In Memories

In Memories
part 120



Ziana terus menangis ia terus menciumi tangan Aditya, seolah mengekspresikan rasa bahagianya karena suaminya telah kembali sadar dan tersenyum padanya.


"Aku mohon berbagi apa pun dengan ku, sakit mu adalah sakit ku juga jangan menanggungnya sendirian. Menahan sesuatu yang berat sendiri tidak baik untuk mu. Aku ini istri mu, bukan?"


"Aku hanya tidak ingin membuat mu bersedih dengan kondisi ku saat ini. Dulu aku berjanji selalu membuat mu tersenyum bahagia jika bersama dengan ku, tapi nyatanya takdir berkata lain."


"Lihat aku, apa aku terlihat tak bahagia bersama dengan mu? walau seperti apa pun kondisi mu, aku akan tetap bersama mu. Jadi ku mohon berjuanglah untuk ku karena aku ingin selalu bersama mu suami ku." Ucap Ziana dengan tangisan pilu yang menyayat hati.


"Maafkan aku sweety, jika aku terlalu egois selama ini. Maaf dan aku mohon jangan menangis lagi."


"Baiklah aku tak akan menangis lagi asal kau berjanji akan berjuang untuk sembuh karena aku selalu bersama dengan mu."


"Aku janji." Aditya tersenyum menatap istrinya yang kini tengah menghapus air matanya dan ia pun mencoba membalas senyuman Aditya meski pun hatinya terluka melihat kondisi Aditya saat ini. Laki - laki yang selalu gagah berani dan tampil percaya diri kini terbaring lemah tak berdaya.


"Ya ampun aku terlalu terbawa suasana, apa kau haus suami ku?" tanya Ziana yang baru sadar jika suaminya baru saja siuman.


"Ya aku haus sweety."


"Baiklah sebentar aku ambilkan." Ziana mengambil air minum yang berada di atas nakas. Ia pun membantu Aditya untuk minum, setelah itu ia pun mengusap kepala suaminya lembut.


"Apa kau lapar?"


"Ya aku ingin segera memakanmu." Aditya menggoda Ziana untuk mencairkan suasana, seperti biasa istrinya akan tersipu malu mendengar perkataannya.


"Makanya kau harus segera sembuh, aku akan memberikan pelayanan khusus untuk mu, bagaimana?" Ziana mulai mengatakan hal yang cukup berani pada suaminya, tujuannya hanya agar suaminya bisa lebih bersemangat untuk menjalani pengobatan agar bisa sembuh.


"Penawaran yang bagus, aku setuju." dengan cepat Aditya menjawab tantangan dari istrinya itu.


"Issh dasar omes kau ya?" Ziana mencubit pelan pipi suaminya.


"Apa itu omes?" Aditya mengerutkan keningnya karena tak mengetahui istilah perkataan yang di ucapkan oleh Ziana. Aditya tak ada waktu untuk bisa mengetahui dunia anak muda jaman sekarang.


Ziana menepuk keningnya hingga menggelengkan kepalanya. Ia lupa jika suaminya itu seorang penggila kerja yang tak mungkin mengetahui hal seperti itu.


"Otak mesum."


"Oh tidak apa asal dengan istri sendiri."


"Dasar, sudah jangan terlalu banyak bicara dulu. Lihat selang oksigen ini selalu turun dari hidung mu." Ziana membenarkan lagi letak oksigen yang menempel di kedua lobang hidung Aditya.


"Apa ada yang sakit?"


"Tidak ada hanya saja aku sangat mengantuk."


"Tidurlah." Ziana menaikan selimut sampai ke dada suaminya.


"Aku ingin tidur denganmu, kemarilah." Aditya membuka selimutnya dan menepuk bagian yang


kosong dari bed nya.


"Tidak suami ku, ini rumah sakit meskipun bed nya besar dan masih muat untuk satu orang lagi." tolak Ziana.


"Baiklah jika begitu." Ziana pun naik dan tidur tepat di sebelah Aditya.


"Begini lebih baik, aku menyukainya."


"Tidurlah."lanjutnya lagi.


Setelah itu keduanya mencoba memejamkan mata mengistirahatkan tubuhnya sejenak untuk melupakan kejadian di hari ini yang terasa begitu melelahkan hati dan jiwa bagi kedua insan yang kini tengah di landa rasa cemas akan hari esok. Tentang takdir yang telah tertulis untuk kisah mereka.


***


"Zian bangun kau mau terlambat hah? ini sudah jam 8 pagi." teriak Bu Rina menggedor pintu kamar anak lelakinya.


"Ini baru jam lima pagi Bu, aku masih ngantuk." teriak Zian dari dalam kamarnya.


"Anak nakal kau ini selalu saja tidur. Mau jadi apa kau nanti." Bu Rina yang kesal menyauti putranya itu.


"Pengusaha sukses." jawab Zian dengan kembali menarik selimutnya sampa telinga karena ia yakin setelah ini Ibunya pasti akan kembali berteriak.


"Pemalas seperti mu ingin jadi pengusaha sukses, mimpi saja sana." teriak Bu Rina yang kesal, karena Zian yang selalu sulit jika di bangunkan.


Di dalam kamar Zian hanya tersenyum mendengar jawaban Ibu nya. Setelah gagal membangunkan putra nya Bu Rina kembali ke dapur untuk mulai melakukan rutinitas seperti kebanyakan Ibu rumah tangga lainnya.


Matahari pagi mulai beranjak naik dan menyinari bumi, membuat siapa pun harus terpaksa membuka matanya untuk segera bersiap menjalankan aktifitas harian mereka. Dan itu juga termasuk pemuda tampan yang kini sudah mulai membuka matanya ia masih mengumpulkan nyawanya sebelum membersihkan tubuhnya.


Setelah di rasa cukup rapih dengan penampilannya, ia pun bergegas untuk sarapan bersama sang Ibu, hanya mereka berdua karena Pak Risman sudah lebih dulu pergi mencari nafkah.


"Bu aku sudah selesai, pergi dulu ya."


"Baiklah hati- hati ya." Zian pun mencium tangan Bu Rina dan mengucapkan salam setelah itu ia pun pergi ke sekolah dengan mengendarai motornya.


Sampai di sekolah ia melihat Frida yang tengah tersenyum padanya, pemandangan yang sudah biasa di lihatnya selama ini. Jika ia bertemu gadis cantik yang ada di hadapannya. Setelah curahan isi hati gadis yang begitu mencintainya itu tak sengaja ia dengarkan, ia mulai mempertimbangkan perasaannya kini.


"Hai Zian, syukurlah hari ini lo tak terlambat lagi."


"Iya gue bangun lebih awal, gue duluan ya." Zian tersenyum sebelum meninggalkan Frida dan itu sukses membuat gadis itu diam seperti patung, ia tak menyangka setelah dua tahun baru sekarang mendapat perlakuan manis dari orang yang sangat ia cintai.


"Kak Evan kau benar semoga ini adalah awal yang baik untuk ku." Gumam Frida, ia selalu mendapat dukungan dari Evan mengenai isi hatinya pada Zian. Bahwa laki - laki mana pun pasti akan luluh jika terus mendapat perhatian berlebih, meskipun masih terlihat tabu jika seornag wanita mengejar pria tapi kini jaman sudah berubah. Ini bukan lagi tentang siapa yang harus di kejar dan siapa yang harus mengejar tapi lebih kepada memperjuangkan perasaan yang ada.


Jika memang pada akhirnya tetap tak di terima ya biarkan saja, yang penting hati kita sudah lega dan barulah kita berdamai dengan diri kita sendiri.


***


Dan sepertinya itu juga yang kini tengah di rasakan oleh Lena. Ia mulai bingung dengan apa yang di rasakanya kini terhadap Bara. Apa mungkin ia termakan dengan omongannya sendiri.


Si*al kenapa jantung gue kaya lagi disko terus dari tadi, ah jangan sampai gue jilat lidah gue sendiri. Muka gue mau di simpen di mana, tapi dia memang tampan kenapa gue baru sadar sih.


Lena terus saja mencuri pandang pada Bara yang kini tengah fokus menyetir di sebelahnya.