
"Aku mencintai mu dan keluarga mu jadi jangan pernah berbicara seperti itu lagi, ok?" Aditya menggenggam erat tangan Ziana di atas meja.
"Ok, suami ku nafas ku sesak banget ini." ucap Ziana memegang dada nya dan seketika Aditya pun panik.
"Kita ke rumah sakit ya." ujar Aditya mencoba berdiri dari duduknya tapi Ziana menggeleng dan menyuruh Aditya duduk dengan isyarat tangannya.
"Nafas ku sesak banget karena separuh nafasku ada di kamu." Ziana tersenyum berhasil membuat Aditya yang tadinya panik berubah tersenyum manja padanya.
"Kau ini." Aditya menyentil kening Ziana.
"Aw sakit." Ziana meringis memegangi keningnya.
"Nanti aku obati di dalam kamar." Aditya tersenyum smrik.
"Suamiku kita keluar yuk jalan - jalan aku ingin tau suasana malam di korea." bujuk Ziana ia sangat tau kemana arah tujuan dari perkataan suaminya itu, saat ini ia tak ingin menikmati malam adegan yang membuat badannya lelah karena perjalanan tadi juga sudah membuatnya sangat lelah.
"Tidak aku lelah besok saja masih banyak waktu." Aditya melahap kembali makanan yang tersaji di depannya.
Tidak bisa aku harus menggagalkan rencananya, badan ku saja masih lemas batrai nya belum full terisi. Ayo lah berpikir Ziana.
"Ayolah sayangku." rengek Ziana manja.
"Tidak sekalipun kau merengek untuk kali ini tidak akan aku kabulkan." Aditya tidak berani menatap mata Ziana karena pasti ia akan luluh jika melihat tatapan manja dari istrinya itu. Ziana hanya mengerucutkan bibirnya karena usahanya untuk membujuk Aditya gagal, biasanya hanya mengandalkan jurus puppy eyes suaminya itu akan luluh.
Setelah makan malam romantis mereka pun memilih kembali ke dalam kamar hotel karena Aditya yang tetap tak ingin keluar hotel, untuk saat ini ia ingin menikmati waktu berdua dengan intim bersama dengan orang yang begitu penting dalam kehidupannya kini. Saat baru memasuki kamar Aditya memeluknya dari belakang lalu menyesap lembut leher Ziana membuat tanda kepemilikan di sana, dan tangannya yang telah bermain di kedua milik istrinya. Tanpa Ziana sadari ia melenguh membuat jiwa kelelakian Aditya makin tak terbendung lagi, ia merasakan miliknya yang kini sesak di bawah sana dengan cepat Aditya menggendong Ziana dan membaringkannya di atas tempat tidur big size yang mewah.
"Aku menginginkan mu malam ini." Ucap Aditya yang kini menempelkan keningnya pada kening Ziana membuat hembusan nafas mereka saling beradu.
Ziana hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya. Dengan lembut Aditya mulai mencium bibir istrinya kedua tangan nya tak tinggal diam bergerilya mencari sesuatu yang dapat membangkitkan gairah istrinya, sesaat ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi ciuman yang menuntut.
Aditya mulai membuka satu persatu pakaian Ziana dan juga pakaiannya sendiri, saat keduanya tengah sama - sama polos. Ciumannya mulai turun ke leher hingga di kedua milik Ziana, tangannya yang satu memainkan milik istrinya dan satu lagi ia sesap dengan lembut membuat Ziana menekan kepala Aditya ke dalam pelukannya setelah itu mereka pun melalukan penyatuan yang akan membawa mereka menuju surga duniawi.
Mereka terus saling memacu satu dengan yang lainnya, dari gerakan lambat hingga ritme yang semakin cepat dan setelah sampai pada pelepasan yang membuat mereka lemas dengan saling berpelukan.
"Terimakasih sweety." Aditya mengecup kening Ziana.
"Iya suami ku."
Aditya yang masih belum puas dengan hanya satu kali permainan, mereka pun kembali meneruskan kegiatan yang kini telah menjadi candu. Kegiatan yang membuat mereka merasakan indahnya pernikahan yang semakin mengeratkan tali cinta di antara mereka berdua.
***
Sementara itu di belahan bumi yang berbeda Zian yang kini tengah berada di ruang keluarga menunggu Bu Rina yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga mereka.
"Zian sini makan dulu kamu." Ucap Bu Rina.
"Sop kucing anggora dengan sambel hiu megalodon dan juga ikan goreng dugong."
"Mengerikan, kenapa tak sekalian di tambah dengan jus pepaya mentah dengan toping anak buaya." ucap Zian dengan menyipitkan ke dua matanya.
"Sudah - sudah kalian ini Ibu dan Anak tapi selalu saja berdebat, heran Bapak." Pak Risman menengahi perdebatan Bu Rina dan Zian.
"Kau ini tinggal makan apa yang di depan mata malah menyakan menu, kau kira ini restauran." seru Bu Rina dengan memukul pelan piring yang ada di tangannya ke tangan Zian.
"Nanya doang Bu, siapa tau kan Ibu masak yang beda kan sekarang Ibu sering nonton acara masak di tv." Zian pun duduk dengan tangan yang mulai sibuk membawa berbagai macam makanan yang telah di masak Ibu nya.
"Itu cuma referensi, tapi tak satu pun ibu praktekan. Mengingat bumbu nya yang segambreng aja udah pusing Ibu."
"Iya sih Bu dari pada masakan Ibu jadi aneh seperti Zi mending yang biasa aja lah." Zian pun menyauti ucapan Ibunya.
"Apa Zi sudah ada kabar?" tanya Pak Risman saat mendengar nama putri nya yang kini sudah tak tinggal dengan mereka di sebut.
"Ada tadi ngirim pesan sama Ibu katanya baru sampai di Korea, ah beruntungnya anak ku hingga saat ini Ibu tak ragu melepaskannya dengan laki - laki baru yang kini jadi suaminya." Ibu Rina berucap dengan mata yang berkaca - kaca.
"Iya Bapak juga setuju dengan ucapan Ibu."
"Nah kamu Zian belajarlah yang rajin dan jadi lah pekerja keras karena nanti kau yang akan jadi kepala rumah tangga yang akan menghidupi anak istri mu kelak." ucap Bu Rina dengan menatap putranya yang kini tengah melahap makanan dengan sangat rakusnya.
"Ibu pikirannya kejauhan, Zian masih sekolah ini." sungut Zian yang kesal dengan perkataan Ibu nya.
"Kau masih sering nongkrong di pos Zian?" tanya Pak Risman.
"Iya Pak sesekali saja sih, kenapa Pak?" belum sempat Pak Risman membuka mulutnya Bu Rina dengan cepat berbicara.
"Apanya yang sesekali, kau di sana hampir setiap hari. Ibu curiga jangan - jangan kau dan teman mu sering mengintip janda bohay yang baru itu ya?"
Zian yang tengah makan pun tersedak mendengar apa yang di ucapkan Ibunya.
"Ibu apaan sih, Zian masih punya etika dan norma agama sekalipun hanya Bapak yang mengajarkannya. Biarpun itu orang sering keluar pakai baju seksi tapi Zian nggak pernah ya sampai ngintip." ucap nya dengan gamblang.
"Omongannya mulai bikin kesel nih, kesannya Ibu nggak pernah ngajarin kamu." Ibu menatap tajam Zian.
Mampus gue salah ngomong, harus di baik - baikin ini kalau nggak uang saku gue raib pasti.
"Maksudnya Ibu kan ngajarin Zian yang lainnya kalau tanpa Ibu, Zian juga nggak bisa apa - apa. Nah kalau tentang norma agama itu kan memang tugasnya Bapak sebagai kepala rumah tangga ngajarin anak - anaknya."
"Sudah kalian, Bapak jadi lupa kan mau ngomong apa. Sudah kita lanjut makan saja." Ucap Bapak dengan melahap kembali makan malam mereka.