In Memories

In Memories
part 37



Ziana pun kini telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Lena, sebelum mobil pesanan nya datang menjemput. Ia sempatkan sarapan dulu untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Katanya bagian siang kamu masuknya, kok jam segini kamu udah siap mana buru-buru gitu?" Bu Rina melihat putrinya yang sedang sarapan itu dengan sangat cepat.


"Ada urusan mendadak Bu." ucap Ziana tanpa memberi tau alasan yang jelas.


"Bu aku pergi dulu ya, assalamualaikum." Ziana berlalu pergi meninggalkan Ibu nya karena mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.


"Waalaikumsalam." Jawab Bu Rina dengan heran melihat tingkah putrinya tersebut.


Perjalanan yang memakan waktu 15 menit itu terasa sangat lama karena ia tau ini sudah siang untuk bisa berias dan menghadiri acara pernikahan keluarga. Dengan berlari begitu sampai di halaman rumah Lena, ia berharap akan mempercepat waktunya yang sudah terlambat.


"Zi sini lo buruan." Lena yang sudah selesai di rias menyeret lengan sahabatnya itu untuk segera masuk ke kamarnya dan menyerahkan Ziana pada MUA yang telah menunggunya.


"Kalau lo udah beres di rias, lo langsung pakai baju yang ini ya warna nya senada sama baju gue." Lena meletakan baju yang akan di pakai oleh Ziana di atas tempat tidurnya.


"Ini baju baru apa gimana kok bisa samaan kaya lo sih?" tanya Ziana yang sedikit bingung ia melihat gaun itu seperti gaun bridesmaid yang sama dan sengaja di buat.


"Iya lah gue bikin buat lo, ukurannya badan lo kan sama kayak gue jadi gue nggak pusing nyari ukurannya." Lena tersenyum melihat wajah bingung Ziana.


"Dasar lo ya berarti lo udah siapin ini jauh-jauh hari." Ziana mengerucutkan bibirnya kesal.


"Udah ah lo diem aja lagi di rias juga berisik, ntar hasilnya jelek tau."


Setelah selesai di rias Ziana pergi ke bathroom yang ada dalam kamar lena yang mewah itu. Ia lalu mematutkan dirinya di depan cermin, baju yang sangat pas di badan dengan potongan lengan sabrina yang terdapat pita di kedua tangannya, dan baju yang berwarna baby pink itu membuatnya sangat cantik, dengan tatanan rambut yang di buat curly di rapikan sedikit hiasan rambut menambah kesan anggun dan mewah pada dirinya.


Ia pun keluar dan berjalan melangkah ke arah Lena, dengan sedikit pelan karena sepatu high heels nya.


"Cie ini ntar pengantinnya kalah tau sama lo, cantik banget sih lo." Lena yang melihat penampilan berbeda dari seorang Ziana yang keseharian nya hanya senang memakai celana jeans.


"Cie kalau mau bikin gue terbang nggak bakal mempan buat gue." Ziana membalas perkataan Lena.


"Katanya udah telat buruan gue kan udah siap ntar nyalahin gue lo." Lanjutnya lagi.


"Iya udah ayo lah." Lena beranjak berdiri mereka pun segera keluar dari kamar Lena.


Supir yang telah bersiap mengantarkan mereka ke hotel acara pernikahan telah menunggu mereka di depan rumah, karena orang tua lena sudah berangkat lebih dahulu jadi hanya tinggl Lena dan Ziana yang akan berangkat.


"Ngapain juga sih lo ngajak gue kan lo bisa pergi sama orang tua lo." Ucap Ziana yang duduk di dalam mobil dengan tangannya yang sedang melihat cermin.


"Ishhh acara seperti itu kalau cuma sama orang tua bakal bikin boring tau, jadi gue mending ngajak lo ntar di sana kita pasti bisa jadi kritikus style yang oke." Lena terkikik mengatakan hal itu, karena memang kebiasaan mereka jika berdua dalam suatu acara bukan fokus pada acaranya tapi lebih kepada membicarakan orang dan gaya nya.


"Kelakuan lo tuh." Ziana hannya menggeleng mendengar menjelasan dari Lena.


Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan hotel, mereka pun turun untuk segera memasuki ballroom hotel yang sedang menyelenggarakan pesta mewah pernikahan sepupu Lena.


Karena ini hanya tinggal acara resepsi maka mereka pun hanya tinggal ikut bergabung tanpa harus menunggu acara sakralnya suatu pernikahan yang pasti akan sangat lama jika mengikutinya dari awal acara.


"Tuh kan banyak banget tamu nya, gue suka pusing liatnya." Lena yang menatap sekeliling ballroom hotel yang sedang di padati oleh tamu undangan.


"Kita gabung sama keluarga gue dulu yuk buat sesi foto."


"Eh apa nggak apa-apa gue ikutan?" tanya Ziana yang terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Issh udah lo jangan banyak tanya ikut gue aja ribet banget lo." Ucapnya lagi dengan menggandeng tangan Ziana untuk segera berjalan melangkah menuju tempat dimana semua keluarga tengah berkumpul.


"Eh Lena kamu selalu saja telat ya dari tadi Mami cariin juga." Ibu nya Lena mengomel seketika melihat wajah sang putri yang baru tiba di lokasi acara.


"Iya Mi kan yang penting Lena udah datang ini."


"Zi kamu ikut juga, ya sudah ayo ikutan ke atas pelaminan kita akan ada sesi foto bareng pengantin." Mami Lena yang selalu ramah padanya membuat Ziana selalu merasa sungkan, padahal Mami Lena sudah menganggap Ziana seperti anaknya sendiri ia senang putrinya mendapatkan teman yang baik dan pintar seperti Ziana. Dan meskipun Ziana berasal dari keluarga sederhana ia tak pernah sedikitpun memanfaatkan Lena, ia tau semuanya karena Lena selalu menceritakan semua padanya.


"Iya Tante." Ziana pun mengangguk menyetujui.


Setelah beberapa menit sesi foto dengan pengantin, mereka pun turun dari pelaminan menuju stand makanan yang berjejer rapi. Membuat perut siapa pun yang sudah kenyang akan kembali berteriak minta untuk di isi.


"Yuk ah tugas kita udah selesai tinggal makan isi perut kita sampai kenyang." Ucap Lena dengan terus berjalan menyusuri setiap makanan.


"Iya perut gue juga udah laper lagi ini." Mereka tertawa dengan melangkah berpencar mencari makanan yang mereka sukai.


Saat itu ia tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya sedari tadi. Ia terus saja mengunyah makanan tanpa memperdulikan keadaan sekitar baginya tak perlu merasa canggung, tak akan ada orang yang kenal dengannya karena ini adalah pestanya orang yang bahkan pengantinnya tak ia kenal.


"Hai ternyata lo di sini kirain di kampus." Evan yang sedang di acara yang sama tak mengira akan bertemu dengan Ziana.


"Eh hai Evan lo di sini juga, ia hari ini gue bolos ini acara dadakan teman gue ngajak tapi maksa." Ziana tertawa kecil.


"Iya gue juga lagi perwakilan nganterin nyokap gue." ucapnya dengan menatap lekat Ziana yang sangat terlihat cantik hari ini.


"Berarti ini acara dadakan lo juga ya," sahut Ziana.


"Iya begitulah."


Mereka pun terlibat obrolan hangat yang membuat mereka kadang tertawa bahagia, dari arah yang jauh seseorang yang dari tadi memperhatikan nya dalam diam tampak mengepalkan ke dua tangan nya dengan sorot mata nya yang tajam melihat interaksi Ziana membuat dadanya bergemuruh menahan emosi.