In Memories

In Memories
part 20



"Hallo.."


"Hallo Tuan maaf mengganggu, saya hanya mengingatkan jika pagi ada rapat dan berkas yang sudah di pelajari kemarin ada pada tuan." jelas Sekertaris Angga.


"Hmmm baiklah nanti saya bawa." panggilan pun di akhiri sepihak oleh Aditya.


Ia pun berdiri dan menyimpan kembali ponselnya pada nakas sebelah tempat tidurnya, setelah itu ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk segera berangkat menuju perusahaan.


***


Tok..tok..tok


"Assalamualaikum Bu Ibu."


"Waalaikumsalam iya sebentar." jawab Bu Rina dengan segera membuka kan pintu depan.


"Hallo ibu ku yang cantik lama tidak bersua dengan anak mu yang jauh di mata tapi tetap cantik membahana badai."


Lena yang sudah menganggap Ibu Rina sebagai Ibu nya sendiri itu, memang selalu bertingkah layaknya anak kandung yang terbuang, ia selalu datang dan pergi sesuka hati nya seperti mba jela, itu lho temen nya mba kun yang suka nangkring di atas pohon.


Mereka pun lantas berpelukan layaknya Ibu dan Anak yang sudah lama terpisah.


"Anak Ibu yang terbuang sudah lupa jalan pulang ya, sekarang balik lagi ke rumah menuju jalan yang benar, ayo masuk Zi ada di kamar."


"Aissh Ibu ku yang satu ini selalu pengertian, baiklah Bu aku masuk ya." Lena pun langsung ke kamar Ziana.


"Ayo udah siap belom lo?" tanya lena yang masuk dan duduk di tempat tidur Ziana.


"Udah dong, yuk ah kemon." Ziana pun berdiri, dan langsung berjalan keluar kamarnya di ikuti oleh lena.


"Bu kita mau langsung berangkat ya.." ziana memanggil sang ibu yang tengah sibuk di dapur.


"Iya hati-hati di jalan ya."


"Bu maafkan aku yang baru datang langsung berangkat lagi ya, jangan kutuk aku ya Bu." Lena bergelayut manja di tangan Bu Rina.


"Nggak akan Ibu kutuk kamu kalau pulang nanti bawa martabak kesukaan Ibu"


"Asssiappp Bu aku pasti belikan buat Ibu yang paling special." Lena langsung berdiri dengan gerakan tangan seperti sedang hormat pada Bu Rina.


"Modus itu."cibir Ziana.


"Ya udah kita pamit ya Bu assalamualaikum." ucap mereka serempak


"Waalaikumsalam."


Mereka keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil. Di tengah perjalanan yang mulai ramai karena hari masih pagi, mereka memutuskan untuk melalui jalur memotong untuk bisa segera sampai di toko kue agar tidak terlalu memakan waktu karena mereka juga harus ke kampus.


"Zi lo udah ketemu Evan?" tanya Ziana saat ia tengah menyetir mobilnya.


"Belom tapi sih jujur gue penasaran ada apaan ya dia nyariin gue."


"Lo penasaran apa masih ngarep?"


"Asli gue cuma penasaran doang kan udah lama juga nggak ketemu lagi sejak kejadian kita tabrakan itu nah sekarang dia baru nyari gue lagi." Zianna yang duduk dengan memperhatikan jalan, malah teringat kembali kejadian pertemuan pertama kalinya di kampus setelah lama tak bertemu.


"Kalau dia nyari lo terus nembak lo, di terima nggak?" Lena mencoba menggoda sahabatnya itu.


"Nggak ya pikiran lo kejauhan banget dah Odah kebanyakan nonton sinetron lo." jawab Ziana.


"Issh kan ini misal Mun, seandainya gitu."


"Udah ah lo nyupir ajah yang bener biar cepat sampai."


Mereka pun tiba di toko kue langganan Ibu nya Lena, ia langsung masuk untuk mengambil pesanan Ibu nya yang lumayan banyak.


Saat akan berbalik karena pesanan sudah ada di tangan, pundak Ziana bersenggolan dengan seseorang.


"Eh maaf." ucap Ziana dan orang yang bersenggolan itu berbarengan.


"Ziana."


"Panjang umur banget nih orang baru juga di omongin." gumam Lena dengan suara yang hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya.


"Wah lagi borong kue ya." tanya Evan tersenyum dengan lesung pipi nya yang membuatnya sangat tampan.


"Iya ini pesenan Ibu nya lena kita cuma ngambil."


"Eh gue masuk mobil duluan ya, mau nelpon mama dulu." Lena pamit undur diri.


"Iya silahkan." jawab Evan.


"Ah iya kebetulan ketemu di sini. Kemarin gue baru masuk grup SMA katanya minggu ini ada reuni. nah mereka nanyain lo kenapa hp lo nggak aktif katanya."


"Oh iya hp gue jatoh ke got jadi ya ganti lagi sama no nya."


"Oh gitu ya udah nih masukin no lo ntar gue masukin grup lagi." Evan menyodorkan ponselnya pada Ziana.


Dengan tanpa pikir panjang Ziana mengambil ponsel Evan dan mengetik kan no ponselnya sendiri.


Setelah itu memberikannya lagi pada Evan.


Drrt drrt..


Ponsel di tas Ziana bergetar ternyata Evan mengecek nya dengan langsung menhubungi no Ziana.


"Ternyata bener haha.. " Evan pun tertawa.


"Ye lo pikir gue pake no palsu gitu, kayak kita baru kenal aja nggak percayaan banget."


"Iya bisa aja karena dulu lo juga kan ngilang nggak ada kabar lagi." Evan menatap mata Ziana dalam.


Degggg


Gue gitu karena gue tau diri, gue nggak mau nyakitin hati gue sendiri Van biar lah hanya cukup gue yang rasain.


"Iya kan kita langsung pada sibuk masing-masing Van." Ziana mengelak agar semua tetap pada jalan nya, ia tidak mau evan tau yang sebenarnya.


"Oh sibuk ya."


"Eh gue duluan ya, kasian Lena pasti di tungguin Mama nya soal kue nya." Ziana mengangkat paper bag kue yang ada di tangan nya.


"Ok deh, hati - hati." ucap Evan dengan masih terus menatap Ziana sampai masuk ke dalam mobil.


"Ciee celebek lo ya?" Lena meledek Ziana.


"Nggak ih apaan lo gosip dah, ini tadi dia cuma ngasih info soal reuni sekolah doang."


"Nggak percaya gue tatapan nya aja beda banget dia liatin lo."


"Ah bodo amat deh gue udah move on pokok nya."


"Ntaran kalau dia pepetin lo pasti meleleh lagi tu hati." Lena berbicara dengan sesekali meoleh melihat reaksi Ziana.


"Sok tau lo, yuk buruan udah mau mepet ini bentar lagi jam 11 oneng kita belom nganterin kue ke rumah lo dulu."


"Oke deh gue ngebut sekarang."


Lena langsung tancap gas untuk bisa segera sampai di rumahnya, setelah itu ke kampus.


***


Di Erlangga Corp rapat baru saja selesai, Aditya kembali lagi masuk ke dalam ruangan nya. Ia duduk dengan memijat keningnya yang sedikit pusing lalu melonggarkan dasinya.


Ia menelpon Angga untuk mengajaknya makan siang di luar, untuk menghilangkan rasa jenuh nya mengingat rapat tadi yang berlangsung cukup lama.


Aditya dan Angga sampai di restauran jepang untuk melepas penat dan memanjakan lidah mereka dengan makanan khas negri sakura tersebut, kali ini tidak seperti biasanya aditya tidak memesan ruangan vip. Ia duduk di bangku pengunjung seperti yang lain nya.


"Sepertinya itu Nona Ziana Tuan." Angga yang melihat Ziana sedang berjalan melewati restauran terlihat sedang tertawa dengan seorang laki-laki.


Ada sesuatu yang membuat hatinya mengganjal melihat hal itu, rasanya sangat kesal hingga membuat kepala nya terasa mendidih.