In Memories

In Memories
part 126



Setelah kondisinya merasa lebih baik Aditya pun memaksa untuk pulang, ia tak nyaman jika harus terus berada di rumah sakit meskipun fasilitas di ruangannya sangat lengkap. Tetapi tetap saja ia tak betah berlama - lama di lingkungan rumah sakit.


Ziana pun berkonsultsi dengan dokter Fiko dan memberikan syarat jika Aditya akan tetap menuruti semua anjuran dokter untuk tetap minum obat secara teratur, rutin kontrol dan juga tetap menjaga pola hidup sehat agar dapat mempercepat penyembuhannya.


Aditya mau pun Ziana tengah bersiap untuk pulang ke apartemen, mereka berjalan dengan menggunakan lift untuk sampai di lantai bawah.


"Tunggu sebentar di sini." Ziana menunjuk bangku taman rumah sakit yang dekat dengan parkiran khusus petinggi rumah sakit. Aditya pun mengerutkan keningnya tak mengerti dengan tingkah istrinya tapi ia tetap mengikuti apa yang di minta Ziana.


"Aku ke toilet sebentar." Ucap Ziana dengan berjalan dan menjauh dari suaminya yang kini duduk di kursi taman.


Tak berapa lama suara klakson mobil membuayarkan Aditya yang tengah melamun, ia tak menyangka apa yang di lihatnya saat ini. Ziana tengah duduk di balik kemudi mobilnya, dan tersemyum padanya.


"Hallo pak suami, cepat naik aku akan mengantar mu sampai tujuan, sesuai aplikasi ya." ucap Ziana menggoda suaminya yang masih tak berkedip melihatnya.


"Kau bisa menyetir?" Tanya Aditya menghampiri istrinya sebelum masuk ke dalam mobil.


"Kau meragukan kampuan ku? naiklah."


Ziana sudah lama bisa menyetir, ia belajar dari Lena. Lebih tepatnya dulu Lena yang selalu memaksa dirinya agar belajar menyetir, alasannya karena wanita masa kini harus serba bisa jangan selalu harus bergantung pada laki - laki. Dan ternyata jika mengingat apa yang di ucapkan Lena saat itu, membuat nya bersyukur dengan dirinya bisa menyetir maka akan mempermudahnya jika terjadi apa - apa dengan Aditya.


Sebenarnya dokter Fiko melarang Aditya sementara waktu ini untuk tidak membawa mobil sendiri, karena di takutkan jika suatu waktu penyakitnya akan kambuh dan itu sangat berbahaya jika tengah berkendara seorang diri.


Aditya masuk ke dalam mobil dan ia tamoak terus memandang Ziana yang kini telah melajukan mobilnya untuk meninggalkan rumah sakit.


"Sejak kapan?" tanya Aditya yang begitu takjub melihat Ziana bisa mengendarai mobil.


"Sudah lama, dulu aku belajar dari Lena." jawab Ziana dengan sesekali menoleh menatap suaminya.


"Apa ada lagi yang tidak aku tau?"


"Tidak ada hanya mulai sekarang aku yang akan menyetir selama kau dalam masa pengobatan."


"Apa aku selemah itu?"


"Tidak suami ku adalah orang yang kuat hanya saja untuk sekarang ini demi fokus untuk kesehatan mu, kau tak boleh menyetir. Karena aku perawat pribadi melarang mu, ok."


"Kau sudah seperti baby sitter."


"Baby sitter untuk bayi besar ku, tak masalah aku menyukainya."


Aditya tersenyum mendengar jawaban istrinya yang selalu bisa membuat mood nya kembali naik. Mobil pun membelah jalanan ibu kota yang padat, cuaca yang begitu terik dan cahaya yang begitu menyilaukan mata membuat siapa pun tak ingin keluar rumah jika tak ada keperluan mendesak.


Hiruk pikuk jalanan ibu kota yang tak pernah mati, sekalipun tengah malam tiba. Meski begitu setiap orang tampak terus berlomba mencari pundi - pundi rupiah di ibu kota yang terkenal dengan kemacetannya.


Kini Aditya juga Ziana sudah sampai di apartemen mereka.


"Kau ingin di kamar atau di sini dulu?" Tanya Ziana menunjuk ruang keluarga yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Aku ingin di sini dulu." Aditya pun duduk di sofa dan ia pun menghidupkan layar televisi.


"Baiklah aku ke dapur dulu." Ziana berjalan menuju keranjang kotor untuk menyimpan cucian kotor yang di bawa nya dari rumah sakit lalu ia pun melangkah ke dapur untuk membuat coklat panas.


Setelah selesai ia pun membawanya ke hadapan Aditya, ia pun ikut duduk bersama dengan suaminya.


"Baiklah." Aditya pun meminum coklat panasnya, dan mereka pun berbincang untuk mengisi waktu luang sebelum rasa kantuk datang menghinggapi keduanya.


***


Sementara itu Bara sedang berada di kediaman Lena, ia menjemput tunangannya itu. Sudah ada sedikit kemajuan dengan hubungan mereka saat ini, setelah kejadian tempo hari. Bara yakin jika memang Lena sudah menaruh hati padanya, walau pun belum terucap dari mulut keduanya secara langsung.


Bara juga tengah memantapkan hatinya agar ia tak salah langkah meskipun pada akhirnya ia harus menikah dengan Lena tapi ia ingin jika hatinya benar tertuju pada Lena. Bara tak ingin membuat Lena terluka, ia ingin seperti Aditya yang memperlakukan Ziana seperti harta berharga yang sangat di jaganya.


"Hallo cucu mantu Oma, apa kabar tampan?" tanya Oma Rita begitu keluar dari kamarnya.


"Hallo Oma ku yang cantik, kabarku baik. Bagaimana dengan Oma sendiri?" Bara berdiri dan langsung mencium tangan Oma Rita.


"Ah tentu kabar Oma selalu baik, kau ke sini ingin menjemput tunangan mu yang baper itu kan?"


"Baper kenapa gitu Oma?" tanya Bara yang tak mengerti dengan ucapan Oma Rita.


"Kau tau belakangan ini ia seperti orang tak waras ada kala ia tersenyum terus menerus, ada kala ia seperti orang linglung yang terus berhitung."


"Masa sih Oma?"


"Iya di selalu berhitung dan menatap ponselnya sendiri antara menelpon atau tidak, sepertinya dia ke makan omongannya sendiri." Oma Rita tertawa pelan dan terus menoleh ke arah tangga, takutnya orang yang di bicarakan muncul tiba - tiba.


"Maksud Oma?" Bara semakin bingung mendengarnya.


"Kau yang harus tanggung jawab, urusan Oma sudah selesai sekarang tinggal kau yang harus meneruskannya. Buatlah dia selalu bahagia."


"Oh iya aku mengerti sekarang, tapi apa Oma yakin?"


"Pasti." Keduanya berhenti berbicara saat orang yang tengah menjadi topik pembicaraan datang.


"Aku sudah siap, sebaiknya kita pergi sekarang." ucap Lena dengan terus berjalan menghampiri Bara.


"Baiklah." Bara pun berdiri dari duduknya.


"Sepertinya kalian melupakan sesuatu." ucap Oma Rita.


"Apa?" tanya keduanya dengan kompak.


Oma pun mengacungkan jarinya dengan membentuk finger love, lalu Oma pun tertawa melihat keduanya yang tersipu malu. Melihat Bara dan juga Lena yang sudah mulai membuka hatinya, membuat Oma Rita tersenyum bahagia karena itulah cita - citanya dari dulu memberikan pasangan yang akan menjaga cucunya kelak dengan baik.


Dan Bara merupakan kandidat yang paling pas di antara semuanya, Oma sangat mengenal karakter Bara.


"Sudah lanjutkan kencan kalian sana, tapi ingat belum saat nya kalian membuat junior ya. Tahan dulu belum sah."


"Omaaaaa." Lena berteriak kesal karena di saat yang bersamaan Oma melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.


"Boleh di coba DP lebih dulu, bagaimana?" tanya Bara menggoda Lena dengan menggerakkan alisnya naik turun juga senyumnya yang selalu membuat jantung Lena tak bisa di kondisikan.


"Nih kalau berani." Lena pun mengacungkan kepalan tangannya pada Bara, yang kini tertawa melihat reaksi Lena.