In Memories

In Memories
part 116



"Kau tidak bisa seperti itu Ditya, istrimu harus tau."


"Aku tak mau membuatnya cemas dan terus memikirkan kondisi ku setiap saat."


"Tapi akan lebih menyakitkan jika dia tau nantinya tapi bukan dari mu."


"Tak akan ada yang tau jika semuanya diam."


"Ayolah Ditya kau tau kan pepatah yang mengatakan serapat apa pun kita menyimpan bangkai bau nya akan tercium juga. Dan aku yakin istri mu akan curiga padamu jika sewaktu - waktu penyakitmu kambuh." lanjut Bara.


Aditya memejamkan matanya sesaat, kini ia tak tau lagi harus berbuat apa karena apa yang di ucapkan sahabatnya semua ada benarnya. Dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celana nya, ia masih tetap berdiri menatap keindahan kota di hadapannya yang begitu padat penduduk, dengan hilir mudik semua kendaraan yang tak pernah ada matinya.


"Kau tau aku adalah orang yang tak pernah takut pada apa pun, tapi setelah tau penyakit ku. Banyak hal yang aku takutkan terutama semua yang berkaitan dengan istri ku." Aditya menghela nafasnya pelan.


"Aku takut jika aku pergi lebih dulu darinya, siapa yang akan menenangkannya, siapa yang akan menjadikannya tempat untuk bersandar nantinya. Dan satu hal yang paling aku takutkan jika ia tau sakit ku dia akan pergi dari ku."


"Aku yakin Ziana bukan orang seperti itu Ditya, aku yang bahkan bukan orang yang begitu dekat dengannya saja bisa menilainya. Kenapa kau bisa berpikir sejauh itu?" Bara menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan apa yang kini di pikirkan sahabatnya.


"Kau tak akan mengerti karena kau belum menikah, maka segera lah halalkan gadis berisik mu itu."


"Kenapa pembahasannya jadi berbelok begini?" Bara pun berjalan menuju sofa untuk duduk dan menghentikan obrolan yang makin tak jelas.


Sesaat bara terdiam ia tengah berpikir untuk membuat Aditya mau untuk segera berobat dan Ziana mau tidak mau harus segera mengetahui penyakit Aditya tanpa harus dirinya yang mengungkapkannya.


Ah kepalaku rasanya mau pecah saja, dia yang sakit tapi aku yang pusing membujuknya untuk berobat di tambah lagi ego nya yang terlalu tinggi untuk tetap tak memberi tau istrinya. Jika seperti ini terus hanya akan memperparah kondisi yang ada.


"Ditya aku tau kau sedang ada di fase terendah saat ini, tapi aku mohon jangan memperburuk keadaan mu. Kau harus secepatnya memberi tau Ziana, aku yakin dia tak akan meninggalkan mu bahkan aku yakin dia akan mengurus mu dengan baik."


"Kalau pun dia tak meninggalkan ku, maka dia harus merawat ku, kan? Aku memang lelaki tak berguna." Aditya tertawa sumbang, ia tengah menertawakan dirinya menjadi pria lemah yang akan bergantung pada istrinya sendiri.


"Kau harus meyakinkan diri mu, jika semuanya akan baik - baik saja. Karena kesembuhan itu terletak pada niat yang ada pada diri mu."


"Aku yakin istrimu akan sangat terluka dan merasa di anggap tak penting jika ia tak mendengarnya langsung dari mu, apa kau siap untuk di benci olehnya? di saat kondisi mu seperti ini." Bara terus memprovokasi Aditya agar ia mau berubah pikiran.


Aditya terlihat diam mencoba mencerna semua yang di katakan Bara, keadaannya saat ini merupakan hal yang membuatnya tak bisa mengambil keputusan, ia masih sangat bimbang. Tak seperti biasanya jika bukan masalah ini, membuat keputusan untuk perusahaan nya dalam yang jumlah fantastis atau saat perusahaan sedang ada masalah ia akan sangat mudah mengambil keputusan dengan tepat.


"Percayalah kau tidak sendirian, ada banyak orang di sekeliling mu yang sangat mengharapkan kesembuhan mu. Lihat lah dari sudut pandang mereka juga Ditya jangan hanya dari sudut pandang mu saja. Jika kau terus seperti ini akan ada banyak orang yang terluka terutama istri mu." Bara menepuk pundak Aditya yang tengah melamun, menyadarkan Aditya dari semua ke egoisan nya saat ini.


***


Sementara itu di belahan sudut bumi yang berbeda terlihat lelaki tampan yang kini tengah duduk dengan menatap foto dirinya yang tengah tersenyum bersama seorang wanita yang ia cintai, mereka saat itu masih memakai seragam putih abu. Di pandangi dan di usap nya foto yang ia simpan di meja nakas kamarnya, Evan tersenyum simpul mengingat kenangan saat bersama dengan Ziana. Hanya itu foto kenangan bersama yang ia punya.


"Maafkan aku yang tak pernah bisa melupakan mu, entah kenapa hati ini begitu sulit melepas mu, semakin aku berusaha maka semakin aku mengingat mu."


Sebenarnya sudah sejak SMA ia menyukai Ziana hanya saja dulu ia terlalu penakut untuk mengungkapkan isi hatinya, dulu ia menerima Elena itu pun karena terpaksa Elena yang selalu tak pernah menyerah mendekatinya hingga membuat dirinya terjebak dengan permainan Elena dan membuatnya menerima cinta Elena. Evan menganggap mungkin rasa itu akan hilang seiring dengan berjalannya waktu jika ia bersama dengan yang lain, tetapi nyatanya ia malah semakin menyesal dengan keputusannya itu.


Benar apa yang orang katakan jika cinta pertama itu akan sulit untuk di lupakan, tidak seperti cinta setelahnya maka akan dengan mudah mencari penggantinya. Mungkin karena itu merupakan cinta yang tumbuh untuk pertama kalinya kita rasakan, hingga begitu membekas lah rasa yang ada di hati dan ingatan kita. Begitu pun yang kini Evan rasakan, terlalu sulit baginya melupakan cinta pertamanya.


"Aku harap kau selalu bahagia dengan laki - laki pilihan mu, Zi." gumam Evan.


Setelah itu ia beranjak pergi menuju bathroom untuk membersihkan dirinya, karena hari ini ada kuliah siang yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Meski saat ini ia tengah malas kemana - mana karena cuaca yang begitu terik.


Evan merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya merupakan pebisnis sukses, hingga sangat mengharapkan jika putra nya dapat melanjutkan bisnis mereka. Sehingga saat Evan memutuskan untuk kuliah di luar negri kembali, orang tuanya begitu bahagia mendengar keputusan yang di ambil Evan.


Drrrt..drttt


"Hallo ada apa, baby?" Frida adik sepupu dari Evan yang selalu menjadi mata - mata untuknya mengenai Ziana. Setiap perkembangan apa pun selalu ia tau dari Frida.


"Hallo kak Evan ku yang tampan, sedang apa?" tanya Frida di seberang sana.


"Kakak mau kuliah dulu, apa ada kabar terbaru tentangnya?"


"Ishh Kak Evan ini tiap aku telpon selalu berujung nanyanya ke situ, emangnya aku nggak boleh gitu kalau kangen sama Kak evan."


"Boleh tapi momennya tidak pas, kalau untuk membicarakan Zian waktunya tak akan cukup. Kakak harus pergi sekarang."


"Kakak selalu tau apa yang ku pikirkan, baiklah belajar yang rajin ok? dah Kak Evan." Panggilan pun terputus, setelah itu Evan memasukan ponselnya ke dalam saku celana nya kemudian ia pun melangkah pergi keluar kamar untuk mengikuti kuliah siang ini.