
Malam hari yang dingin sedingin hatinya Ziana belum keluar kamar sejak pulang sore tadi. Ia terus berpikir apa ia berbuat salah pada Aditya sehingga ia bersikap seolah tak mengenalnya, atau memang begitu sikapnya yang sebenarnya agar ia tau diri dan menjauh darinya.
"Kalau pun aku tak pantas untukmu setidaknya berikan aku kepastian agar aku tau dan tak terlalu berharap lagi." gumam Ziana lirih.
"Apa aku harus menemui nya di perusahaan tapi apa tidak mengganggu?" Ziana pun menggelengkan kepalanya pusing untuk mengambil langkah apa yang harus ia ambil.
Ia melihat ponsel nya melihat lagi percakapan pesannya dengan aditya.
"Issh gue lapar sepertinya keluar makan bakso enak nih, ah baru jam 8." Ziana bergegas mengganti pakaian nya ia akan keluar rumah dengan mengendarai motornya.
Setelah keluar kamar ada Bapak dan Ibunya yang sedang menonton.
"Mau kemana Zi?" tanya Pak Risman melihat putrinya.
"Zi pengen makan bakso Pak."
"Iya udah hati - hati kamu ini sudah malam." ujar Bu Rina.
"Iya." Ziana bergegas mengeluarkan motornya dan pergi menuju bakso langganan nya.
"Coba ada si Zian kan nggak bakal gue keluar sendirian, ah kangen juga sama tuh anak." gumam Ziana di tengah perjalanannya.
Saat akan berbelok ia di kejutkan dengan kendaraan lain yang datang berlawanan, ia hampir saja tertabrak kalau tidak banting stir ke trotoar jalan. Alhasil ia dan motornya oleng ke samping. untungnya tidak sampai terjatuh, hanya saja ia kaget dan menjerit histeris.
"Aaaaaaaaa sialan lo kalau jalan pakai mata dong!!" ia mengelus dada nya karena rasa kaget dengan mobil yang hampir saja menabraknya.
"Apa ada yang luka?" suara itu adalah si pemilik hati yang dari tadi ia rindukan.
Ziana pun membalikan badannya agar bisa menatap dengan jelas pria yang membuat nya menangis sepanjang hari tadi.
"Kak Ditya."
"Apa ada yang luka?" ucapnya lagi dengan wajah nya yang dingin ketika ia mengetahui siapa gadis yang hampir tertabrak olehnya.
"Tidak ada." Jawab Ziana menggeleng dengan tetap menatap lekat wajah Aditya.
"Baiklah." Aditya berbalik badan hendak meninggalkan Ziana, dengan cepat Ziana mengahadangnya.
"Tunggu, kenapa harus seperti ini Kak?" Ziana mendongak melihat wajahnya karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu.
"Cukup sampai di sini, saya harap kita tak akan pernah bertemu lagi dan lupakan sandiwara konyol itu." matanya memandang ke arah lain, ia tak mau menatap langsung wajah Ziana.
"Apa karena aku menyukai Kak Ditya? apa tidak ada sedikit pun aku di hati mu Kak?" mata Ziana mulai berkaca-kaca.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi!!" Aditya menekankan kata-kata nya dan kemudian berbalik melangkah pergi.
"Baiklah mulai hari ini aku tidak akan pernah mengganggumu lagi dan mulai detik ini aku akan mengubur perasaan ku padamu. Terimakasih telah menolakku dengan sesakit ini." pertahanan Ziana hancur air matanya menetes dengan derasnya, ia menangis tertahan.
Aditya yang tengah melangkah pun berhenti mendengarkan ucapan dari Ziana. Ada rasa sakit dan menyesakkan dadanya saat Ziana mengucapkan kata-kata itu, ia ingin berbalik dan memeluknya tapi ingatannya akan Ziana dengan pria lain membuatnya melangkah pergi menjauh dan masuk ke dalam mobil kemudian berlalu meninggalkan Ziana.
Tubuhnya lemas dan ia pun berjongkok dan memeluk kedua kakinya Ziana menangis tersedu-sedu, ia tau mungkin ini akhir dari perjuangannya tapi bukan berarti akhir dari rasa cintanya.
"Arggggggghhhhh kenapa hati ku begitu sakit!! seharusnya aku senang ini yang aku harapkan lepas dari perempuan seperti dia!!! Perempuan yang dengan mudahnya berganti laki-laki!!!!" Aditya trus berteriak dan memukul stir mobilnya.
Ia memacu dengan cepat mobil sport kesayangan nya. Menyalip semua kendaraan yang ada di hadapannya, berjalan terus dengan tak tentu arah. Dan tanpa ia sadari ia telah berhenti di sebuah bar, dengan cepat ia turun untuk menuju tempatnya menghilangkan rasa pusing akan masalahnya.
Ia memesan ruangan VIP agar privasinya aman, kemudian ia pun menelpon Bara Abraham sahabatnya itu untuk menemuinya di bar.
"Ada apa dia mengajak ke bar, pasti ada masalah besar,ah lebih baik aku pergi menemuinya." gumam Bara setelah mendapat telpon dari Aditya ia pun bersiap untuk pergi ke bar.
Aditya yang sedang kalut terus saja menenggak minuman beralkohol itu, ia sudah menghabiskan 2 botol minuman sebelum bara sampai di ruangan itu.
Tak berselang lama Bara pun datang, dengan terkejut melihat Aditya sudah sangat berantakan ia sudah mabuk berat.
"Ditya apa yang terjadi?sebenarnya ada masalah apa hah?" Bara terus menepuk pipi Aditya yang sudah hilang kesadarannya.
"Dia pergi, tapi kenapa hati ku sakit padahal ini yang aku inginkan!! harusnya aku bahagia tapi dada ini sungguh sesak hatiku sakittt!!" Aditya menepuk-nepuk dadanya dengan suara bergetar menahan emosi dirinya.
"Hah ternyata soal wanita, tidak pernah jatuh cinta sekalinya jatuh kau benar-benar jatuh sampai terpuruk." Bara menggelengkan kepalanya.
"Baiklah keluarkan semua isi hatimu, aku akan menemani mu di sini." Ini adalah kejadian langka menurutnya karena Aditya tak pernah seterpuruk ini apalagi hanya karena wanita.
"Kau memang yang terbaik." Aditya tertawa terbahak-bahak setelah itu dia diam dan mulai meracau lagi.
"Aku melihatnya di parkiran dengan laki-laki lain mereka sedang saling menatap sangat lama. Aku sangat benci itu, aku ingin mengahajar laki-laki yang sudah berani mendekatinya!!" racau Aditya dengan emosinya yang meledak-ledak.
"Ternyata ia sama saja dengan ****** di luar sana belum sehari ia mengatakan perasaan nya padaku, dengan mudahnya ia berganti dengan pria lain!!" lanjutnya dengan terus melanjutkan minumnya.
"Bodohnya aku percaya begitu saja dengan mu Ziana!!!" teriaknya.
"Whatt!!! cuma karena itu? memang bodoh kau sangat bodoh, cih urusan lain kau memang pintar dan licik tapi urusan asmara kau sangat bodoh. Aku malu mengakui mu sebagai temanku."
"Tadi aku bertemu dengan nya dan mengatakan hal yang menyakitkan untuknya, untuk tak penah mengenalku lagi. Tapi kenapa hati ku begitu sakit, sakittt sekali!!!" lagi dan lagi Aditya meracau mengungkapkan segala isi hatinya.
"Hah kau memang bodoh Ditya!!" Bara yang terus mendengarkannya mengoceh tak jelas hanya bisa mengumpatnya.
Sebenarnya ia ingin sekali membawa nya pulang ke appartement, tapi akan lebih menyenangkan baginya bisa melihat sahabatnya yang arogan itu untuk mengungkapkan isi hatinya. Jika dalam keadaan sadar ia tak mungkin mau menceritakan semuanya.
"Apa sudah puas kau mengungkapkan isi hatimu Ditya, jika sudah aku akan membawa mu pulang." Bara berdiri hendak memapah Aditya yang telah mabuk berat.
Aditya terus meracau makin tak jelas ia terus memanggil nama Ziana dalam keadaannya yang tak sadar karena pengaruh alkohol.
"Hah cinta memang selalu rumit, apalagi soal wanita makanya aku belum mau menikah akan seperti apa nanti hidupku." gumam Bara dengan melajukan mobilnya setelah mendudukan Aditya di kursi penumpang.