
Lena pun menggelengkan kepalanya agar ia tersadar dari fikran kotornya terhadap pria tampan yang kini tengan tertunduk memegang ponselnya. Ia terus berjalan sampai di meja yang kini tengah di duduki oleh Bara.
"Sudah lama?" ucap Lena dan ia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Bara.
"Tidak juga, kita pesan makanan dulu." Bara pun melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan cafe.
Setelah pelayan cafe datang dan mencatat semua pesanan makanan Lena juga Bara, kini mereka saling terdiam dalam pikirannya masing - masing. Bara yang tentu saja masih memikirkan tentang kesehatan Aditya yang tengah membuatnya pusing hingga penampilannya seperti sekarang ini. Bagi Bara, seorang Aditya bukan saja teman baiknya tetapi saudara yang selalu ada baginya di saat terpuruk sekalipun. Maka tak bisa di bayangkn jika nantinya Aditya sampai tak tertolong, entah apa jadinya hidup tanpa saudara yang begitu ia sayangi.
"Apa yang akan kau bicarkan?" tanya Lena memecah kesunyian di antara mereka berdua. Sejak dari pertama ia masuk cafe dan di kejutkan dengan penampilan Bara yang tak biasanya, Lena menduga jika saat ini Bara tengah menghdapi masalah yang berat. Karena tak bisanya Bara yang selalu berdebat dengannya sedari tadi ia hanya diam dan tatapan matanya kosong.
"Kita bicarakan nanti setelah makan." Tak berapa lama pelayan pun datang dan menghidangkan semua makanan yang tadi mereka pesan. Dan setelah itu mereka pun makan tanpa ada satu pun yang bersuara.
Hari ini dia sungguh aneh, apa ada masalah besar yang membuatnya sampai frustasi seperti ini. Apa jangan - jangan dia menghamili wanita lain?? Awas saja akan ku goreng burungmu jika itu memang terjadi.
Karena daya khayal nya terlalu tinggi akan permasalahan Bara sehingga ia tak sadar jika kini ia tengah menatap tajam Bara dengan menggenggam kuat garpu di tangannya.
"Kenapa kau menatapku seperti ingin memakan habis diriku?" tanya Bara yang ternyata menyadari apa yang Lena lakukan saat ini.
"Lebih baik katakan sekarang jangan terlalu lama mengulur waktu, aku sudah kenyang dari tadi sekarang cepat katakan ada masalah apa sebenarnya?" Lena yang memang tak pernah bisa sabar jika ada yang membuatnya penasaran, ia paling tidak tahan untuk menunggu dan mengulur waktu.
"Baiklah." Bara menghela nafasnya panjang.
"Sebenarnya sangat berat jika aku harus mengatakan ini pada mu tapi.." belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, dengan cepat Lena memotongnya.
"Apa kau selingkuh dan mengahmili wanita lain, hah?" seru Lena dengan nada yang menggebu.
"Whatt?" seru Bara yang tak kalah kaget mendengar apa yang di katakan oleh Lena.
"Aku selingkuh? Big No." lanjutnya lagi.
"Laki - laki memang seperti itu jika sudah terpojok dan ketauan." Lena menyilangkan tangannya di depan dada dengan gaya angkuhnya menghakimi Bara saat ini.
"Dengar aku tak pernah bermain wanita di belakang mu sekalipun status kita ini tunangan tapi hubungan kita yang entah seperti apa, tapi aku bukan pria seperti yang kau pikirkan."
"Lantas apa masalahnya? kau terlihat sangat kacau dan frustasi."
"Aditya." Ucapnya datar tapi tatapan nya sendu.
"Kenapa dengannya?" kening Lena berkerut tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Bara.
"Apa?" ucap Lena setengah berteriak.
"Aku tak tau lagi harus bicara pada siapa? dia melarangku untuk bicara bahkan pada istrinya sekalipun. Sedangkan penyakitnya harus segera mendapatkan penangan yang baik sebelum semuanya terlambat. Menurut mu apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya dengan tak sadar memegang tangan Lena.
"Ini seperti mimpi bagi ku, Ya Tuhan Ziana mengapa semua ini harus terjadi padanya. Baru saja ia mengungkapkan jika ia sangat bahagia bisa bersama dengan suaminya. Aku juga tak bisa berpikir." Lena tertunduk ia tak menyangka apa yang di hadapi sahabatnya saat ini begitu berat.
"Katakan pada ku langkah apa yang harus aku ambil, sedangkan Ditya sendiri menentang keras untuk tak memberi tau kan istrinya. Tapi pengobatan harus segera di lakukan. Aku mohon berikan penjelasan secara perlahan pada Ziana agar ia tidak shock saat mendengarnya."
"Baiklah akan aku coba." Saat ke dua nya sama - sama terdiam ponsel Lena bergetar dan di layar tertulis jika penelpon nya adalah Ziana, dengan segera ia pun menerima panggilannya.
"Lo dimana? sama dokter Bara kan lo? cepat tolong gue Kak Ditya pingsan." ucap Ziana dengan suara isak tangisnya yang terdengar jelas.
"Oke sekarang gue kesana, lo yang tenang ya tungguin kita." Lena menutup panggialn telponnya dan ia dengan segera menarik tangan Bara.
"Apa yang terjadi?" Ucap Bara dengan terus berlari mengikuti kemana pun Lena menariknya dan peristiwa itu bagai dejavu baginya, dimana dulu tangannya juga di tarik seperti ini hanya beda tempatnya saja.
"Kak Aditya pingsan kita harus segera ke sana."
Tanpa banyak bertanya lagi mereka berdua berlari dan masuk ke dalam mobil Bara karena ia selalu membawa peralatan dokternya kemana pun ia pergi hanya untuk jaga - jaga jika ada hal seperti ini terjadi.
Begitu sampai di VIP room tempat Ziana juga Aditya makan siang tadi, terlihat Ziana yang tengah menangis memeluk suaminya yang ada di pangkuannya. Dengan segera Bara pun melakukan pemeriksaan dan tak berselang lama mobil ambulance pun datang karena tadi di perjalanan Bara menelpon pihak rumh sakit untuk datang ke restoran tempat Aditya tak sadarkan diri.
Dengan cekatan perawat membawa Aditya ke dalam brankar dan mendorongnya untuk masuk ke dalam mobil ambulance. Ziana pun ikut masuk untuk menemani suaminya.
Para perawat di sertai instruksi dari dokter Bara segera melakukan pertolongan pertama, dengan memasangkan oksigen pada Aditya. Ziana yang tak mengerti apa yang terjadi hanya menangis melihat suaminya yang diam tak berdaya seperti ini. Ia terus menggenggam tangan suaminya seolah memberi kekuatan agar ia cepat sadar.
Mobil ambulance melaju dengan kecepatan penuh dan menembus hiruk pikuk jalanan dengan suara sirine ambulance yang nyaring. Begitu sampai di pelataran rumah sakit, dokter telah berdiri menyambut brankar Aditya dan bersama para perawat di dorong menuju Instalasi Gawat Darurat untuk segera mendapatkan penanganan.
Lena dan juga Bara yang mengikuti dari belakang segera menghampiri Ziana yang tengah menangis dan berjalan seperti orang bingung di depan ruang IGD. Lena dengan segera memeluk tubuh Ziana, memberikan tempat ternyamannya untuk sahabatnya yang sedang rapuh.
"Sabar ya Zi, semua pasti baik - baik saja." ucap Lena dengan menepuk punggung Ziana yang tengah menangis di pelukannya.
"Kau harus kuat untuknya." ucap Bara.
"Sebenarnya apa yang terjadi? aku yakin ada sesuatu yang tidak aku ketahui." Ziana menatap Bara dan Lena bergantian dengan tatapan tajam menyelidik.
"Ternyata hanya aku yang tidak tau apa yang saat ini terjadi, kalian semua menutupinya dari ku kan. Kenapa?" teriak Ziana karena luapan kekecewaan yang begitu dalam, ia merasa di bohongi oleh semua orang.