
Dalam keheningan malam kali ini Zian merasakan ada sesuatu yang hilang saat ini, rumahnya terasa sepi karena kini Ziana belum pulang ke rumah sejak pesta pernikahan berlangsung bahkan mungkin tak akan pernah kembali tinggal di rumah.
Ia memang selalu bertengkar dengan Ziana tapi jauh di dalam lubuk hatinya Zian sangat menyayangi Kakak satu - satunya itu. Bahkan meski mengomel sekalipun jika cuaca di luar sana sedang terik atau hujan saat ia di minta mengantar atau menjemput ia selalu mengikuti kemauan Ziana. Mungkin begitulah rasa cinta kasih dari tali persaudaraan yang terikat tanpa terlihat.
"Semoga lo bahagian selalu Zi, gue pasti bakal kangen sama lo." gumam Zian yang saat ini tengah berada di dalam kamarnya.
Tak berapa lama suara ketukan di pintu kamar menyadarkan dari lamunannya.
Tok...Tok..Tok
"Zian kamu tidur apa pura - pura tidur?" ucap Bu Rina dari balik pintu kamar Zian.
"Lagi pura - pura tidur Bu." teriak Zian.
"Buka pintu kamar nya cepat!!" Bu Rina menggedor dengan keras pintu kamar Zian.
"Iya bentar Bu sabar kenapa?" dengan langkah malas Zian pun berdiri dan melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
"Ada apa sih Bu, udah malam juga?" ucap Zian dengan kening berkerut tak mengerti yang akan di perintahkan Ibu nya kali ini.
"Coba telpon Kakak mu, kenapa dia belum ngasih kabar Ibu. Ini udah malam ke dua Zi belum pulang juga ke rumah, Ibu khawatir." ucap Bu Rina panjang lebar mengeluarkan ke khawatirannya pada putra bungsunya.
"Kenapa nggak Ibu telpon aja dari ponsel Ibu? lagian sekarang Ziana udah punya suami Bu, nggak mungkin juga ada apa - apa sama Zi." jawab Zian dengan masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kau ini kalau di suruh selalu saja menjawab, kalau ponsel Ibu ada pulsanya sudah Ibu telpon dari tadi. Ibu lupa beli pulsa, sudah cepat telpon sana."
Dengan cepat Zian pun mendial nomor Kakaknya itu.
Tut..Tut..Tut..
"Hallo ada apa Zian, apa ada sesuatu?" jawab Ziana dari sebrang sana.
"Ini Ibu mau ngomong." Zian pun menyerahkan ponselnya ke tangan Bu Rina.
"Hallo Zi kamu baik - baik saja kan?"
"Iya Bu aku baik - baik aja, besok aku pulang ke rumah Bu."
"Ah syukurlah kalau kamu baik - baik saja, eh jangan terlalu capek Zi masih banyak waktu. Santai aja ya, baiklah Ibu tutup dulu ya." Ibu tertawa saat ia berbicara barusan, dengan cepat panggilan pun ia tutup karena pasti Ziana akan berteriak setelah apa yang ia ucapkan.
"Kenapa Ibu tiba - tiba ingin menelpon Zi?" tanya Zian dengan memicingkan matanya menaruh curiga pada Ibu nya yang memang mempunyai pemikiran berbeda dari siapa pun.
"Ibu tadi lihat di berita kalau ada pengantin baru yang saling cekik karena kesalah pahaman di antara mereka, nah Ziana kan belum juga ngasih kabar jadi Ibu kepikiran." terang Ibu Rina.
"Apa hanya itu Bu?"
"Sudah ku duga, Ibu ku memang aneh bin ajaib." Zian menggelengkan kepalanya kemudian ia pun masuk kamarnya lagi untuk tidur menggapai mimpinya malam ini.
***
Sementara itu, di kamar hotel Ziana yang tengah melakukan olah raga panas nya dengan Aditya, harus berhenti karena ia mendengar ponselnya yang bergetar saat di lihat panggilan dari Zian. Ia meminta izin pada Aditya untuk mengangkatnya karena Ziana takut ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya mengingat hari sudah hampir tengah malam saat Zian menelponnya.
Tetapi begitu terkejutnya Ziana saat ia mengangkat dan berbicara dengan Ibu nya saat itu juga ziana berteriak tanpa sadar membuat Aditya yang tengah polos di sampingnya terkejut dan panik.
"Ibuuuuuu!!" teriak Ziana.
"Ada apa sweety? apa yang terjadi dengan Ibu?" Aditya panik melihat istrinya berteriak memanggil Ibunya.
"Katakan ada apa?" Aditya mengulangi lagi pertanyaan nya melihat Ziana diam tak menjawabnya.
Dengan kesal Ziana mengatakan apa yang di katakan Ibunya di ponsel, dan saat itu juga tawa Aditya pecah ia tak menyangka ternyata ia mempunyai Ibu mertua yang ajaib. Kelakuannya di luar batas Ibu - Ibu yang lain pada umumnya.
"Sudah lah sweety tak usah di pikirkan, mungkin Ibu kangen pada mu. Lebih baik kita lanjutkan apa yang yang sudah kita mulai." Aditya pun meraih tubuh Ziana dalam dekapannya untuk menenangkan Ziana.
"Tapi aku kesal pada Ibu Kak, dan lagi aku kan malu." Ziana yang kini tengah cemberut di dalam dekapan suaminya.
"Sudah lah, aku malah senang ternyata Ibu mertua lebih ekstrim dari Mom." ucap nya lagi, kini Aditya mulai mencium dan memancing Ziana untuk kembali melakukan kegiatan panas mereka, ia tak ingin jika harus berakhir di kamar mandi bersolo karier. Karena mood Ziana yang kurang baik saat itu, maka dengan lembut dan perlahan Aditya kembali membuat gairah Ziana bangkit lagi.
Dengan senyum yang mengembang usaha yang Aditya lakukan berakhir dengan baik, mereka pun kembali melakukannya lagi. Kegiatan yang sekarang merupakan candu baginya. Ia begitu memperlakukakn Ziana dengan penuh kelembutan, baginya kini adalah bukan hanya tentangnya tetapi tentang seseorang yang kini begitu penting untuknya, prioritas pertama hidupnya yang akan selalu ia jaga selamanya.
Kamar pengantin yang tadinya hanya akan mereka lewati pada malam pertama saja kini malah bertambah jadi malam kedua, karena kondisi Ziana yang belum bisa berjalan dengan normal. Ziana memutuskan untuk menginap satu malam lagi selain malu ia juga menghindari Ibunya yang selalu tau apa yang terjadi padanya. Meski begitu Ziana sangat menyayangi kedua orang tuanya.
***
Bara yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya tertawa kecil, ia mengingat kejadian saat di rumah Lena siang tadi. Mengingat wajah panik yang tak pernah ia lihat dari Lena yang selalu menjadi wanita pemberani yang tak pernah takut, sekalipun pada dirinya.
Ia gemas mengingatnya, Bara memang mempunyai pribadi yang hangat berbeda dengan Aditya yang dingin tetapi jika soal wanita, dirinya sama saja seperti Aditya. Bagi mereka dulu wanita adalah satu masalah besar yang harus di hindari, tapi kini sepertinya prinsip yang mereka pakai sudah terpatahkan melihat Aditya sendiri yang kini menjadi budak cinta.
"Ya Tuhan kenapa aku seperti ini?" Bara pun menggelengkan kepalanya mengingat dari tadi ia hanya melamunkan Lena.
Ponselnya bergetar tanda ada notif pesan yang ia terima, dengan cepat ia pun membukanya.
Lele <<
Hey Pak dokter sepertinya kita harus berbicara kembali dengan serius, aku tunggu besok di cafe biasa.
"Cih..panjang umur ini orang baru saja aku memikirkannya, baiklah kita lihat usaha apa lagi yang akan kau tawarkan."