
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 7 jam di pesawat dari indonesia menuju korea selatan. Ziana yang baru pertama kali naik pesawat terlihat begitu antusias untungnya ia tak mengalami jet lag pesawat, mungkin karena semangat nya yang begitu menggebu dan bayangannya akan bertemu dengan idolanya itu yang membuat dia begitu bahagia sehingga lupa akan mabuk perjalanan.
Sementara di sisi nya duduk sang suami yang dari masuk pesawat hingga sampai di Bandara Seoul Incheon International dengan wajah yang terus di tekuk. Ia kesal karena rencana nya membujuk Ziana tak berhasil untuk tak pergi ke korea selatan. Bandara Seoul Incheon International yang berada di sekitar 48 km di sebelah barat kota Seoul, menjadi bandara yang dekat dengan kota Seoul.
Sekarang adalah bulan Maret di korea sedang musim semi, di mana suhu berada di 6° C bulan Maret sampai bulan Mei merupakan musim semi. Ketika di awal musim pergantian kira - kira di bulan Maret sampai April, hawa musim dingin masih menyeruak dan terasa di badan. Bahkan kadang kala di bulan awal ketika masuk musim semi beberapa kali turun hujan.
Ziana merapatkan jaket yang ia pakai karena udara yang begitu dingin, ia tak menggubris suaminya yang terus merengek untuk membatalkan perjalanan bulan madu di korea.
"Sweety ayolah sebaiknya kita pergi ke paris, di sana pasti lebih romantis untuk kita, ya?"
"Suami ku apa kau ingin aku bahagia?"
Aditya mengangguk dengan cepat ia mengira jika usahanya mungkin akan berhasil melihat istrinya tersenyum dan mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Maka tetaplah di korea." Ziana menekan kata - kata nya karena kesal sejak mereka packing baju sampai di pesawat Aditya tak hentinya membujuk agar ia membatalkan perjalanan bulan madu ke korea.
Senyum di wajah Aditya memudar ia pun kini terlihat pasrah mengikuti kemauan istrinya itu. Mereka di jemput oleh pihak hotel di bandara, karena mereka merupakan tamu VVIP dengan menginap di Hotel Fairmont Ambassador Seoul. Semua telah di siapkan oleh Mom Irene, jadi mereka hanya tinggal menikmati apa yang telah di hadiahkan kepada mereka untuk berbulan madu.
Ah sudah lah lebih baik aku mengalah yang penting aku akan selalu mengurungnya di kamar nanti.
Begitu sampai di Hotel Fairmont Ambassador Seoul mereka langsung di antar ke kamar Presidential Suite, kamar dengan layanan paling bagus dan paling mahal.
"Ya ampun aku tak menyangka bisa sampai di korea selatan dan ini hotel paling mewah yang aku lihat." Ziana terus bergumam dengan terus berkeliling kamar melihat kemewahan yang ia dapatkan saat ini.
"Suami ku bagaimana apa kau juga senang?" tanya Ziana dengan berlari ke arah Aditya yang masih menunjukan ekspresi wajah yang sama.
"Asal bersamamu aku pun ikut senang." jawab Aditya dengan senyum kaku di bibirnya. Ziana tau jika suaminya tengah kesal dengan keputusannya untuk tetap pergi ke korea tapi ia berusaha untuk tak memperdulikannya karena ini adalah mimpinya.
"Ah aku sangat bahagia bisa menginjakkan kaki ku di sini sayang, karena ini mimpiku dari dulu. Terimakasih kau telah membuat semua hal yang bagiku tak mungkin, menjadi nyata dan dapat aku gapai. Saranghae Oppa." Ziana mencium pipi Aditya kemudian ia memeluk erat Aditya karena rasa bahagia yang membuncah di hatinya kini.
"Love you too." Aditya mengecup kening Ziana yang kini tengah berada di dalam pelukannya. Meskipun kata yang ia ucapkan dengan bahasa yang berbeda tapi intinya tetap sama.
Melihat raut bahagia di wajah Ziana membuat rasa kesal di hatinya perlahan mencair, ia senang jika wanita yang di cintai nya bisa tersenyum bahagia. Dan itu artinya Aditya telah berhasil dengan membuktikan janji yang ia ucapkan bahwa ia akan selalu membuat Ziana bahagia dan tersenyum.
Setelah mengurai pelukannya Aditya membawa Ziana ke balkon kamar agar ia bisa melihat keindahan kota yang indah di malam hari. Ziana yang tengah terpukau melihat keindahan kota dari lantai atas gedung, tubuhnya di peluk dari belakang oleh Aditya.
"Hmm tentu ini adalah pemandangan yang sangat indah, akhirnya aku bisa merasakan adegan di drakor yang pernah aku tonton." ucapnya dengan tawa kecil dari bibirnya.
"Jika itu yang membuat mu tertawa bahagia maka akan selalu aku berikan apa pun agar saat di samping ku, kau tak pernah mengeluarkan air mata."
"Terimakasih suamiku."
"Ayo kita masuk udara sudah begitu dingin." mereka pun melangkah bersama ke dalam kamar hotel.
Kamar yang di pesan oleh Mommy sangat indah dan Mommy juga memberikan hadiah paket ekslusif bulan madu di hotel ini sehingga kamar yang mereka tempati saat ini di hias dengan banyaknya bunga mawar merah, bunga kesukaan Ziana. Terdapat lilin aroma terapi yang akan membuat siapa pun rileks jika menghirupnya.
"Sebaiknya kita membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum kita pergi makan." ucap Aditya yang kini tengah membawa serta istrinya untuk pergi ke bathroom.
Ziana menggeleng ia tak mau sesuatu terjadi di dalam sana karena ia yakin jika ia mandi bersama Aditya maka akan di pastikan jika mereka akan melewatkan jam makan malam.
"Apa yang kau pikirkan, hmm?" Aditya tersenyum menggoda.
"Ya ampun, apa itu?" Ziana menunjuk arah balkon dengan ekspresi wajah ketakutan sontak saja Aditya langsung menghadap ke arah yang di tunjuk istrinya, dengan cepat Ziana berlari ke arah bathroom.
Setelah terdengar suara pintu tertutup, barulah Aditya menyadari jika ia tengah di bohongi oleh Ziana. Ia hanya tersenyum melihat kelakuan menggemaskan istrinya.
"Kau sangat menggemaskan membuatku selalu ingin memakan mu setiap waktu." gumam Aditya dengan menarik sudut bibirnya.
Setelah selesai membersihkan diri masing - masing mereka pun bersiap untuk turun ke restauran hotel, karena Mom yang memesan paket ekslusif untuk bulan madu maka saat ini mereka tengah dinner romantis di ruangan VIP dengan hidangan mewah yang telah tersedia di atas meja juga para pelayan yang telah bersiap untuk melayani kebutuhan mereka selama acara dinner.
Ziana terpukau dengan kejutan yang di berikan mertuanya itu. Ia merasa menjadi seorang ratu yang selalu di perlakukan istimewa oleh orang yang paling berharga di hatinya kini. Merasa terharu akan orang - orang baru yang dulu hanya orang asing kini menjadi keluarga yang begitu menyayangi nya.
"Bagaimana apa kau suka atau ada yang kurang?" tanya Aditya saat mereka kini tengah duduk berhadapan dengan melihat hidangan di depan mata.
"Aku suka ini sudah lebih dari cukup." Jawab Ziana.
"Kenapa kau diam sweety?"
"Aku hanya merasa terharu dengan apa yang aku dapat saat ini, aku merasa sangat bersyukur bisa mempunyai keluarga baru yang sangat menyayangi ku tanpa melihat status sosial keluarga ku." ucap Ziana.