
Aditya terus melanjutkan kegiatan yang membuatnya candu, ia selalu teringat bibir tipis merah yang selalu melintas dalam pikirannya. Ziana yang tadinya hanya diam tak membalas ciuman dari Aditya, kini ia berusaha membalas apa yang di berikan Aditya. Setelah cukup lama mereka berciuman akhirnya Aditya melepaskan bibirnya dan mengusap bibir yang basah dengan ibu jari nya.
"Jangan pernah membuat ku kecewa lagi, aku takut tidak bisa mengontrol emosi ku, aku takut menyakiti mu." Aditya membelai rambut Ziana lembut.
"Iya maafkan aku." Ziana pun memeluk Aditya erat ia sangat merindukannya.
"Kenapa dengan tangan Kak Ditya?" tanya Ziana dengan tetap memeluk Aditya tetapi ia memegang tangan Aditya yang di balut perban.
"Hanya luka kecil, sudah tak usah khawatir." Aditya mengeratkan pelukannya merasakan hembusan nafas hangat di dadanya.
Setelah itu mereka mengurai pelukannya dan berjalan saling menggenggam tangan seolah tak ingin terpisahkan menuju mobil untuk pulang.
***
"issh perutku lapar sekali." Bara yang tengah berada di ruang prakteknya memegang perutnya yang berbunyi.
"Ah sepertinya mencari makan di luar enak, dari pada di kantin aku selalu bertemu dengan gadis aneh itu." Bara pun berdiri dan melangkah keluar ruangannya untuk pergi mencari cafe terdekat.
Setelah sebelum nya ia memasuki mobilnya untuk berlalu pergi ke cafe. Saat berjalan memasuki cafe ia tak menyadari dari arah berlawanan juga ada yang akan memasuki cafe, kedua nya terlalu fokus dengan ponsel di tangannya. Sampai di pintu masuk cafe keduanya masuk bersamaan sehingga membuat mereka berdua tak bisa masuk atau pun keluar.
"Aduh kok macet sih." Lena yang masih menunduk belum menyadari di sebelahnya berdiri orang yang paling ia hindari.
"Kau.." Mereka berdua saling menatap satu dengan yang lainnya.
"Coba kau keluar lebih dulu." ucap Bara yang berusaha melepaskan dirinya untuk keluar dari pintu yang membuatnya berdiri berhimpitan dengan Lena.
"Kau diam dulu, pundak ku sakit ini." Lena mengusap pundaknya yang sakit terkena gesekan pintu.
"Mas dan Mba sebaiknya salah satu dari kalian menyamping lebih dulu agar salah satunya bisa masuk tanpa saling menyakiti." Pelayan yang ada di sana pun datang memberi saran karena melihat kedua nya tak ada yang mau mengalah. Dan kejadian tersebut menyita perhatian pengunjung yang lain, semua mata tertuju pada mereka.
Hingga akhirnya Bara pun mengalah untuk menyampingkan tubuhnya, dan Lena melenggang masuk dengan santainya. Saat baru beberapa langkah dirinya berjalan, ia lalu berbalik badan dan menunjukan duck face pada Bara.
Reaksi Bara hanya memutar bola matanya jengah melihat gadis aneh yang selalu ada dimana pun dia berada.
Sudah jauh aku melangkah untuk tak bertemu dengannya lagi dan lagi dia muncul di hadapan ku, dan selalu ada kejadian memalukan jika bertemu dengannya. Dosa apa yang ku buat di masa lalu Tuhan sehingga kau selalu mempertemukan ku dengan gadis seperti dia.
Bara pun segera melangkah untuk mencari meja kosong. Dan tempat yang penuh membuat Bara dan Lena menempati kursi dan meja yang berbeda tapi saling berhadapan. Mereka berdua dengan kompak menghela nafasnya kasar, setelah itu saling memalingkan wajah.
Setelah pesanan datang di depan meja mereka masing - masing, mau tak mau mereka harus saling berhadapan untuk menyantap makanan mereka. Sesekali mata mereka bertemu dan beradu pandang, jika sudah begitu dengan cepat mereka memutus kontak mereka. Hingga seseorang dari arah pintu masuk memanggil.
"Bara kau di sini ternyata aku pikir kau masih di rumah sakit." Gadis berbaju terusan dusty pink itu berjalan ke arah Bara yang tengah menatap nya dengan wajah terkejut.
"Eh iya aku sudah pulang." Gadis itu dengan segera duduk di sebelah Bara dan bergelayut manja pada tangan Bara, dengan cepat Bara menggeser tangannya dari kepala gadis yang bernama Arumi.
"Jangan begini Rumi, nanti ada yang marah padaku." ucap Bara.
"Tapi pacarku yang marah, tuh.." Bara menunjuk Lena dengan dagunya.
Lena yang tengah menatap Bara dengan jengah membuat Bara mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan situasi yang ada.
"Kalau dia pacar mu kenapa kalian duduk berjauhan?" tanya Arumi.
"Kita lagi berantem, kau tau sekalinya dia marah pasti main cakar orangnya tak pernah pandang bulu. Dia seperti kucing yang siap mencakar jika terusik, makanya lebih baik aku di sini biar dia tenang dulu hatinya." Bara semakin menjauhkan duduknya dari Arumi seolah ia takut jika Lena akan berbuat sesuatu pada mereka.
"Kenapa kau masih bertahan dengan gadis seperti dia." Arumi juga menunjuk Lena dengan dagunya sedangkan orang yang menjadi topik pembicaraan hanya sesekali menatap tajam tanpa ada senyuman dari wajahnya.
"Karena cinta segalak apa pun dia, aku tetap mencintainya." Bara menatap Lena dengan senyum di wajahnya menatap Lena yang malah melotot tajam padanya.
Arumi menelan salivanya ia merasa pelototan tajam yang Lena berikan itu adalah ancaman untuknya agar ia bisa menjauhi Bara. Arumi bisa melihat jika gadis seperti Lena adalah gadis bar - bar yang berarti bukan tandingannya karena dari penampilan saja sudah dapat ia simpulkan.
"Sepertinya aku harus pergi dulu, aku ada janji dengan temanku. Lain kali kita ketemu lagi ya." Arumi bergegas pergi sebelum Bara menjawabnya.
Dengan tawa kecilnya Bara seperti mendapat mainan baru, ia tak menyangka bisa mengusir Arumi tanpa harus capek mengeluarkan tenaga ekstra.
Ternyata kau berguna juga ya gadis aneh.
Mereka melahap habis makanan yang ada di hadapannya, setelah itu berjalan ke arah kasir secara bersamaan. Saat tengah membayar mereka pun rebutan ingin jadi yang pertama untuk di layani. Membuat kasir yang ada di sana memijit kepalanya.
"Ladies first Mas." ucap kasir yang ada di sana melerai pertengkaran keduanya.
"Kau dengar hanya laki - laki jantan yang tau akan hal itu." Lena mendengus kesal dengan segera membayar nota makanannya.
Kenapa gadis ini ucapannya selalu ambigu, membuat siapa pun pasti salah mengartikannya. Tuhan jangan jadikan dia jodohku atau aku bisa mati muda melihat kelakuannya.
Bara menghela nafasnya kasar dan memejamkan matanya mendengar ucapan Lena.
"Tutup mulutmu atau aku akan mencium mu saat ini juga." Bara yang sudah kesal mengancam Lena dengan tatapannya yang tajam.
Dengan sigap Lena menutup mulutnya, dan membulatkan matanya takut dengan apa yang di ucapkan Bara akan terjadi.
"Dasar sinting." Lena pun berlalu pergi setelah mengumpat Bara.
"Gadis gila." Bara balik mengumpat Lena.
"Mas jangan terlalu membenci seseorang bisa jadi itu awal dari cinta atau bisa saja kalian berjodoh, saya doakan kalian benar - benar berjodoh." ucap kasir yang tengah melihat perdebatan yang terjadi antara Bara dan Lena.
"Amit - amit Mas sekalipun tinggal dia wanita di muka bumi ini, saya lebih baik jadi jomblo abadi." ucap Bara bergidik ngeri.
"Kalau jodoh jangan lupa undang saya ya Mas."