
"Hari ini sepertinya kau banyak menangis, hmm?" Aditya mengurai pelukannya dan ia pun menatap intens mata Ziana yang terlihat membengkak.
"Aku takut terjadi apa - apa pada mu, kau begitu sulit di hubungi." Ziana pun kini tengah menatap Aditya, ia ingin puas melihat wajah suami yang dari tadi di rindukannya.
"Buktinya sekarang aku berada di depan mu saat ini dan tak kurang satu apa pun." Ia pun merentangkan tangannya untuk memperlihatkan pada istrinya jika semunya baik - baik saja, dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
"Iya, apa kau sudah makan suami ku?"
"Sudah."
"Baiklah sekarang kau mandi dulu ya, sudah ku siapkan air hangatnya." Ucap Ziana dengan membawa jas suaminya untuk di simpan ke dalam keranjang cucian.
"Terimakasih istri ku." Aditya berlalu dari hadapan Ziana setelah sebelumnya menggoda Ziana dengan kedipan matanya.
Entahlah hal seperti itu merupakan moment yang Ziana suka, godaan dari suaminya selalu sukses membuat jantungnya tak karuan. Baginya ini merupakan pengikat hubungan yang membuatnya akan selalu mengingat suaminya, meski hanya perlakuan kecil yang manis.
Setelah selang beberapa menit Aditya selesai membersihkan diri dan ia bersiap untuk segera tertidur, ia merasa tubuhnya sangat lelah. Aditya berjalan menuju tempat tidurnya di sana sudah ada istrinya yang dari tadi ingin ia jumpai setelah vonis dokter terhadap penyakitnya. Wanita cantik yang kini tengah tersenyum pada nya, yang selalu membuatnya tak bisa jauh darinya.
Kenapa takdir bisa begitu kejamnya terhadap kita, aku begitu mencintai mu istriku.
"Kemarilah." Aditya menepuk dada bidangnya, agar Ziana memeluknya dan dengan cepat Ziana pun melakukannya.
"Maafkan aku hari ini telah membuat mu cemas dan bahkan kau menangis." Aditya terus mengelus rambut panjang istrinya itu.
"Tidak apa suami ku, yang terpenting kau tidak apa - apa, itu sudah lebih dari cukup untuk ku." Ziana mengeratkan pelukannya, ia merasa nyaman berada di pelukan suaminya setelah merasa lelah menangis seharian, tempat ternyamannya adalah pelukan suaminya.
"Baru sehari aku tidak ada, kau menangis seharian. Bagaimana jika aku pergi lebih dulu?"
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka." Ziana langsung mengurai pelukannya dan mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan Aditya.
"Maafkan aku sweety hanya bercanda." Aditya pun menarik kembali Ziana ke dalam pelukannya.
Bagaimana jika memang itu yang akan terjadi nanti, aku takut membuatmu terluka karena aku.
"Jangan berkata hal yang jelek, ucapan adalah doa dan aku tak mau jika itu terjadi. Kita akan menua bersama." ucap Ziana dengan kembali memeluk erat suaminya itu.
"Semoga doa mu terkabulkan sweety, aku pun menginginkan hal yang sama." Dengan pelan di kecupnya kening Ziana dan tanpa sadar keduanya pun terlelap dalam tidurnya untuk menggapai mimpi bersama dalam gelapnya langit malam ini.
***
Pagi ini adalah pagi pertama setelah Aditya tau akan sakitnya, obat - obatan yang harus di konsumsi olehnya teronggok di laci kerja miliknya tepatnya di ruangan sebelah kamar appartemennya. Saat itu ia terbangun lebih awal karena ia merasakan badannya seolah begitu lemas, ia lupa jika harus meminum obatnya.
Saat itu masih sangat pagi bahkan udara pun masih terasa dingin, matahari belum menampakkan dirinya. Aditya terbangun dengan posisi yang saling berpelukan, ia melihat wajah istrinya yang saat ini begitu dekat dengannya. Aditya mengelus pelan pipi istrinya dan mengecup keningnya.
Semoga kau selalu di lingkupi kebahagiaan sayang, dan semoga Tuhan mau bermurah hati membiarkan kau menua bersamaku seperti keinginanmu.
Dengan mata yang berkaca - kaca Aditya turun dari tempat tidurnya bahkan dengan sangat pelan, ia tak mau jika Ziana ikut terbangun dan melihatnya meminum obat yang lumayan banyak. Itu pasti akan menimbulkan kecurigaan padanya.
Biarlah ia menahan semuanya sendiri, tidak ada yang benar - benar mengulurkan tangan untuknya. Tapi itu sudah menjadi keputusannya, ia tak ingin orang - orang yang di sayanginya ikut mencemaskan dirinya.
"Apa aku akan mati?" gumamnya dengan senyum miringnya.
Setelah itu ia memasukan kembali semua obat ke dalam tas kerjanya, kini ia adalah seorang pesakitan yang harus bergantung dengan obat - obatan. Tadinya ia bersumpah tak akan menyentuh obatnya sedikit pun, namun melihat istrinya semalam yang menangis tersedu karena dirinya membuat ia berubah pikiran.
"Aku harus berjuang untuk istriku, setidaknya jika dengan meminum obat si*alan ini hidupku lebih panjang maka aku akan melakukan apa pun demi membuatnya tersenyum bahagia."
Aditya duduk diam di kursi kerjanya, ia memejamkan matanya merasakan betapa rapuh tubuhnya saat ini. Tak terasa cairan bening kembali menetes di sudut matanya.
Dengan cepat ia menghapusnya, karena mendengar suara pintu yang di buka.
"Ternyata kau di sini suami ku, aku pikir kau pergi bekerja pagi sekali." Ziana melangkah masuk dan menghampiri suaminya.
"Kemarilah." Aditya menepuk pahanya agar Ziana duduk di pangkuan nya.
"Apa kuliah mu lancar sweety? kau kuliah di jurusan bisnis bukan?"
"Tentu, kenapa tak biasanya kau menanyakan hal itu?"
"Aku hanya sedang mengingat jika ternyata istriku akan mengikuti jejak ku, jadi nanti jika aku lelah kau bisa membantuku mengurus perusahaan bukan?" Tanya Aditya yang kini mendekap erat istrinya menghirup wangi aroma tubuhnya yang selalu membuatnya candu.
"Kau mau memanfaatkan ku ya?
"Kenapa tidak, saat ini banyak suami istri yang bekerja bersama memajukan perusahaannya, benar kan?"
"Hmmm iya aku pernah mendengarnya."
"Jika libur kuliah belajarlah bersama ku di perusahaan, aku akan mengajari mu agar nanti kau semakin pintar di banding teman - teman mu, bagaimana?"
"Baiklah, aku mau asal kau jangan memarahi ku jika aku tak mengerti, ok?"
"Bagaimana aku akan marah pada istri yang sangat ku sayangi."
Setelah menikah Aditya memang banyak berubah, ia lebih sering menunjukan sisi manis dalam dirinya. Apalagi setelah vonis dokter, saat ini ia merasa menjadi pria lemah yang sangat takut kehilangan istrinya.
Ia ingin lebih menunjukan perhatiannya pada Ziana, sebelum dirinya benar - benar tak berdaya nantinya.
Setelah obrolan singkat di pagi hari ini berakhir, mereka pun segera bersiap untuk melakukan aktifitas harian mereka.
Sampai di depan kampus Ziana, Aditya menahan tangan istrinya sebelum ia turun dari mobil.
"Kenapa?" Ziana pun menatap suaminya yang kini tengah menatap lekat dirinya.
"Jangan nakal di kampus nanti, dan jangan terlalu dekat dengan pria lain teman mu hanya Lena si gadis aneh itu, dan teman wanita lainnya hanya wanita." Aditya menekankan kata terakhirnya.
"Iya suami ku, aku mengerti." Ziana tersenyum dan mencium pipi Aditya setelah itu ia pamit dan mencium lagi punggung tangan suaminya.
Aku takut kau pergi dan meninggalkan aku yang penyakitan ini.