjadikan Ziana incarannya.
"Kau pasti kambuh lagi kan?" tanya Bara yang sangat tau kondisi Aditya, hanya Bara juga Angga yang selalu tau jika dirinya kambuh dari traumanya.
"Hmm." Aditya hanya berdehem sebagai jawaban.
"Kau jangan terlalu banyak pikiran serahkan semua nya pada team Eagle, mereka bisa di andalkan. Aku yakin istrimu akan baik - baik saja selama dalam pengawasan mereka." ucap Bara mencoba menenangkan Aditya.
"Selama ini aku tak pernah takut pada apa pun, tapi kali ini aku tak bisa mengontrol emosi ku setiap apa yang berkaitan dengan istriku."
"Aku sarankan kau pergi menemui dokter Dila, kau sudah lama tidak kontrol kan? kau harus tetap tenang agar kau bisa melindungi istri mu."
Aditya memijat keningnya, ia merasa sangat frustasi di satu sisi ia ingin bersikap seperti biasa seolah tak ada yang terjadi tapi di sisi lain ia tak bisa menganggap ini hal yang biasa karena suatu waktu Ziana bisa saja hilang dari jangkauan nya. ini sangat menyita pikirannya dan itu akan berdampak pada traumanya.
"Baik lah nanti akan aku usahakan untuk kontrol lagi." Ia pun menutup panggilan telponnya.
Bara yang memang tau kehidupan Aditya dari dulu tentang semua hal yang mungkin orang tidak tau. Ia menghela nafasnya panjang seolah merasakan beban yang sama dengan sahabatnya itu.
"Ini yang aku tak suka dari dunia bisnis, akan selalu ada hal seperti ini di kemudian hari. Dan dampaknya hanya orang yang kita cintai yang ikut terseret dan menjadi korban." gumam Bara yang kini termenung memikirkan nasib Aditya. Ia dan Aditya bagai saudara meski beda profesi dan kepribadian yang jauh berbeda tapi mereka saling melengkapi dan melindungi. Persahabatan yang sudah terjalin lama menjadikan ikatan batin mereka semakin kuat.