
Aditya yang baru bangun dari tidur mulai mengerjapkan matanya, ia berusaha menghalau cahaya matahari yang sudah mulai tinggi. Hari ini weekend yang berarti hari panjang yang bebas untuknya, tapi tidak bagi Sekertaris Angga ia masih harus mengumpulkan informasi yang di perintahkan oleh big boss nya.
"Jam berapa ini?" ia melihat jam yang sudah menunjukan pukul 8.
Ia pun berjalan ke arah dapur untuk minum dan membuat sarapan yang simple hanya roti dan selai kacang, juga susu yang ia bawa dari lemari pendingin.
Ketika sedang menyantap sarapan nya, ponsel di meja nya bergetar.
"Hallo bagaimana?" tanya Aditya
"Saya sudah mengirimkan semua nya pada email Tuan, anda bisa mengeceknya." jawab Angga
"Baiklah." Aditya mematikan sambungan telponnya.
Dengan segera ia membuka email yang di kirim Angga, tak lama kemudian kedua sudut bibir nya tertarik ke atas dan membuat lengkungan yang membuat lesung pipi nya terlihat.
"Ternyata itu Adik nya." gumam Aditya.
Ia terus menggelengkan kepala nya dengan senyum di bibirnya, mengingat betapa bodohnya ia dengan kejadian kemarin.
"Tunggu ada apa dengan ku??tidak mungkin kalau aku menyukai gadis berisik itu. Mungkin hanya aku tidak ingin Mom tau kalau seandai nya ia punya pria lain. Ya mungkin hanya itu." guman Aditya.
Ia pun kembali melanjutkan sarapan nya.
***
"Buruan Zian lo bisa telat ini udah jam berapa, kalau ketinggalan bus mau naik apa lo? ngesott?" Ziana trus saja meneriaki Adik nya agar secepatnya ke depan, ia sudah cukup lama menunggu.
"Ia ini udah, yuk naik." Zian langsung menaiki motornya ia yang membonceng Kakak nya.
"Gue kirain bawaan lo seabreg cuma segini doang, naik ojol juga bisa dodol!!" seru Ziana kesal.
"Biarin lah biar lo ada kerjaan nya nggak jadi penunggu rumah, tua ntar lo di rumah mulu."
"Enak aja lo, udah buruan udah siang ini."
Mereka pun melajukan motornya ke sekolah Zian karena memang sebelum berangkat berkumpul dulu di sekolah. Selang 15 menit dengan jalan yang cukup sepi, merekapun sampai di sekolah.
"Udah sampai sini aja, lo hati - hati ya kangen gue jangan nangis nggak liat muka gue yang tampan ini di rumah." ujar Zian dengan tersenyum jumawa.
"Hoekkkkk muntah gue." Ziana pun memutar kedua bola matanya jengah.
"Udah ah gue balik."
Ziana berlalu dengan melajukan motornya,saat ia akan keluar dari gerbang sekolah ia hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil yang melaju cukup kencang.
Citttttttt
Mobil mengerem dengan sangat cepat sehingga hampir mengenai ujung depan motornya. Ziana yng kaget dengan cepat menutup matanya.
"Mampus gue!!!" gumam nya
Seseorang keluar mobil dengan langkah nya yang cepat dan menyentil kening Ziana dengan keras.
"Awwww." teriak Ziana dengan reflek ia langsung membuka matanya.
"Tidak bisa kah kau untuk tidak ceroboh."ucap Aditya dengan wajahnya yang datar.
"Eh Kak Ditya, untung nya." Ziana bernapas lega karena ia tidak jadi tertabrak, tadi di dalam pikiran nya ia sudah membayangkan kalau dirinya pasti akan terpental jauh.
"Cepat masuk!!" ujarnya dengan nada yang dingin seperti biasa.
"Masuk mana?" Ziana yang bingung dengan ucapan Aditya menatap lekat wajah pria yang tadi malam ia rindukan itu.
"Mobil."
"Aku kan bawa motor kalau ikut mobil Kak Ditya motor ku bagaimana?"
"Simpan di sini nanti orang ku yang akan mengantarkan ke rumah."
"Ah baiklah." Ziana mengangguk lalu ia mengikuti Aditya dan memasuki mobil.
"Kita mau kemana Kak??"tanyanya setelah beberapa saat mereka diam.
"Apa ke mansion?? tapi pakaian ku ini gimana Kak, balik rumah aja yuk aku ganti baju dulu." Ziana mengguncang lengan Aditya dan membujuknya agar ia pulang terlebih dahulu karena saat ini ia hanya memakai celana jeans robek dan kaos oblong dengan sandal japitnya.
Pokoknya gue nggak mau pergi ke mansion dengan keadaan ancur kayak gini,mau di taruh dimana muka gue depan camer lagi. Nggak mau kalau perlu gue lompat aja tapi bisa tinggal nama gue. Gue cium aja kali ya itu patung es biar langsung berhenti.
Ziana menggeleng mengingat pikirannya yang kotor. kemudian ia beralih menatap Aditya kembali.
"Kak Ditya kita pulang dulu yuk, aku ganti baju dulu ini."
"Kenapa?" ucapnya tanpa menoleh.
"Iya aku malu Kak nggak mungkin ke mansion dengan pakaian seperti ini kesan nya aku nggak menghargai orang tua Kak Ditya, nggak sopan juga." lirih Ziana.
Aditya terus melajukan mobilnya, Ziana sudah pasrah karena mana mungkin ia nekat mencium Aditya seperti apa yang di pikirkannya.
Setelah itu mobil berhenti tepat di sebuah butik mewah.
"Turun."
"Eh kok kita ke sini?"
Aditya tak menjawab pertanyaannya, ia terus berjalan menuju butik dan masuk ke dalam nya. Lalu dengan cepat pelayan butik itu menghampirinya.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa kami bantu?" ia bertanya dengan sedikit membungkuk kan badannya.
"Carikan ia pakaian." ia menunjuk Ziana dengan dagu nya.
"Baiklah Tuan, mari ikut kami nona."
Ziana hanya mengikuti apa yang di perintahkan aditya, ia tak banyak bertanya.
Setelah beberapa menit memilih baju pilihannya jatuh pada dres selutut berwarna merah tanpa lengan, di padukan dengan sandal high heels bewarna senada.
"Ah apakah Nona bersedia untuk sedikit saya rias karena wajah Nona sedikit pucat tanpa riasan."
"Baiklah, terimakasih." jawabnya tersenyum dan mengikuti pramuniaga itu untuk memoles wajahnya yang memang tak memakai riasan apa pun tadi di rumah.
Aditya yang tengah duduk dengan tangan nya yang sibuk menggulir layar di ponselnya tak menyadari jika Ziana sudah ada di hadapannya.
"Ayo Kak Ditya aku siap sekarang, bagaimana?" Ziana tersenyum sangat manis.
Aditya yang mendengar seseorang tengah berbicara pada nya pun mendongak untuk melihat dengan jelas.
Cantik, selalu cantik.
"Hmm baiklah." Aditya bangkit berdiri untuk melakukan pembayaran.
Isssh komen apa gitu biar gue seneng ini cuma hmmm hmmm..
Mereka keluar dan kemudian meninggalkan butik tersebut untuk menuju ke mansion Mommy dan Daddy Aditya.
Selang 20 menit perjalanan sampai lah mereka di masion keluarga Erlangga. Aditya memarkirkan mobilnya lalu membuka pintu mobil untuk Ziana, kemudian menggenggam tangan Ziana untuk berjalan menuju ke dalam mansion.
"Mom di mana?" tanyanya begitu sampai di dalam mansion kepada pelayan.
"Nyonya ada di halaman belakang Tuan." pelayan tersebut tertunduk menjawab ucapan aditya.
Dengan tangan yang masih menggengam Ziana, ia pun berjalan menuju halaman belakang untuk menemui mommy nya.
"Mommy," sapa Aditya.
Mom Irene yang tengah menikmati hamparan bunga nya di taman belakang dengan segera menengok ke arah sumber suara.
"Ah putraku dan calon menantuku." Mom Irene berdiri dan langsung memeluk Ziana.
"Apakabar Mom?" tanya Ziana setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Mom baik, kenapa tidak bilang dulu kalau mau ke sini Mom kan bisa menyiapkan makanan yang enak."
"Eh katanya mom.....