In Memories

In Memories
part 22



Drrrrttt drrrrt


"Hallo.."


"Hallo zZi..lagi apa?" ucap Evan.


"Gue lagi ngantri di tempat martabak nih, ada apa Van?" jawab Ziana


"Nggak ada sih cuma mau bilang aja soal reuni katanya jadi akhir minggu ini, lo ikut nggak?"


"Liat nanti deh Van, gue nggak janji."


"Oh oke kalau gitu kabari gue ya."


"Iya oke."


Sambungan telpon pun terputus, Ziana masih terus memandangi layar ponselnya. Ia tak percaya cinta pertamanya yang dulu ia kubur dan coba untuk lupakan malah datang tanpa ia minta.


"Heh Evan ngomong apaan sih, kok lo jadi bengong gitu?" Lena menyikut tangan Ziana agar ia tersadar dari lamunannya.


"Dia kayak mau ngajak gue ke reuni gitu, katanya kalau gue siap minta di kabarin." Ziana menoleh menatap Lena.


"Kan apa gue bilang dia mulai pepetin lo tuh, kayaknya cintanya sama yang dulu udah kelar Zi."


"Tapi hati gue udah nggak kaya dulu Len, gue udah biasa aja gitu kalau ketemu dia." sahut Ziana.


"Iya itulah cinta dulu di kejar sekarang balik mengejar, bikin puyeng otak ya." ucap Lena dengan menggelengkan kepalanya.


"Iya kan pusing ya mending sekarang kita balik aja lah tuh martabak juga udah di tangan, udah sore juga ini." ajak Ziana dengan berdiri dari duduknya.


Karena bengong tadi sehingga Lena lah yang mengambil pesanannya. Setelah itu mereka melangkah masuk ke dalam mobil untuk segera pulang dan menikmati hangatnya martabak.


***


Aditya yang baru tiba di appartement nya langsung merebahkan tubuhnya di sofa, ia merasa hari ini sangat lelah hati dan juga pikiran nya sangat tidak sinkron.


Selintas teringat dimana Ziana terlihat tertawa bersama seorang pria yang membuatnya bad mood.


Ia lalu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Hallo cari tau info mengenai Ziana sampai detail, besok harus sudah ada di meja ku."


Aditya langsung mematikan ponselnya padahal orang di sebrang sana baru juga mengangkat telpon nya.


Punya atasan suka main perintah seenaknya, baru juga duduk sampai appartement langsung dapat tugas baru. Ishh kalau nggak inget banyak cicilan gue udah keluar!! tapi gue mau kerja apa, walau pun kerja gue berat tapi gaji nya gede,sabarrrrr Angga!!


Aditya menarik nafas nya panjang, seolah ada beban berat yang tengah menghimpitnya. Saat sedang diam dalam lamunan nya ponselnya bergetar kembali,kali ini ada notifikaski pesan dari orang yang membuat hati nya kacau.


Gadis berisik<<


hay pacar bohongan ku, tadi ko jutek banget sih??gemess tau aku tuh😊


Patung es<<


Hmmmm


Gadis berisik<<


Isshhh irit banget sih kak, orang nggak di pungut biaya ini cuma ngetik doang. Ya udah met malam aja🤗


Patung es<<


Hmmmm


Gadis berisik<<


Hmmmm sariawan nya pindah ke jempol juga kayak nya😄


Aditya tidak membalas lagi, ia hanya menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan yang membuatnya semakin tampan.


Setelah berbalas pesan untuk pertama kali nya, dan itu membuat hatinya yang tadi tak karuan menjadi lebih tenang. Ia pun segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk tertidur.


"Semangat Ziana jangan sampai kamu menyerah dengan keadaan, kita lihat takdir apakah akan berpihak ku atau tidak? sebenarnya aku juga tidak yakin tapi demi si ganteng aku putusin dulu urat malu nya, kalau nggak seperti itu ya nggak bakal dia duluan yang maju." Ziana mengacungkan tangan nya ke atas menyemangati dirinya sendiri.


*Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Cintaku tanpa sambutmu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


Ku harus miliki mu


Aku bisa membuat mu


Jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa


Simpan mawar yang ku beri


Mungkin wanginya mengilhami


Sudikah dirimu untuk


Kenali aku lebih dulu


Sebelum kau ludahi aku


Sebelum kau robek hatiku*


Risalah hati _Dewa 19


Radio yang tengah Ziana dengarkan dari tadi berganti lagu dengan lagu yang sangat pas dengan isi hatinya, ia mulai terhanyut dengan liriknya yang sangat menyentuh. Sebenarnya ia takut kalau cinta nya bertepuk sebelah tangan, ia takut kalau dirinya hanya di pandang sebelah mata tapi yang ia tau ia harus memperjuangkannya, untuk hasilnya ia serahkan pada sang penguasa kehidupan.


Sampai ia terlelap dalam mimpi panjangnya, semoga esok hari merupakan langkah awal yang baik untuk hubungannya. Iya semoga..


***


Pagi itu setelah semua anggota keluarga melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ibu Rina yang sedang mempersiapkan keperluan anak lelakinya yang akan camping dari sekolah pada weekend ini terlihat sangat sibuk.


Sedangkan Zian berbaring kembali di tempat tidur karena menurutnya ini masih sangat pagi untuk bersiap ke sekolahnya.


"Heh bangun lo, sebenarnya yang mau berangkat itu Ibu apa lo sih?" Ziana menarik selimut Adiknya yang mencoba terlelap kembali.


"Kalau bisa di ganti ya Ibu aja lah berangkat biar anak-anak ada yang masakin, gue di rumah aja ngantuk!" ucapnya dengan menarik kembali selimut dari tangan Ziana.


"Mulai ngaco lo, bangun zian nggak malu sama ayam lo udah bangun dia!" seru Ziana.


"Itu ayam emang pembelot kan kemaren udah gue bilangin abis subuh dia jangan dulu berkokok, padahal malem gue udah kasih obat tidur biar nggak berisik." Zian ngomel tak jelas, apa mungkin setengah alam bawah sadarnya belum terkumpul semua.


"Ish kelakuan lo!!" Ziana menoyor kepala Adiknya yang benar-benar ajaib itu.


"Udah bangun lo kasian itu Ibu nggak tau mana aja yang mau lo bawa, kan lama lo 3 hari. Kalau ada yang ketinggalan emang bisa lo balik rumah dulu kan nggak."


"Iya..iya ini gue bangun ah bawel banget sih lo." Zian pun dengan terpaksa bangun dan duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa nya yang baru setengah.


Setelah itu ia mulai mengecek apa saja yang Ibu nya tadi packing untuk keperluan nya agar semua nya pas tidak berlebihan apa lagi kekurangan. Di rasa semua cukup, ia pun bergegas pergi membersihkan diri nya dan sarapan agar tubuhnya tak kekurangan energi saat nanti di perjalanan.


"Anter gue ke sekolah ya, bawaan gue banyak jadi ntar gue langsung masuk ke dalam sekolah biar turunin barangnya nggak jauh." ucap Zian dengan masih menyuapkan nasi gorengnya.


"Iya ntar gue anterin." Ziana mengangguk setuju.


"Zian kalau ada apa- apa telpon Ibu atau Zi, jangan kalau abis duit aja kamu nelpon. ibu nggak bakal ngasih kamu duit lagi, itu udah lebih dari cukup." nasihat ibu yang panjang tetapi ujung-ujungnya selalu soal uang.


"Iya bu." Zian tertunduk lemas.