In Memories

In Memories
part 29



Aditya sampai di appartementnya rasa lapar yang tadi ia rasakan sudah menguap hilang entah kemana, yang ada kali ini ia hanya ingin berendam untuk mendinginkan hati dan otaknya yang masih panas.


Dengan langkah nya yang cepat ia pergi ke kamar mandi dan langsung masuk ke dalam bath up tanpa membuka baju nya.


"Lihat apa yang aku akan lakukan pada mu nanti." gumamnya dengan merapatkan giginya kesal.


Di rumah Ziana yang tak mengetahui apa yang telah terjadi merasa sangat merindukan Aditya karena seharian ini tak melihatnya bahkan tak ada kabar sedikit pun dari nya.


Gadis berisik <<


halllo Kak Ditya sedang apa?


Sudah satu jam berlalu ia terus membuka dan menutup ponselnya siapa tau ada balasan dari Aditya, tapi tetap tak ada hanya centang biru yang berarti pesan sudah di baca namun tak di balas.


Gadis berisik <<


kok nggak di bales sih, aku ganggu yah😔


"Kak Ditya kenapa sih kemarin masih balas pesan ku kenapa sekarang cuma di baca doang kan bukan koran." Lirih Ziana.


Ia mencoba memejamkan matanya untuk tidur tapi otaknya seperti menyuruhnya untuk terus membuka ponsel, menunggu balasan dari Aditya. Tetap nihil tak ada balasan apa pun.


Selesai berendam aditya melangkah menuju walk in closet lalu berganti pakaian, ia melihat ponselnya bergetar ada notif pesan masuk.


Aditya hanya menatap ponselnya yang hanya ia baca tanpa ada niat untuk membalasnya. Ia menatap jijik pada ponselnya melihat nama pengirim pesan tersebut.


Ia berbaring di tempat tidur dan melempar ponsel nya ke sembarang arah. Setelah itu ia mencoba untuk tidur, karena hari ini sangat melelahkan baginya.


***


Pagi hari begitu sampai di lobby perusahaan aditya berjalan dengan angkuhnya, kejadian kemarin membuatnya semakin dingin. Ia tak membalas setiap sapaan karyawan nya yang kebetulan berpapasan dengan nya.


Langkahnya yang menatap lurus menatap ke depan dengan wajah datar tanpa senyum yang membuatnya terkesan sangat arogan.


"Selamat pagi Tuan." Angga membungkukkan tubuhnya menyapa big boss nya.


Aditya tak menghiraukan sapaan sekertaris pribadi nya itu, bahkan ia melangkah masuk menuju ke dalam ruangan nya. Dan Angga mengikutinya dari belakang setelah itu ia membacakan jadwal harian Aditya.


"Tuan hari ini jam 9 ada meeting dan makan siang dengan Tuan Simon." Ucap Angga.


"Hmm.."


Aditya hanya melirik dan menggerakan tangan agar Angga keluar dari ruangan nya.


"Tuan aditya kenapa ya seperti nya sedang bad mood, udara di ruangan tadi bikin merinding dingin banget." gumam Angga bergidik takut dengan memegang tengkuknya.


Meeting dengan Tuan Siimon yang berlanjut dengan acara jamuan makan siang di sebuah restaurant itu berjalan dengan lancar, ia mengesampingkan urusan pribadi nya jika berhadapan dengan pekerjaan. Baginya profesional dalam bekerja itu wajib dan jangan pernah mencampur adukan masalah pribadi dalam pekerjaan karena bagaimana pun itu hanya akan menambah rumit masalah.


"Tuan Aditya sepertinya sedang ada masalah ya?" tanya Simon saat makan siang telah selesai mereka santap.


"Ah tidak hanya saja mungkin saya kelelahan." Jawab Aditya.


"Seperti itu ya." Aditya mengangguk mengerti.


Di saat bersamaan di restaurant yang sama ziana yang baru datang bersama dengan Lena, dengan cepat mereka mencari tempat duduk untuk mereka.


"Duhh perut gue udah pada demo ini minta di isi." Ujar Lena dengan terus memegangi perutnya.


"Untung lo udah pesan duluan tadi jadi bentar lagi pasti datang tuh makanan." Ziana yang juga sama laparnya menimpali perkataan Lena.


Saat itu juga Aditya keluar dari ruangan VIP nya tepatnya ruangan itu ada di depan mata Ziana, tatapan mereka beradu dengan cepat Aditya memutus kontak mereka. Ia seolah tak mengenal Zian, Aditya berjalan melewati Ziana dengan rekan bisnisnya tanpa tersenyum apalagi menoleh Ziana.


Inikah jawaban mu Kak Ditya atas ungkapan hatiku saat itu, begitu tak pentingnya aku dimata mu??walau hanya tersenyum saat bertemu pun. Apa begitu sulit untukmu membuka hatimu untuk ku??kenapa hatiku sakit sekali.


Ziana yang tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, hanya bisa pasrah melihat Aditya yang begitu dingin saat bertemu dengannya. Semangat nya yang dulu begitu membara kini telah layu hanya karena pertemuan siang ini.


"Woy lo kenapa Mun? kok bengong gitu sih?" Lena menatap Ziana dengan kening yang berkerut.


"Gue nggak apa-apa kok pengen ke toilet dulu nih gue." Ziana berlalu pergi ke toilet, hatinya sakit bukan main hanya karena perlakuan Aditya barusan dan dadanya yang sesak tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mata nya. Ia pun menangis dalam diam.


Aditya yang sebenarnya terkejut, ia tak menyangka akan bertemu dengan Ziana mencoba mengontrol emosinya, dengan terus berjalan tanpa memperdulikan Ziana. Di sudut matanya ia tau bahwa Ziana tengah menatapnya tanpa putus.


"Baiklah Tuan Aditya saya permisi dulu dan terimakasih atas jamuan nya, dan kalau anda berkenan ingat saran saya." Tuan Simon pun berlalu pergi meninggalkan restaurant.


"Kita ke perusahaan." ucap Aditya dingin.


"Baik Tuan."


Mobil melaju meninggalkan restaurant dan juga ziana yang masih menangis di dalam sana. Di dalam mobil hanya ada keheningan Aditya tampak memandang keluar kaca dengan tatapan kosong.


Oh aku mengerti sekarang ternyata karena Nona Ziana, tadi mereka bertemu tapi kenapa Tuan seolah tak mengenal Nona Ziana ya. Apa mereka berdua bertengkar?? ah entahlah hubungan mereka memang terlalu rumit.


Angga terus melajukan mobilnya menuju perusahaan Erlangga Corp.


Sementara itu, Ziana yang baru saja keluar dari toilet dengan mata yang sembab mencoba untuk memoles wajahnya agar tak menjadi pertanyaan dari Lena. Kali ini biarkan ia sendiri dulu untuk menata hatinya yang kacau, ia ingin secepatnya menemui Aditya untuk meminta kepastian. Setelah itu ia akan pasrah dengan hasil terburuk sekalipun setidaknya ia di beri kepastian.


"Woy lama nunggu ya lo, sory gue sakit perut melilit banget sampai nangis ini gue." Ziana berusaha menutupi kebohongannya agar Lena percaya padanya.


"Emang lo makan apaan sih tadi?" tanya Lena tampak khawatir.


"Nasgor level gila." Ziana tertawa kecil menyembunyikan luka hatinya agar tak terlalu kentara.


"Gila lo masih pagi makan gituan ya pantes aja sih lo sakit perut, trus gimana mau pulang aja?"


"Iya nggak lah makan dulu Odah baru pulang laper gue apalagi barusan abis setor." Ucap Ziana


"Ok deh abis ini kita pulang aja ya nontonnya kapan lagi aja ya kasian gue sama lo." ujar Lena yang sekarang tampak sibuk mengunyah makanan yang ada di hadapannya.


"Lo emang terbaik." Ziana menjawil pipi Lena gemas.