In Memories

In Memories
part 14



Saat ini Aditya sedang berada di sebuah restoran karena telah makan malam denga klien nya. Setelah semua urusan selesai, klien nya pamit terlebih dahulu.


"Baiklah Tuan Aditya kami permisi pulang lebih dulu, terima kasih atas jamuannya dan semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apa pun." Ucap Tuan Simon, kliennya dari perusahaan Avindo Corp.


"Iya tentu semoga semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang di rencanakan."


Aditya berucap dengan berjabat tangan dengan Tuan Simon.


"Kami pamit, permisi."


"Hmm silahkan." Aditya mempersilahkan mereka pamit terlebih dahulu.


"Ehm Tuan apa masih ada yang saya harus lakukan lagi?" tanya Angga sejujurnya ia sudah ingin pulang untuk segera melepas penatnya hari ini.


"Tidak ada, kau pergilah." Ucap Aditya datar.


"Baiklah Tuan saya juga pamit, permisi."


"Hmmm.."


***


Sementara itu seorang gadis yang tengah di kejar oleh beberapa pria tampak kebingungan harus mencari tempat persembunyian dimana? yang ia lihat hanya parkiran yang berjejer mobil, tidak ada tempat untuk bersembunyi.


Sial ini gue harus kemana??ah masuk aja ke mobil semoga ada mobil yang nggak di kunci.


Tuhan selamatkan aku.


Ia pun menghampiri salah satu mobil yang ternyata tidak di kunci dan langsung masuk bersembunyi di belakang jok depan.


Syukurlah ada mobil yang nggak di kunci semoga saja bukan mobil mafia atau germo biar gue balik aman, kalau gue di jual mampus gue!! gue akan keluar kalau keadaan udah aman, semoga mereka nggak liat gue.


Ceklek


Pintu mobil terbuka dan pria itu pun langsung duduk, ia membuka jas nya dan akan menaruhnya di jok belakang, betapa kaget nya ia dengan apa yang di lihatnya.


"Kamu!!!" teriak Aditya. Mobil yang di tumpangi nya itu milik Aditya, dan gadis yang bersembunyi itu adalah Ziana.


"Ngikutin saya kamu."


" Jangan berisik nanti mereka denger. Please bawa aku pergi dari sini." Ucap Ziana memohon dengan menyatukan ke dua lengannya memohon.


Di luar sana Aditya melihat beberapa pria yang seperti sedang mencari seseorang.


Aditya pun melajukan mobilnya meninggalkan restoran tersebut.


"Ah selamat huft.." Ziana menghela nafasnya kasar.


"Pindah ke depan, saya bukan supir." Aditya berkata tanpa menoleh ke arah belakang.


"Oke baiklah." Ziana pun pindah ke depan dengan keadaan mobil masih melaju.


"Jelaskan."


"Aku...lagi jalan ke mini market trus pas lagi jalan iseng ada kaleng bekas aku tendang, kirain nggak bakal kena orang. Eh malah ada yang kena, orangnya lagi makan lagi terus dia keselek. Dia nya marah nggak terima langsung ngejar aku karena aku lari, pas di kejar ya bingung nyari tempat buat sembunyi. Pas aku coba ada mobil yang nggak di kunci, ya aku masuk. Syukurlah ternyata mobilnya Kak Ditya hehe.." Ziana bercerita awal mula drama pengejarannya.


"Dasar aneh." gumam Aditya.


"Dimana rumah mu?" tanya Aditya.


"Di ujung jalan sana perumahan bukit indah."


"Sebaiknya aku turun di sini aja Kak, tadi ada yang belum aku beli." pinta Ziana untuk menurunkannya di tengah jalan.


Aditya tak mengindahkan permintaan Ziana, ia terus melajukan mobilnya.


"Lho kok nggak berhenti Kak?" tanya Ziana heran.


"Pulang." Hanya itu saja yang ia katakan selebihnya hanya keheningan di mobil itu, Ziana tak berani lagi untuk membantah.


Siapa dia ngatur gue, pacar juga bukan pacar boongan iya, tapi ini kan nggak masuk skenario drama. Kok gue nurut aja sih!! ah kan gue tuh pasti oleng kalau udah liat yang ganteng. Nyerah gue..nyerah.


Mobil melaju dengan keheningan yang ada, sehingga perjalanan yang hanya memakan waktu sebentar seakan lama sekali. Tanpa ia sadari mobil telah sampai tepat di depan rumah Ziana.


"Turun." Ucap Aditya.


"Eh iya mau mampir dulu Kak?" sebelum keluar dari mobil Ziana menawarkan Aditya untuk masuk.


"Lain kali." Ia hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun, hanya menatap lurus ke depan.


"Ah baiklah, terima kasih atas bantuannya Kak dan hati - hati di jalan." Ziana pun turun dari mobil. Seketika itu juga mobil melaju pergi meninggalkan rumah Ziana.


"Orang aneh belum pernah ke rumah tapi tau rumah gue, tunggu tadi dia nanya seperti yang nggak tau. Haiishhh aneh." gumam Ziana.


Ia pun melangkah masuk ke dalam rumahnya. Untung ibu nya itu sedang asik menonton sinetron kesayangannya sehingga tak menyadari ada suara mobil. Menyadari ada orang yang melangkah mendekat Bu Rina pun menoleh.


"Baru pulang kamu?? mana pesenan ibu?" tanya Bu Rina.


"Mini market nya tutup bu." jawab Ziana beralasan.


"Udah cape jalan jauh eh malah tutup, rasanya uhh gondok banget bu, lagian si Zian itu keluyuran terus. Coba tadi kalau ada motor kan aku nggak harus jalan kaki mana pegel banget ini" Ziana pun duduk di samping ibunya dan meraih toples juga air minum yang ada di depan nya.


"Kamu itu lebay." Bu Rina mencibir dengan terus menonton layar tv di depannya dan mendekap bantal dengan wajah yang serius.


"Ish si ibu ga tau aja perjuangan aku ke sana.."Ziana hampir keceplosan mengatakan yang sebenarnya terjadi tadi, kalau sampai Bu Rina tau akan ada ceramah panjang dari Mamah Rina pastinya.


"Udah diam ah kamu itu ganggu konsentrasi ibu aja, ini lagi seru-serunya tanggung!!" untungnya Bu Rina tidak menanggapi lebih lanjut.


Ziana bangkit berdiri menuju kamarnya, ia lelah sekali dengan aksi melarikan dirinya tadi. Ia pun membuka pintu kamarnya dan merebahkan dirinya di atas kasur mini nya yang nyaman. Kalau di pikir-pikir sudah berapa kali ia harus berhubungan dengan Aditya secara tidak sengaja dan dalam keadaan yang jauh dari kata baik.


"Kita itu jodoh bukan sih, kenapa Tuhan selalu mempertemukan kita? kenapa gue itu kadang kesel kadang seneng kalau kita ketemu, ah tapi untungnya kamu tampan." Ziana bermonolog.


Ziana menarik nafasnya pelan tanpa terasa ia jatuh tertidur lelap menuju alam mimpi.


***


Aditya sampai di appartement nya ia menarik dasi nya dan melemparkannya ke sembarang arah dan seperti biasa ia selalu mengambil air minum dalam lemari pendingin. Selintas kejadian tadi berputar dalam memorinya.


"Kenapa aku harus selalu bertemu dengannya? gadis aneh dan berisik itu apa tidak bisa bersikap normal seperti gadis lainnya." gumam Aditya.


Ia pun pergi ke dalam kamar mandi untuk membersih diri lalu ke walk in closet untuk memilih baju. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya pada kasur big size nya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Kata orang jika kebetulan suatu pertemuan pria dan wanita yang tidak di sengaja lebih dari 3 kali itu adalah jodoh. Entah mitos atau fakta tapi banyak orang mempercainya walaupun sebenarnya tidak ada kebetulan tetapi itu merupakan takdir.