
Esok harinya di perusahaan Erlangga Corp, ia yang baru saja datang dengan mood yang sangat baik, dari saat pertama masuk lobby perusahaan ia selalu menampakkan wajahnya cerahnya yang berhiaskan senyuman. Pandangan matanya yang nampak berbinar membuat aura positif terpancar dari dirinya, siapa pun yang melihatnya akan ikut merasakan kebahagiaan.
"Selamat pagi Tuan." Angga menyapanya seperti biasa kegiatan rutin yang ia lakukan berdiri menyambut Tuannya di depan ruangan kerja pemilik perusahaan.
"Pagi juga Angga." Aditya menjawab dengan senyuman yang terlukis di bibirnya.
Kejutan di pagi hari Tuan Aditya sedang bahagia itu berarti hari yang menyenangkan juga untuk ku, aku tak perlu pusing mendengar perintahnya yang tak masuk akal jika ia tengah kesal.
Aditya melangkah mendekati meja kerjanya, ia mengerutkan keningnya melihat sebuah amplop yang berada di meja kerjanya itu.
"Apa ini?" Ia membawa amplop itu dan membukanya, raut wajah yang tadinya cerah berubah muram seketika. Aditya mengeraskan rahangnya tangannya yang tengah melihat beberapa foto yang ada pada amplop itu pun di remasnya.
"Brengsek!! siapa yang berani memberikan surat kaleng ini pada ku." Dengan sekali hempasan tangannya foto yang ada di tangannya jatuh berhamburan, foto Ziana saat di mini market yang tengah di peluk oleh seorang pria.
Ya Tuhan baru saja aku merasakan betapa indah nafas yang Kau berikan di pagi yang tenang ini, hingga saat kini berubah menjadi badai yang akan membuat badan dan otakku sakit.
"Angga selidiki semuanya aku tak mau tau, hari ini juga serahkan laporannya pada ku." Aditya mengusap kasar wajahnya.
"Baik Tuan." Angga pun pamit untuk segera mengerjakan perintah boss nya itu.
Aditya jatuh terduduk karena sangat terkejut melihat foto itu, tapi ia harus berpikir jernih. Tak mungkin jika ia tak marah dengan pose mesra yang ada di dalam foto tapi ia tak mau gegabah seseorang mengirimkannya langsung kepadanya berarti ada maksud lain di balik semua ini.
"Ini yang aku takutkan, jika semakin lama aku menundanya akan semakin banyak orang yang memanfaatkan situasi seperti ini." Aditya memijat pelipisnya yang terasa pusing.
Foto itu memperlihatkan Ziana yang di pegang oleh seorang pria, pinggang Ziana yang di pegang oleh pria itu dan mereka seolah tengah saling menatap. Bohong kalau Aditya tak cemburu, tapi ia melihat dari sisi yang lain akal sehatnya masih bisa di pakai untuk berpikir. Karena jika Ziana selingkuh tak mungkin ada adegan seperti dalam foto di minimarket itu adalah tempat umum, dan lagi pose yang janggal untuk bermesraan yang tidak pada tempatnya.
Ini jelas merupakan jebakan untuknya, Aditya yang merupakan seorang pebisnis ia sangat tau jika hal seperti ini pasti akan terjadi. Mereka yang merasa tak suka padanya atau yang ingin membuatnya hancur akan mencari segala macam cara termasuk titik kelemahan dirinya.
"Siapa yang ingin bermain - main dengan ku? akan ku pastikan hancur sampai tak bersisa." seru Aditya dengan wajahnya yang memerah dan tangan yang terkepal menahan amarahnya.
Saat ini ia tak ingin dulu menghubungi Ziana, ia takut akan terpancing dan menghancurkan segalanya. Aditya mencoba untuk meredam emosinya terlebih dulu sebelum laporan dari Angga yang mencari tau kebenaran tentang foto itu ada di tangannya.
***
Begitupun pria yang ada di dalam mobil itu sama terkejut dengan dirinya, yang ternyata adalah Bara. Karena sekarang mereka tengah berhenti di lampu merah.
Lena pun mengacungkan ke atas tangannya yang terkepal dengan tatapannya yang tajam, sedangkan Bara menjulurkan lidahnya dengan bola mata yang di buat juling. Mereka tak menyadari jika lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau, sehingga membuat para pengendara di belakangnya memencet klakson nya saat itu.
Kedua nya pun tersadar dan melajukan kembali mobinya masing - masing.
"Dasar pria sinting, kenapa pagi hari yang indah ini gue harus ketemu orang utan yang berkeliaran di dalam kandangnya. Merusak pemandangan aja sih." Lena terus saja mengomel karena pertemuan sekilasnya dengan Bara.
"Di luasnya kota ini kenapa aku harus selalu bertemu dengan gadis gila itu, masa iya aku harus pindah kota. Sepertinya itu ide yang bagus, ah tidak aku seperti pengecut bila itu sampai terjadi." Bara menggelengkan kepalanya karena pikiran tak jelas nya muncul begitu saja. Ia pun terus melajukan mobilnya yang berada persis di belakang mobil Lena.
"Kalau bukan wanita sudah ku tabrak dari belakang, astaga apa yang ku pikirkan!! Tapi menabrak wanita itu enak." ia tersenyum dengan pikiran kotornya yang tengah membayangkan adegan dewasa.
Hujan lebat terjadi saat siang hari yang tadinya cerah seketika berubah gelap, karena awan hitam yang muncul dan kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Seperti saat ini hati Aditya yang tengah diliputi awan mendung, kegusaran hatinya akan foto Ziana belum mendaoatkan jawaban pasti. Hingga membuat fokusnya buyar, dan pekerjaan pun menjadi terbengkalai.
Tok..Tok..Tok
"Masuk." ucap Aditya tanpa beranjak dari kursinya.
"Tuan saya sudah mendapatkan rekaman cctv dari minimarket tersebut, anda bisa melihatnya karena tadi sudah saya kirimkan ke email anda Tuan. Serta rekaman cctv dari luar minimarket yang membidikan kamera pada Nona Ziana pun terekam dengan jelas. Saat ini kita tengah mencari dalang di balik jebakan ini, mungkin nanti malam anda sudah bisa mendapatkan informasinya secara detail Tuan." Angga menjelaskan secara rinci tentang tugas ia kerjakan atas perintah Aditya.
"Bagus, aku tunggu laporan mu nanti malam." ucap Aditya.
"Baik Tuan kalau begitu saya permisi." Angga pamit dan melangkah keluar dari ruangan atasannya itu.
"Hmm.."Aditya hanya mengangguk kemudian ia membuka email yang di kirim Angga dengan rasa penasaran tinggi yang membuat mood nya buruk hari ini.
Ia tersenyum miring melihat apa yang yang ada dalam layar laptop miliknya itu. Ternyata apa yang menjadi kecurigaannya itu benar adanya, karena ia sudah terbiasa dengan adanya surat kaleng yang di alamatkan padanya.
"Dasar bodoh kau itu gadis ceroboh, bahkan beberapa kali pun aku menjadi korban kecerobohan mu." Aditya mengusap layar laptopnya yang kini tengah menampilkan wajah Ziana.
"Siapa orang yang telah berani berurusan dengan ku bahkan ia berani menyentuh gadisku!! tunggu pembalasan ku nanti." Aditya yang terlihat manis saat melihat wajah Ziana berubah menjadi seperti singa yang akan menerkam mangsanya ketika melihat apa yang menjadi miliknya di usik.