
Setelah kesehatannya benar - benar pulih Ziana kini sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Ia kini tengah menyiapkan semua keperluan suaminya untuk bekerja. Pekerjaan Aditya yang akhir - akhir ini mengharuskannya untuk lembur membuat Ziana merasa khawatir akan kesehatan suaminya.
"Suami ku, apa hari ini kau lembur lagi?" tanya Ziana sesaat setelah Aditya terbangun dan menyandarkan kepalanya pada headboard tempat tidur.
"Kenapa sweety, kau kesepian hmm?" Aditya mengedipkan matanya menggoda Ziana.
"Bukan begitu, aku takut kau sakit jika harus bekerja seperti itu. Semua ada waktunya suami ku jangan terlalu keras bekerja." Ziana mencoba mengingatkan Aditya dengan mengusap pelan kepala Aditya agar ia mau mendengarkan nasihatnya.
"Baiklah akan ku usahakan agar semua pekerjaan beres tepat waktu." Ucap Aditya dengan senyum mengembang dari bibirnya.
"Begitu lebih baik, aku memang meminta mu untuk bekerja keras tetapi tidak seperti ini juga, ingat untuk selalu menjaga kesehatan dan ingat juga karena ada aku yang menunggumu di rumah."
"Maafkan aku belakangan ini aku terlalu sibuk dan mengabaikan mu, nanti siang datanglah ke perusahaan aku ingin makan siang bersama istriku." Dengan menarik tangan Ziana hingga ia jatuh ke dalan pelukan suaminya.
"Baiklah nanti aku akan datang untuk memberi mu semangat." jawab Ziana dengan membalas pelukan Aditya erat.
"Jangan pergi sendiri lagi, aku sudah menyiapkan supir untuk menemani semua aktifitas mu, dan jika ingin pergi kemana pun kau harus mengabari ku."
"Baiklah, kalau begitu cepat lah bersiap ini sudah hampir terlambat, aku juga harus pergi kuliah pagi ini." Mereka pun mengurai pelukannya.
Cupp..
Aditya mendarat kan kecupan bibir kepada istrinya.
"Kecupan selamat pagi untuk menyemangati hari ini."
Aditya pun beranjak berdiri menuju bathroom untuk membersihkan dirinya, Ziana hanya tersenyum mendapat perlakuan manis di pagi hari oleh suaminya.
Kini ia tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya menu simple seperti biasanya karena memang itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Ziana bertekad setelah ia sembuh nanti akan mencoba untuk memasak karena ia merasa bersalah hanya bisa menyiapkan menu yang sama setiap harinya untuk suaminya.
Setelah itu Aditya keluar kamar dan ia duduk di kursi untuk memulai sarapannya.
"Apa hari ini sudah ada laporan dari sahabat mu itu?"
"Iya seperti biasa mereka selalu ribut bahkan untuk masalah sepele sekalipun, entah bagaimana rumah tangga mereka nantinya." Ziana menggelengkan kepalanya jika mengingat hubungan Lena dan juga Bara.
"Biarkan saja sebentar lagi juga mereka akan saling membutuhkan." ucap Aditya dengan melahap makanan di hadapannya.
"Suami ku, apa orang menabrak ku sudah tertangkap?" tanya Ziana dengan perubahan wajah yang serius.
"Sudah, dan kau tenang saja ya tidak perlu banyak pikiran aku sudah menjebloskannya ke penjara."
"Tapi jika dia memang tak sengaja jangan di perpanjang, kasian mungkin keluarganya membutuhkan dirinya. Bisa jadi dia adalah tulang punggung keluarga, apa jadinya jika ia di penjara?"
"Sweety semua sudah di urus pihak kepolisian kau jangan terlalu banyak berpikir, meski pun nantinya mengarah pada ketidak sengajaan maka ia pun tetap harus di hukum. Negara kita adalah negara hukum sweety." Jawab Aditya dengan tak membicarakan kejadian yang sebenarnya, ia berusaha menutupi semua yang terjadi kepada Ziana.
"Baiklah." Ziana pun mengangguk dan melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
Lihatlah bahkan kau yang hampir kehilangan nyawa karena tabrakan itu, masih memikirkan nasib dari supir k*parat yang telah menabrak mu. Sungguh sampai detik ini aku masih belum percaya jika bidadari di hadapan ku ini adalah istri ku.
Ziana baru saja turun dari mobilnya, ketika seseorang berteriak memanggilnya.
"Mun naik sini, lumayan jalan kaki ke dalam juga butuh tenaga." Ternyata Lena yang batu saja datang menggunakan mobilnya. Dengan segera Ziana pun memasuki mobil Lena.
Sampai di parkiran kampus, Ziana merasa ada yang hilang. Evan kini tak lagi ada di kampus yang sama dengan nya, entah mengapa mengingat Evan selalu membuat hatinya sedikit perih. Ia tau tak pantas baginya untuk memikirkan pria lain selain suaminya sendiri tapi rasa memang tak dapat kita atur dengan sendirinya.
"Udah lah Zi lo nggak usah mikirin Evan, ingat lo udah ada Aditya." Lena tau apa yang kini tengah Ziana pikirkan.
"Gue cuma ngerasa bersalah aja Len, dia pergi dengan banyak nya luka di tubuhnya karena gue."
"Dan luka hati juga." Lena menambahkan ucapan Ziana dengan menggenggam tangan sahabatnya.
"Iya mungkin termasuk luka hatinya juga."
"Sudah ya sekarang lo harus menatap ke depan karena masa depan lo ada sama Aditya, biarlah Evan menjadi bagian dari kenangan manis masa lalu. Kita di takdirkan tidak bisa untuk menampung dua cinta sekaligus tak akan cukup terlalu memakan ruang Zi." ucap Lena bijak.
"Lo bener, semoga Evan segera mendapatkan kebahagiaannya. Dia orang yang baik pasti akan dapat yang terbaik juga."
"Iya udah yuk kita turun." Lena juga Ziana turun dari mobil, mereka berjalan menuju ruang kelas nya dengan langkah yang ringan seolah semua beban di hati telah meluap.
***
Drrtt...drrtt
Ponsel Aditya bergetar dengan segera ia mengangkat panggilan telpon dari Mommy Irene.
"Hey anak nakal kenapa kau tak memberi tau Mom jika menantu Mom kecelakaan dan masuk rumah sakit." seru Mommy Irene setelah panggilannya di angkat oleh Aditya.
Aditya menjauhkan ponselnya setelah mendengar suara keras dari Mommy nya.
"Ditya hanya tidak ingin membuat Mom dan Daddy khawatir dan langsung kembali ke tanah air jika Ditya memberi tau kan kondisi istriku." ucap Aditya.
"Kau bisa tidak menjaga menantuku dengan baik? baru menikah sudah kecelakaan begitu, jika tidak bisa menjaga nya biar Mom bawa istri mu ke sini."
"Eh mana ada begitu Mom, tidak bisa Ziana harus tetap bersama dengan ku." Aditya langsung berdiri mendengar apa yang Mommy Irene katakan. Ia sangat tau watak dari sang Mommy yang tak pernah main - main dengan ancaman nya itu.
"Kau yakin bisa menjaga istrimu? memangnya Mom tak tau jika belakangan ini kau sering meninggalkan istrimu karena lembur."
"Itu karena sedang ada sedikit masalah di perusahaan Mom, jadi terpaksa Ditya harus lembur."
"Bagaimana ya tapi Mom tetap ingin membawa istrimu untuk memulihkan kondisinya di sini akan jauh lebih baik karena cuaca di sini bagus untuk pemulihannya."
"Aku merawatnya dengan baik di sini Mom dan satu lagi tidak akan ada yang boleh membawa Ziana dari ku sekalipun itu Mom." seru Aditya, bagaimana hidupnya jika di sisi nya tidak ada lagi Ziana yang selalu menjadikan hidupnya lebih bersemangat dalam menjalani hari.
"Kau ini suami posesif yang menyebalkan." Mommy Irene pun menutup sepihak panggilannya. Aditya hanya tersenyum dengan menatap ponselnya setelah panggilan berakhir.