In Memories

In Memories
part 143



Saat ini Aditya tengah berada di kamar hotel, ia sedang berbaring merasa lelah karena hatinya tak bisa di katakan baik - baik saja. Meskipun ada rasa lega karena ia berhasil meyakinkan Evan untuk menjaga Ziana, tapi sunggguh tak dapat di pungkiri jika hatinya begitu sakit harus merelakan Ziana untuk pria lain.


Sebenarnya beberapa hari terakhir, kondisi kesehatannya mulai memburuk. Ia bahkan sering meraskan sakit dan mual tiba - tiba, hanya saja ia tak pernah memperlihatkannya di depan Ziana. Ia tau ini adalah efek dari transplantasi yang telah ia lalui, saat berada di rumah sakit ia telah berkonsultasi tanpa ada seorang pun yang tau.


Tentang apa yang akan terjadi pada tubuhnya jika hasilnya tidak sesuai harapan. Dan saat ini ia merasakan efek dari transplantasi tersebut, tubuhnya mengalami penolakan. Maka tidak ada jalan lain, ia sudah di anjurkan dokter harus kembali di rawat jika mengalami indikasi dari penolakan tubuhnya. Hanya saja Aditya mengabaikannya, ia tau kembali ke rumah sakitpun tak akan mengubah keadaannya.


Saat ini ia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk berdua bersama istrinya, Ziana.


Ceklek


Pintu kamar hotel terbuka dan muncullah Ziana yang baru saja pulang.


"Hai sweety bagaimana jalan - jalanmu hari ini?"


"Sangat menyenangkan." Ucapnya dengan berjalan menghampiri suaminya yang kini tengah bersandar pada tumpukan bantal di atas tempat tidur king size yang membuatnya nyaman.


"Kenapa hanya berbelanja sedikit?" Aditya mengerutkan keningnya melihat Ziana yang hanya membawa beberapa paper bag.


"Aku membeli apa yang ku butuhkan saja dan sedikit oleh - oleh untuk orang rumah, ah dan satu lagi tadi aku pergi untuk perawatan tubuh jadi maaf membuatmu lama menunggu di sini."


"Tidak apa sweety, aku senang melihatmu seperti ini. Tapi aku kecewa karena belanjaanmu begitu sedikit."


"Aku belanja sesuai kebutuhanku saja suamiku, bukan untuk berjualan jadi buat apa aku harus belanja untuk hal yang tidak aku butuhkan."


Aditya hanya mengangguk ia tau istrinya begitu sederhana, salah satu sifat yang di sukainya dari Ziana. Ia yang jauh berbeda dengan wanita high class yang selalu Aditya temui.


"Kau sudah makan suamiku?" tanya Ziana menatap wajah Aditya yang tampak pucat.


"Sudah."


"Lalu obatnya?"


"Sudah."


"Sebentar aku pergi membersihkan tubuhku dulu."


"Sweety malam ini, aku ingin dinner bersamamu." Ucap Aditya saat Ziana akan berjalan ke dalam bathroom.


"Tentu sayangku dengan senang hati, tapi dimana tempatnya jangan di luar ruangan ya." ucap Ziana mengingatkan.


"Tidak, di kamar ini saja tapi sebelumnya kita keluar sebentar aku ingin jalan berdua denganmu, kau tak lelah bukan?"


"Tentu tidak hanya saja bagaimana denganmu?" tanya Ziana.


"Jangan khawatir kita tak akan pergi terlalu jauh, aku hanya ingin menikmati udara swiss denganmu."


"Baiklah."


Setelah selesai membersihkan dirinya Ziana di buat takjub dengan melihat suaminya yang tengah siap dengan menggunakan tuxedo, meskipun pipinya sekarang tirus tapi itu tak lantas membuatnya terlihat jelek. Ia masih tetap tampan dan menarik apalagi bagi kaum hawa.


Ziana begitu terpesona melihat penampilan suaminya saati ini, ia terlihat gagah dengan setelan tuxedo hitam yang membalut tubuhnya. Dengan rambut berpomade, dan membuatnya terlihat begitu mempesona.


"Makan malam bersama istriku yang cantik." Jawab Aditya dengan senyumnya yang begitu menawan.


"Kita hanya makan di kamarkan?"


"Tapi aku ingin penampilan kita sempurna, anggap saja ini bonus bulan madu untuk kita, pakailah yang ada dalam paper bag itu sweety." Aditya menunjuk beberapa paper bag yang berada di atas tempat tidur.


Dengan kekuatan uang tentunya Aditya menelpon orang kepercayaannya yang berada di swiss untuk membawa keperluan yang ia butuhkan saat ini.


"Baiklah." dengan segera Ziana pun membuka paper bagnya satu persatu dan memakainya. Ia pun memoleskan sedikit sentuhan make up pada wajahnya agar terlihat fress dan mengimbangi penampilan Aditya.


"Aku sudah siap." Ziana menghampiri suaminya yang tengah sibuk dengan ponselnya dan begitu mendengar suara istrinya berbicara dengan segera ia pun melihat ke arah sumber suara.


"Kau cantik sekali sweety." Aditya tersenyum melihat penampilan istrinya yang kini menggunakan dress panjang yang begitu pas di tubuhnya, seperti baju pesta dengan belahan dada rendah dan ia terlihat cantik dengan tatanan rambut curly yang di urai begitu saja, dengan jepitan rambut berkilau di atas kupingnya membuatnya terlihat begitu cantik. Di tambah dengan satu set perhiasan berlian hingga ia terlihat begitu elegan.


"Tapi kenapa kita harus memakai warna hitam?" tanya Ziana tak mengerti.


"Karena aku sedang ingin memakainya." jawab Aditya.


"Baiklah, setelah ini kita kemana dulu?" Ziana bergelayut manja pada suaminya.


"Kita hanya akan pergi ke taman kota sebentar."


"Baiklah tapi tunggu dulu." Dengan berjalan menuju lemari pakaian Ziana pun memilihkan mantel berwarna senada agar suaminya tetap hangat saat nanti berada di taman kota.


"Nah sudah selesai, ayo kita berangkat." Ucap Ziana seusai memakaikan mantel pada suaminya.


"Baiklah." Keduanya pun berjalan keluar dari kamar hotel untuk menuju lobby.


Saat sudah ada di lobby hotel dengan segera mereka memasuki mobil yang sudah terparkir manis di depan dengan supir yang selalu siap sedia mengantar kemanapun mereka mau.


Ziana terlihat begitu senang dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya yang tipis. Aditya yang melihat itupun ikut tersenyum, kebahagiaan sederhana bagi istrinya dapat menularkan energi positif bagi Aditya.


Sampailah mereka di taman kota yang sepertinya begitu sepi, hanya ada mereka berdua. Tetapi mereka terus berjalan hingga tiba di tengah taman kota dengan terus bergandengan tangan. Dan saat itu juga bunyi ledakan kembang api dengan tulisan " I LOVE U MY SWEETY" mengudara di langit.


"Kau menyukainya sweety?" tanya Aditya pada Ziana yang tengah fokus melihat kembang api, Ziana tampak terus tersenyum bahagia dengan mata yang berbinar bahagia.


"Ah jadi ini alasan kenapa taman kota begitu sepi dan hanya ada kita berdua, ini pasti ulahmu kan suamiku? tapi aku sangat menyukainya. Terimakasih suamiku sayang kau selalu membuatku bahagia." dengan lembut Ziana mengecup pipi Aditya.


Ledakan kembang api terus saja bersahutan hingga membuat suasana begitu romantis dengan menarik pinggang Ziana, Aditya pun mencium bibir istrinya, ia meny*sapnya dan mel*matnya dengan lembut. Ziana yang kaget hanya bisa mengikuti apa yang di mulai oleh suaminya, ia pun membalasnya dengan lembut.


"Kau tau kehadiranmu dalam hidupku adalah anugrah yang di berikan Tuhan untukku." Ucap Aditya begitu ciuman mereka berakhir.


"Aku pun merasakan hal yang demikian." ucap Ziana yang kini terlihat menatap wajahbtampan suaminya di bawah cahaya terang kembang api.


"Kau pucat suamiku, suhu di sini terlalu dingin sebaiknya kita kembali ke hotel ya." Ziana memegang kening Aditya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Baiklah." mereka pun berjalan kembali ke arah mobil yang tengah menunggu di pinggir jalan.