
Sampai di kampus Ziana yang tengah bahagia karena perlakuan manis sang suami terus saja tersenyum sepanjang jalan menuju ruang kelasnya, tanpa di sadari dari arah belakang muncul lah sahabatnya yang tengah fokus dengan ponselnya.
Brukk..
"Aduh, bisa jalan yang.. lo Mun?" seru Lena yang tadinya ingin meluapkan kekesalannya tetapi ternyata yang ia tabrak adalah sahabatnya sendiri.
"Lo yang salah malah lo yang sewot makanya kalau jalan jangan maen ponsel terus lo." ucap Ziana dengan memegang punggungnya.
"Yuk jalan ntar telat kita." Ziana menggamit lengan Lena kemudian mereka pun berjalan bersama.
"Kantin aja yuk ngapain masuk, dosen nya nggak masuk Mun. Emang lo belum baca di grup?" Lena pun mulai berbelok ke arah kantin di ikuti Ziana yang hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"Kenapa sih muka lo lecek banget Odah?" Ziana menatap wajah sahabatnya yang terlihat tak bersemangat.
" Lo tau nggak hidup gue udah mepet banget di ujung jurang, gue loncat gue mati nggak loncat juga gue di dorong buat loncat."
"Apaan sih perumpamaan lo kacau banget, ada masalah apa sih cerita coba?" Mereka kini tengah duduk di kantin kampus dan tengah menunggu pesanan makanan datang setelah mereka memesannya begitu sampai di kantin.
" Minggu ini gue tunangan." Lirih Lena.
"Apa lo tunangan sama dokter Bara gitu?" seru Ziana yang nampak sumringah mengetahui bahwa sahabatnya akan bertunangan apalagi jika sampai dokter Bara yang menjadi calonnya pasti makin seru untuknya, membayangkan kedua orang yang tak pernah akur di paksa untuk bersatu saja membuatnya selalu ingin mengolok keduanya.
"Iya siapa lagi masa sama mang Udin." Lena mengerucutkan bibirnya kesal.
"Yang jadi permasalahan nya itu apa coba?dia ganteng, mapan, lucu juga udah pasti lo bakal awet deh sama dia Dah. Dia masuk kriteria lo kan?"
"Dia emang masuk kriteria gue tapi nggak tau kenapa kalau tiap ketemu bawaannya tensi gue naik terus, hawa nya panas tau nggak bikin spaneng mulu tuh orang."
"Yang panas itu enak kali biar lo nggak kedinginan." Ziana menggoda Lena yang tetap dengan mode ekspresi yang sama.
.
"Mentang - mentang udah kawin pikiran lo ranjang terus, bikin panas otak lo."
"Lagian lo tuh di kasih jodoh di depan mata juga, tinggal ambil di coba aja di jalanin siapa tau malah jadi bucin, kayak kisah gue gitu." Ziana mengibaskan rambutnya dengan senyum nya saat ia tengah mengingat awal pertemuan nya dengan Aditya hingga mereka menjalin kasih dan berakhir di pelaminan.
"Entah lah gue nggak yakin endingnya gimana buat kisah gue. Karena mulut tuh dokter lemes bener selalu nyaut tiap omongan gue, beda banget sama laki lo."
"Udah sih tinggal di coba aja dulu, baju aja sebelum di cobain pasti di bilang nggak cocok tapi kalau udah di coba buat di pake terus lo nyaman, kan malah lo sayang juga sama itu baju. Nah nggak beda jauh lah sama kisah lo sekarang." terang Ziana panjang lebar mencoba memberi pengertian pada Lena.
"Bedanya baju nggak bisa ngomong tapi tu orang mulutnya bikin gue darting."
"Udah sih, kapan acaranya? terus gue bisa bantu apa nih?"
"Bantuin apaa gue aja nih yang mau tunangan nggak ngerti apa - apa, semua nya udah di urus tuh sama duo Oma gonjreng." sungut Lena yang memang tak pernah tau akan di adakan dimana dan bahkan dengan konsep seperti apa ia pun tak tau, Lena hanya tau soal waktunya saja.
"Lo ngeledek gue?"
"Ampun Dah lo tu ya sensi amat sih, gue beneran kagum sama lo ini, suer." Ziana mengangkat jarinya membentuk huruf V.
Drrtt...drrtt
Ponsel Ziana bergetar, ada notif pesan yang masuk dan dengan segera ia pun membuka nya. Setelah itu tangannya bergetar dan kepalanya terus menggeleng, dadanya terasa sesak bahkan untuk berbicara pun dirinya merasa tak mampu.
"Lo kenapa?" tanya Lena yang kaget melihat tingkah Ziana yang tak seperti biasanya. Ia pun mengguncangkan tangan Ziana tapi tetap tak mendapat respon darinya dengan segera Lena merebut ponsel Ziana.
Sebuah foto yang menunjukan Aditya yang tengah terlihat berciuman dengan seorang wanita di dalam kantornya.
"Tenang Zi, lo harus tetap stay cool ok? bisa aja ini foto editan, karena ada yang nggak suka sama pernikahan kalian." Ucap Lena memberikan ketenangan pada Ziana.
"Gue harus gimana Len? Gue nggak tau ini foto asli atau nggak gue nggak bisa buktiin nya, yang gue tau saat ini hati gue sakit banget." Air mata pun jatuh tak terbendung lagi, kini genangan air mata yang tadi di tahannya mulai jatuh menganak sungai di pipinya yang putih mulus.
"Lo harus tetap kuat Ok, semua masalah bisa di atasi dengan baik tapi harus dengan kepala dingin jangan bertindak gegabah karena ini pernikahan bukan pacaran yang bisa kapan saja putus nyambung." Lena dalam mode bijaknya, ia pun memeluk Ziana yang kini tengah menangis dalam pelukannya.
Kejadian ini tak luput dari bidikan kamera team Eagle yang dengan segera melaporkan kejadian itu pada Aditya. Tetapi karena yang bersangkutan tengah memimpin rapat maka belum ada balasan apa pun darinya.
"Gue nggak mau pulang dulu, gue ke rumah lo aja ya Len." Ucapa Ziana saat tangisnya sudah mulai reda.
"Iya apa sih yang nggak buat lo, cuma lo yang sabar aja yah di rumah gue lo juga belum tentu dapat ketenangan karena Oma gue selalu bikin rusuh."
"Nggak apa lah dari pada di rumah ortu gue malah kepala gue bisa pusing denger Ibu yang pasti ngomel panjang."
"Gue punya ide buat bikin hati lo bisa plong."
"Apaan?" ucap Ziana yang masih sesenggukan karena tangisannya.
"Kita karaoke, gimana lo mau?" tanya Lena.
"Boleh lah gue bisa teriak suka hati gue di sana paling gendang telinga lo pecah denger gue nanti."
"Asal hati lo lega Zi, nggak apa - apa beneran telinga gue jadi korban. Tapi pake kira - kira juga ya biaya kesehatan nggak di tanggung pemerintah cuy." Ziana tersenyum mendengar joke receh sahabatnya itu.
"Iya santai aja, yuk kita berangkat." mereka pun berangkat meninggalkan kantin menuju ke tempat parkiran untuk pergi ke tempat karaoke melepas semua beban hati yang kedua nya alami untuk saat ini.
Sementara itu Aditya yang baru selesai rapat, memeriksa ponselnya. Tangannnya terkepal kuat melihat laporan team Eagle tentang istrinya.
Aditya tau suatu saat bom waktu pasti akan menyerang langsung pada Ziana, maka dari itu ia pun menyadap ponsel istrinya hingga mudah jika ada hal yang tak di inginkan terjadi sewaktu - waktu dan terbukti dugaanya tidak meleset.