
Sore hari toko laundry milik Bu Rina biasanya akan semakin ramai di datangi oleh langganannya, baik itu untuk mengantarkan cucian kotor atau pun untuk membawa pakaian yang sudah di laundry. Sore hari merupakan waktu paling tepat karena mereka baru pulang dari bekerja atau dari kampus mereka, pelanggan yang datang memang kebanyakan dari mahasiswa dan pekerja kantoran.
"Encon." teriak Bu Rina memanggil pegawai satu - satunya di toko miliknya itu.
"Conita Bu." sahut pegawai yang sebenarnya bernama Conita tapi Bu Rina tetap memanggilnya Encon dengan alasan namanya susah untuk di panggil jadi Bu Rina berinisiatif memanggilnya dengan sebutan Encon. Padahal sudah berapa kali dirinya mengeja kembali namanya jika ia di panggil oleh majikannya itu.
"Ah sama aja, buruan kamu susun semua yang sudah Ibu tulis ya biar nggak pusing nanti kamu kalau orang yang mau ngambil barangnya bisa langsung cepat tanpa menunggu lagi." terang Bu Rina memberikan titahnya.
"Baik Bu." Ia pun pergi berbalik dengan menyusun semuanya sesuai tulisan yang di berikan Bu Rina.
"Ah semuanya sudah beres, si Bapak kebiasaan jam segini pasti lagi mandiin ayam laknat kalau kata si Zian." Ia tertawa sendiri jika mengingat Zian selalu mengumpat kalau ayam yang hanya ada satu di rumah mereka itu adalah ayam laknat nggak ada akhlak.
Ya Zian paling tak suka mendengar ayam Bapaknya berbunyi pada waktu menjelang subuh, karena ia merasa sangat terganggu dengan ayam yang di beri nama Predy itu.
Pernah dulu si Predy di beri obat tidur karen ingin tidurnya tak terganggu tapi emang dasar si Predy menolak lemah ia tetap mengeluarkan suara merdunya di pagi buta. Zian tak pernah menyerah untuk membuat si Predy dengan memberikan minuman bersoda untuknya tetap saja tak mempan malah suara si Predy yang tadi nya merdu menjadi seperti ayam yang sawan, lengkingan suaranya aneh.
Kalau sudah begitu Bapak pasti langsung menuduh Zian biang kerok ayam kesayangannya seperti hidup segan mati tak mau.
Saat tengah asik melamun Bu Rina di kagetkan dengan suara cempreng Ziana yang baru datang.
"Ah calon manten, bagaiman kabar mu hari ini nak?tanya Bu Rina dengan lembut.
"Biasa aja Bu jangan manis gitu ah, merinding aku dengernya." Ziana bergidik melihat kelakuan Ibunya yang berubah menjadi lembut.
Plak..
"Aww sakit Bu." Ziana mengusap tangannya yang di pukul oleh Ibunya.
"Dasar kamu ini ya, harusnya kamu senang Ibu jadi lembut gini."
"Kayak biasa aja Bu, aku kok malah takut Ibu kalau gitu."
"Ibu itu lagi latihan lembut biar nanti pas di hadapan calon mantu Ibu udah terbiasa nggak kaku dan nggak keceplosan, Ibu takut nanti nak Aditya kaget kalau tau sifat keluarga kita." jawab Bu Rina panjang lebar.
Conita yang tengah menyusun baju dan membelakangi mereka pun mencebikkan bibirnya, ia kesal karena nama bagus nya menjadi Encon.
"Nggak akan Bu tenang aja Kak Ditya nggak seperti itu, orangnya baik kok." lanjut Ziana lagi, mereka kini tengah mengobrol dengan berdiri di dalam ruangan toko.
"Kamu kok bisa sih suka sama orang kaku gitu Zi?"
tanya Bu Rina.
"Orang pura - pura buta pun bakal langsung melek Bu liat dia jalan di depan mata, apalagi aku." Ziana tertawa kecil.
"Kau ini, sudah sana ganti baju terus makan." Bu Rina mendorong pundak Ziana agar menjauh masuk ke dalam rumah.
"Hey Encon awas ya kalau kamu laporkan setiap gerak - gerik Ibu pada Aditya, Ibu potong poni rambut kamu sampai habis." Jari Bu Rina membentuk gunting yang tengah memotong.
"Baik Bu." dan dengan refleks Conita memegang poni rambutnya saat mengatakannya.
"Iya Bu." jawab Conita dengan tangan yang masih sibuk menyusun baju sesuai catatan.
***
"Aditya aku mohon jangan, tolong lepaskan aku." Rania terus saja meronta saat akan di bawa oleh anak buahnya. Karena ia tak bisa diam maka ia di bekap dan di bius, setelah itu ia pun di bawa dengan mudah seperti orang sakit yang butuh pertolongan hingga tak membuat keributan di perusahaan.
"Aku akan memberikan mu syok terapi, agar kau tau bagaimana rasanya menjadi perempuan yang lemah yang sering kau tindas. Kau pikir aku tak tau perangaimu yang sebenarnya.Cih.." gumam Aditya.
Rania di bawa ke tempat yang jauh dari kota, setelah ia sadar ia pun di bawa ke penangkaran buaya dan di sanalah syok terapi itu di mulai.
"Nona kau sangat cantik tapi sayang kau memilih untuk berurusan dengan boss kami, maka nikmatilah hidupmu hari ini." ucap salah satu dari anak buah Aditya yang mendorong nya untuk masuk ke kandang buaya.
"Aku mohon lepaskan aku, jangan biarkan aku masuk ke dalam sana. Aku bisa memebayar kalian dua kali lipat dari Aditya, aku mohon." Rania terus merengek meminta untuk di lepaskan tapi tak di gubris oleh ke 2 anak buah Aditya.
Perkiraan Aditya tepat dan akurat, saat akan di bawa paksa ke dalam kandang buaya Rania jatuh pingsan.
"Sudah aku duga, rasakan pembalasan ku." ucap Aditya setelah anak buahnya menghubunginya untuk melaporkan keadaan Rania saat ini. Aditya tersenyum smirk dan kembali melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda karena harus mengurus Rania tadi.
***
"Lele kau dimana? Oma yang berjalan dengan tongkatnya tampak tertatih - tatih mencari cucu nya itu.
"Aku di sini Oma." sahut Lena yang saat itu tengah berada di ruang tv dengan memakan kripik kentang kesukaannya.
"Ah ternyata kau di sana." Lena pun berdiri untuk memapah Omanya yang terlihat ingin menghampiri dirinya.
"Ada apa sih Oma?"
"Kau nanti siang pergi lah ke cafe XX." ucap Oma yang sekarang duduk di samping Lena.
"Emang Oma mau Lena belikan apa?" tanya Lena yang sudah terbiasa dengan Oma yang menyuruhnya membeli makanan.
"Bungkuskan Oma dokter tampan itu, cucu mantu Oma."
"Apa?" Lena terkejut tatapannya membola dengan mulut yang menganga.
"Tutup mulut mu Lele atau kau mau mulutmu jadi landasan terbang lalat." Oma menepuk pundak Lena yang masih belum sadar dari rasa terkejutnya itu.
"Aku mohon Oma batalkan perjodohan itu ya, ini kan bukan jaman Siti Nurabaya." Lena mengerucutkan bibirnya mencoba membujuk Oma Rita.
"Sekalipun kau menangis mengeluarkan berlian Oma tak akan pernah membatalkan perjodohan yang sudah ada sejak puluhan taun yang lalu."
"Tapi kan Oma." belum sempat Lena melanjutkan kata - katanya Oma Rita memotongnya.
"Pokoknya kamu harus datang jam 1 siang di cafe XX, kalau kau tak datang lihat saja kau tak akan pernah menemukan guling di rumah ini, sekali pun kau membeli yang baru akan Oma buang." Ancam Oma Rita yang sangat tau kelemahan cucu nya, Lena paling tak bisa tidur jika tidak ada guling di kasurnya itu.